Advanced Search
Hits
6092
Tanggal Dimuat: 2009/05/18
Ringkasan Pertanyaan
Apakah diasuh dalam rumah Nabi Saw bagi Ali As adalah suatu keutamaan?
Pertanyaan
Diasuh dalam rumah Nabi Saw bukan suatu keutamaan bagi Ali As, karena Zaid bin Harits pun pernah diasuh dalam rumah Nabi Saw!?
Jawaban Global

Sebagaimana maksud dari pertanyaan yang telah dilontarkan jika itu adalah penafian seluruh keutamaan akan pengasuhan di rumah Nabi Saw maka itu bukanlah perkara yang tidak patut dan tidak bisa diterima; sebab berkumpul bersama dengan orang-orang baik adalah suatu nikmat yang sangat besar, apalagi diasuh oleh Nabi Saw yang merupakan salah satu kebahagiaan yang paling besar. Para sahabat Nabi Saw pun selalu berlomba-lomba agar dapat lebih dulu dari yang lainnya untuk dapat bertemu dengan Nabi Saw, mereka bangga bisa berdialog dengan Nabi Saw dan menganggapnya sebagai keutamaan. Khususnya menurut Ahlussunnah, menjadi sahabat Nabi Saw saja itu dianggap sebagai tolak ukur keutamaan dan keadilan. Akan tetapi menurut pandangan Syiah berbicara dan menjadi sahabat dengan Nabi Saw adalah jalan mendapatkan keutamaan-keutamaan, setiap orang akan mendapatkan nilai kebaikan sesuai keutamaan yang ia dapatkan.

Dan apabila seperti yang dimaksudkan dari pertanyaannya adalah bahwa keutamaan tersebut tidak dikhususkan bagi Imam Ali As, orang-orang seperti Zaid bin Harits juga memiliki keistimewaan ini, maka harus dikatakan: bahwa di dalam melontarkan pertanyaan tersebut, ada keputusan khusus yang harus diambil sebelumnya dan itu adalah kesamaan antara Zaid dan Imam Ali As di dalam hal pengasuhan; sebab, pertama: diasuhnya Imam Ali As di rumah Nabi Saw adalah karena kehendak Tuhan dan keinginan Nabi saw sendiri. Berbeda dengan Zaid, ia adalah budak Sayyidah Khadijah a.s yang datang bersamanya ke rumah Nabi Saw. Kedua: tolak ukur asuhan yang mereka peroleh dari Nabi Saw itu berbeda.

Dan apabila yang dimaksudkan adalah pengingkaran kepemimpinan Imam Ali As dengan berargumen bahwa mereka memiliki kesamaan, jawabannya adalah tidak seorang pun meyakini bahwa diasuhnya Imam Ali As di rumah Nabi Saw itu karena kedudukan wilayahnya dan ke-wasi-annya (bahwa beliau akan menjadi pemimpin setelah Nabi saw dan wasinya).

Jawaban Detil

Apabila yang dimaksud dari pertanyaan yang telah dilontarkan adalah bahwa pengasuhan dan didikan di rumah Nabi Saw dan di bawah pengawasan beliau itu tidak menyebabkan keutamaan bagi seseorang! Sebagaimana Zaid bin Harits tidak memiliki keutamaan (dalam hal ini); maka berkumpul bersama Rasulullah Saw bukanlah satu keutamaan bagi Amirul Mukminin As. Pernyataan seperti ini tidaklah benar; sebab di antara orang-orang yang hidup di masa dekade pertama Islam dan orang-orang zaman sekarang, bertempat tinggal di masjid Nabi Saw atau Baitullah adalah suatu keutamaan yang layak dipuji. Orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar tempat-tempat suci ini dijuluki Jarullah (tetangga Allah). Maka bagaimana dengan seseorang yang diasuh dan dididik oleh Amin Baitullah, pemilik masjid Nabawi, Rasulullah Saw? Apa yang harus dikatakan? Apakah bertempat tinggal bersama di rumah tanah itu lebih utama daripada bertempat tinggal di rumah hati?  Khususnya, menurut pandangan Ahlussunnah bahwa berbicara dan bersahabat dengan Nabi Saw itu memiliki nilai keutamaan yang melimpah, berbeda dengan Syiah yang meyakini bahwa berbicara dan bersahabat saja bukanlah menjadi tolah ukur keutamaan, akan tetapi menganggapnya itu sebagai jalan untuk memperoleh keutamaan-keutamaan dan manusia akan mendapatkan nilai kebaikan sesuai dengan keutamaan yang ia peroleh.

Apabila yang dimaksud dari pertanyaannya adalah menafikan kekhususan keutamaan tersebut dari Amirul Mukminin Ali As dan menganggap dalam hal ini Zaid sama dengan beliau, maka harus dikatakan bahwa dalam melontarkan pertanyaan ini, ada keputusan khusus yang harus diambil sebelumnya yaitu memandang dan menganggap sama pengasuhan dua pribadi tersebut di sisi Rasul Saw.

Dari penjelasan ini kita perlu sedikit menyertakan beberapa ucapan-ucapan dari wasi (baca: khalifah) Nabi Saw dan tulisan-tulisan dari para sejarawan.

Amirul Mukminin Ali As dalam salah satu khutbah terpanjang beliau yang bernama Qashi’ah, di masa-masa kecil beliau bersama Nabi Saw, beliau berkata: “Kalian mengetahui bagaimana Aku memiliki kehormatan, kemuliaan dan kedudukan di sisi Rasulullah Saw. Di masa kecil Aku dididik olehnya dipangkuannya dan seperti anak kesayangan dengan dadanya ia menidurkan Aku di tempat tidurnya. Pelukan kasih sayangnya adalah kediamanku. Dengan sentuhan dan elusan tubuh mulianya Aku mencium kelembutan hati Muhammadi. Ia menghaluskan makananku dan menyuapkannya ke mulutku. Ia tidak pernah melihat adanya kebohongan, pelanggaran dan perbuatan salah di dalam tingkah laku, perkataan dan sikapku… . Aku laksana anak onta yang baru dilahirkan –yang selalu berada di samping ibunya- pergi mengikutinya. Ia setiap hari selalu menunjukkan keluhuran budinya yang khas dan memerintahkan Aku agar mengikutinya. Setiap tahun ia pergi ke gunung Hira bemukim di tempat itu dan tidak seorang pun selain yang melihatnya kecuali Aku.”[1]

Banyak hadis-hadis lainnya yang menerangkan kedekatan Nabi Saw dengan Imam Ali As; seperti perkataan Nabi Saw usai perang Tabuk, beliau berkata kepada Amirul Mukminin Ali As: “Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa…hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku, akan tetapi kamu adalah wasi dan penggantiku.”[2]

Di sisi lain kita lihat bahwa Nabi Saw di masa kecil Imam Ali As, beliau memilih Ali untuk beliau asuh di rumahnya lalu Nabi Saw berkata: “Orang yang kupilih adalah orang yang Allah pilih untukku.”[3]

Semua ini adalah tanda besar ihwal hubungan khusus Nabi Saw dengan penggantinya. Sementara itu kedatangan Zaid ke rumah Nabi Saw adalah suatu kebetulan saja. Zaid bin Harits adalah seorang budak yang diambil oleh para pengembara Arab dan dijual di pasar ‘Akkazh kepada Hakim bin Hizam yang ia beli untuk bibinya Sayyidah Khadijah al-Kubra As. Setelah menikah dengan Nabi saw, beliau memberikan Zaid kepada Nabi Saw.[4]

Selama Zaid berada di sisi Nabi Saw; ia sangat menyayangi Nabi Saw. Sampai setelah ia dibebaskan oleh Nabi Saw, ia tetap tinggal di samping Nabi Saw dan tidak mau kembali kepada keluarganya. Hingga Nabi Saw menjadikannya sebagai anak angkat.

Setelah beberapa waktu, Nabi Saw menikahkan Zaid dengan Zainab putri bibinya. Yang pada akhirnya karena ketidakcocokan dan perangai buruk Zaid pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian. Nabi Saw menasihatinya untuk menjaga rumah tangga dan tidak memberikan dampak kepada Zaid. [5]

Hasil keputusannya adalah sikap Nabi Saw kepada Imam Ali As dan Zaid itu tidaklah sama dan keutamaan-keutamaan yang mereka pelajari dan mereka dapatkan dari rumah Nabi Saw juga berbeda.

Imam Ali As dididik oleh Nabi Saw itu dengan kehendak Tuhan dan dengan tujuan tertentu, dan ia telah menjadi manifestasi perangai nabi, ini adalah satu keutamaan yang tidak ditemukan pada satupun di antara sahabat Nabi Saw.

Apabila yang dimaksud dari pertanyaannya adalah pengingkaran atas kepemimpinan Imam Ali As maka jawabannya adalah tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa Imam Ali As diasuh di kediaman Nabi Saw karena kedudukan dan derajatnya sebagai wasi sehingga dengan menolak keutamaannya kedudukan wilayah beliau ternafikan.[]

 

 

Sumber dan Referensi:

1.       Nahjul Balâghah, terjemahan, Dariwash Shahin, cetakan dan terbitan Javidan, cetakan keenam, 1357 HS.

2.       Nahjul al-Balâgah, Shuhbi Shaleh, cetakan pertama, Beirut, Lebanon, 1387 HQ.

3.       Ihtijâj, Thabarsi, Tahqiq Sayyid Muhammad Baqir Khurasan, terbitaan Darul an Nu’man, Najaf, tahun 1386 HQ.

4.       Al-Tahshin, Sayyid Ibnu Thawus, terbitan Darul Kitab, Qom, 1413 HQ.

5.       Fadhâ’il al-Sâdât, Mir Muhammad Asyraf  ‘Amili,        Syarkat-e Ma’arif, 1380 HQ.

6.       Farâzhai az Târikh-e Payâmbar Islâm, Ja’far Subhani, terbitan Masy’ar, 1375 HS.

7.       Kitâb Sulaim bin Qais Hilâli, terbitan Al Hadi, 1377 HQ.

8.       Maqâtil al-Thâlibin, Abu al-Faraj al-Isfahani, Mansyurat al-Maktaba al-Haidariyyah, Najaf.



[1]. Shahin Darwish, terjemahan Nahj al-Balâgah, hal. 602; Nahj al-Balâgah, Subhi Shaleh, khutbah 192.  

[2]. Thabarsi, al-Ihtijâj, jil. 1, hal. 210. Sayid Ibnu Thawus, al-Tahsin, bagian kedua, bab. 25. Mir Muhammad Asyraf Amili, Fadhâil al-Sâdât, hal. 284. Kitab Sulaim bin Qais Halai, hal. 392 & 431.

[3]. Abu al-Faraj al-Isfahani, Maqâtil al-Thâlibin, hal. 15.

[4]. Silahkan lihat indeks: Kemaksuman para nabi As dalam al-Qur’an, pertanyaan 112 (site: 998), pertanyaan 129 (site: 1069)

[5]. Ja’far Subhani, Farâzhâi az Târikh Payâmbar-e Islâm, hal. 321.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits