Advanced Search
Hits
6825
Tanggal Dimuat: 2010/05/09
Ringkasan Pertanyaan
Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
Pertanyaan
Assalamu 'Alaikum Wr.Wb.
Allahumma Shalli 'Ala Muhammad wa Ali Muhammad.
Fenomena nikah mut'ah berkembang begitu pesat, bukan hanya di Makassar tapi juga di tempat kami di Parepare. Pengamalan nikah mut'ah di kalangan mahasiswa di Parepare tergolong serampangan. Menurut info dr salah seorang mahasiswa, ada teman sekosnya yang memut'ahi 3 wanita sekaligus. Dari orang yang sama, saya juga mendengar ada seorang mahasiswi yg telah dimut'ahi oleh temannya dan hal itu diketahui oleh orang tua si mahasiswi tersebut. Orang tuanya marah. Sang mahasiswi itu minta kepada lelaki yg pernah memut'ahinya untuk menikahinya secara da'im, agar dia bisa terlepas dr murka orang tuanya. Tapi sang mantan suami menolak, dgn alasan tdk ada dalam perjanjian sebelumnya. Satu hal lagi yang menjadi bahan renungan saya selama ini, yaitu bahwa ada seorang ustadz yang mengajarkan doktrin seperti ini: Jika seorang wanita diajak oleh seorang pria untuk bermut'ah, lalu sang wanita menolak, maka sang wanita itu sudah dalam kesesatan. Karena itu, tinggalkanlah dia (wanita itu). Doktrin lain (dari ustadz yg sama) mengatakan: Jika seorang pria dan wanita telah mengetahui hukum sahnya nikah mut'ah maka wajib hukumnya untuk mengamalkan nikah tersebut.
Dua doktrin ini menjadi senjata bagi mahasiswa untuk menunjuk mahasiswi mana yang dia ingin mut'ahi. Dan wanita yg ditunjuk itu tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Dalam hal ini, wanita berada pada kondisi dipaksa (terpaksa). Padahal setau saya, satu-satunya pernikahan dimana wanita berada pada posisi merdeka untuk menentukan dirinya adalah dalam nikah mut'ah. Tapi dengan kedua doktrin di atas, wanita menjadi tidak merdeka lagi tapi terpaksa atau dipaksa oleh dalil syariat (doktrin tsb).
Karena itu banyak wanita yg menderita, karena di satu sisi dia ingin mengamalkan ajaran Ahlulbait namun pada saat yg sama dia takut diajak mut'ah dgn lelaki yg tdk dia suka. Nah, dari paparan saya di atas, saya mohon penjelasan mengenai 2 doktrin yg sering dilontarkan oleh ustdaz-ustadz muda kita di atas. Apakah itu benar menurut ajaran para Mullah di Iran? Apa syarat-syarat yang sah dari nikah mut'ah tersebut? Wassalam.
Jawaban Global

Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan temporer maka ia tidak melakukan dosa. Pernikahan temporer memiliki syarat-syarat yang akan dijelaskan sebagian dari syarat-syarat tersebut pada jawaban detil.

Jawaban Detil

Dalam pandangan Islam, pernikahan baik permanen (daim) atau temporal (mut’ah) merupakan sebuah urusan ikhtiari. Ikatan pernikahan yang berlansung di antara keduanya harus berdasarkan kerelaan dan keridhaan kedua belah pihak. Pernikahan temporer (mut’ah) adalah sebuah pernikahan yang terjalin di antara seorang pria dan wanita yang tidak memiliki halangan sama sekali untuk menikah dan dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak, disertai mahar yang ditentukan hingga waktu tertentu. Nikah seperti ini tidak memiliki talak. Seiring dengan berakhirnya masa waktu nikah maka secara otomatis pasangan suami dan istri akan berpisah.[1]

Dalam pandangan Islam, sahih dan validnya pernikahan temporer tatkala memenuhi beberapa persyaratan. Di sini kami akan menyebutkan sebagian dari persyaratan tersebut:

1.     Membaca formula akad (semata-mata rela dan ridha di antara kedua belah pihak, pria dan wanita tidak memadai melainkan harus disertai dengan ekspresi lafaz khusus).

2.     Sesuai dengan ihtiyath wajib, formula akad harus disampaikan dalam bahasa Arab yang benar. Dan apabila pria dan wanita tidak dapat membaca akad dalam bahasa Arab dengan benar maka keduanya dapat (dibolehkan) membaca akad dengan bahasa mana pun dan tidak diwajibkan bagi mereka untuk mengambil wakil akan tetapi sedemikian ia berkata-kata sehingga makna “zawwajtu” (aku nikahkan) dan “qabiltu” (aku terima) dapat dipahami dengan benar.

3.     Menentukan dan menyebutkan mahar tatkala membacakan akad.

4.     Orang yang melangsungkan akad (yang menikah) itu harus berakal dan berusia baligh.

5.     Anak putri yang telah mencapai usia baligh dan rasyidah yaitu telah mampu mengidentifikasi kemaslahatannya apabila ia ingin bersuami. Jika ia seorang perawan maka ia harus meminta izin dari orang tuanya atau dari kakeknya (dari pihak ayah). Namun apabila ia tidak lagi perawan dan keperawanannya hilang lantaran pernikahan (sebelumnya) maka ia tidak lagi memerlukan izin dari ayah atau kakeknya (dari pihak ayah).

6.     Wanita dalam proses berlangsungnya akad temporer (mut’ah), ia tidak terikat akad permanen (daim) atau temporer (mut’ah) dengan orang lain (bukan istri orang lain) dan juga tidak berada dalam masa iddah akad permanen atau temporer orang lain.

7.     Pria dan wanita harus ridha dan rela atas pernikahan dan bukan karena terpaksa (atau dipaksa) sehingga keduanya menikah.[2]

8.     Demikian juga wanita tatkala ingin melangsungkan akad dengan seorang pria, (hal itu dapat dilakukan) apabila ia telah melangsungkan akad lainnya dan telah mendapatkan talak atau masa akad mut’ahnya telah habis maka masa iddah juga telah ia lalui (iddahnya sudah habis).

9.     Syarat lainnya adalah bahwa wanita yang telah menikah dan terikat dengan akad lainnya tidak melakukan zina dengan seorang pria yang ia niatkan untuk menikah dengannya; karena apabila seorang pria berzina dengan seorang wanita yang telah menikah maka wanita itu haram bagi pria tersebut untuk selamanya.[3]

 

Karena itu dalam pandangan Islam pernikahan, apakah itu pernikahan permanen atau pernikahan temporal berlangsung atas keridhaan dua belah pihak (pria dan wanita) dan apabila wanita atau seorang wanita menolak lamaran seorang pria untuk melangsungkan pernikahan temporal (mut’ah) maka sesunggunya ia tidak melakukan dosa. [IQuest]



[1]. Diadaptasi dari Jawaban Global Pertanyaan 844 (Site: 915) (Bolehnya melangsungkan pernikahan temporer).  

[2]. Taudhi al-Masâil Marâji’, jil. 2, 449-460; Tahrir al-Wasilah, jil. 2, hal. 701-707 dan juga hal. 734-736.  

[3]. Diadaptasi dari Pertanyaan 961 (Site: 1099) (Pernikahan Kembali pasca Pernikahan Temporer)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah seorang suami dibolehkan menikmati bagian tubuh istrinya yang mana saja ia sukai sekalipun dengan cara memaksanya?
    25367 Hukum dan Yurisprudensi 2010/11/08
    Assalamu'alaikum Wr. Wb.Perhatikanlah beberapa jawaban yang kami peroleh dari sebagian kantor marja' agung taklid berikut ini:  Kantor Hadhrat Ayatullah Agung Imam Ali Khamene'i Hf:Jawaban atas pertanyaan 1 dan 2 Maksud dari penyerahan fisik sepenuhnya bukanlah berarti bahwa si suami dibolehkan melakukan hal-hal yang dianggap tidak etis atau sangat dimakruhkan (makruh ...
  • Tolong jelaskan nasib apa yang akan dialami manusia akibat tidak menghormati orang tua?
    1901 Akhlak Praktis 2013/05/25
    Salah satu kewajiban yang disebutkan dalam al-Quran – setelah perintah untuk menyembah Allah Swt – adalah berbuat baik kepada kedua orang tua.[1] Karena itu dalam al-Quran dan riwayat, banyak ditegaskan supaya manusia menunaikan hak-hak kedua orang tua dan berbuat baik kepada mereka.[2] Sebagai lawannya, tidak menunaikan kewajiban ini, di samping hukuman-hukuman ...
  • Apa hukumnya apabila seseorang dalam shalat membaca “walâzhâllin” sebagai ganti “walâdhâllin?”
    1662 Hukum dan Yurisprudensi 2009/04/21
    Berdasarkan fatwa seluruh marja agung taklid bahwa tajwid dan bacaan sedemikian apabila disengaja maka tentu saja akan membatalkan shalat. Imam Khomeini Ra dalam masalah ini berkata, “Apabila seseorang tidak mengetahui salah satu redaksi surah al-Fatihah atau surah-surah lainnya atau sengaja tidak membacanya atau membaca sebuah huruf sebagai ganti huruf yang ...
  • Bagaimana model pertanyaan yang diajukan kepada kaum Muslimin dan non-Muslimin di dalam kubur?
    4571 Neo-Teologi 2010/06/07
    Barzakh secara leksikal bermakna tirai dan penghalang yang mengantarai dua hal. Adapun secara teknis barzakh adalah sebuah alam yang diletakkan Allah Swt antara alam dunia dan akhirat. Alam barzakh (isthmus) merupakan persinggahan pertama bagi manusia pasca kematian.Yang dimaksud dengan alam barzakh (isthmus) sebenaranya adalah alam kubur; sebuah alam dimana manusia ...
  • Apakah keturunan Rasulullah Saw juga harus membayar khumus?
    1420 Hukum dan Yurisprudensi 2011/09/11
    Apabila manusia memperoleh keuntungan dari perdagangan atau perindustrian atau perolehan lainnya, apabila terdapat kelebihan dari pengeluarannya beserta keluarganya dalam setahun, maka ia harus menyerahkan khumus yaitu seperlima dari kelebihan (keuntungan) tersebut kepada seorang mujtahid yang memiliki selaksa syarat (baca: marja taklid) di masa ini atau menggunakan khumus tersebut pada hal-hal ...
  • Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?
    3169 Teologi Klasik 2012/06/20
    Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik. Murji'ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini. Murji'ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim serta ...
  • Apabila seseorang melalukan penelitian untuk amalannya sendiri dalam sebagian masalah agama apakah ia dapat beramal berdasarkan metodenya sendiri?
    1418 Hukum dan Yurisprudensi 2010/11/08
    Sembari menjelaskan dua poin penting kami akan menjawab pertanyaan Anda. Pertama, ilmu Fikih juga seperti disiplin ilmu lainnya. Di samping keluasan yang dimiliki disiplin ilmu ini, ia juga bertaut dengan banyak disiplin ilmu lainnya yang termasuk sebagai pendahuluan dan persiapan untuk displin ilmu ini seperti sastra Arab (bahasa, Sharf [gramatika], ...
  • Bagaimana sikap Islam dalam berhadapan dengan demokrasi?
    12490 Teologi Klasik 2009/11/10
    Demokrasi merupakan sebuah metode untuk menata dan mengatur masyarakat. Penghormatan terhadap suara mayoritas dan kebebasan pribadi dan warga masyarakat dan sebagainya merupakan tipologi nyata demokrasi.Kendati tidak terdapat keniscayaan antara mayoritas (aktsariyyah) dan kebenaran (haqqaniyah), [i] akan tetapi suara mayoritas atau akseptabilitas dapat menjadi bekal dan modal utama bagi terbentuknya sebuah ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    57289 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik nikah daim (tetap) ataupun mut’ah (sementara). Hal itu dapat dilakukan dengan syarat-syaratnya ...
  • Mengapa sebagian orang berusia panjang sehingga dapat meraih kesempurnaan intelektual dan spiritual (untuk taat kepada Allah Swt)?
    2205 Teologi Klasik 2009/11/24
    Secara mendasar jawaban pertanyaan ini dapat dikaji pada dua poin penting:Pertama bahwa usia dan kehidupan duniawi—secara keseluruhan semuanya merupakan nikmat duniawi—itu memiliki dua sisi. Dalam arti bahwa kalau mereka berada di bawah naungan panji iman dan bimbingan al-Quran dan Ahlulbait as, mereka akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman. Sedangkan kalau mereka ...

Populer Hits

Jejaring