Advanced Search
Hits
14691
Tanggal Dimuat: 2010/05/09
Ringkasan Pertanyaan
Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
Pertanyaan
Assalamu 'Alaikum Wr.Wb.
Allahumma Shalli 'Ala Muhammad wa Ali Muhammad.
Fenomena nikah mut'ah berkembang begitu pesat, bukan hanya di Makassar tapi juga di tempat kami di Parepare. Pengamalan nikah mut'ah di kalangan mahasiswa di Parepare tergolong serampangan. Menurut info dr salah seorang mahasiswa, ada teman sekosnya yang memut'ahi 3 wanita sekaligus. Dari orang yang sama, saya juga mendengar ada seorang mahasiswi yg telah dimut'ahi oleh temannya dan hal itu diketahui oleh orang tua si mahasiswi tersebut. Orang tuanya marah. Sang mahasiswi itu minta kepada lelaki yg pernah memut'ahinya untuk menikahinya secara da'im, agar dia bisa terlepas dr murka orang tuanya. Tapi sang mantan suami menolak, dgn alasan tdk ada dalam perjanjian sebelumnya. Satu hal lagi yang menjadi bahan renungan saya selama ini, yaitu bahwa ada seorang ustadz yang mengajarkan doktrin seperti ini: Jika seorang wanita diajak oleh seorang pria untuk bermut'ah, lalu sang wanita menolak, maka sang wanita itu sudah dalam kesesatan. Karena itu, tinggalkanlah dia (wanita itu). Doktrin lain (dari ustadz yg sama) mengatakan: Jika seorang pria dan wanita telah mengetahui hukum sahnya nikah mut'ah maka wajib hukumnya untuk mengamalkan nikah tersebut.
Dua doktrin ini menjadi senjata bagi mahasiswa untuk menunjuk mahasiswi mana yang dia ingin mut'ahi. Dan wanita yg ditunjuk itu tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Dalam hal ini, wanita berada pada kondisi dipaksa (terpaksa). Padahal setau saya, satu-satunya pernikahan dimana wanita berada pada posisi merdeka untuk menentukan dirinya adalah dalam nikah mut'ah. Tapi dengan kedua doktrin di atas, wanita menjadi tidak merdeka lagi tapi terpaksa atau dipaksa oleh dalil syariat (doktrin tsb).
Karena itu banyak wanita yg menderita, karena di satu sisi dia ingin mengamalkan ajaran Ahlulbait namun pada saat yg sama dia takut diajak mut'ah dgn lelaki yg tdk dia suka. Nah, dari paparan saya di atas, saya mohon penjelasan mengenai 2 doktrin yg sering dilontarkan oleh ustdaz-ustadz muda kita di atas. Apakah itu benar menurut ajaran para Mullah di Iran? Apa syarat-syarat yang sah dari nikah mut'ah tersebut? Wassalam.
Jawaban Global

Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan temporer maka ia tidak melakukan dosa. Pernikahan temporer memiliki syarat-syarat yang akan dijelaskan sebagian dari syarat-syarat tersebut pada jawaban detil.

Jawaban Detil

Dalam pandangan Islam, pernikahan baik permanen (daim) atau temporal (mut’ah) merupakan sebuah urusan ikhtiari. Ikatan pernikahan yang berlansung di antara keduanya harus berdasarkan kerelaan dan keridhaan kedua belah pihak. Pernikahan temporer (mut’ah) adalah sebuah pernikahan yang terjalin di antara seorang pria dan wanita yang tidak memiliki halangan sama sekali untuk menikah dan dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak, disertai mahar yang ditentukan hingga waktu tertentu. Nikah seperti ini tidak memiliki talak. Seiring dengan berakhirnya masa waktu nikah maka secara otomatis pasangan suami dan istri akan berpisah.[1]

Dalam pandangan Islam, sahih dan validnya pernikahan temporer tatkala memenuhi beberapa persyaratan. Di sini kami akan menyebutkan sebagian dari persyaratan tersebut:

1.     Membaca formula akad (semata-mata rela dan ridha di antara kedua belah pihak, pria dan wanita tidak memadai melainkan harus disertai dengan ekspresi lafaz khusus).

2.     Sesuai dengan ihtiyath wajib, formula akad harus disampaikan dalam bahasa Arab yang benar. Dan apabila pria dan wanita tidak dapat membaca akad dalam bahasa Arab dengan benar maka keduanya dapat (dibolehkan) membaca akad dengan bahasa mana pun dan tidak diwajibkan bagi mereka untuk mengambil wakil akan tetapi sedemikian ia berkata-kata sehingga makna “zawwajtu” (aku nikahkan) dan “qabiltu” (aku terima) dapat dipahami dengan benar.

3.     Menentukan dan menyebutkan mahar tatkala membacakan akad.

4.     Orang yang melangsungkan akad (yang menikah) itu harus berakal dan berusia baligh.

5.     Anak putri yang telah mencapai usia baligh dan rasyidah yaitu telah mampu mengidentifikasi kemaslahatannya apabila ia ingin bersuami. Jika ia seorang perawan maka ia harus meminta izin dari orang tuanya atau dari kakeknya (dari pihak ayah). Namun apabila ia tidak lagi perawan dan keperawanannya hilang lantaran pernikahan (sebelumnya) maka ia tidak lagi memerlukan izin dari ayah atau kakeknya (dari pihak ayah).

6.     Wanita dalam proses berlangsungnya akad temporer (mut’ah), ia tidak terikat akad permanen (daim) atau temporer (mut’ah) dengan orang lain (bukan istri orang lain) dan juga tidak berada dalam masa iddah akad permanen atau temporer orang lain.

7.     Pria dan wanita harus ridha dan rela atas pernikahan dan bukan karena terpaksa (atau dipaksa) sehingga keduanya menikah.[2]

8.     Demikian juga wanita tatkala ingin melangsungkan akad dengan seorang pria, (hal itu dapat dilakukan) apabila ia telah melangsungkan akad lainnya dan telah mendapatkan talak atau masa akad mut’ahnya telah habis maka masa iddah juga telah ia lalui (iddahnya sudah habis).

9.     Syarat lainnya adalah bahwa wanita yang telah menikah dan terikat dengan akad lainnya tidak melakukan zina dengan seorang pria yang ia niatkan untuk menikah dengannya; karena apabila seorang pria berzina dengan seorang wanita yang telah menikah maka wanita itu haram bagi pria tersebut untuk selamanya.[3]

 

Karena itu dalam pandangan Islam pernikahan, apakah itu pernikahan permanen atau pernikahan temporal berlangsung atas keridhaan dua belah pihak (pria dan wanita) dan apabila wanita atau seorang wanita menolak lamaran seorang pria untuk melangsungkan pernikahan temporal (mut’ah) maka sesunggunya ia tidak melakukan dosa. [IQuest]



[1]. Diadaptasi dari Jawaban Global Pertanyaan 844 (Site: 915) (Bolehnya melangsungkan pernikahan temporer).  

[2]. Taudhi al-Masâil Marâji’, jil. 2, 449-460; Tahrir al-Wasilah, jil. 2, hal. 701-707 dan juga hal. 734-736.  

[3]. Diadaptasi dari Pertanyaan 961 (Site: 1099) (Pernikahan Kembali pasca Pernikahan Temporer)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah suami dan isteri diwajibkan mengenakan pakaian ketika melakukan senggama?
    62481 Akhlak Praktis 2010/10/12
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil. ...
  • Bagaimana menjawab salam ketika seseorang sementara mengerjakan salat?
    3184 Hukum dan Yurisprudensi 2012/02/08
    Seseorang tidak dapat memberikan salam kepada orang lain selagi ia mengerjakan salat dan apabila seseorang memberikan salam kepadanya maka ia harus menjawab sedemikian sehingga ucapan salam harus terlebih dahulu yang disampaikan; misalnya berkata, “al-salam ‘alaikum” atau “salamun ‘alaikum” dan ia tidak boleh berkata, “alaikum al-salam.”[1] (mendahulukan alaikum ...
  • Apakah al-Qur'an menyinggung jembatan shirâth?
    6998 Kalam Jadid 2010/01/09
    Meskipun redaksi jembatan shirâth tidak kita jumpai dalam al-Qur'an, namun pada sebagian riwayat dapat kita lihat penggunaan redaksi tersebut dengan tegas dapat ditemukan dalam hadis dari Imam Ja’far Shadiq As dalam tafsiran redaksi "mirshâd" pada ayat 14 surah al-Fajr (89).[i] Imam Ja'far ...
  • Bagaimanakah lafaz akad mu’tah itu? Apa saja yang menjadi syarat-syarat dan hukumnya?
    12061 Hukum dan Yurisprudensi 2012/10/08
    Untuk melangsungkan akad nikah mut’ah (temporer) terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi: Membaca formula akad; artinya bahwa semata-mata rela dan ridha di antara kedua belah pihak, pria dan wanita belum memadai melainkan harus disertai dengan ekspresi lafaz khusus). Sesuai denganihtiyath wajib, formula akad ...
  • Apakah dua peristiwa bi’tsat dan mikraj Rasulullah Saw terjadi pada satu waktu (27 Rajab)?
    2414 Sejarah Para Pembesar 2013/01/14
    Untuk menguraikan jawaban atas pertanyaan ini kami akan mengkaji masalah ini dengan memanfaatkan tafsir-tafsir yang berbicara tentang bi’tsat (hari pengutusan Rasulullah Saw) dan mikraj sebagai berikut: Terdapat dua pendapat di kalangan ulama Islam sehubungan dengan sejarah bi’tsat. Satu pendapat dilontarkan oleh Syiah. Dalam hal ini, ...
  • Tolong sebutkan bagi saya sebuah doa untuk menemukan pasangan yang cocok dan bertakwa.
    6571 Akhlak Praktis 2012/09/10
    Allah Swt menjadikan setiap pekerjaan memiliki sebab-sebab tertentu sedemikian sehingga setiap pekerjaan hanya akan memperoleh hasil apabila dikerjakan melalui kanal-kanal sebabnya. Untuk memperoleh jodoh dan pasangan idaman juga demikian caranya. Cara untuk mendapatkan istri idaman memerlukan penelitian dan pengenalan yang tepat dan akurat. Tentu saja ...
  • Apakah tafsiran firman Allah Swt dapat dilakukan oleh selain rasul dan utusannya?
    3807 Tafsir 2012/12/16
    Al-Quran tentu saja berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang telah mengalami penyimpangan. Hari ini kita tidak menemukan satu pun hal yang bertentangan dengan realitas dalam al-Quran dan bahkan mereka yang meyakini tahrif dalam artian khusus sekali pun juga tidak luput perhatiannya terhadap masalah ini. Allah ...
  • Apakah keluasan wilâyah fakih juga mencakup negeri-negeri lainnya?
    2630 System 2010/11/11
    Islam mengemukakan konsep “negeri” sebagai bandingan konsep “negara” dan konsep “umat” sebagai lawan dari konsep “rakyat.” Negeri Islam hanyalah satu dan tunggal. Batasan demarkasi asumtif dan rekaan negara-negara yang ada sekarang ini, dalam pandangan Islam, tidak memberi pengaruh pada identitas tunggalnya. Negeri tunggal ini idealnya harus diatur ...
  • Apa dalil keunggulan para imam Syiah atas seluruh nabi selain Nabi Saw?
    5764 Kalam Jadid 2010/04/08
    Dalam ajaran agama disebutkan bahwa masing-masing para pendahulu; yaitu para nabi, washi dan wali tidak mendahului para imam dalam keutamaan apa pun. Kecuali keutamaan sebagai nabi. Akan tetapi dari sisi lain, imam adalah pewaris seluruh yang dimiliki para nabi. Demikian juga, sesuai dengan riwayat, nama teragung (ism ...
  • Apa penafsiran ayat yang menyebutkan "seorang terkemuka di dunia dan di akhirat....(Qs. Ali Imran [3]: 45)?
    2488 Tafsir 2014/02/06
    Pada ayat mulia yang menjadi obyek pertanyaan Anda, kita membaca: «إِذْ قالَتِ الْمَلائِکَةُ یا مَرْیَمُ إِنَّ اللَّهَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسیحُ عیسَى ابْنُ مَرْیَمَ وَجیهاً فِی ...

Populer Hits

Jejaring