Carian Terperinci
Pengunjung
15064
Tarikh Kemaskini 2008/09/17
Ringkasan pertanyaan
Apakah terdapat syarat lain selain bersikap adil untuk melakukan poligami?
soalan
Islam membolehkan pria untuk menikahi empat wanita menjadi istrinya. namun harus sesuai dengan syarat-syaratnya seperti bersikap adil di antara para istri. Apakah terdapat syarat lain seperti kerelaan istri pertama dan lain sebagainya? Apabila pria menikah hanya karena takut melakukan dosa dan supaya menyalurkan syahwat pada tempatnya namun ia sama sekali tidak mencintai wanita yang kini telah menjadi istrinya. Apakah pernikahan yang tidak didasari cinta seperti ini benar adanya dan Allah Swt akan menerimanya?
Jawaban Global

Berdasarkan pelbagai kebutuhan dan kemaslahatan personal dan sosial, Islam membolehkan poligami. Dalam hal ini, Islam memberikan beberapa syarat bagi mereka yang ingin melakukan poligami:

  1. Pria harus bersikap adil kepada para istrinya.
  2. Jumlah istri permanen (dâim) tidak boleh lebih dari empat.
  3. Izin istri diperlukan apabila ia ingin menikah dengan anak dari saudaranya atau saudarinya (kemenakan istri).

Adapun hubungan, suka, cinta antara istri dan suaminya meski dibutuhkan dan akan menyebabkan kokohnya fondasi rumah tangga dan ikatan pernikahan dalam menghadapi pelbagai amukan problematika, namun hal ini tidak menjadi syarat sah atau tidaknya sebuah pernikahan.

Kendati demikian, tidak mungkin dua manusia berakal siap dan rela menikah tanpa adanya unsur suka dan cinta sama sekali antara satu dengan yang lain. Namun apabila dengan asumsi mustahil, pria dan wanita mengikat tali pernikahan meski tanpa adanya unsur cinta dan suka sama sekali serta menikah dengan maksud semata-mata ingin menyalurkan syahwat atau motivasi politik dan duniawi, maka pernikahan keduanya dalam pandangan syariat tetap sah.

Jawaban Detil

Poligami sebelum Islam merupakan hal yang lumrah dan tidak terikat dengan pakem dan batasan tertentu. Setelah kedatangan Islam, Islam membolehkan poligami berdasarkan pelbagai kebutuhan dan kemaslahatan personal dan sosial. Islam menetapkan syarat-syarat dan batasan-batasan terkait dengan poligami; karena dalam komunitas masyarakat realitas-realitas berikut ini adalah hal-hal yang tidak dapat dinafikan:

  1. Para pria dalam pelbagai kejadian dalam hidup, melebihi  wanita, senantiasa berada dalam bahaya dan ancaman maut. Kaum prialah yang biasanya menjadi korban asli peperangan dan peristiwa-peristiwa lainnya.
  2. Kekuatan  dan tetapnya gejolak seksual lebih panjang pada kaum pria ketimbang kaum wanita.
  3. Kaum wanita tatkala datang bulan (menstruasi) dan ketika mengandung (pada bulan tertentu) secara praktis tidak dapat digauli sementara kaum pria tidak ada larangan seperti ini.
  4. Kaum wanita disebabkan karena beragam alasan dan sebab kehilangan suami-suami mereka dan apabila tidak ada poligami maka mereka akan senantiasa menjanda selamanya.
  5. Kaum wanita (anak-anak putri) enam tahun lebih lebih cepat menginjak usia dewasa dan baligh ketimbang kaum pria (anak-anak putra). Mereka memiliki kesiapan seksual untuk menikah dan biasanya kaum wanita juga lebih cepat menikah ketimbang kaum pria.

Beberapa faktor ini telah menyebabkan terciptanya kondisi yang tidak kondusif di antara kaum pria dan kaum waita sehingga untuk menjaga keselamatan masyarakat dan anggotanya maka mau tak mau kita harus memilih di antara salah satu tiga alternatif berikut ini:

Pertama: Kaum pria harus merasa puas dengan satu istri dalam setiap kondisi dan kaum  wanita yang menjanda harus tetap menjabat status janda selamanya dan seluruh kebutuhan-kebutuhan fitrawi dan keinginan-keinginan batin dan afeksinya harus diberangus dan diredam begitu saja.

Kedua: Kaum pria hanya memiliki satu istri legal namun menjalin hubungan asmara secara gelap, bebas dan illegal dengan wanita-wanita yang tidak memiliki suami.

Ketiga: Orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur lebih dari satu istri dan tidak ada masalah secara fisikal dan finansial, dan juga memiliki kemampuan untuk bersikap adil kepada para istri dan anak-anak, diberikan izin untuk memilih lebih dari satu istri.

Nah apabila kita ingin memilih alternatif pertama, terlepas dari pelbagai problematika sosial yang dimunculkannya, maka kita harus memerangi fitrah, gejolak insting dan pelbagai kebutuhan mental dan fisikal manusia. Demikian juga kita harus mengabaikan pelbagai afeksi dan emosi wanita-wanita seperti ini. Namun perlawanan ini tidak memberikan kemenangan sama sekali bagi manusia. Anggaplah alternatif pertama ini dijalankan maka kita tidak dapat menutupi sisi-sisi non-manusiawinya. Masalah poligami dalam hal-hal yang urgen tidak hanya dapat ditinjau dari sudut pandang istri pertaa, melainkan harus ditinjau  dari sudut pandang istri kedua dan pelbagai kemaslahatan dan tuntutan sosial masyarakat. Mereka yang mempersoalkan poligami karena alasan istri pertama adalah orang-orang yang melihat tiga dimensi persoalan hanya dalam satu pandangan; karena poligami di samping harus ditinjau dari sudut pandang pria, juga dari sudut pandang istri pertama, demikian juga dari sudut pandang istri kedua. Kemudian kita dapat memutuskan secara berimbang setelah menimbang tiga sudut pandang ini dengan menimbang pelbagai kemaslahatan secara keseluruhan dari persoalan ini. 

Apabila alternatif kedua yang kita pilih maka kita harus menerima dan mengakui kemungkaran. Terlebih, para wanita yang menjadi WIL dan kekasih gelap pria akan dieksploitasi secara seksual yang tidak memberikan masa depan dan jaminan ketenangan bagi mereka; karena kepribadian mereka telah diinjak-injak. Tentu saja hal ini tidak akan pernah dibolehkan oleh orang-orang yang berakal dan berpengetahuan.[1]

Satu-satunya alternatif yang tersisa, di samping sesuai dengan tuntutan fitrah dan mampu memenuhi pelbagai kebutuhan-kebutuhan seksual wanita juga kita dapat mencegah tersebarnya kemungkaran dan kekacauan dari wanita-wanita seperti ini serta mengeluarkan masyarakat dari badai dosa yang dapat ditimbulkan.[2]

Berdasarkan hal ini, Islam memilih alternatif ketiga dan memberikan izin kepada kaum pria untuk memilih dan menikahi istri lebih dari satu. Dalam masalah ini, Islam menetapkan syarat yang harus dijalankan bagi pria yang ingin melakukan poligami:

  1. Pria harus bersikap adil kepada para istrinya.
  2. Jumlah istri-istri (permanen) tidak boleh lebih dari empat.
  3. Izin dari istri apabila pria ingin menikah dengan putri dari saudara atau saudari istri (kemenakan).

Adapun hubungan, suka, cinta antara istri dan suaminya meski dibutuhkan dan akan menyebabkan kokohnya fondasi rumah tangga dan ikatan pernikahan dalam menghadapi pelbagai amukan problematika, namun hal ini tidak menjadi syarat sah atau tidaknya sebuah pernikahan.

Kendati demikian, tidak mungkin dua manusia berakal siap dan rela menikah tanpa adanya unsur suka dan cinta sama sekali antara satu dengan yang lain. Namun apabila dengan asumsi mustahil, pria dan wanita mengikat tali pernikahan meski tanpa adanya unsur cinta dan suka sama sekali serta menikah dengan maksud semata-mata ingin menyalurkan syahwat atau motivasi politik dan duniawi, maka pernikahan keduanya dalam pandangan syariat tetap sah.  [iQuest]

 


[1]. Silahkan lihat, Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 3, hal. 256-260; Murtadha Muthahhari, Majmu’e Atsar, jil. 19, hal. 357-361; Tafsir al-Mizan, jil. 4, hal. 319.  

[2]. Diadaptasi dari Pertanyaan 633 (Site: 692), Indeks Islam dan Poligami.

 

Terjemahan pada Bahasa Lain
Opini
Bilangan komen 0
Sila masukkan nilai
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Sila masukkan nilai
Sila masukkan nilai

Kategori

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapakah Ahlul Bait (a.s) hanya dikhususkan untuk beberapa orang sahaja?
    19157 اهل بیت و ذوی القربی 2013/01/08
    Terdapat banyak dalil dominan pengkhususan Ahlul Bait kepada lima orang Āl ʻAba; iaitu Muhammad (s.a.w), Ali, Fatimah, Hasan dan Husain yang telah dinukilkan daripada Nabi (s.a.w) oleh para ahli hadis, ulama Syiah dan ulama Ahlusunnah di mana terdapat lebih dari 70 sumber terkenal Ahlusunnah manakala dalam sumber ...
  • Apakah maksud wahdatul wujud?
    19511 Falsafah Islam 2014/04/20
    Maksud golongan irfan dan ahli hikmah tentang wahdatul wujud bukanlah satu set dunia kewujudan yang dikatakan sebagai Allah (s.w.t). Ini disebabkan penggolongan wujud dan wahdat bukanlah sesuatu yang hakiki. Begitu juga ianya tidak bermaksud penyatuan Allah (s.w.t) dengan kewujudan-kewujudan kerana perkara itu adalah mustahil (dengan maksud dua ...
  • Apakah batasan dan kriteria keharaman dan kenajisan minuman beralkohol menurut fekah Ja’fari?
    8044 Huquq Dan Ahkam 2011/07/21
    Alkohol putih dan perubatan yang merupakan alkohol murni dan banyak digunakan dalam tugas-tugas kedoktoran adalah suci. Kecuali alkohol tersebut diambil dari khamar atau bir di mana dalam hal ini alkohol tersebut adalah najis. Adapun bahan pembersih yang lainnya yang mengandung alkohol dan banyak digunakan di ...
  • Mengapa Anda membatasi dan mengkhususkan Ahlulbait a.s. untuk beberapa orang saja?
    8553 Teologi Klasik 2011/07/21
    Pengkhususan “Ahlulbait a.s.” untuk empat belas maksum bukanlah pengkhususan dan pembatasan manusiawi dan kemanusiaan. Pengkhususan dan pembatasan dapat disimpulkan dari kalam Ilahi pada ayat tathir dan riwayat Nabawi yang menjelaskan ayat ini.Dalam menetapkan dakwaan ini dapat disandarkan kepada dalil-dalil yang berbentuk ayat-ayat dan riwayat-riwayat.
  • Tolong Anda perkenalkan sebuah buku yang menjelaskan tentang tata-cara melaksanakan amalan haji dan umrah sesuai dengan aturan praktis Ahlulbait.
    8113 Teologi Klasik 2011/02/14
    Buku-buku di bawah tajuk manasik –amalan-amalan- haji yang ditulis oleh para marja' agung Syiah yang menukil ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat dari Nabi Saw dan para Imam Ahlulbait As telah pun ditulis. Atas alasan ini, dengan menyediakan buku manasik haji marja’ taklid yang ...
  • Mengapa warisan wanita setengah dari warisan lelaki?
    9844 Huquq Dan Ahkam 2011/04/19
    Salah satu sebab banyaknya kuota warisan lelaki dibanding dengan saham wanita adalah nafkah wanita berada di bahu lelaki. Ertinya lelaki di samping harus menyiapkan wang belanja untuk dirinya ia juga memiliki tugas untuk menyiapkan biaya hidup bagi wanita (isteri) dan anak-anaknya. Di sisi lain, lelaki adalah pihak yang ...
  • Apakah agama itu satu atau banyak?
    8911 دین 2013/01/08
    Jikalau maksud agama ialah sekumpulan akidah, akhlak, undang-undang dan peraturan yang diturunkan daripada Allah (s.w.t) kemudian disampaikan kepada orang ramai dengan perantara para nabi, maka dalam bentuk ini semua agama merupakan sebuah perkara yang satu. Perbezaan di antara agama dalam arahan-arahan juzuknya hanyalah perubahan yang selaras dengan ...
  • Apabila Tuhan mengetahui apa yang hendak kita lakukan apakah ini bukan bermaksud paksaan (al-jabar)?
    7364 Teologi Klasik 2011/07/21
    Dalam menjawab orang-orang yang memberikan daliltentang paksaan(aljabar) melalui ilmu azali Tuhan maka harus dijawab sebegini:“Tuhan semenjak azal mengetahui bahawa manusia dengan kebebasan dan ikhtiar yang dimilikinya akan melakukan perbuatan-perbuatan.” Jawapan ini tidak bertentangan dengan pengetahuan menyeluruh dan azali Tuhan. Kerana Tuhan semenjak azal mengetahui bahawa manusia akan ...
  • Apakah matlamat Allah menciptakan manusia?
    14939 Teologi Klasik 2012/05/17
    Tuhan adalah zat yang Maha Sempurna secara mutlak, suci dari semua kekurangan dan kecacatan, Maha Kaya dari semua kewujudan di alam semesta ini, tidak memerlukan apa pun, sebaliknya makhluk-makhluk-Nya pula ialah mereka yang perlu dan berhajat kepada-Nya. Di sisi lain, dalam kesempurnaan-Nya Allah adalah zat yang Maha ...
  • Apakah terdapat syarat lain selain bersikap adil untuk melakukan poligami?
    15066 Beberapa Istri 2012/11/11
    Berdasarkan pelbagai kebutuhan dan kemaslahatan personal dan sosial, Islam membolehkan poligami. Dalam hal ini, Islam memberikan beberapa syarat bagi mereka yang ingin melakukan poligami: Pria harus bersikap adil kepada para istrinya. Jumlah istri permanen (dâim) tidak boleh lebih dari empat. Izin istri diperlukan ...

Populer Hits