Advanced Search
Hits
13377
Tanggal Dimuat: 2010/07/17
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa keyakinan terhadap Determinisme itu merupakan suatu hal yang tertolak dan absurd?
Pertanyaan
Sebagian besar orang meyakini paham Determinisme dalam kehidupan. Sembari membeberkan dalil-dalil tertolaknya aliran Determinisme, tolong Anda jelaskan apakah aliran seperti ini dapat diterima atau tidak?
Jawaban Global

Determinisme bermakna bahwa manusia terpaksa dan tidak memiliki kebebasan dalam seluruh aktifitas dan perbuatannya. Para teolog Asy’ariah (penganut paham Determinisme), sekaitan dengan aktifitas dan perbuatan manusia, berpandangan bahwa manusia terpaksa dalam setiap perbuatannya dan sama sekali tidak memiliki kehendak, ikhitiar dan kebebasan. Mereka menyandarkan seluruh perbuatan manusia itu kepada Tuhan. Karena itu, menurut mereka, manusia laksana benda-benda dan bebatuan yang dilemparkan dari atas jatuh ke bawah dan lintasan gerakan dari atas ke bawah ini dilalui tanpa adanya kebebasan yang dimilikinya dan lintasan tersebut dilalui secara paksa.

Keyakinan seperti ini bertitik-tolak dari sebagian keraguan terhadap beberapa masalah yang tidak dapat mereka pecahkan. Karena itu, mereka berpaling kepada aliran Determinisme.

Menurut hemat kami, keyakinan seperti adalah keyakinan absurd dan batil. Lantaran keyakinan sedemikian, pertama, tidak sejalan dengan keadilan Ilahi. Kedua, berseberangan dengan tujuan pengutusan para nabi. Ketiga, bertolak belakang secara lugas dan tegas dengan sebagian ayat al-Qur’an. Keempat memiliki konsekuensi dan akibat sosial yang buruk bagi mereka yang meyakininya.

Syiah berpandangan bahwa segala perbuatan dan aktifitas yang dilakukan manusia merupakan perbuatan manusia lantaran dilakukan berdasarkan kebebasan dan ikhtiarnya serta pada saat yang sama juga adalah perbuatan Tuhan lantaran inti keberadaan dan seluruh potensi eksistensial manusia diberikan Tuhan kepada manusia. Dengan kata lain, perbuatan Tuhan merupakan perbuatan yang menjadi embrio bagi perbuatan-perbuatan manusia dan perbuatan manusia adalah perbuatan langsung karena secara langsung dilakukan oleh manusia. Pandangan ini secara terminologis disebut sebagai “al-amr baina al-amrain” (perkara di antara dua perkara, in between).

Jawaban Detil

Redaksi “jabr” tatkala mengemuka dalam masalah pokok-pokok akidah maka hal itu bermakna bahwa manusia dalam setiap perbuatan yang dilakukannya tidak memiliki kebebasan dan kehendak. Ia tidak dapat memilih yang baik juga tidak dapat menolak yang buruk, melainkan apapun yang dilakukannya adalah mengikut kehendak dan ikhtiar Tuhan.

Karena itu, penganut paham Determinisme (Jabariyun) meyakini bahwa manusia dalam setiap perbuatannya adalah terpaksa dan sama sekali tidak memiliki ikhtiar bagi dirinya. Ikhtiar (freewill) berlawanan dengan Determinisme yang bermakna bahwa setiap perbuatan dan aktifitas manusia dilakukan berdasarkan kebebasan dan ikhtiar yang dimilikinya.

Pembahasan seperti ini telah mengemuka di kalangan Muslimin semenjak medio pertama abad kedua dan atau paling maksimal pada medio kedua abad kedua.

Tanpa ragu sebab utama kemunculan pemikiran dan keyakinan seperti ini di kalangan Muslimin dan sebab terlibatnya mereka dengan pembahasan seperti ini adalah ayat-ayat al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah Saw. Masalah nasib dan takdir demikian juga kebebasan dan ikhtiar manusia merupakan sebuah masalah yang disukai oleh setiap manusia. Lantaran hal ini mengedepan dalam al-Qur’an, terdapat ayat-ayat yang secara lugas berbicara ihwal nasib dan suratan takdir manusia. Dan pada saat yang sama, juga terdapat ayat-ayat yang secara tegas bertutur tentang kebebasan manusia. Hal ini telah menjadi sebab sehingga kaum Muslimin tersedot perhatiannya untuk membahas perkara ini.

Mazhab Asyariyah merupakan mazhab teologi yang menganut  paham Determinisme. Sebagian dalil yang dikemukakan untuk menyokong pandangan mereka adalah sebagai berikut:

1.     Dalil utama  mereka atau dengan kata lain keraguan terpenting yang membuat mereka meyakini paham Determinisme adalah masalah pengetahuan Tuhan. Pengetahuan Tuhan bermakna  bahwa Tuhan semenjak azal mengetahui apa yang terjadi dan tidak terjadi dan tidak satu pun peristiwa yang luput dan tersembunyi dari pengetahuan Tuhan.

Dari satu sisi, pengetahuan Tuhan tidak mengalami perubahan dan juga tidak mengalami kekeliruan. Artinya tidak mungkin berubah dan berganti menjadi bentuk yang lain, lantaran perubahan bertolak belakang dengan kompleksitas dan kesempurnaan esensial Tuhan. Juga tidak mungkin  apa yang diketahui Tuhan semenjak azal terhadap apa yang terjadi itu berubah dan berganti. Lantaran hal itu meniscayakan pengetahuan Tuhan bukan lagi pengetahuan melainkan kejahilan. Hal ini juga bertolak belakang dengan kompleksitas dan kesempurnaan Eksisten Mutlak. Dalam menyanggah dan menolak dalil ini kita harus berkata bahwa Tuhan mengetahui setiap peristiwa dan fenomena yang terjadi. Setiap aktivitas bebas manusia itu bersifat ikhtiari dan diketahui oleh Tuhan. Dengan demikian, apabila perbuatan manusia bersifat terpaksa dan deterministik maka hal itu akan menyelisih pengetahuan Tuhan.  Misalnya Tuhan mengetahui bahwa seseorang pada suatu kesempatan memutuskan untuk melakukan sebuah pekerjaan dan kemudian melakukannya. Sejatinya pengetahuan Tuhan semata-mata tidak terkait dengan terlaksananya perbuatan, tetapi juga terkait dengan kehendak dan kebebasan pelaku. Oleh itu, pengetahuan azali bukan hanya tidak bertentangan dengan ikhtiar dan kebebasan manusia bahan menyokong dan menetapkan ikhtiar dan kebebasan itu. Karena pengetahuan Tuhan terkait dengan terealisirnya kebebasan (ikhtiari) setiap perbuatan sedemikian sehingga apabila tidak terlaksana berdasarkan ikhtiar maka pengetahuan Tuhan akan menyelisih dan berbeda dengan kenyataan faktual dan tentu saja hal ini merupakan suatu hal yang absurd.

2.     Dalil kedua Asyairah dalam keyakinan mereka terhadap paham Determinisme bahwa apabila kita memandang bahwa manusia memiliki ikhtiar dan kebebasan, maka kita telah membatasi domain dan ranah kekuasaaan Tuhan. Tentu saja pandangan ini bertentangan dengan tauhid dan termasuk sejenis syirik. Karena dengan adanya kebebasan maka kita telah meninggikan kemandirian manusia dalam berkehendak dan menjadikan manusia dalam perbuatan-perbuatannya seperti Tuhan dalam berkehendak “fa’âl ma yasya” (melakukan apa pun yang ingin dikerjakan) yang meniscayakan pembatasan kehendak Ilahi. Jawaban atas dalil kedua Asy’ariyah: Keraguan ini bersumber dari konsepsi yang mereka gambarkan bahwa kebebasan dan ikhtiar yang dimiliki manusia itu meniscayakan kemandiriannya. Namun gambaran ini sama sekali tidak tepat. Karena keberadaan manusia dan apa yang dimilikinya dimana salah satunya adalah ikhtiar manusia yang bersumber dari Tuhan, kemunculannya (hudutsan) dan kontinuitasnya (baqâan) mengikut kepada kehendak Tuhan. Dengan kata lain, manusia pada saat ia memiliki ikhtiar dan kebebasan maka ia berada pada cakupan kekuasaan Tuhan kapan saja ia berkehendak. Kemusyrikan terjadi tatkala kita memandang adanya dua sumber mandiri di alam semesta ini.

3.     Dalil lainnya yang diajukan oleh Asyariah terhadap determinisme tiadanya keselarasan antara qadha dan qadar Ilahi dengan ikhtiar manusia. Yang dimaksud dengan takdir Ilahi adalah bahwa Tuhan memberikan kadar dan batasan kualitas dan kuantitas, ruang dan waktu khusus yang mengikut pada mekanisme kausalitas dan faktor-faktor gradual pada segala sesuatu. Adapun ketentuan (qadha) Ilahi bermakna bahwa setelah tersedianya segala pendahuluan, sebab dan syarat sebuah fenomena maka ketentuan Ilahi akan menyampaikan segala sesuatu itu pada tingkatan puncak dan niscaya terealisir. Karena itu, manusia tidak memiliki pengaruh dan peran dalam mewujudkan fenomena dan perbuatan tersebut dimana salah satu di antaranya adalah perbuatan manusia itu sendiri. Jawaban: Menyandarkan adanya perbuatan ikhtiari manusia terhadap Tuhan tidak bertentangan dengan penyandarannya kepada manusia itu sendiri, karena penyandaran-penyandaran ini berada pada tataran vertikal dan bukan horizontal sehingga harus saling berhadap-hadapan satu dengan yang lain. Dengan kata lain, penyandaran perbuatan terhadap pelaku, dalam hal ini, manusia pada satu tataran dan penyandaran keberadaannya pada Tuhan pada tataran lainnya yang lebih tinggi dimana pada tataran tersebut, eksistensi manusia itu sendiri dan keberadaan materi yang menjadi media terlaksananya pekerjaan tersebut seluruhnya bersandar kepadanya.

Karena itu, pengaruh kehendak manusia sebagai “bagian akhir dari sebab lengkap” dalam perbuatannya tidak berseberangan dengan (penyandaran) adanya seluruh bagian sebab lengkap kepada Tuhan. Tuhanlah yang mewujudkan semesta, manusia dan seluruh dimensi wujudnya dan meletakkanya pada kekuasaannya dan senantiasa memberikan wujud kepadanya, menciptakan segala sesuatunya baru untuk mereka dan tidak satu pun eksisten apapun dan bagaimanapun kondisinya yang tidak membutuhkannya. Dengan demikian, segala perbuatan ikhtiari manusia senantiasa membutuhkan Tuhan dan sekali-kali tidak akan keluar dari domain kehendak-Nya. Seluruh sifat dan tipologi, batasan dan identitasnya bergantung pada takdir dan ketentuan Ilahi. Bukan memilih salah satunya, antara harus menyandarkan sebuah perbuatan pada kehendak manusia atau menyandarkannya pada kehendak Tuhan. Tidak demikian. Karena dua kehendak ini tidak berada pada posisi berhadap-hadapan dan keduanya tidak dapat berhimpun (mâni’atu al-jam) dan pengaruh keduanya dalam terealisirnya seluruh perbuatan tidak terlaksana dalam bentuk ‘ala al-badal (pengganti) melainkan kehendak manusia seperti inti keberadaannya sepenuhnya bergantung kepada kehendak Ilahi. Dan kehendak Tuhan merupakan suatu hal yang niscaya dalam terealisirnya seluruh perbuatan manusia.[1] Hal ini senada dengan pesan Ilahi pada ayat 29 surah al-Takwir (81) “Wama tasya’una illla an yasyaaLlÂh Rabb al-‘Âlamin.” (Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam) Beberapa dalil di atas merupakan sebagian dalil yang dikemukakan oleh penganut aliran Determinisme beserta sanggahan mereka ihwal perbuatan-perbuatan manusia. Di sini kiranya kita perlu menyebutkan efek dan akibat buruk dari model pemikiran seperti ini.

Pemikiran Determinisme di samping tidak memiliki argumen-argumen yang standar dan dapat diterima juga bertentangan dengan sebagian dasar-dasar agama seperti:

1.     Bertentangan dengan keadilan Ilahi. Sementara Allah Swt berfirman: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(Qs. Ali Imran [3]:18) Di hari Kiamat, Allah Swt akan memperlakukan hamba-hamba-Nya berdasarkan keadilan dan tiada seorang pun yang akan mendapatkan ketidakadilan pada hari itu. Kami akan menegakkan timbangan yang adil pada hari kiamat, lalu setiap jiwa tidak akan dirugikan barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:47) Apakah hal ini mencerminkan keadilan ketika manusia secara terpaksa dan deterministik melakukan sebuah perbuatan dan kemudian dihukum sebagai pendosa dan penjahat?[2]

2.     Berseberangan dengan pengutusan para nabi: Al-Qur’an menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama pengutusan para nabi adalah pengajaran (taklim) dan pendidikan (tarbiyah).[3] Dan suatu hal yang jelas bahwa apabila manusia manusia melakukan setiap perbuatan secara terpaksa dan deterministik maka pengutusan para nabi tidak akan berarti dan sia-sia saja. Lantaran berita gembira (basyârat) dan peringatan (indzâr) yang mereka sampaikan tidak menyisakan pengaruh pada setiap perbuatan dan amalan manusia.

Dalam pada itu, apabila kita menafikan adanya kehendak dan ikhtiar manusia serta memandang bahwa manusia sama sekali tidak memiliki peran positif dalam perbuatannya sama sekali maka tidak tersisa lagi perbedaan antara manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Di samping itu, sesuai dengan tuturan Ustad Muthahari bahwa akidah seperti ini juga berefek sosial yang sangat berbahaya. Keyakinan seperti ini akan menjadi penyebab para tiran dan kaum despot akan semakin merajalela dan tuntutan orang-orang tertindas akan semakin terabaikan. Sejarah menunjukkan bahwa masalah ini menjadi alat kuat pada masa Bani Umayyah bagi para politikus Bani Umayah, yang menganut dan menyokong penyebaran akidah ini. Mereka tidak segan-segan membunuh atau memenjarakan para penganut paham kebebasan dan ikhtiar manusia serta memandang mereka sebagai penentang akidah agama.[4]

Karena itu, pandangan benar dalam hal ini adalah pandangan Syiah yang mentasbihkan bahwa apa pun tindakan dan perbuatan yang dilakukan manusia adalah perbuatannya juga perbuatan Tuhan; karena perbuatan-perbuatan ini bertitik-tolak dari kebebasan dan ikhtiar manusia oleh itu ia adalah perbuatan manusia. Dan lantaran Allah Swt adalah pencipta dan sumber utama keberadaan manusia dan seluruh potensi dan kapasitas eksistensial bersumber darinya karena itu perbuatan itu adalah perbuatan Tuhan. Dengan kata lain, kepelakuan manusia berada sejajar secara vertikal dengan kepelakuan Tuhan. Kepelakukan Tuhan adalah kepelakuan embrional (menjadi embrio bagi kepelakuan manusia) sementara kepelakuan manusia adalah kepelakuan yang bersifat langsung. Pandangan ini secara terminologis disebut sebagai al-amr bain amrain (perkara di antara dua perkara). Pandangan ini dapat dipahami dari banyak ayat al-Qur’an dan ajaran para Imam Maksum As dan Syiah merupakan penyokong pandangan ini. [IQuest]

 

Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat:

1.     Manusia dan Masalah Freewill dan Determinisme, Pertanyaan No. 223.

2.     Apa yang Dimaksud dengan Ungkapan Laa Jabr wala Tafwidh bal Amru baina Amrain, Pertanyaan No. 58.



[1]. Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Âmuzesy Aqâ’id, edisi tiga jilid, hal. 155.  

[2]. Karena menurut pandangan ini (Determinisme) manusia tidak memiliki kehendak dan ikhtiar.

[3]. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah, meskipun mereka sebelum itu benar-benar terjerumus dalam jurang kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Jumuah [62]:2)

[4]. Murtadha Muthahhari, Majmu’e Âtsar, jil. 1, hal. 375-376.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits