Hits
16420
Tanggal Dimuat: 2012/05/06
Ringkasan Pertanyaan
Apakah hakikat ruh berdasarkan hadis-hadis Islam dan mengapa hal ini tidak diutarakan secara komprehensif dalam al-Quran?
Pertanyaan
Dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85) Mohon jelaskan: pertama, mengapa Rasulullah Saw tidak ingin menegaskan informasi dan pengetahuan yang lebih luas terkhusus mengenai ruh? Kedua, berdasarkan hadis-hadis yang ada, apa sebenarnya hakikat ruh itu? Apakah ruh dapat dilihat?
Jawaban Global

Kata ruh mempunyai maksud yang berbeda dalam berbagai disiplin ilmu. Kata ini dalam masing-masing ilmu memiliki makna istilah yang khas, begitu pula dalam al-Quran, terdapat makna tipikal yang yang diungkapkan dengan intepretasi-intepretasi yang berbeda.

Terdapat beberapa asumsi mengenai hakikat dari makna ruh yang dipersoalkan pada ayat ini, di antaranya: ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna makhluk yang lebih tinggi dari malaikat. Namun yang pasti bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian dalam ilmu Kedokteran, karena pengetahuan terhadap ruh ini bukan merupakan suatu persoalan yang jauh dari jangkauan ilmu.

Demikian juga ruh ini bukanlah Jibril, karena dalam sebagian ayat-ayat al-Quran, ruh telah disebutkan berdampingan dengan malaikat dan dipandang sebagai persoalan yang berbeda dengan malaikat, secara tegas sebagian hadis juga menunjukkan perkara ini.

Berpijak pada ayat ini tentang hakikat ruh, hanya dalam batasan ini bisa dikatakan bahwa ruh adalah suatu hakikat yang non-materi dan menjadi urusan Tuhan, suatu perkara yang dinisbahkan kepada Tuhan, tidak terikat oleh ruang dan waktu serta tidak memiliki tipologi materi.

Memahami bagaimana perkara ketuhanan ini dan tingkatan-tingkatannya digolongkan sebagai rahasia-rahasia pengetahuan syuhudi (irfani) dan tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah Saw sendiri tidak memilik pengetahuan ini, namun karena mayoritas manusia tidak menjangkau pengetahuan seperti ini, maka membicarakannya akan menyebabkan kebingungan dan keheranan akal, dengan demikian, persoalan hakikat ruh tidak diungkapkan secara luas dalam aspek lahiriah al-Quran.

Dari ungkapan di atas  menjadi jelas bahwa karena ruh merupakan suatu hakikat yang tidak berada dalam koridor ruang-waktu dan tidak memiliki tipologi materi, maka ia tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata. Akan tetapi, sebagian efek-efek dan manifestasi-imaginal (mitsali) ruh hadir dalam materi lembut, seperti dalam kehadiran ruh badan-imaginal (mitsali) di alam barzakh.

Perlu diungkapkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin ilmu dan begitu juga dalam ungkapan-ungkapan yang aplikatif, secara lahiriah ruh digunakan untuk menunjuk bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi].

Namun hal ini tidak dapat diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi.

Jawaban Detil
  1. Pendahuluan

Salah satu pembahasan penting dan mendasar dalam agama-agama, hikmah [Hikmah Muta’aliyah], filsafat, dan irfan adalah pengenalan dan pengetahuan tentang ruh dari dimensi antropologi-filosofis (pengetahuan filosofis mengenai manusia) dan kosmologi.

Di kalangan para teolog dan filosof Islam, terdapat beragam pendapat mengenai hakikat ruh, begitu pula, masalah ini terungkap secara global dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis.

Namun secara umum, pengetahuan tentang ruh dalam koridor makna-makna Quraninya (yang banyak mengisyaratkan tentang suatu hakikat yang lebih tinggi dari malaikat) tidak terjangkau oleh semua disiplin ilmu empirik dan pikiran-pikiran para intelektual, tapi dapat dicapai oleh suatu pengetahuan yang bersifat syuhudi dan irfani. Sebagaimana mereka mengatakan bahwa makrifat tentang jiwa yang tidak lain adalah makrifat tentang Tuhan adalah mengenal hakikat ruh.[1]

 

  1. Apa yang dimaksud dengan ruh?

Perlu diutarakan bahwa apa yang dimaksudkan dari kata ruh pada beragam disiplin pengetahuan adalah berbeda-beda, dan kata ini dalam setiap disiplin ilmu, baik dalam ilmu-ilmu klasik maupun kontemporer memiliki makna istilah tipikalnya tersendiri, begitu pula dalam istilah quraninya memiliki makna yang khusus yang digunakan dalam ungkapan-ungkapan yang berbeda seperti kata al-ruh,[2] ruhi,[3] ruh minhu,[4] ruh al-amin,[5] ruh al-qudus,[6] dan lain sebagainya.

 

3. Ruh dalam ayat 85 surah Isra

Salah satu ayat-ayat penting dalam al-Quran yang mengutarakan tentang hakikat ruh secara umum adalah ayat 85 surah Isra (18) yang menyatakan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Terdapat beberapa kemungkinan tentang ruh yang disebutkan pada ayat di atas, ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-Qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna suatu makhluk yang lebih tinggi dari malaikat.

Namun yang pasti, yang dimaksudkan oleh ayat tersebut bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian ilmu Kedokteran, karena pengenalan terhadap hakikat ruh ini berada dalam jangkauan berbagai disiplin ilmu dan dalam berbagai ilmu Kedokteran klasik dan psikologi modern, terdapat beragam pemikiran yang tergagaskan tentang hakikat ruh ini.

Begitu pula, tidak bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ruh tersebut adalah Jibril, karena kata ruh selain yang dimaksudkan oleh ayat ini, telah dinyatakan berulang-ulang dalam banyak ayat al-Quran. Dan dengan alasan karena disebutkan bersama dengan malaikat dan yang terpilih dari mereka (al-malaikatuh wa ar-ruh, malaikat dan ruh), maka sudah pasti bahwa ruh bukanlah malaikat, di samping itu sebagian hadis-hadis menegaskan tentang perbedaan dua realitas ini. Mengenai hakikat ruh yang terdapat pada ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh...”, Allamah Thabathabai mengatakan bahwa secara lahiriah, ruh adalah suatu ciptaan yang lebih luas [dan lebih tinggi] dari Jibril dan selain Jibril.

Di bawah ini akan disebutkan sebagian hadis-hadis yang menunjuk bahwa ruh bukan malaikat dan bukan Jibril:

  1. Seorang datang menghampiri Imam Ali As dan bertanya, “Apakah ruh adalah Jibril itu sendiri?” beliau bersabda, “Jibril adalah dari malaikat dan ruh bukanlah Jibril.”[7]
  2. Abu Bashir bertanya kepada Imam Shadiq As tentang firman Tuhan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku,” Imam Shadiq As bersabda, “Ruh adalah suatu ciptaan yang lebih agung [lebih luas, lebih besar, dan lebih tinggi] dari Jibril dan Mikail As. Ruh ini bersama Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait dan berasal dari alam malakut.”[8]

Kendati demikian, kita menyaksikan dalam sebagian ayat-ayat al-Quran yang memperkenalkan Jibril As sebagai Ruh al-Amin, namun bentuk penggabungan dari kedua tema ini adalah sebagaimana  yang ditegaskan oleh Allamah Thabathabai Qs, “Dari ungkapan al-Quran dapat disimpulkan bahwa Jibril dan para malaikat adalah “pembawa” dan “penyampai” ruh dan mereka akan senantiasa bersama dengannya dalam [perjalanan] menurun dan menaik. Dan dari aspek inilah, ruh dari satu sisi adalah realitas yang tak terpisah dari malaikat dan Jibril, dan dari sisi yang lain sebagai realitas yang terpisah dari mereka.”[9]

 

4. Hakikat Ruh dalam al-Quran dan ayat 85 surah Isra

Mengenai hakikat ruh ini, pada ayat tersebut, secara umum Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ruh itu termasuk urusan [perkara] Tuhan-ku.” Supaya hakikat tentang “urusan Ilahi” ini menjadi jelas bagi kita, kita dapat merujuk pada sebagian ayat-ayat seperti, “Sesungguhnya perkara-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.”[10] Urusan-Nya adalah demikian, bahwa ketika Dia menghendaki sesuatu, hanya dengan mengatakan “Jadilah”, maka sesuatu tersebut akan segera terwujud.

Menurut Allamah Thabathabai dalam Tafsir al-Mizân, ayat ini menunjukkan bahwa ruh merupakan salah satu dari urusan Allah yang dinisbatkan pada zat-Nya, dan karena yang termasuk dalam “urusan Ilahi” adalah kalimat “kun” (jadilah), yang tak lain adalah kalimat pewujudan dan mengisyarahkan pada perbuatan khusus bagi Zat Ilahi, oleh karena itu, ruh juga termasuk dalam urusan Ilahi dalam skala masa dan tempat, dan dan sama sekali tidak bisa diperhitungkan dengan kriteria-kriteria materi lain yang manapun.[11]

Dalam al-Quran, ruh ini didefinisikan dengan berbagai intepretasi, salah satunya disebutkan secara sendiri dan secara mutlak, seperti ayat di atas. Demikian juga kadangkala disebutkan bersama malaikat, dan terkadang dikatakan sebagai sebuah hakikat yang akan ditiupkan pada manusia secara umum, suatu waktu juga merupakan sebuah hakikat yang menyertai orang-orang beriman, dan kali lain sebagai sebuah hakikat dimana para nabi berinteraksi dengannya.

 

5. Kenapa tidak ada penjelasan lebih mendalam tentang hakikat ruh?

Secara umum, mengenai hakikat ruh, cukup untuk dikatakan bahwa ruh merupakan sebuah hakikat non-materi (mujarrad) dan merupakan salah satu dari urusan Allah, akan tetapi pemahaman tentang bagaimana urusan ketuhanan ini dan tahapan-tahapannya, membutuhkan ilmu syuhudi, dan termasuk dari rahasia-rahasia mukasyafah, dan karena mayoritas manusia tidak memiliki pemahaman seperti ini, maka membincangkan masalah ini akan menyebabkan keheranan akal, dan mungkin juga akan menyebabkan ketersesatan.

Karena itu, dalam al-Quran al-Karim tidak ada penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengenalan ruh.

Dari sini, tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah sendiri tidak memiliki ilmu ini, sebagaimana pengenalan hakikat ruh secara perolehan dan yakin merupakan bagian dari derajat para arif, dan penjelasan rahasia-rahasianya bagi mereka yang mencintai ilmu ini, tidak akan memiliki manfaat ilmiah.[12]

Sedangkan yang dimaksud dalam kalimat “wa mâ ûtîtum minal ‘ilmi illâ qalîlâ” adalah bahwa apa yang dimanfaatkan oleh ulama dari aspek lahirian masalah ini, hanyalah sedikit dari yang banyak, dan hakikat ruh merupakan sebuah persoalan yang lebih luas, dan memahaminya tidak akan mungkin diterima kecuali melalui ilmu perolehan (ilm hushuli).

 

6. Apakah ruh dapat dilihat?

Dari apa yang telah lalu menjadi jelas bahwa karena ruh adalah sebuah hakikat yang tidak terikat oleh ruang dan waktu dan tidak memiliki karakteristik materi, maka ruh ini tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata.

Kendati mukasyafah dan syuhud sebelumnya, ruh dapat diterima bagi para maksum, dan mungkin para arif juga memiliki syuhud ini secara global, dan tidak ada perbedaan dengan kenonmaterian ruh.

Demikian juga, sebagian dari pengaruh dan manifestasi ruh (bukan zat ruh itu sendiri) bisa tertampakkan dalam bentuk materi lembut, seperti badan mitsali yang merupakan bentuk ruh di alam barzah dan memiliki karakteristik-karakteristik yang mirip dengan jasmani duniawi dalam sebuah derajat yang lebih tinggi dari lathafat dan nuraniyat.

Perlu disebutkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin  ilmu, demikian juga dalam sebagian perubahan yang aplikatif, menunjuk pada bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi]. Namun hal ini tidak bisa diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi. [iQuest]

 

 


[1] . Ahmad bin Muhammad Husain Ardakani, Mar-ât al-Akwân (tahrir Syarh Hidayah Mulla Shadra), hlm. 37, Nasyir, Mirats Maktub.

[2] . Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85); “(Dia-lah) yang mengangkat derajat (para hamba yang saleh), yang mempunyai ‘Arsy, yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Al-Ghafir [40]: 15).

[3] . “Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]: 72).

[4] .”Menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya.” (Qs. Al-Mujadalah [58]: 22); “Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (Qs. Al-Nisa [4]: 171).

[5] . “Ar-Ruh al-Amin (Jibril) telah menurunkannya. (Qs. Al-Syuara [26]: 193).

[6] .”Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan telah menyusulinya (berturut-turut) setelah itu dengan rasul-rasul, serta Kami telah menganugerahkan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putra Maryam dan memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.” “Rasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian yang lain Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami menganugrahkan kepada Isa putra Maryam tanda-tanda (kebesaran Kami) yang jelas serta Kami memperkuatnya dengan Rûhul Qudus.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 87 dan 253); (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus.”  (Qs.  Al-Maidah [5]: 110); Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Al-Nahl [16]: 102).

[7] . Kulaini, Kâfî, jil. 1, hal. 274, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, 1365.

[8] . Ibid, jil. 1, hlm. 273.

[9] . Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, Al-Mîzân, Sayyid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 13, hlm. 171-172, Jamiah Mudarrisin, Qom, 1374.

[10] . Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin [36]: 82).

[11]. Al-Mîzân, jil. 1, hlm. 528-29.

[12]. Ma-rât al-Akwân (Syarh Hidâyah Mulla Shadra) hal. 36.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Panduan

Mengingat bahwa pertanyaan yang diajukan tidak terbatas dan adanya keterbatasan orang-orang dan yayasan-yayasan, maka kami meminta Anda untuk memperhatikan beberapa poin di bawah ini yang akan banyak membantu kami untuk membuat skala prioritas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak sesuai dengan pedoman dan petunjuk pengajuan pertanyaan boleh jadi semenjak awal telah terpental untuk dijawab. Namun  demikian kami akan menyampaikan beberapa alasannya kepada Anda sebagai berikut:

  1. Pertanyaan yang diajukan tidak boleh bersifat global yang memerlukan beberapa lembar buku untuk menjawabnya, misalnya, “Bagaimana pandangan Islam terkait dengan manusia?” Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan global yang meniscayakan penyusunan sebuah buku untuk menjawabnya atau hal ini merupakan sebuah permintaan untuk mengkritisi satu buku dan bahkan ...
Baca Selengkapnya

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah kedudukan dan makam orang-orang saleh lebih tinggi dari makam kenabian?
    1021 Teologi Klasik 2013/07/15
    Seorang yang saleh artinya seseorang yang memiliki kelayakan dan kapabilitas menerima emanasi-emanasi Ilahi dan pelbagai karunia yang tidak terbatas serta orang yang menggondol derajat-derajat menjulang serta rahmat khusus. Makam ini tidak berada pada lintasan vertikal makam kenabian melainkan di samping dan pada jalur horizontal makam kenabian. Sifat saleh adalah salah ...
  • Mengapa Syaikh Kulaini Ra tidak memperlihatkan kitab al-Kâfi itu kepada Imam Zaman Ajf?
    2332 Sirah Ulama 2012/03/14
    Terdapat dua pandangan di antara para ulama sehubungan dengan pertanyaan apakah Syaikh Kulaini memperlihatkan kitab al-Kâfi kepada Imam Zaman Ajf atau tidak: Sebagian ulama berpendapat bahwa kitab al-Kâfi telah diperlihatkan kepada Imam Zaman Ajf dan Imam bersabda, “al-Kâfi kâfi lisyiatina” (Kitab al-Kâfi telah mencukupi bagi Syiah kami).[1] Sebagian ulama lainnya berkata kitab ...
  • Apakah hikmah dan ilmu itu berbeda?
    4214 Tafsir 2009/03/12
    Makna leksikal hikmah adalah ucapan dan perbuatan yang sesuai dengan kebenaran dan realitas, sampai kepada kebenaran dengan media ilmu dan akal dan atau yang membuat manusia berdiri di atas rel kebenaran. Ilmu adalah mengetahui, mencerap sebuah hakikat, dan pengetahuan.Hikmah dan ilmu dalam al-Qur’an:Redaksi hikmah berulang kali disebutkan dalam al-Qur’an. Tentang ...
  • Tolong sebutkan bagi saya sebuah doa untuk menemukan pasangan yang cocok dan bertakwa.
    3523 Akhlak Praktis 2012/09/10
    Allah Swt menjadikan setiap pekerjaan memiliki sebab-sebab tertentu sedemikian sehingga setiap pekerjaan hanya akan memperoleh hasil apabila dikerjakan melalui kanal-kanal sebabnya. Untuk memperoleh jodoh dan pasangan idaman juga demikian caranya. Cara untuk mendapatkan istri idaman memerlukan penelitian dan pengenalan yang tepat dan akurat. Tentu saja dalam hal ini kita harus memohon ...
  • Apakah tiadanya warisan bagi para istri mut’ah merupakan dalil bahwa mereka bukanlah istri-istri legal?
    1754 Hukum dan Yurisprudensi 2011/02/24
    Kriteria pernikahan dalam Islam bukanlah menerima atau memberi warisan kepada pasangan suami dan istri. Pernikahan dalam pandangan Islam terdiri dari dua bagian: Permanen (daim) dan kedua temporal (mut’ah). Terdapat kesamaan dan perbedaan pada akad temporal (mut’ah) dan permanen (daim) yang disebabkan karena falsafah dan hikmah pernikahan temporal. Mempermudah dan meringankan ...
  • Apa makanan dan pakaian Imam Zaman Ajf?
    1790 Teologi Klasik 2010/09/20
    Imam Mahdi hidup sebagaimana orang lain hidup. Beliau hidup secara normal dan biasa. Adapun yang disebutkan dalam riwayat bahwa Imam Mahdi Ajf mencukupkan diri dengan makanan dan pakaian pada tataran minimal. Nu’mani dalam kitab Ghaibat meriwayatkan dari Imam Shadiq dan Imam Ridha As ihwal Imam Qaim (Imam Mahdi) bahwa "ma ...
  • Mana ayat-ayat dan hadis-hadis yang menjelaskan kemestian penghargaan dan terima kasih dari masyarakat?
    4920 Tafsir 2012/06/19
    Pernyataan syukur, terima kasih, dan penghargaan adalah dari ‘nikmat-luas’ dan ‘perbuatan-baik’ yang sangat utama dan dicintai yang al-Quran disamping menyebut syakir[1] (orang yang bersyukur) dan syakur[2] (orang yang sangat bersyukur) sebagai nama-nama Tuhan, berfirman, “Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”[3] Imam Sajjad As bersabda, “Pada hari kiamat Tuhan ...
  • Apakah selain pengikut mazhab Syiah Itsna Asyari, akan memasuki surga? Bagaimana nasib orang-orang jahil qashir di hari Kiamat?
    3068 Hukum dan Yurisprudensi 2009/12/08
    Menjadi penghuni surga tidak bersandar pada titel atau klaim, melainkan berpijak pada standar "iman" dan "amal saleh". Seorang Syiah juga akan menjadi penghuni surga sepanjang ia tidak sekedar mengklaim diri sebagai Syiah namun ia harus menunaikan segala tuntutan ketika seseorang menjadi Syiah kemudian mengumpulkan sangu dan bekal sebanyak mungkin sehingga ...
  • Mengapa dengan merajalelanya kezaliman dan angkara murka di muka bumi namun Imam Zaman tetap belum muncul?
    472 Teologi Klasik 2013/11/25
    Menyimak beberapa poin berikut ini akan sangat membantu Anda untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Anda: Ungakapan yang dapat dijumpai dalam beberapa riwayat, “Yamla al-ardha qisthan wa ‘adlan kama muliat zhulman wa jaura.” Imam Mahdi Ajf akan memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan setelah dipenuhi oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan.”[1] Apa yang dapat ...
  • Mengingat adanya perbedaan pendapat tentang masalah wilâyah fakih di antara para fakih apakah kita dapat menolak wilâyah (otoritas) seorang wali fakih?
    1637 System 2011/06/08
    Sebelum membahas masalah ini, kiranya kita perlu mencermati bahwa taklid harus berdasarkan beberapa kriteria dan pakem, bukan semata-mata berdasarkan anggapan dan asumsi yang kita buat sendiri. Kemudian mencari seorang alim untuk menyokong dan menjustifikasi anggapan dan asumsi kita. Jelas hal seperti ini tidak dapat disebut sebagai taklid.Mengingat terdapat sebuah keburaman ...

Populer Hits

Jejaring