Hits
16631
Tanggal Dimuat: 2012/05/06
Ringkasan Pertanyaan
Apakah hakikat ruh berdasarkan hadis-hadis Islam dan mengapa hal ini tidak diutarakan secara komprehensif dalam al-Quran?
Pertanyaan
Dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85) Mohon jelaskan: pertama, mengapa Rasulullah Saw tidak ingin menegaskan informasi dan pengetahuan yang lebih luas terkhusus mengenai ruh? Kedua, berdasarkan hadis-hadis yang ada, apa sebenarnya hakikat ruh itu? Apakah ruh dapat dilihat?
Jawaban Global

Kata ruh mempunyai maksud yang berbeda dalam berbagai disiplin ilmu. Kata ini dalam masing-masing ilmu memiliki makna istilah yang khas, begitu pula dalam al-Quran, terdapat makna tipikal yang yang diungkapkan dengan intepretasi-intepretasi yang berbeda.

Terdapat beberapa asumsi mengenai hakikat dari makna ruh yang dipersoalkan pada ayat ini, di antaranya: ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna makhluk yang lebih tinggi dari malaikat. Namun yang pasti bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian dalam ilmu Kedokteran, karena pengetahuan terhadap ruh ini bukan merupakan suatu persoalan yang jauh dari jangkauan ilmu.

Demikian juga ruh ini bukanlah Jibril, karena dalam sebagian ayat-ayat al-Quran, ruh telah disebutkan berdampingan dengan malaikat dan dipandang sebagai persoalan yang berbeda dengan malaikat, secara tegas sebagian hadis juga menunjukkan perkara ini.

Berpijak pada ayat ini tentang hakikat ruh, hanya dalam batasan ini bisa dikatakan bahwa ruh adalah suatu hakikat yang non-materi dan menjadi urusan Tuhan, suatu perkara yang dinisbahkan kepada Tuhan, tidak terikat oleh ruang dan waktu serta tidak memiliki tipologi materi.

Memahami bagaimana perkara ketuhanan ini dan tingkatan-tingkatannya digolongkan sebagai rahasia-rahasia pengetahuan syuhudi (irfani) dan tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah Saw sendiri tidak memilik pengetahuan ini, namun karena mayoritas manusia tidak menjangkau pengetahuan seperti ini, maka membicarakannya akan menyebabkan kebingungan dan keheranan akal, dengan demikian, persoalan hakikat ruh tidak diungkapkan secara luas dalam aspek lahiriah al-Quran.

Dari ungkapan di atas  menjadi jelas bahwa karena ruh merupakan suatu hakikat yang tidak berada dalam koridor ruang-waktu dan tidak memiliki tipologi materi, maka ia tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata. Akan tetapi, sebagian efek-efek dan manifestasi-imaginal (mitsali) ruh hadir dalam materi lembut, seperti dalam kehadiran ruh badan-imaginal (mitsali) di alam barzakh.

Perlu diungkapkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin ilmu dan begitu juga dalam ungkapan-ungkapan yang aplikatif, secara lahiriah ruh digunakan untuk menunjuk bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi].

Namun hal ini tidak dapat diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi.

Jawaban Detil
  1. Pendahuluan

Salah satu pembahasan penting dan mendasar dalam agama-agama, hikmah [Hikmah Muta’aliyah], filsafat, dan irfan adalah pengenalan dan pengetahuan tentang ruh dari dimensi antropologi-filosofis (pengetahuan filosofis mengenai manusia) dan kosmologi.

Di kalangan para teolog dan filosof Islam, terdapat beragam pendapat mengenai hakikat ruh, begitu pula, masalah ini terungkap secara global dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis.

Namun secara umum, pengetahuan tentang ruh dalam koridor makna-makna Quraninya (yang banyak mengisyaratkan tentang suatu hakikat yang lebih tinggi dari malaikat) tidak terjangkau oleh semua disiplin ilmu empirik dan pikiran-pikiran para intelektual, tapi dapat dicapai oleh suatu pengetahuan yang bersifat syuhudi dan irfani. Sebagaimana mereka mengatakan bahwa makrifat tentang jiwa yang tidak lain adalah makrifat tentang Tuhan adalah mengenal hakikat ruh.[1]

 

  1. Apa yang dimaksud dengan ruh?

Perlu diutarakan bahwa apa yang dimaksudkan dari kata ruh pada beragam disiplin pengetahuan adalah berbeda-beda, dan kata ini dalam setiap disiplin ilmu, baik dalam ilmu-ilmu klasik maupun kontemporer memiliki makna istilah tipikalnya tersendiri, begitu pula dalam istilah quraninya memiliki makna yang khusus yang digunakan dalam ungkapan-ungkapan yang berbeda seperti kata al-ruh,[2] ruhi,[3] ruh minhu,[4] ruh al-amin,[5] ruh al-qudus,[6] dan lain sebagainya.

 

3. Ruh dalam ayat 85 surah Isra

Salah satu ayat-ayat penting dalam al-Quran yang mengutarakan tentang hakikat ruh secara umum adalah ayat 85 surah Isra (18) yang menyatakan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Terdapat beberapa kemungkinan tentang ruh yang disebutkan pada ayat di atas, ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-Qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna suatu makhluk yang lebih tinggi dari malaikat.

Namun yang pasti, yang dimaksudkan oleh ayat tersebut bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian ilmu Kedokteran, karena pengenalan terhadap hakikat ruh ini berada dalam jangkauan berbagai disiplin ilmu dan dalam berbagai ilmu Kedokteran klasik dan psikologi modern, terdapat beragam pemikiran yang tergagaskan tentang hakikat ruh ini.

Begitu pula, tidak bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ruh tersebut adalah Jibril, karena kata ruh selain yang dimaksudkan oleh ayat ini, telah dinyatakan berulang-ulang dalam banyak ayat al-Quran. Dan dengan alasan karena disebutkan bersama dengan malaikat dan yang terpilih dari mereka (al-malaikatuh wa ar-ruh, malaikat dan ruh), maka sudah pasti bahwa ruh bukanlah malaikat, di samping itu sebagian hadis-hadis menegaskan tentang perbedaan dua realitas ini. Mengenai hakikat ruh yang terdapat pada ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh...”, Allamah Thabathabai mengatakan bahwa secara lahiriah, ruh adalah suatu ciptaan yang lebih luas [dan lebih tinggi] dari Jibril dan selain Jibril.

Di bawah ini akan disebutkan sebagian hadis-hadis yang menunjuk bahwa ruh bukan malaikat dan bukan Jibril:

  1. Seorang datang menghampiri Imam Ali As dan bertanya, “Apakah ruh adalah Jibril itu sendiri?” beliau bersabda, “Jibril adalah dari malaikat dan ruh bukanlah Jibril.”[7]
  2. Abu Bashir bertanya kepada Imam Shadiq As tentang firman Tuhan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku,” Imam Shadiq As bersabda, “Ruh adalah suatu ciptaan yang lebih agung [lebih luas, lebih besar, dan lebih tinggi] dari Jibril dan Mikail As. Ruh ini bersama Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait dan berasal dari alam malakut.”[8]

Kendati demikian, kita menyaksikan dalam sebagian ayat-ayat al-Quran yang memperkenalkan Jibril As sebagai Ruh al-Amin, namun bentuk penggabungan dari kedua tema ini adalah sebagaimana  yang ditegaskan oleh Allamah Thabathabai Qs, “Dari ungkapan al-Quran dapat disimpulkan bahwa Jibril dan para malaikat adalah “pembawa” dan “penyampai” ruh dan mereka akan senantiasa bersama dengannya dalam [perjalanan] menurun dan menaik. Dan dari aspek inilah, ruh dari satu sisi adalah realitas yang tak terpisah dari malaikat dan Jibril, dan dari sisi yang lain sebagai realitas yang terpisah dari mereka.”[9]

 

4. Hakikat Ruh dalam al-Quran dan ayat 85 surah Isra

Mengenai hakikat ruh ini, pada ayat tersebut, secara umum Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ruh itu termasuk urusan [perkara] Tuhan-ku.” Supaya hakikat tentang “urusan Ilahi” ini menjadi jelas bagi kita, kita dapat merujuk pada sebagian ayat-ayat seperti, “Sesungguhnya perkara-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.”[10] Urusan-Nya adalah demikian, bahwa ketika Dia menghendaki sesuatu, hanya dengan mengatakan “Jadilah”, maka sesuatu tersebut akan segera terwujud.

Menurut Allamah Thabathabai dalam Tafsir al-Mizân, ayat ini menunjukkan bahwa ruh merupakan salah satu dari urusan Allah yang dinisbatkan pada zat-Nya, dan karena yang termasuk dalam “urusan Ilahi” adalah kalimat “kun” (jadilah), yang tak lain adalah kalimat pewujudan dan mengisyarahkan pada perbuatan khusus bagi Zat Ilahi, oleh karena itu, ruh juga termasuk dalam urusan Ilahi dalam skala masa dan tempat, dan dan sama sekali tidak bisa diperhitungkan dengan kriteria-kriteria materi lain yang manapun.[11]

Dalam al-Quran, ruh ini didefinisikan dengan berbagai intepretasi, salah satunya disebutkan secara sendiri dan secara mutlak, seperti ayat di atas. Demikian juga kadangkala disebutkan bersama malaikat, dan terkadang dikatakan sebagai sebuah hakikat yang akan ditiupkan pada manusia secara umum, suatu waktu juga merupakan sebuah hakikat yang menyertai orang-orang beriman, dan kali lain sebagai sebuah hakikat dimana para nabi berinteraksi dengannya.

 

5. Kenapa tidak ada penjelasan lebih mendalam tentang hakikat ruh?

Secara umum, mengenai hakikat ruh, cukup untuk dikatakan bahwa ruh merupakan sebuah hakikat non-materi (mujarrad) dan merupakan salah satu dari urusan Allah, akan tetapi pemahaman tentang bagaimana urusan ketuhanan ini dan tahapan-tahapannya, membutuhkan ilmu syuhudi, dan termasuk dari rahasia-rahasia mukasyafah, dan karena mayoritas manusia tidak memiliki pemahaman seperti ini, maka membincangkan masalah ini akan menyebabkan keheranan akal, dan mungkin juga akan menyebabkan ketersesatan.

Karena itu, dalam al-Quran al-Karim tidak ada penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengenalan ruh.

Dari sini, tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah sendiri tidak memiliki ilmu ini, sebagaimana pengenalan hakikat ruh secara perolehan dan yakin merupakan bagian dari derajat para arif, dan penjelasan rahasia-rahasianya bagi mereka yang mencintai ilmu ini, tidak akan memiliki manfaat ilmiah.[12]

Sedangkan yang dimaksud dalam kalimat “wa mâ ûtîtum minal ‘ilmi illâ qalîlâ” adalah bahwa apa yang dimanfaatkan oleh ulama dari aspek lahirian masalah ini, hanyalah sedikit dari yang banyak, dan hakikat ruh merupakan sebuah persoalan yang lebih luas, dan memahaminya tidak akan mungkin diterima kecuali melalui ilmu perolehan (ilm hushuli).

 

6. Apakah ruh dapat dilihat?

Dari apa yang telah lalu menjadi jelas bahwa karena ruh adalah sebuah hakikat yang tidak terikat oleh ruang dan waktu dan tidak memiliki karakteristik materi, maka ruh ini tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata.

Kendati mukasyafah dan syuhud sebelumnya, ruh dapat diterima bagi para maksum, dan mungkin para arif juga memiliki syuhud ini secara global, dan tidak ada perbedaan dengan kenonmaterian ruh.

Demikian juga, sebagian dari pengaruh dan manifestasi ruh (bukan zat ruh itu sendiri) bisa tertampakkan dalam bentuk materi lembut, seperti badan mitsali yang merupakan bentuk ruh di alam barzah dan memiliki karakteristik-karakteristik yang mirip dengan jasmani duniawi dalam sebuah derajat yang lebih tinggi dari lathafat dan nuraniyat.

Perlu disebutkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin  ilmu, demikian juga dalam sebagian perubahan yang aplikatif, menunjuk pada bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi]. Namun hal ini tidak bisa diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi. [iQuest]

 

 


[1] . Ahmad bin Muhammad Husain Ardakani, Mar-ât al-Akwân (tahrir Syarh Hidayah Mulla Shadra), hlm. 37, Nasyir, Mirats Maktub.

[2] . Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85); “(Dia-lah) yang mengangkat derajat (para hamba yang saleh), yang mempunyai ‘Arsy, yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Al-Ghafir [40]: 15).

[3] . “Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]: 72).

[4] .”Menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya.” (Qs. Al-Mujadalah [58]: 22); “Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (Qs. Al-Nisa [4]: 171).

[5] . “Ar-Ruh al-Amin (Jibril) telah menurunkannya. (Qs. Al-Syuara [26]: 193).

[6] .”Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan telah menyusulinya (berturut-turut) setelah itu dengan rasul-rasul, serta Kami telah menganugerahkan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putra Maryam dan memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.” “Rasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian yang lain Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami menganugrahkan kepada Isa putra Maryam tanda-tanda (kebesaran Kami) yang jelas serta Kami memperkuatnya dengan Rûhul Qudus.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 87 dan 253); (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus.”  (Qs.  Al-Maidah [5]: 110); Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Al-Nahl [16]: 102).

[7] . Kulaini, Kâfî, jil. 1, hal. 274, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, 1365.

[8] . Ibid, jil. 1, hlm. 273.

[9] . Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, Al-Mîzân, Sayyid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 13, hlm. 171-172, Jamiah Mudarrisin, Qom, 1374.

[10] . Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin [36]: 82).

[11]. Al-Mîzân, jil. 1, hlm. 528-29.

[12]. Ma-rât al-Akwân (Syarh Hidâyah Mulla Shadra) hal. 36.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Panduan

Mengingat bahwa pertanyaan yang diajukan tidak terbatas dan adanya keterbatasan orang-orang dan yayasan-yayasan, maka kami meminta Anda untuk memperhatikan beberapa poin di bawah ini yang akan banyak membantu kami untuk membuat skala prioritas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak sesuai dengan pedoman dan petunjuk pengajuan pertanyaan boleh jadi semenjak awal telah terpental untuk dijawab. Namun  demikian kami akan menyampaikan beberapa alasannya kepada Anda sebagai berikut:

  1. Pertanyaan yang diajukan tidak boleh bersifat global yang memerlukan beberapa lembar buku untuk menjawabnya, misalnya, “Bagaimana pandangan Islam terkait dengan manusia?” Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan global yang meniscayakan penyusunan sebuah buku untuk menjawabnya atau hal ini merupakan sebuah permintaan untuk mengkritisi satu buku dan bahkan ...
Baca Selengkapnya

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Bagaimana model pertanyaan yang diajukan kepada kaum Muslimin dan non-Muslimin di dalam kubur?
    4618 Neo-Teologi 2010/06/07
    Barzakh secara leksikal bermakna tirai dan penghalang yang mengantarai dua hal. Adapun secara teknis barzakh adalah sebuah alam yang diletakkan Allah Swt antara alam dunia dan akhirat. Alam barzakh (isthmus) merupakan persinggahan pertama bagi manusia pasca kematian.Yang dimaksud dengan alam barzakh (isthmus) sebenaranya adalah alam kubur; sebuah alam dimana manusia ...
  • Di antara para Imam Maksum As siapakah yang tidak pernah pergi haji?
    1901 Sirah Para Maksum As 2012/09/03
    Disebutkan bahwa Imam Kesebelas As disebabkan oleh pengawasan ketat di kota Samarra sehingga beliau tidak dapat menunaikan kewajiban haji dan dalam pada itu, laporan sejarah juga tidak ada yang menceritakan bahwa beliau pernah meninggalkan kota Samarra. Namun demikian kita tidak dapat menjelaskan secara definitif hal ini karena terdapat juga bukti-bukti yang ...
  • Bagaimana tata cara pelaksanaan ibadah salat nafilah malam itu?
    2161 Hukum dan Yurisprudensi 2012/05/16
    Salat malam merupakan salah satu ibadah dan salat yang mengandung banyak keutamaan. Salat ini dikerjakan setelah tengah malam dan jauh dari segala bentuk riya dan pamer. Salat malam ini terdiri dari sebelas (11) rakaat. Delapan rakaat dikerjakan dalam dua rakaat-dua rakaat, seperti salat Subuh, namun dikerjakan dengan niat salat malam. Setelah ...
  • Apakah Ahlusunnah meyakini konsep tawassul sebelum kedatangan Ibnu Taimiyyah?
    2887 Teologi Klasik 2011/05/09
    Konsep tawassul (berperantara) merupakan salah satu perkara yang senantiasa mendapat perhatian kaum Muslimin semenjak awal kedatangan Islam. Demikian juga para pembesar Ahlusunnah menaruh perhatian terhadap konsep tawassul ini. Imam Bukhari penyusun salah satu kitab standar riwayat Ahlusunnah, menukil amalan praktis khalifah kedua, Umar bin Khattab terkait bolehnya melakukan tawassul. Demikian ...
  • Mengapa manusia harus menerima tanggung jawab?
    401 فضایل اخلاقی 2014/01/18
    Menerima tanggung jawab merupakan sebuah konsep yang senantiasa ada dalam kehidupan personal dan sosial manusia. Manusia, berdasarkan hubungannya yang luas, siap menerima tanggung jawab dalam pelbagai bidang pergaulannya. Domain-domain penerimaan tanggung jawab manusia dapat ditelusuri pada hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya yang masing-masing memiliki tanggung ...
  • Dimanakah penghambaan itu? Siapa hamba? Bagaimana dapat bergerak di atas rel penghambaan?
    2334 Akhlak Praktis 2009/04/15
    Ahli linguistik memaknai ibadah sebagai tujuan khudhu’ (tunduk) dan tadzallul (menghinakan diri) dan berkata bahwa karena ibadah merupakan tingkatan tertinggi khudu’, dengan demikian tidak layak, kecuali bagi sosok yang memiliki ketinggian derajat wujud dan kesempurnaan, keagungan tingkatan segala nikmat, dan kebaikan. Oleh karena itu, ibadah selain kepada Allah Swt adalah ...
  • Apakah dalam al-Quran juga disebutkan tentang masalah kesehatan seksual?
    352 Batasan-batasan dan Syarat-syarat Ketaatan Istri kepada Suami 2014/01/18
    Sebagaiman yang Anda tahu bahwa al-Quran bukan merupakan ensiklopedia tema-tema yang mencakup seluruh persoalan yang ada di sepanjang zaman. Karena itu, tidak ada ayat yang secara tegas dan lugas berbicara tentang hal ini (kesehatan seksual), namun demikian terdapat sebagian ayat yang berisikan penjelasan secara global yang meninjau tentang kesehatan seksual. ...
  • Bagaimana mukjizat itu dapat didefinisikan dan dibuktikan?
    2651 Ulumul Quran 2009/04/21
    Mukjizat dari satu sisi bermakna suatu hal yang luar biasa yang di sertai dengan tantangan dan dari sisi lain, mukjizat yang dipraktikan itu sejalan dengan klaim yang dilontarkan oleh pemilik mukjizat. Ekstraordinari artinya adalah terjadinya sebuah perkara yang berbeda dengan aturan-aturan natural.Sebuah peristiwa disebut ekstraordinari (khâriq al-'âda, luar biasa) tidak ...
  • Apakah Israel adalah nama salah seorang nabi? Apa yang ia haramkan bagi dirinya?
    2695 Tafsir 2012/02/14
    Israel adalah nama Nabi Yakub (Ya’qub) yang merupakan salah satu nabi Ilahi. Ia mengharamkan daging unta dan susu bagi dirinya berdasarkan kemaslahatan tertentu.Pada ayat 93 surah Ali Imran Allah Swt berfirman:"کُلُّ الطَّعامِ کانَ حِلاًّ لِبَنِی إِسْرائِیلَ إِلاَّ ما حَرَّمَ إِسْرائِیلُ عَلى‏ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْراةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْراةِ ...
  • Apakah masalah ini ada benarnya? Tatkala Dajjal muncul para pendukungnnya adalah orang-orang yang mencintai Utsman?
    2002 Neo-Teologi 2010/06/07
    Dengan mengkaji dalam kitab-kitab riwayat Syiah dan Sunni, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa riwayat yang menyebutkan “In kharaja al-Dajjal taba’ahu man kana yuhibbu Utsman.” (Tatkala Dajjal muncul maka para pendukungnnya adalah 0raong-orang yang mencintai Utsman) yang termaktub dalam kitab Mizân al-I’tidâl yang merupakan salah satu kitab rijal (biografi). Riwayat ...

Populer Hits

Jejaring