Advanced Search
Hits
7089
Tanggal Dimuat: 2011/08/14
Ringkasan Pertanyaan
Apakah orang yang juga memiliki kebaikan dalam catatan amalnya namun dengan melaksanakan dosa-dosa; seperti tidak mengenakan hijab, menari di hadapan non-mahram dan lain sebagianya tetap harus menaruh harapan terhadap ampunan Allah Swt?
Pertanyaan
Seseorang yang mengerjakan salat, berpuasa di bulan Ramadhan dan ikut serta dalam program-program al-Qur’an dan salat berjamaah, dan bernadzar pada bulan Muharram, melalui siang pada bulan Ramadhan dengan ibadah, namun pada malam harinya di bulan Ramadhan, pada sebuah acara pernikahan, mereka menari di hadapan para non-mahram dan berhias secara menor. Apakah amalan-amalan mereka diterima dan apabila diterima maka manusia dapat menghilangkan dosa-dosanya dengan berbuata baik? Bagaimana pula kondisinya kelak di akhirat?
Jawaban Global

Seorang mukmin tidak dapat memilih-milih kemudian menerima sebagian dari agama dan menolak sebagian lainnya. Namun manusia non-maksum dalam tataran perbuatan dosa-dosa mereka senantiasa dalam catatan amal mereka yang apabila ia melakukan dosa bukan sebagai kebiasaan, dan disertai dengan penyesalan dan permohonan maaf, harapannya besar supaya Allah Swt melupakan segala kekurangan yang dimilikinya dan disejajarkan dengan orang-orang saleh. Namun selain hal ini, dengan asumsi terjadinya perbuatan dosa secara berulang dan getol melakukan dosa maka ia tidak dapat memandang dirinya atas sebagian perbuatan sebagai orang yang layak menerima ampunan.

Jawaban Detil

Menyimak beberapa ayat al-Qur’an akan menjadi penerang bagi orang-orang yang bercampur baur amalannya antara amalan baik dan amalan buruk dalam catatan amalannya.

Silahkan Anda perhatikan dengan seksama beberapa ayat berikut ini:

1.     Apakah kamu beriman kepada sebagian (perintah) al-Kitab (Taurat) dan mengingkari sebagian yang lain?[1] 

2.     Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian itu (iman atau kafir).”[2] 

3.     “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[3] 

4.     Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.[4]

 

Dari sekumpulan ayat-ayat yang disebutkan di atas dan sumber-sumber lainnya dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang manusia beriman (mukmin) tidak dapat memilih-milih dalam memeluk agama. Menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya. Iman semisal ini tidak diterima oleh Allah Swt. Namun dari sisi lain, terdapat orang-orang yang hanya menerima hal-hal yang universal agama namun pada tataran praktis terkadang, lantaran situasi dan kondisi lingkungan dan godaan setan, terjerembab dalam kubangan perbuatan dosa, namun ia tetap berusaha untuk mengingat Allah Swt dan mengharapkan bantuan Tuhan kepadanya supaya ia dapat selamat dari lumpur dosa, meski terkadang ia melakukan dosa pada tingkatan tertentu dan dosa bukan merupakan kebiasan baginya dan tidak mempertanyakan pokok keimanan (seperti keberadaan Tuhan, kenabian dan hari Kiamat).

Orang-orang seperti ini dapat menumpukan harapan kepada ampunan Allah Swt dan bahkan pada tingkatan yang lebih menjulang, ia boleh berharap bahwa Allah Swt tidak hanya akan mengampunkan dosa-dosanya namun perbuatan dosa tersebut akan dicatat sebagai amal kebaikan dalam catatan amalannya. Hal ini bukan sekedar harapan kosong  melainkan pesan ayat secara lugas dalam al-Qur’an.[5]

Bagaimanapun dalam kaitannya dengan orang-orang beriman yang memiliki dosa dan ganjaran, selain orang-orang maksum, mereka adalah manusia-manusia biasa yang berkonfrontasi dengan masalah-masalah seperti ini dengan segala intensitas (siddat) dan infirmitasnya (dha’f). Satu sama lain di antara orang beriman  tidak dapat disama ratakan. Dan Allah Swt di hari Kiamat kelak akan memberikan keputasan final dengan mempertimbangkan perbuatan baik dan buruk mereka, yang manakah yang lebih dominan pada keseharian mereka. [IQuest]

 

Beberapa Indeks Terkait:

1.     Harapan terhadap Rahmat Ilahi, 5030 (Site: 5556)

2.     Beberapa Tingkatan dan Derajat Dosa-dosa, 1613 (Site: 1614)

3.     Terhapusnya Dosa-dosa Besar, 12801 (Site: 12550)



[1]. (Qs. Al-Baqarah [2]:85)

"أَ فَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْکِتابِ وَ تَکْفُرُونَ بِبَعْض"

 

[2]. (Qs. Al-Nisa [4]:150)  

"یَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَ نَکْفُرُ بِبَعْضٍ وَ یُریدُونَ أَنْ یَتَّخِذُوا بَیْنَ ذلِکَ سَبیلا"

 

[3]. (Qs. Al-Taubah [9]:102)

 

"وَ آخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلاً صالِحاً وَ آخَرَ سَیِّئاً عَسَى اللَّهُ أَنْ یَتُوبَ عَلَیْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحیمٌ"

 

[4]. (Qs. Ali Imran [3]:135)

"وَ الَّذینَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَکَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَ مَنْ یَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَ لَمْ یُصِرُّوا عَلى‏ ما فَعَلُوا وَ هُمْ یَعْلَمُون"

 

[5]. (Qs. Al-Furqan [25]:70)

"فَأُوْلئِکَ یُبَدِّلُ اللَّهُ سَیِّئاتِهِمْ حَسَنات‏".

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits