Advanced Search
Hits
20062
Tanggal Dimuat: 2010/01/12
Ringkasan Pertanyaan
Apa maksud diktum bahwa ibadah itu untuk manusia sendiri? Lantas bagaimana menyandingkan masalah ini dengan ibadah untuk Tuhan?
Pertanyaan
Dengan memperhatikan ketidakbutuhan Tuhan terhadap seluruh perbuatan kita, maka seluruh amalan kita adalah untuk kita manusia; artinya ketika hal ini dikenakan untuk seluruh manusia maka para Imam Maksum juga termasuk dalam hal ini. Yaitu seluruh amalan para Imam Maksum As adalah untuk mereka sendiri? Apakah pandangan ini tidak akan menciderai ibadah yang kita lakukan? Lalu bagaimana menyandingkan masalah ini dengan sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As yang menandaskan bahwa sekelompok orang beribadah semata untuk Tuhan? Dengan kata lain, sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Swt adalah Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh ibadah yang kita kerjakan, oleh itu apabila dianalisa dan ditelisik lebih jauh, kita sendirilah yang membutuhkan ibadah tersebut. Pertanyaan yang mengemuka terkait dengan analisa ini adalah bahwa apakah seluruh ketaatan ini adalah untuk kita, seluruh dzikir, amalan, berdiri di hadapan Tuhan, memuji dan memujanya seluruhnya merupakan media untuk diri sendiri? Sebenarnya redaksi "diri sendiri" sangat mengganggu saya dan pada hakikatnya hal ini telah menodai kelezatan ibadah. Saya tidak tahu….apakah seluruh amal perbuatan para Imam Maksum As adalah untuk diri mereka sendiri..? Sebagai media untuk meninggikan derajat spiritual mereka? Hal ini tentu saja tampaknya tidak menawan dan tidak akan memberikan kepuasan kepada manusia. Kalau memang demikian lalu apa makna sabda Imam Ali yang menandaskan bahwa ada sekelompok orang yang beribadah kepada Tuhan karena takut dari neraka. Kelompok lainnya karena ingin mendapatkan surga dan kelompok lainnya adalah semata beribadah kepada Tuhan (karena cinta)? Bukankah ibadah dua bagian pertama adalah untuk diri kita sendiri yang derajatnya setingkat lebih rendah. Apabila demikian, mengingat Allah Swt adalah Mahakaya, lalu bagaimana kita memaknai ibadah bagian ketiga (untuk Tuhan itu)?
Jawaban Global

Mengingat Allah Swt adalah Mahabijaksana dan tidak akan melakukan perbuatan sia-sia dan tiada guna, maka tentu saja seluruh ibadah yang diperintahkan untuk dikerjakan adalah memiliki pengaruh dan manfaat. Dan karena Allah Swt adalah Mahakaya secara zati (esensial) dan tidak membutuhkan seluruh ibadah yang kita kerjakan maka faidah ibadah ini adalah berpulang kepada selain Tuhan (orang yang mengerjakan ibadah dan yang lain).

Seluruh manfaat dan faidah ini, tidak berseberangan dengan maksud dan tujuan kita beribadah; artinya kendati seorang manusia sendiri mengerangka dirinya hanya semata-mata karena Tuhan, maka ia telah mengerjakan sebuah ibadah. Akan tetapi tujuan ini, tidak berseberangan dengan masalah keuntungan dan faidah yang didapatkan oleh pelaku ibadah itu sendiri. Tujuan orang-orang melakukan ibadah, bergantung pengetahuan dan makrifat setiap orang, dan para nabi Allah dan para Imam Maksum As adalah orang-orang yang berada pada jajaran puncak makrifat dan pengetahuan, mereka memiliki tingkatan yang lebih tinggi dalam menetapkan tujuan mereka beribadah kepada Tuhan yaitu berupa syukur atas pelbagai kemurahan Tuhan dan melakukan perbuatan yang laik dengan kedudukannya sebagai Tuhan (maqam rububi, seperti mencipta, memberi rezeki dan sebagainya). Semakin tinggi tujuannya maka pengaruh dan manfaat ibadah yang didapatkan oleh pelakunya semakin besar dan lebih baik.

Dari sudut pandang lain, manusia adalah sebuah entitas yang memiliki dua dimensi yang terangkai dari pelbagai kecendrungan Ilahi (baca: spiritual) dan insan (baca: material). Apa yang dicela dalam Islam adalah upaya dan kerja keras untuk memenuhi kencendrungan insaniahnya belaka (kecendrungan majazi). Adapun usaha dan kerja keras untuk meningkatkan kualitas diri yang sebenarnya, sejatinya ia telah berusaha dan berupaya di jalan Tuhan dan telah berbuat untuk Tuhan. Apabila tujuan manusia melakukan ibadah adalah untuk meninggikan dimensi Ilahiah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub) maka seluruh ibadah yang ia kerjakan sejatinya dan seutuhnya sejalan dan selaras dengan ibadah kepada Allah Swt. Dan orang-orang yang berjalan di atas rel ini sesenti (cm) pun tidak akan menyimpang dari jalan yang lurus.

Jawaban Detil

Jawaban dari apa yang mengemuka pada pertanyan di atas dapat diklasifikasikan dalam dua bagian:

Pertama, kendati seluruh ibadah memiliki pengaruh (faidah), akan tetapi para maksum As tidak begitu memperhatikan faidah yang dikandung oleh ibadah. Motivasi mereka dalam menunaikan ibadah semata-mata untuk Tuhan dan yang dihendaki hanyalah Tuhan bukan selain-Nya.

Untuk menjelaskan jawaban ini, kiranya kita perlu memperhatikan beberapa poin berikut ini:

A.    Jelas bahwa seluruh ibadah memiliki pengaruh dan bukan merupakan pekerjaan sia-sia dan tiada guna; karena Allah Swt sekali-kali tidak akan pernah menitahkan untuk mengerjakan perbuataan sia-sia dan mengancam dengan siksaan[1] apabila perintahnya diabaikan. Akan tetapi pastinya faidah ini tidak berada pada makam Ilahiah sehingga menjadi penyebab semakin kuatnya kekuasaan Ilahi dan bertambah tingginya kedudukan-Nya; karena makam di atas tidak dapat digambarkan bagi Tuhan dan seluruh manusia dan makhluk laksana atom (dzarrah) dalam samudera keagungan-Nya yang tak-terbatas. Dia kaya secara zati dan tidak memiliki kefakiran sehingga selain-Nya dapat mengkompensasi kefakiran-Nya. Tiada seorang pun yang dapat menimpakan kerugian pada-Nya sehingga Dia ingin mendapatkan keuntungan dari ibadah para hamba-Nya.

Karena itu, pengaruh dan keuntungan dari ibadah ini berpulang kepada manusia selaku pelaku dari ibadah ini dan seluruh makhluk selain manusia.[2] Dan tidak ada bedanya apa yang mengerjakan ibadah tersebut adalah manusia biasa atau manusia suci (para maksum). Meski para maksum lebih banyak mengeruk keuntungan dari ibadah mereka ketimbang orang lain; karena mereka menunaikan ibadah dengan pengetahuan dan makrifat yang lebih sempurna.

B.    Keuntungan dan manfaat ibadah yang disebut sebagai tujuan dan sasaran perbuatan, tidak boleh dicampur adukkan dengan tujuan pelaku yaitu niat dan motivasi pelaku ibadah. Lantaran tidak terdapat kemestian logis antara motivasi pelaku dan tujuan perbuatan.

Mungkin ada baiknya di sini kami menjelaskan perbedaan antara motivasi pelaku dan tujuan perbuatan:

Anggaplah seorang pasien mempunyai obat yang bermanfaat dan mujarab untuk kesembuhannya. Namun sang pasien menolak untuk memakan obat tersebut. Hanya saja pasien ini menaruh hormat kepada ayahnya dan sang ayah mendesaknya  untuk meminum obat tersebut. Karena desakan ayahnya, ia meminum obat tersebut. Bukan karena manfaat obat tersebut melainkan karena desakan ayahnya; di sini jelas terlihat bahwa tidak ada kemestian logis antara motivasi pelaku dan tujuan perbuatan.

Kendati Tuhan adalah sebaik-baik Sosok yang bersyukur dan tiada satu pun perbuatan yang Dia lewatkan begitu saja tanpa ekspresi syukur. Akan tetapi manusia apabila mengetahui dan yakin bahwa ibadah ini, tidak satu pun memberikan keuntungan dan manfaat baginya maka ia tetap tidak akan melepaskan ibadah kepada Tuhan; karena Allah Swt memerintahkan kepada mereka dan kita yakin bahwa para imam tergolong dalam klasifikasi ini.

C.    Yang menentukan tujuan pelaku dalam menunaikan ibadah adalah kriteria dan neraca keuntungan dan manfaat ibadah tersebut; artinya semakin tulus pelakunya dalam mengerjakan ibadah maka tujuan perbuatan dan keuntungan amal ibadah akan semakin besar dan berbobot. Dan sejatinya satu perbuatan sepanjang dikerjakan bukan untuk Tuhan, maka hal itu tidak akan memberikan keuntungan sama sekali bagi pelakunya. Manakala perbuatannya dilakukan untuk Tuhan maka pada saat itulah perbuatan tersebut mendatangkan keuntungan.

Terdapat beberapa derajat dan tahapan supaya perbuatan dipandang dilakukan untuk Tuhan: "Sekelompok orang menyembah Allah karena merindukan ganjaran; ini ibadah pedagang. Suatu kelompok lain beribadat karena takut; ini ibadah budak belian. Suatu kelompok lagi menyembah Allah karena rasa syukur dan terima kasih; ini ibadah orang merdeka."[3]

Kalimat ini merupakan sabda mulia Amirul Mukminin As yang menyinggung tujuan dan motivasi pelaku ibadah dimana kendati motivasi ibadah manusia adalah untuk mendapatkan surga atau tidak pergi ke neraka maka motivasi tersebut tidak terpisah dari motivasi Ilahi. Dan sejatinya masuknya seseorang ke dalam surga adalah sesuatu yang dihendaki oleh Allah Swt bagi manusia yang bertakwa dan melalui pancaran ibadah tersebut ia dapat memasuki surga. Akan tetapi manusia harus berupaya beribadah semata-mata untuk Tuhan;

Menyimpang thariqat yang dilalui oleh para wali

Pabila berharap pada selain Tuhan

Apabila matamu terjerat pada kebaikan sobatmu

Sesungguhnya engkau berada dalam pasungan dirimu bukan pada jeratan kekasih[4]

 

Sebagaimana yang telah kami sebutkan keuntungan yang dilakukan semata bagi Tuhan akan diperoleh oleh pelaku ibadah itu sendiri dan hal ini akan menyebabkan pelaku ibadah memperoleh maqam ridwân dan kedekatan pada Tuhan. Akan tetapi ibadah yang dilakukan bukan untuk mendapatkan keuntungan ini.

Manusia yang sampai pada tingkatan ini bahwa ibadah merupakan ungkapan cinta kepada Sang Kekasih,[5] yang bercokol di benaknya hanya bagaimana pecinta dapat menyatu dengan Sang Kekasih bahkan sampai pada tingkatan dimana ia tidak menginginkan sesuatu bagi dirinya. Ia mempersembahkan seluruh wujudnnya untuk Sang Kekasih.

Baba Thahir terkait dengan hal ini bertutur indah:

Ada yang menginginkan sakit ada yang menghendaki kesembuhan

Ada yang menghendaki penyatuan dan ada yang menginginkan perpisahan

Aku menghendaki sakit, kesembuhan, penyatuan dan perpisahan

Aku menghendaki apa saja yang menjadi kehendak Sang Pemilik jiwa

 

Kedua, jawaban lainnya adalah bahwa manusia memiliki dua dimensi dalam dirinya:

Dimensi Ilahi dan dimensi insani dimana kedua dimensi ini terkadang disebut sebagai dimensi hakiki dan dimensi majazi.[6] Apa yang tercela dalam Islam dan berperang melawan hal ini disebut sebagai jihad akbar adalah dimensi majazi dan segala keinginan rendahnya. Apabila disebutkan dalam al-Qur'an bahwa sebesar-besar kerugian yang diderita oleh manusia maka yang dimaksud dari kerugian ini adalah nafsu dan diri sendiri.[7] Diri sendiri yang disinyalir dalam al-Qur'an tentangnya adalah terdapat pada ayat 19, surah al-Hasyr: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." Artinya bahwa manusia menemukan dirinya tatkala ia menemukan Tuhan karena itu syuhud terhadap (penyaksian) diri sendiri sekali-kali tidak terpisah dari syuhud Tuhan."[8]

Dengan diri ini, ia tidak hanya tidak boleh diperangi tapi ia harus dimuliakan dan dihormati. Karena itu manusia tidak memiliki hak mengerjakan sebuah perbutan yang membuat wibawa atau rasa malunya hilang di hadapan masyarakat.[9]

Sesuai dengan tuturan Syahid Muthahhari: Ruh dan hakikat ibadah yaitu perhatian kepada Tuhan adalah terletak pada penemuan hakikat diri. Manusia menemukan hakikat dirinya sendiri dalam ibadah dan perhatian kepada Allah Swt.[10]

Bagaimanapun apabila tujuan manusia melakukan ibadah adalah untuk meninggikan dimensi Ilahiahnya di hadapan Tuhan dan niatnya adalah untuk maksud ini maka ibadah yang dikerjakan dengan maksud meninggikan derajat maknawi dan Ilahinya seiring dan sejalan dengan ibadah kepada Allah Swt. Dan arah yang ia lalui sama sekali tidak menyimpang dari jalan kebenaran. Ibadah para maksum As adalah ibadah yang termasuk dalam golongan ini. Karena itu kita harus berupaya mengikuti jejak langkah mereka dan berusaha supaya ibadah yang kita kerjakan dalam kerangka ini.

Dengan demikian manusia harus bersikap egois; artinya ia harus mengenal nilai-nilai Ilahiahnya, mencintainya, tidak menyia-nyiakannya dan berusaha menambah nilai-nilai ini. Karena sikap egois (positif) bermakna mencintai dimensi Ilahiah, semata-mata menghendaki Tuhan dan mencintai Tuhan. Karena itu, apa yang dicela dalam Islam adalah usaha pada jalan memenuhi tuntutan dimensi insan, materi dan hawa nafsunya. Akan tetapi aktifitas dalam meninggikan derajat Ilahianya, pada hakikatnya, upaya dan usaha di jalan Allah dan untuk Allah Swt.

Karena itu, apabila motivasi seseorang yang disewa untuk melakukan sebuah ibadah seperti ibadah haji yang dikerjakan untuk orang lain, adalah untuk meninggikan diri yang sebenarnya[11] maka motivasi seperti ini adalah tergolong sebagai motivasi yang terpuji.[IQuest]

 



[1].  "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Qs. Ghafir [40]:60)

[2]. Dalam al-Qur'an dan riwayat pengaruh dan manfaat ibadah disebutkan: misalnya al-Qur'an dalam menjelaskan sebab diwajibkannya puasa: ..La'allakum Tattaqun… supaya engkau bertakwa (Qs. Al-Baqarah [2]:183) Atau sabda Hadhrat Fatimah Zahra As terkait beberapa manfaat shalat adalah semakin membuat orang tawadhu, "Allah Swt mewajibkan shalat sehingga orang-orang menjadi rendah hati (tawadhu)… (Bihâr al-Anwâr, jil. 82, hal. 209; Mizân al-Hikmah, jil. 5, hal. 375). Karena itu, disebutkan bahwa ibadah merupakan sebaik-baik media untuk membentuk karakter dan membangun diri manusia. Dan jelas bahwa dengan baiknya setiap individu maka masyarakat juga akan menjadi baik. Untuk telaah lebih jauh, kami anjurkan Anda untuk membaca "Rahasia-rahasia Ibadah" karya Abdullah Jawadi Amuli.

[3]. Hikmah 237, Nahj al-Balâgha.

[4]. Sa'di.

[5]. Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik manusia adalah orang yang asyik beribadah (menjadikan ibadah sebagai kecintaannya). Ia memeluk ibadah, mencintainya penuh kasih dan merabanya dengan penuh hasrat, ia kosongkan dirinya untuk ibadah. (Sedemikian sehingga) ia tidak akan risau (lagi) apakah ia lalui dunianya dengan mudah atau dengan susah." Al-Kâfi, jil. 2, hal. 83.

[6]. Silahkan lihat, Insân Kâmil (Manusia Sempurna), Murtadha Muthahhari, hal. 216-225

[7]. ”Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. Al-Zumar [39]:15)

[8]. Murthada Muthahhari, Insan Kâmil, hal. 236.

[9]. Ibid, hal. 225-244.

[10]. Ibid, hal. 237-238.

[11]. Dalam kondisi ini, kendati pahala seluruh ibadah untuk penyewa akan tetapi dalam ibadah-ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan tidak bermaksud riya, terdapat pengaruh-pengaruh edukatif. Dalam keadaan ini, motivasi dan tujuan orang yang disewa boleh jadi terdiri dari beberapa bentuk:

1.     Semata-mata ingin mendapatkan pengaruh edukatifnya.

2.     Semata-mata ingin mendapatkan uang sewa.

3.     Ingin mendapatkan keduanya.

Boleh jadi Anda menengarai isykalan (kritikan) atas bentuk kedua. Namun kita tidak dapat memberikan satu hukum universal; karena kendati tujuan orang yang disewa (ajir) adalah untuk mendapatkan uang sewa, bukan pengaruh edukatif ibadah, akan tetapi apabila tujuannya  bahwa dengan uang sewa ini ia ingin memenuhi pelbagai kebutuhan materialnya, dan dengan jalan ini, tidak mengulurkan tangannya untuk meminta-minta kepada orang lain, maka sejatinya, ia menjaga citra diri dan pribadinya. Dalam kondisi sedemikian, mengerjakan ibadah sangat berpengaruh untuk menemukan dirinya; artinya dalam kondisi seperti ini, ibadah memiliki pengaruh edukatif (tarbiyah). Perhatikan bahwa uang sewa yang menjadi motivator untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Akan tetapi ia ingin mendapatkan uang sewa ini, hal ini dapat mejadi motivator dan tujuan yang lainnya. Karena itu konsekuensinya, menerima uang sewa tidak bertentangan dengan niat ingin mendekatkan diri kepada Allah dalam pelbagai ibadah juga tidak berlawanan dengan (upaya untuk menemukan) diri sendiri)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits