Advanced Search
Hits
11773
Tanggal Dimuat: 2011/05/18
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa kita harus berkata bahwa yang menciptakan alam semesta itu adalah Allah?
Pertanyaan
Mengapa kita harus berkata bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan? Misalnya, mengapa kita tidak berkata bahwa planet bumi berasal dari planet lainnya dan planet tersebut juga berasal dari planet lain hingga sampai pada sebuah planet yang tidak diciptakan dan bersifat qadim. Sebagaimana dengan bantuan argumen tasalsul kita sampai kepada Tuhan yang tidak ada yang mewujudkan-nya. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada?
Jawaban Global

Dalam pertanyaan, Anda menyinggung satu burhan yang tidak dapat Anda pahami dengan baik maknanya. Dari sisi lain, muncul anggapan bahwa Anda menyangka dapat menyelaraskan dan mencocokkan sifat Allah Swt pada entitas-entitas material dan terbatas kemudian menghukumi bahwa Tuhan itu tidak ada.

 Dengan demikian, perlu kiranya diperhatikan bahwa pertama: Kita akan mengenal dengan baik makna burhan kemustahilan (absurditas) tasalsul yang sebenarnya. Dan kedua, menjelaskan makna Tuhan yang sebenarnya dan menerangkan bahwa obyek (instanta luaran) Entitas seperti ini yang tidak dapat terhimpun pada satu entitas materi yang terbatas:

1.     Yang dimaksud dengan tasalsul yang popular dikenal orang adalah silsilah rangkaian beberapa perkara yang tidak terbatas. Para filosof memandang tasalsul itu sebagai sesuatu yang absurd dan mustahil. Farabi berargumentasi dalam rangka menetapkan absurditas tasalsul bahwa pada sebab-sebab hakiki, rangkaian sebab-sebab dan akibat-akibat setiap sebab pada gilirannya adalah akibat bagi sebab lainnya. Terkait dengan seluruh silsilah ini dapat dikatakan bahwa semuanya bergantung pada sebab yang lain. Dan pada puncak silsilah, sebab lain harus ditetapkan sebagai bukan merupakan akibat dari sebab lainnya. Karena itu silsilah sebab ini mesti memiliki sumber dan titik-mula.

 Teori kehakikan wujud (ashâlat wujud) dan ketergantungan esensial akibat kepada sebab, merupakan argumen lainnya yang dapat ditegakkan pada ujung sebab-sebab pemberi keberadaan. Apabila di balik silsilah sebab-sebab, dimana masing-masing dari sebab tersebut tidak identik dengan ketergantungan entitas mandiri yang mutlak, maka kemestiannya adalah munculnya pelbagai kebergantungan tanpa adanya sisi bergantung.

 

2.     Tuhan, yaitu Entitas yang Qadîm dan Wâjib al-Wujud, tidak terdapat kebutuhan pada Zat-Nya dan seterusnya. Lantas bagaimana dapat dikatakan bahwa bumi (yang nota-bene merupakan sebuah fenomena dan benda) tidak membutuhkan entitas lainnya, padahal setiap entitas benda secara esensinya adalah membutuhkan; karena ia membutuhkan bagian-bagiannya dan sebagainya.

Dengan kata lain, dengan burhan kemustahilan tasalsul kita ingin menetapkan Wâjib al-Wujud dan Wâjib al-Wujud yaitu adanya entitas mandiri yang ada dengan sendiri-Nya (Swa-Ada) dan tidak memerlukan sebab bagi keberadaan-Nya. Tipologi entitas seperti ini tidak dapat ditetapkan bagi benda dan kebendaan seperti planet bumi; karena planet bumi adalah benda (jism) dan benda merupakan entitas kontingen (mumkin) dan entitas kontingen bergantung pada entitas Wajib.

Jawaban Detil

Dalam pertanyaan, Anda menyinggung satu burhan yang tidak dapat Anda pahami dengan baik maknanya. Dari sisi lain, muncul anggapan bahwa Anda dapat menyelaraskan dan mencocokkan sifat Allah Swt pada entitas-entitas material dan terbatas, kemudian menghukumi bahwa Tuhan itu tidak ada.

 Dengan demikian, kiranya perlu diperhatikan bahwa pertama: Kita akan mengenal dengan baik makna burhan kemustahilan tasalsul yang sebenarnya. Dan kedua, menjelaskan makna Tuhan yang sebenarnya dan menerangkan bahwa obyek (instanta luaran) entitas seperti ini tidak dapat terhimpun pada satu entitas materi yang terbatas.

Di sini kita akan menjelaskan, sebagai pendahuluan, bahwa yang dimaksud dengan tasalsul dalam terma filsafat adalah berurutnya satu rangkaian tak terbatas. Dan kaum filosof memandang tasalsul sebagai suatu hal yang absurd karena lingkaran-lingkarannya memiiki urutan hakiki dan perhimpunan dalam wujud.[1]

Untuk menetapkan absurditas tasalsul, filosof menyodorkan sebuah argumen yang akan disinggung sebagian darinya berikut ini:

Farabi dalam argumen (burhan) yang dikenal dengan nama asad akhshar berargumen sebagai berikut: “Apabila kita berasumsi bahwa pada rangkaian entitas-entitas, masing-masing lingkarannya bergantung pada yang lainnya sedemikian sehingga lingkaran sebelumnya tidak ada, maka lingkaran yang bergantung padanya juga tidak akan ada. Keniscayaan hal ini adalah bahwa seluruh rangkaian ini bergantung pada entitas lainnya; karena asumsinya adalah bahwa seluruh lingkaran ini memiliki tipologi bergantung seperti ini dan mau-tak-mau entitas yang berada di puncak rangkaian ini harus diasumsikan ada dan keberadaannya tidak bergantung pada yang lain. Dan sepanjang entitas puncak tersebut tidak ada maka konsekuensinya lingkaran rangkaian tersebut juga tidak akan pernah ada. Karena itu rangkaian seperti ini semenjak permulaan tidak dapat bersifat nir-batas dan dengan kata lain tasalsul dalam rangkaian sebab-sebab adalah mustahil (absurd).

Mulla Shadra dalam Filsafat Hikmah (Hikmah Mutâ’aliyah) menyuguhkan sebuah argumen (burhan) untuk menetapkan kemustahilan tasalsul dalam rangkaian sebab-sebab. Ulasan burhan tersebut adalah, bahwa sesuai dengan konsep kehakikian wujud (ashâlat wujud) dan relasionalnya, wujud akibat terkait dengan sebab pengadanya, setiap akibat terhadap sebab pengadanya adalah hubungan (rabth) dan kebergantungan itu sendiri dan sama sekali tidak memiliki kemandirian pada dirinya. Apabila sebab yang diasumsikan adalah akibat bagi sebab yang lebih atas, maka kondisi yang sama seperti ini akan dimilikinya. Karena itu apabila kita mengasumsikan sebuah rangkaian sebab dan akibat bahwa masing-masing dari sebab adalah akibat dari sebab lainnya, maka ia akan memiliki rangkaian kebergantungan dan keterikatan. Jelas bahwa wujud yang bergantung tanpa adanya wujud mandiri yang menjadi tempat bergantung, tidak mungkin akan pernah terwujud. Karena itu, mau-tak-mau di balik rangkaian hubungan dan kebergantungan ini, sudah seharusnya terdapat sebuah wujud mandiri yang menjadi sebab mengadanya seluruh rangkaian sebab-akibat ini. Dengan demikian, rangkaian ini tidak dapat dipandang tidak memiliki permulaan dan tanpa entitas mandiri yang bersifat mutlak.[2]

Dengan penjelasan berikut ini uraian Mulla Shadra di atas akan menjadi lebih terang: Kita membutuhkan sebuah entitas yang bukan akibat dari sebab lain dan juga tidak bergantung pada entitas selainnya. Entitas tersebut harus mandiri dan bersifat mutlak. Dan hal ini yang kita sebut sebagai Tuhan atau Wâjib al-Wujud dalam terminologi filsafat.

Dengan kata lain, inti dari persoalan ini adalah bahwa seluruh entitas tidak dapat terwujud pada puncak rangkaian lingkaran dan akibat-akibat. Entitas ini tidak dapat bergantung dan membutuhkan sehingga menjadi sandaran bagi entitas-entitas lainnya.

Nah, sekarang mari kita bertanya, bagaimana tatkala Anda sampai pada dugaan atau kesimpulan sementara bahwa planet bumi yang bercirikan benda dan merupakan wujud mumkin (kontingen), namun tidak membutuhkan esensinya sendiri? Apakah semata-mata qadim (eternal, tidak tercipta) akan mengeluarkannya dari kontingen secara esensial dan tidak menjadi huduts (tercipta) secara esensial?

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.     Entitas terbagi menjadi dua. Wajib (necessity) dan kontingen (mumkin). Entitas wajib adalah entitas qadim secara esensial. Adapun entitas kontingen terbagi menjadi dua. Qadim zamâni dan hadits zamâni. Segala sesuatu yang menjadi kriteria kebutuhan sesuatu terhadap sebab disebut sebagai imkan dzati bukan huduts dzati;[3] artinya sesuatu karena pada tingkatan esensinya tidak memiliki sebab untuk mengada, membutuhkan sebab bukan karena tidak berada pada satuan waktu dan mengada kemudian.[4]

2.     Segala sesuatu yang berasal dari benda dan memiliki ciri kebendaan tidak dapat menjadi Wajib dan menjadi tempat sandaran seluruh kontingen (mumkinat);[5] artinya ia tidak memiliki kontingen dan huduts dzâti meski ia merupakan qadim zamâni. Menjadi benda (jism) meniscayakan keterbatasan dan kebutuhan yang banyak sebagaimana kebutuhan benda terhadap bagian-bagiannya. Sementara Wajib adalah Nir-Akhir dan tidak memiliki batasan. Tidak terbatas dan bersifat simple. Dia tidak terbentuk dari bagian-bagian luaran (khârij) dan dalaman (dzihn, mental). Batasan dan keterbatasan ekuivalen dengan ketertundukan dan keakibatan sementara Wajib al-Wujud adalah Wujud Mutlak dan Nir-Batas.[6]

 

Kesimpulannya, bahwa dengan burhan kemustahilan tasalsul, kita ingin menetapkan Wâjib al-Wujud, yaitu adanya entitas mandiri yang ada dengan sendiri-Nya dan tidak memerlukan sebab keberadaannya yang tidak mandiri bergantung kepada keberadaan entitas yang lain. Dan tipologi ini tidak dapat ditetapkan bagi benda dan kebendaan seperti planet bumi; karena planet bumi adalah benda (jism) dan benda merupakan entitas kontingen (mumkin) dan entitas kontingen bergantung pada Entitas Wajib.

Akhir kata, kiranya kami memandang perlu menyebutkan bahwa untuk menetapkan wujud Tuhan terdapat banyak argumen yang disuguhkan oleh filosof dan teolog. Untuk telaah lebih jauh, kami persilakan Anda merujuk pada beberapa indeks berikut ini:

 

1.     Pertanyaan 8515 (Site:8551), Indeks: Mengenal Tuhan.

2.     Pertanyaan 1286 (Site: 1330), Indeks: Dalil-dalil Wujud dan Proses Penciptaan Tuhan.

3.     Pertanyaan 1041 (Site: 1105), Indeks: Fitrah dan Pengenalan Tuhan. [IQuest]



[1]. Silakan lihat, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Âmuzesy Falsafeh, jil. 2, hal. 80, Cetakan Kedua, Sazeman-e Tablighat-e Islami, 1366 S.   

[2]. Perbedaan antara dua argumen (burhan) ini adalah bahwa pada burhan pertama pada kemutlakan sebab-sebab hakiki  berlaku sebab-sebab yang secara niscaya harus ada bersama akibat. Namun burhan kedua terkhusus sebab-sebab eksistensial yang memberikan keberadaan dan pada sebab-sebab lengkap juga berlaku. Karena mencakup sebab-sebab eksistensial yang memberikan keberadaan. Silahkan lihat, Âmuzesy Falsafeh, jil. 2, hal. 81-82.

[3]. Huduts Zamâni artinya sesuatu yang didahului oleh ketiadaan secara urutan waktu dan sebagai kebalikannya adalah huduts dzati; artinya bahwa sesuatu itu memiliki sebab. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, Nihâyat al-Hikmah, hal-hal. 231-233, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum.  

[4]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai/Murtadha Muthahhari, Ushul Falsafeh, jil. 5, hal. 150.  

[5]. Silahkan lihat, Syaikh al-Rais Abu Ali Sina/Nashiruddin Muhammad Hasan bin Thusi, Syarh al-Isyârat, jil. 3, hal. 60-61, Cetakan Kedua, Daftar Nasyr al-Kitab, 1403 H.  

[6]. Nihâyat al-Hikmah, hal. 276-278.  

الفصل الرابع فی أن الواجب تعالى بسیط غیر مرکب من أجزاء خارجیة و لا ذهنیة

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...