Advanced Search
Hits
6162
Tanggal Dimuat: 2013/08/26
Ringkasan Pertanyaan
Apa yang dimaksud bahwa gunung-gunung adalah pasak bumi sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an?
Pertanyaan
Apa makna ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Swt menjadikan gunung-gunung sebagai pasak bumi?
Jawaban Global

Dalam literatur-literatur Islam disebutkan pelbagai tipologi dan ragam manfaat atas keberadaan gunung-gunung. Di antaranya bahwa gunung-gunung tersebut laksana pasak yang tertancap di atas permukaan bumi dan laksana timbangan-timbangan yang menyeimbangkan bumi. Keberadaan gunung-gunung tersebut dan tersebarnya gunung-gunung tersebut di sana-sini di atas permukaan bumi telah mencegah berubahnya bumi menjadi sebuah tempat yang tidak dapat didiami.

 

Sebagian ilmuwan kontemporer juga memandang urgen peran penyeimbang gunung-gunung bagi kelangsungan hidup di muka bumi. Atas dasar itu, kita harus memandang pasti bahwa maksud al-Qur’an yang menyerupakan gunung-gunung sebagai pasak bukanlah bahwa bentuk gunung-gunung tersebut seperti pasak karena kita melihat dengan mudah bahwa kebanyakan gunung tersebut tidak dalam bentuk seperti pasak. Sejatinya apa yang menjadi obyek perhatian al-Qur’an adalah bahwa sebagaimana dengan memanfaatkan pasak-pasak dapat mencegah robohnya bagian-bagian yang bersambungan, maka gunung-gunung juga memainkan peran serupa di muka bumi.

 

Jawaban Detil

Sebagai pendahuluan jawaban, kita harus menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an yang menyinggung peran gunung-gunung di muka bumi dan kemudian mencermati ajaran-ajaran agama. Di samping itu, dengan menilik pelbagai fakta yang telah diterima di dunia hari ini.

 

Banyak ayat-ayat al-Qur’an mengetengahkan peran gunung-gunung di planet bumi dan menjelaskan pelbagai kegunaan dan tipologinya. Di antara ragam kegunaan dan tipologi itu adalah sebagai berikut:

 

1.             Gunung-gunung dimanfaatkan sebagai rumah dan tempat perlindungan bagi manusia[1] dan makhluk hidup lainnya.[2]

 

2.             Ragam jenis bebatuan dan tanah dengan aneka warna yang terdapat di dalamnya.[3]

 

3.             Mereka juga bergerak berbeda dengan bentuk lahirnya yang tampak permanen.[4]

 

4.             Gunung-gunung bertasbih dan memuji Allah Swt.[5]

 

5.             Gunung-gunung memainkan peran sebagai pasak bagi bumi.[6]

 

6.             Gunung-gunung memelihara kesatuan dan keseimbangan bumi.[7]

 

7.             Dan terakhir banyak ayat lainnya yang membincang tentang keadaan dan hancurnya gunung-gunung di hari Kiamat.[8]

 

 

 

 

Bagian pertama dan kedua ayat-ayat yang menunjukkan kediaman manusia dan makhluk hidup lainnya. Demikian juga adanya ragam bebatuan di dalam gunung-gunung merupakan hal jelas yang tidak perlu penetapan dan pembuktian. Gerakan gunung-gunung juga meski pada masa lalu merupakan perkara aneh dan dipandang mustahil, namun  dewasa ini dengan asumsi adanya gerakan pada planet-planet dan terpisahnya secara perlahan planet-planet tersebut dari satu dengan yang lain dan juga dalam kalkulasi yang lebih kecil, dengan menyaksikan goncangan gunung-gunung dan terciptanya sesar-sesar gunung maka bagian ketiga yang disebutkan pada ayat di atas juga dengan mudah akan dapat dibuktikan.

 

Pujian dan tasbih gunung-gunung juga sesuai dengan ungkapan lugas al-Qur’an laksana tasbih makhluk-makhluk lainnya yang tidak dapat dicerap dan dipahami oleh kebanyakan manusia.[9] Dan pengetahuan bagian ketujuh juga berada dalam wilayah kewenangan Allah Swt dan hanya sebagian yang disinggung pada dalam al-Qur’an tentangnya. Karena itu, kita tidak dapat menetapkan dan membuktikan hal tersebut melalui jalan dan metode material.

 

Namun sekaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an dalam hubungannya dengan bagian kelima dan keenam, hal itu masih  berada dalam jangkauan kita dan pertanyaan Anda juga berkenaan dengan bagian kelima dan keenam.

 

Harus dijelaskan bahwa pengetahuan manusia pada masa pewahyuan al-Qur’an tidak cukup memadai untuk mengetahui bagaimana terpancangnya gunung-gunung di atas bumi, ayat-ayat al-Qur’an yang menyinggung masalah ini dalam beberapa hal yang kemudian kebenarannya dapat ditetapkan. Di antara ayat tersebut bahwa Allah Swt menjadikan gunung laksana pasak, “wa al-jibâla awtada.”

 

Jelas bahwa yang dimaksud al-Qur’an bukanlah bahwa gunung-gunung tersebut memiliki bentuk seperti pasak, karena kebanyakan gunung yang dapat disaksikan dengan mudah oleh manusia, memiliki bentuk-bentuk yang lain. Sejatinya, al-Qur’an berada pada tataran menjelaskan bahwa gunung-gunung tersebut memainkan peran sebagaimana pasak. Hal ini juga ditandaskan pada ayat-ayat lainnya yang menyebutkan pemancangan gunung-gunung[10] di muka bumi dan peneguhan gunung-gunung tersebut di muka bumi.[11]

 

Pengetahuan manusia pada masa pewahyuan, hanya semata-mata melihat gunung dan tidak memiliki informasi tentang kelanjutan akar-akarnya hingga kedalaman sedimenter bumi. Namun dewasa ini jelas bahwa akar gunung-gunung laksana pasak yang menancap pada sebuah kayu dan memancang di atasnya. Hingga puluhan kilometer di dalam gunung bersambung dengan bumi. Kita tidak dapat memandang tertancapnya gunung laksana pasak sebagai persoalan yang sia-sia dan tanpa guna bagi bumi dan para penghuninya. Karena berdasarkan pengetahuan hari ini jelas bahwa betapa gunung-gunung memainkan peran penting dalam mengarahkan angin-angin dan air-air dalam ekosistem bumi. Namun persoalan lainnya juga disebutkan dalam al-Qur’an bahwa sekiranya gunung-gunung yang laksana pasak menancap di bumi itu tiada maka hal itu akan mengeluarkan bumi dari kondisi ekuilibrium. Dan sebagai hasilnya kehidupan tidak akan berlangsung di dalamnya.

 

Pada ayat-ayat ini, digunakan redaksi-redaksi seperti, “an tamida bikum” (supaya bumi itu (tidak) mengguncangmu)[12] dan “an tamida bihim” (supaya bumi itu (tidak) mengguncang mereka)[13] yang mengungkapkan tiadanya keseimbangan dan ekuilibrium. Sekarang apa yang dimaksud dengan tiadanya keseimbangan ini? Apakah bermakna tiadanya keseimbangan bumi dan penyimpangan dari lintasannya? Atau hantaman taufan yang sangat kencang dan pada akhirnya, tiadanya stabilitas segala sesuatu yang terdapat di muka bumi? Dan seterusnya?

 

Bagaimana pun, apa yang dipandang sebagai sesuatu yang pasti dalam al-Qur’an dan riwayat-riwayat juga menegaskan hal itu,[14] adalah bahwa ditancapnya bumi dengan gunung-gunung berguna sebagai penata perputaran kehidupan sistemik di dalamnya.

 

Banyak buku[15] dan ragam site[16] secara rinci dan detil menjelaskan masalah ini.  Apabila Anda tertarik untuk menelaahnya lebih jauh kami persilahkan untuk membaca dan merujuk pada buku dan site yang dimaksud. [IQuest] .

 

 

[1]. “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat berlindung di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (Qs. Al-Nahl [16]:81)

[2]. “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (Qs. Al-Nahl [16]:68)

[3]. “Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (Qs. Fathir [35]:27)

[4]. “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat tiap-tiap sesuatu dengan kokoh; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-Naml [27]:88)

[5].  “Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.” (Qs. Al-Anbiya [21]:79)

[6]. “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (Qs. Al-Naba [78]:7)

[7]. “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak mengguncangmu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Nahl [16]:15)  

[8].  “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami menjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar, serta Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Qs. Al-Kahf [18]: 47); Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (Qs. Thaha [20]:105); “Dan gunung benar-benar berjalan.”(Qs. Thur [52]:10); “Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-Waqiah [56]:5); “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan).” (Qs. Al-Ma’arij [70]:9)

[9]. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Isra [17]:44)

[10]. “Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan.” (Qs. Al-Ghasyiah [88]:19)

[11]. “Dan Dia memancangkan gunung-gunung dengan teguh.” (Qs. Al-Naziat [79]:32)  

[12]. “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak

engguncangmu.” (Qs. Al-Nahl [16]:15) 

[13]. “Dan Kami telah jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) mengguncang mereka.” (Qs. Al-Anbiya [21]:31) 

[14]. Nahj al-Balâgha, hal. 39, Khutbah Pertama

[15]. Tafsir Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jil. 11, hal. 183..  

[16].  http://www.quranology.com - www.quransc.com

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah ada dalam al-Quran sebuah ayat yang berbicara tentang estetika dan keindahan?
    19031 Tafsir 2012/05/20
    Keindahan memiliki ragam arti seperti layak, baik, indah, bagus. Adapun secara teknis keindahan bermakna sebuah hal yang fenomenal atau sebuah tirai yang tembus pandang dan transparan yang memancarkan kesempurnaan. Secara keseluruhan, keindahan memiliki empat macam:1. Keindahan yang dapat di indra, 2. Keindahan yang tidak dapat di indra, 3. Keindahan bersifat ...
  • Apakah Khalifah Kedua adalah menantu Imam Ali As?
    3006 تاريخ بزرگان 2011/01/13
    Dalam riwayat Syiah dan Sunni disebutkan ihwal pernikahan Khalifah Kedua dengan Ummu Kultsum, putri Baginda Ali As. Namun riwayat-riwayat yang menukil tentang pernikahan ini tidak sejenis dan masing-masing terdapat perbedaan antara satu dengan yang lain. Apa yang bersifat common dan umum di antara riwayat-riwayat ini antara Syiah dan Sunni adalah ...
  • Siapakah Shâhib al-Zamân itu? Apabila yang dimaksud adalah Imam Mahdi bukankah hal ini meniscayakan syirik? Lantaran pemilik ruang dan waktu, bumi dan masa adalah Allah Swt.
    2233 Teologi Klasik 2012/01/04
    Redaksi kata shâhib dalam bahasa Arab bermakna teman, kawan, sahabat, semasa, seseorang yang menyertai bukan bermakna pemilik yang biasanya terlintas dalam benak orang-orang yang berbahasa Indonesia atau yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Karena itu, shâhib al-zamân artinya seseorang yang bersama masa (zaman)dan hidup pada pada masa dan zaman ini. Tentu ...
  • Apa hukumnya menyimpan benda-benda pusaka,seperti keris dan sebagainya?
    1021 Menjalankan Peraturan 2014/06/11
    Pada dasarnya tidak ada masalah; namun apabila ada peraturan-peraturan yang mengatur hal ini maka setiap orang harus menjalankan peraturan-peraturan tersebut. Lampiran-lampiran: Jawaban Marja Agung Taklid terkait dengan pertanyaan ini adalah sebagai berikut:[1] Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali): Pada dasarnya tidak ada masalah; namun apabila ada peraturan-peraturan yang mengatur dalam hal ini maka setiap ...
  • Apakah selain maksum dapat menjadi personifikasi dan obyek luaran (mishdaq) khalifatullah?
    710 Teologi Klasik 2013/11/25
    Sebelum membahas siapa saja yang menjadi personifikasi dan obyek luaran khalifatullah kiranya perlu kita uraikan terlebih dahulu siapakah khalifatullah itu dan sifat apa saja yang harus disandang oleh seorang khalifatullah. Pada batin kata khilâfah dan pengganti terpendam makna ini bahwa khilâfah tampak pada mustakhlif ‘anhu (pengganti darinya) pada diri seorang khalifah ...
  • Apabila seseorang menunaikan haji, tanpa memperhatikan keharusan bertaklid kepada seorang mujtahid yang masih hidup dalam masalah tetapnya bertaklid kepada mayit, apakah hajinya bermasalah?
    1687 Hukum dan Yurisprudensi 2011/03/05
    Pertanyaan Anda telah kami kirim kepada beberapa kantor marja taklid dan menerima jawabannya sebagaimana berikut ini:  Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali): Tetap bertaklid kepada Imam Khomeini Qs dibolehkan sesuai dengan izin Pemimpin Agung Revolusi Ayatullah Agung Khamenei. Karena itu sah apabila amalan-amalan umrah Anda sesuai dengan fatwa-fatwa Imam ...
  • Apa yang dimaksud dengan a’lâm dan fal a’lâm?
    1806 Hukum dan Yurisprudensi 2011/05/21
    Al-a’lâm dan fal a’lâm merupakan satu terma fikih yang mengemuka dalam pembahasan syarat-syarat marja taklid.  Al-a’lâm dan fal a’lâm bermakna seorang fakih yang lebih pandai dan orang yang setingkat lebih pandai di bawahnya.Kita tahu bahwa salah satu syarat  marja taklid adalah a’lâmiyah (kelebihpandaian); artinya bahwa seorang marja taklid harus lebih ...
  • Mengapa pada musim haji orang-orang harus mengenakan pakaian ihram?
    3940 Filsafat Hukum 2012/02/06
    Ritual haji adalah sebuah ritual yang sarat dengan rahasia dan tanda-tanda yang menuntut manusia untuk merenung dan berpikir serta dapat membimbing manusia kepada fitrahnya. Ada baiknya dalam pelaksanaan haji, selangkah demi selangkah manusia memperhatikan amalan-amalan eksoterik dan esoterik, lahir dan batin haji; karena secara lahir, hukum-hukum khusus haji harus ditunaikan ...
  • Apa yang dimaksud dengan keadilan dalam dasar-dasar agama (ushuluddin)?
    6305 Teologi Klasik 2009/07/22
    Keadilan dengan seluruh artinya adalah yang akan dibahas dan dikaji dalam teologi. Akan tetapi kebanyakan dari artinya yang mendapat kritikan dan menjadi sebab terpisahnya golongan Adliah (Imamiyah dan Mu’tazilah) dari golongan Asyairah, adalah “keadilan” yang memiliki arti: perlunya memperhatikan hak-hak mukallaf  (yang memikul tugas syariat)  dalam memperoleh ganjaran dan hajaran ...
  • Perbedaan subyek epistemologi dan filsafat ilmu?
    5984 Filsafat Islam 2009/05/10
    A.      Subyek epistemologi adalah ilmu itu sendiri, pengetahuan (episte), media-media, cara-cara mengenal dan mengetahui. Namun subyek dalam filsafat ilmu adalah kuiditas ilmu karena ia memiliki identitas yang lebih menyeluruh.B.      Hubungan epistemologi dan filsafat ilmu; sebagaimana dalam buku-buku epistemologi komparatif dijelaskan sebagai umum dan khusus mutlak (complete inclusion). Artinya bahwa epistemologi ...

Populer Hits

  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    160940 Teologi Klasik 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia yang disebut sebagai “insan atau Nsnas” ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    129333 Teologi Klasik 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga permulaan kiamat ia ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    118350 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    92051 تاريخ بزرگان 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan maqam penghambaan, ilmu ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    86754 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik nikah daim (tetap) ataupun mut’ah (sementara). Hal itu dapat dilakukan dengan syarat-syaratnya ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    74755 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    70589 تاريخ بزرگان 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa. Buntut dari pengepungan ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    67596 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya (musytaq) dalam Al-Qur’an digunakan sebanyak 13 makna.Doa merupakan sebuah bentuk ibadah, karena itu ia juga memiliki syarat-syarat positif ...
  • Apakah ada ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kaum Israel dan Palestina?
    59768 Tafsir 2013/10/26
    Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa “negara” Israel tidak memiliki sejarah yang panjang. “Negara” Israel berdiri pada beberapa dasawarsa terakhir dengan mencaplok tanah Palestina. Kawasan ini bernama Palestina dan Suriah yang telah dikenal sebelumnya dalam sejarah. Adapun tentang wilayah Palestina sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dengan tanah suci pada ayat berikut ...
  • Apakah suami dan isteri diwajibkan mengenakan pakaian ketika melakukan senggama?
    50200 Akhlak Praktis 2010/10/12
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil. ...

Jejaring