Advanced Search
Hits
30815
Tanggal Dimuat: 2009/09/22
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah mengerjakan shalat dengan tangan terbuka? Dan mengapa orang-orang Sunni mengerjakan shalat mereka dengan tangan tertutup?
Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah mengerjakan shalat dengan tangan terbuka? Dan mengapa orang-orang Sunni mengerjakan shalat mereka dengan tangan tertutup?
Jawaban Global

Islam adalah agama suci yang diturunkan Allah pada ummat manusia melalui Nabinya, Muhammad al-Musthafa Saw. Islam adalah agama yang satu, dan selama Nabi Muhammad Saw hidup, semua ajaran dan syari’at yang dibawa Islam masih murni dan tak memungkinkan bagi para musuh Islam mengutak-utiknya. Namun semua berubah ketika penjaga utama syari’at Ilahi ini meninggal dunia. Para musuh-musuh Islam menemukan cara untuk menggerogoti Islam dengan berbagai cara. Inilah yang membuat tak hanya persatuan umat Islam terkoyak, tapi juga ajaran-ajaran murninya terkotori. Hingga sampai saat ini. Ini berlaku pada semua ajaran Islam, bahkan pada syari’at Islam yang paling pertama dan utama, shalat!

Syiah Dua Belas Imam mengerjakan shalat mereka dengan tangan terbuka karena mengikuti tata-cara shalat Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As yang merupakan orang terdekat dan paling mengerti tentang kehidupan Rasulullah karena mereka adalah keluarga Rasullah sendiri. Terdapat banyak sekali riwayat-riwayat yang dapat diandalkan yang menukil ihwal tata-cara shalat Nabi Saw semenjak awal hingga akhir dalam tradisi Syi’ah Dua Belas Imam. Yaitu bahwa Rasulullah Saw dan para Imam Maksum menunaikan shalatnya dengan tangan mereka terbuka dan menempelkan kedua tangan tersebut ke pinggang. Ini karena disebutkan bahwa menutup tangan ketika mengerjakan shalat adalah mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Majusi dalam ibadah mereka.

Jawaban Detil

Lebih dari itu, sejarah menyebutkan bahwa sama sekali tidak terdapat riwayat yang menukil tentang Nabi Saw yang menutup tangan tatkala menunaikan shalat. Bagaimanapun, praktik menutup tangan tatkala shalat merupakan sebuah peristiwa yang  terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw pada masa khalifah kedua. Yang mana atas alasan inilah, orang-orang Sunni mengerjakan shalat mereka dengan tangan tertutup. Inipun tidak semua pengikut Ahlusunnah yang melakukannya, ada sebagian dari Ahlusunah yang tidak mengerjakan demikian. Sebagian dari mereka shalat dengan cara tidak menyedekapkan kedua tangannya.

Meletakkan tangan di atas tangan merupakan sebuah cara yang tidak terdapat pada masa Rasulullah Saw. Adapun Rasululah Saw menunaikan shalatnya dengan tangan terbuka.[1] Dan karena Syiah dalam seluruh shalat mengikuti Nabi Saw dan para Imam Maksum As maka mereka mengerjakan shalat mereka dengan cara seperti ini. Sementara menutup tangan tatkala mengerjakan shalat merupakan sebuah bid'ah yang dilakukan setelah wafatnya Rasulullah Saw; artinya bahwa praktik shalat sedemikian tidak terdapat pada masa Rasulullah Saw dan bermula pada masa khalifah kedua. Semenjak masa khalifah kedua, kondisi seperti ini berlaku[2] dan dewasa ini mayoritas Ahlusunnah mengerjakan shalat mereka mengikut kepada tata-cara shalat khalifah kedua.[3] Bukan mengikuti tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Selain karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, para Imam Maksum As menyebutkan bahwa tata-cara shalat seperti ini adalah tata-cara ibadah yang mirip dengan tata-cara ibadah orang-orang kafir dan kaum Majusi, karena itulah mereka melarangnya. Para Imam Maksum As bersabda kepada para Syiah untuk mengerjakan salat mereka mengikut tata-cara shalat Nabi Saw dan mengerjakan shalat dengan tangan terbuka.

Dalam sebuah hadis Abi Hamid Sa'idi disebutkan seluruh perbuatan Nabi Saw tatkala menunaikan shalat semenjak takbiratul ihram hingga salam, namun dalam riwayat tersebut tidak disebutkan satu pun hadis tentang praktik menutup tangan dalam shalat Nabi Saw. Abu Hamid Sa'idi menyebutkan bahwa selepas takbir, Rasulullah Saw menurunkan tangannya (lepas terbuka) dan menempelkannya ke dua pinggang beliau.[4] Jika pun disebutkan bahwa bersedekap tangan adalah amalan mustahab, kita sama tahu bahwa Nabi Saw yang mustahil meninggalkan amalan mustahab (dianjurkan) sama sekali tidak menyedekapkan tangannya sewaktu shalat selama masa hidupnya.

Demikian juga Himad bin 'Isa meminta Imam Shadiq As untuk mengajarkan tata-cara shalat yang benar dan sempurna kepadanya. Saat itu, Imam Shadiq As berdiri menghadap kiblat dan mengerjakan seluruh amalan mustahab. Setelah beliau melakukan takbiratul ihram dan memulai bacaan shalat dan seterusnya, beliau mengerjakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah hari ini, dan akhirnya mengucapkan salam untuk menyudahi shalatnya.[5] Dalam riwayat ini, Imam Shadiq As mengajarkan tata-cara shalat Rasulullah Saw kepada Himad bin Isa dan tidak disebutkan kondisi tangan yang tertutup atau tangan di atas tangan. Dan sekiranya praktik sedemikian merupakan sunnah, maka pastilah Imam Shadiq As menjelaskan masalah tersebut.

Demikian juga, banyak riwayat yang dinukil dari para Imam Maksum As yang bersabda: "Praktik (menutup tangan ini) adalah mirip dengan perbuatan orang Majusi dan orang-orang kafir. Praktik seperti ini tidak boleh dilakukan. Di sini kita akan menyebutkan beberapa riwayat lain untuk menegaskan hal tersebut:

1.     Diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim dari Imam Shadiq As atau Imam Baqir As bersabda: "Aku berkata: Seseorang meletakkan tangannya dalam shalat – dan dikisahkan – tangan kanan di atas tangan kiri? Imam bersabda: "Perbuatan tersebut adalah menutup (al-takfir) dan tidak boleh dilakukan."[6]

2.     Diriwayatkan dari Zurarah dari Abi Ja'far sesungguhnya beliau bersabda: "Dan hendaklah tangan kalian terbuka dalam shalatmu dan janganlah engkau menutup (tanganmu) karena orang-orang Majusi melakukan hal tersebut (dalam ibadah mereka).[7]

3.     Diriwayatkan dari Shaduq dengan menyandarkannya kepada Ali As sesungguhnya beliau bersabda: "Hendaknya kaum muslim tidak menggabungkan tangannya dalam shalatnya sementara ia berdiri di antara tangan Tuhan dan (perbuatan ini) mirip dengan orang kafir yaitu Majusi.[8][]

 

 

 

 

Untuk telaah lebih jauh kami persilahkan Anda untuk merujuk pada:

Al-Inshaf fii Masâil Dama fiha al-Khilâf, Ayatullah Syaikh Ja'far Subhani, jil. 1, hal. 169-193

 

 



[1]. Hadis yang berkenaan dengan masalah ini segera akan dijelaskan pada bagian berikutnya.  

[2]. Bukti dari perkara ini adalah hadis Sahl bin Sa'ad yang diriwayatkan oleh Bukhari: "Dulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kananya di atas lengan tangan kirinya dalam shalat (Fath al-Bâri fii Syarh Shahîh al-Bukhâri, jil. 2, hal. 224). Sekarang apabila Nabi Saw memerintahkan untuk menutup tangan maka tidak ada maknanya ketika disebutkan (dalam hadis tersebut): "Dulu orang-orang diperintahkan" tapi harus disebutkan: "Dulu Nabi Saw memerintahkan."  

[3]. Mazhab Hanafi, Syafi'i dan Hanbali memandang menutup tangan sebagai sunnah dan mustahab (dianjurkan) akan tetapi Maliki menganggap bahwa tangan terbuka sebagai sunnah. Al-Fiqh 'ala al-Madzhâhib al-Khamsah, hal. 110.  

[4]. Sunan Baihaqî, jil. 2, hal. 72, 73, 101 dan 102; Sunan Abî Daud, jil. 1, hal. 194.  

[5]. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ'il, jil. 4, bab 1, Min Abwâb Af'âl al-Shalat, hadis pertama.

[6]. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ'i, jil. 4, bab 15, Min Abwâb Qawâthi' al-Shalat, hadis pertama.

[7]. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ'il, jil. 4, bab 15, Min Abwâb Qawâthi' al-Shalat hadis 2, 3, dan 7.

[8]. Ja'far Subhani, Fiqh al-Syiah al-Imâmiyah wa Mawâdhi' al-Khilâf Bainahu wa baina al-Madzhâib al-Arba', hal. 183.  

Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Dapatkah Anda membuktikan sifat mahakaya Tuhan dari sudut pandang rasional?
    2042 Teologi Klasik 2011/11/06
    Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an, “Hai manusia, kamulah yang memerlukan kepada Allah; dan hanya Allah-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Al-Fathir [35]:15) Sifat mahakaya dan tidak membutuhkan merupakan salah satu sifat tsubutiyah Tuhan. Penetapan sifat Tuhan secara umum dilakukan setelah penetapan keberadaan Tuhan. Sifat mahakaya yang bermakna bahwa Tuhan ...
  • Mengapa bahasa Persia digunakan sebagai bahasa resmi di Iran?
    2728 System 2010/03/06
    Menentukan satu bahasa sebagai bahasa resmi merupakan sebuah hal yang natural yang berlaku secara umum di seluruh negara-negara di dunia. Dan ketika suatu negara menentukan satu bahasa sebagai bahasa resmi, seluruh warga di negara tersebut, khususnya orang-orang yang beraktifitas di pelbagai yayasan dan institusi ilmiah dan kebudayaan atau mereka yang ...
  • Bagaimana pandangan Islam terkait dengan asuransi?
    3025 Hukum dan Yurisprudensi 2012/05/19
    Asuransi atau pertanggungan adalah sejenis perjanjian dan ikrar antara dua orang baik ia sebagai pribadi (personal) atau mewakili lembaga (korporate) yang mana seorang atau lembaga penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang ...
  • Apakah dalam salat kita dapat membaca surah-surah panjang al-Qur’an melalui layar komputer?
    1672 Hukum dan Yurisprudensi 2011/08/27
    Apabila Anda tidak mampu mengerjakan salat dengan berdiri maka taklif Anda adalah mengerjakannya sambil duduk di atas kursi. Dalam kondisi seperti ini maka tidak ada masalah mengerjakan salat di hadapan meja komputer dengan menjaga syarat-syarat lainnya. Dan bagaimanapun dibolehkan membaca surah-surah panjang al-Qur’an dalam salat. [IQuest] ...
  • Apa saja tipologi dan nilai plus yang dimiliki oleh kitab Bihâr al-Anwâr? Kritikan apa saja yang dapat dilontarkan atas kitab ini?
    1800 Dirayah al-Hadis 2012/05/10
    Kumpulan riwayat kitab Bihâr al-Anwâr merupakan karya magnum opus Allamah Muhammad Baqir Majlisi. Kitab ini merupakan ensiklopedia (Dairat al-Ma’ârif) besar hadis mazhab Syi’ah yang mencakup seluruh masalah-masalah agama, seperti tafsir al-Qur’an, Sejarah, Fikih, Teologi dan lain-lain. Di antara tipologi dan keunggulan paling penting kitab Bihâr al-Anwâr adalah sebagai berikut: Penyebutan ayat-ayat al-Qur’an ...
  • Apa saja yang harus dilakukan untuk terbebas dari pelbagai cinta non-Ilahi dan cinta ekstrem?
    1609 Akhlak Praktis 2012/05/16
    Manusia adalah makhluk sosial dan dalam kehidupannya memerlukan hubungan dan persahabatan dengan manusia lainnya. Namun dengan memilih sahabat yang pantas dan bersikap proporsional dalam mengekspresikan pelbagai kecintaan dan menjaga batasan-batasan serta hukum-hukum Ilahi serta menghindar dari sikap ekstrem, manusia dapat menyiapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehubungan dengan isyq (kecintaan berlebihan), isyq ...
  • Apabila devisa tidak diboyong keluar negeri apakah sistem-sistem Gold Quiz tetap bermasalah di Iran?
    1665 Hukum dan Yurisprudensi 2012/01/18
    Sistem-sistem perdagangan seperti Gold Quiz dan perusahan-perusahan lain yang serupa menyimpan seabrek problematika dari sudut pandang syariat, fikih dan ekonomi. Salah satu problem ini adalah keluarnya sejumlah besar devisa dari dalam negeri dan apabila keluarnya devisa dalam perusahaan-perusahaan ini dapat dicegah maka hanya satu dari problema tersebut yang dapat dipecahkan ...
  • Jika memang Nabi Isa As masih tetap hidup hingga sekarang, lalu mengapa Al-Qur'an menggunakan kata "mematikanmu" dalam ayat-ayatnya?
    8176 Tafsir 2012/07/21
    Sebab timbulnya pertanyaan seperti ini adalah kesalahan sebagian pihak dalam menerjamahkan ayat Al-Qur'an. Oleh karena itu, jika ayat di atas diterjemahkan dengan benar, tidak akan ada pertanyaan seperti ini. Dengan mengkaji Al-Qur'an secara seksama, kita bakal menyadari bahwa kata "tawaffa" dalam Al-Qur'an tidak selalu berarti wafat atau mati, namun juga ...
  • Atas dalil apa nama sebagian para nabi disebutkan dalam al-Qur'an?
    4069 Tafsir 2009/08/20
    Al-Qur'an bukan merupakan kitab sejarah, sirah atau mu'jam orang-orang sehingga kita dapat mengkaji riwayat hidup para nabi dan mensenarai nama-nama mereka di dalamnya. Al-Qur'an merupakan kitab petunjuk, pengajaran, tarbiyah, pensucian dan peringatan. Tujuan ini dapat terlaksana dengan menyebut sebagian nama dan riwayat hidup para nabi sebelumnya dan manusia-manusia sempurna. Apabila ...
  • Apabila terdapat tingkatan untuk surga apakah juga berlaku demikian untuk neraka?
    2822 Teologi Klasik 2012/03/08
    Apa yang dapat disimpulkan dari sebagian ayat al-Qur’an dan sebagian riwayat sehubungan dengan tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat neraka adalah bahwa neraka juga sebagaimana surga memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda-beda. Para pendosa berdasarkan kejahatan dan dosanya akan mendiami salah satu dari tingkatan neraka ini dan menerima azab.[1] Dalam sebuah riwayat terkait dengan ...

Populer Hits

Jejaring