Advanced Search
Hits
7925
Tanggal Dimuat: 2010/07/05
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Imam Ali As melakukan kerjasama dengan para khalifah?
Pertanyaan
Mengapa Imam Ali As melakukan kerjasama dengan Umar yang merupakan aktor utama atas syahidnya istrinya? Dalam sejarah disebutkan bahwa Umar berulang kali berkata, “Laula Ali lahalaka ‘Umar" (Sekiranya tiada Ali maka celakalah Umar). Dengan sandaran kisah sejarah ini, sebagian Ahlusunnah mengingkari syahadah Hadhrat Fatimah Zahra As. Bahkan saya mendengar bahwa Imam Hasan dan Imam Husain As turut serta bersama Umar dalam peperangan melawan Iran. Apabila hal ini ada benarnya, bagaimana Anda menjelaskan kerjasama yang dilakukan ini?
Jawaban Global

Imam Ali As pada seluruh tingkatan hidupnya berusaha untuk merealisir masalah terpenting berupa menjaga Islam dan perkembangannya. Baginda Ali As mengerahkan seluruh wujudnya untuk mewujud hal ini. Kerja sama yang dilakukannya juga untuk mewujudkan masalah ini dan mencegah pelbagai tangan-tangan kotor musuh-musuh Islam yang ingin menodai kesucian Islam. Tentu saja, kerja sama yang dijalin oleh Baginda Ali As tidak bermakna sokongan terhadap para khalifah, lantaran pada pelbagai kesempatan beliau melancarkan protes dan kritikan terhadap mereka. Sebagain sebab-sebab kerja sama Imam Ali As dengan para khalifah adalah pertama, mencegah pelanggaran hak-hak masyarakat. Kedua, memperkenalkan Islam sejati. Ketiga, menciptakan persatuan di hadapan pelbagai ancaman dalam dan luar negeri.

Jawaban Detil

Sikap itsar (altruis) dan mendahulukan kepentingan orang lain yang dipraktikkan Imam Ali As untuk menjaga Islam telah terbukti bagi semua orang. Meski menerima Islam pada awal-awal masa dakwah Rasulullah Saw bukan merupakan sebuah hal yang mudah dan pelbagai jenis ancaman, bahaya, dan embargo dialami oleh mereka yang memeluk Islam. Baginda Ali As adalah orang pertama yang memeluk Islam ketika beliau masih berusia belia. Baginda Ali As senantiasa menyertai langkah Rasulullah Saw, dalam pelbagai kesusahan dan penderitaan semenjak masa bi’tsah. Pada malam hijrah, Baginda Ali As tidur di pembaringan Rasulullah Saw sehingga dapat mematahkan konspirasi orang-orang kafir yang berniat ingin membunuh Rasulullah Saw.  Setelah masyarakat mulai condong kepada Islam, juga Imam Ali As ikut secara aktif pada pelbagai peperangan dan berjuang sekuat tenaga, dengan jiwa dan raga membela Islam dan hingga akhir usianya tidak pernah surut berupaya untuk meninggikan panji Islam dan penyebarannya. Karena itu, kerjasama yang dilakukan oleh Imam Ali As dengan para khalifah harus ditinjau dan ditelisik dengan pelbagai tipologi yang dimiliknya seperti yang disebutkan di atas.

Mengingat bahwa falsafah imamah tidak melulu dan semata-mata bermakna menjadi penguasa dan memerintah, melainkan bermakna menjaga Islam dan mencegah kehancuran atau penyimpangannya, petunjuk bagi manusia, rujukan dalam masalah agama dan keilmuan kaum Muslimin adalah di antara tugas-tugas penting seorang imam. Imam Ali As memandang dirinya bertugas dan berkompeten untuk menjaga agama Islam; dalam hal ini beliau menutup mata atas kezaliman yang ditimpakan kepadanya. Sekaitan dengan hal ini, Baginda Ali As bersabda, “Demi Allah! Selagi urusan kaum Muslimin berjalan lancar dan tidak terjadi kezaliman kepada mereka aku akan berserah diri dan menutup mata dari kezaliman yang menimpaku.”[1]

Sebagian alasan mengapa Imam Ali As bekerja sama dengan tiga khalifah sebelumnya:

1.   Mencegah hak-hak masyarakat tidak dilanggar

Imam Ali melibatkan diri pada kebanyakan persoalan tatkala beliau melihat hak-hak orang lain dilanggar atas dasar keputusan dan ijtihad yang keliru. Dengan keterlibatannya, Imam Ali As mencegah hak-hak masyarakat tidak dilanggar. Sebagai contoh, tatkala Umar mengeluarkan hukum rajam atas seorang wanita hamil yang dalam pandangannya telah melakukan zina. Ketika Imam Ali As mendengar kasus ini, beliau berkata kepada Umar, “Engkau tidak memiliki hak untuk membunuh janin wanita ini.” Dengan perkataan ini, Imam Ali telah berhasil mencegah Umar untuk tidak merajam dan membunuh wanita tersebut. Umar berkata, “Sekiranya tiada Ali maka celakalah Umar.”[2]  Sekiranya Baginda Ali tidak turut campur dalam masalah ini atau masalah-masalah yang serupa alangkah banyaknya orang-orang yang tidak berdosa akan terbunuh akibat penilaian dan pengadilan yang keliru.

 

2.   Memperkenalkan Islam sejati

Dengan peringatan yang diberikan oleh Baginda Ali dan sikapnya dalam masalah peradilan dan sebagainya pada hakikatnya beliau tengah memperkenalkan dan mempertontonkan Islam hakiki dan hukum-hukum valid Islam kepada masyarakat.

 

3.     Menciptakan persatuan di hadapan pelbagai ancaman dalam dan luar negeri.

Sebelum memikirkan kepentingan pribadinya sendiri, Baginda Amirul Mukminin Ali As senantiasa memikirkan kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Pasca wafatnya Rasulullah Saw, agama Islam berhadapan dengan pelbagai ancaman dari dalam dan luar negeri. Ancaman luar negeri dari demarkasi-demarkasi Islam berasal dari pihak emperium Romawi dan Iran. Ancaman dalam negeri adanya konspirasi-konspirasi kaum hipokrit. Pelbagai ancaman ini sangat krusial dan berpotensi akan mampu menghancurkan fondasi agama Islam. Karena itu, Baginda Ali As berupaya mencegah perpecahan di tengah masyarakat Islam dan membangun fondasi persatuan. Imam Ali As dalam sebuah suratnya kepada Abu Musa Asy’ari: “Ketahuilah bahwa tak ada orang yang melebihi aku dalam merajut persatuan umat Muhammad Saw dan solidaritasnya.”[3]

Atas dasar itu, untuk menjaga persatuan umat Islam, beliau bekerjasama dengan para khalifah dan menjadi penasihat bagi mereka. Baginda Ali As sendiri menjelaskan alasan mengapa beliau menjalin kerjasama dengan para khalifah pada masanya dalam sebuah surat sebagai berikut: “Demi Allah, tak pemah terpikir olehku, dan aku tak pemah membayangkan, bahwa pasca Nabi Saw orang Arab akan merebut kekhalifahan dari Ahlulbait, tidak pula bahwa mereka akan mengambilnya dariku pasca beliau, tetapi secara mendadak aku melihat orang mengelilingi lelaki itu untuk membaiat. Oleh karena itu, aku menahan tanganku hingga aku melihat bahwa banyak orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk menghancurkan agama Muhammad Saw. Lalu aku khawatir bahwa apabila aku tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepadaku daripada hilangnya kekuasaan atas Anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini aku bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan.[4]

Dari rentetan kalimat yang tertuang dalam surat ini dapat disimpulkan bahwa dalam pelbagai peperangan yang terjadi untuk membela dan menyebarkan Islam pada masa para khalifah lantaran terkait dengan nasib agama Islam, Imam Ali As memberikan nasihat kepada mereka dan mengutus putra-putra terbaiknya ke medan perang sebagaimana hal ini disebutkan dalam literatur-literatur sejarah.[5]

Adapun terkait dengan keterlibatan Imam Hasan dan Imam Husain As dalam peperangan melawan Iran kita tidak memiliki dalil standar dan muktabar. Dengan semua kerja sama ini, pada pelbagai kesempatan yang tepat, Imam Ali As tetap melancarkan protes dan ketidakrelaannya kepada mereka terkait dengan masalah khilafah yang menjadi haknya. [IQuest]

 

Indeks Terkait:

1.     Imam Ali dan Pengerahan Pasukan oleh Para Khalifah, Pertanyaan 512 (Site: 557)

2.     Diam dan Tiadanya Perlawanan Pada Masa Pemerintahan Para Khalifah, Pertanyaan 1585 (Site: 557)


[1]. Sayid Ja’far Murtadha Amili, Tahlil az Zendegâni Siyâsi Imâm Hasan Mujtaba As, terjemahan Muhammad Sepehri, Cetakan Kelima, Qum, Muasassah Bustan-e Kitab, 1385 S.

[2]. Allamah Hilli, Kasyf al-Murâd, hal. 512, Cetakan Kesepuluh, Muassasah al-Nasyr al-Islamiyah, Qum, 1425 H.

[3]. Nahj al-Balâgha, Surat 78.

[4]. Nahj al-Balâgha, Surat 62.  

[5]. Dahlan, al-Futuhât al-Islâmiyah, jil. 1, hal. 175, Nasyir Mustafa Muhammad, Mesir.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa yang dimaksud dengan fikih tradisional?
    7896 Hukum dan Yurisprudensi
    Yang dimaksud dengan fikih tradisional adalah ijtihad dan istinbâth (inferensi) hukum-hukum agama berdasarkan metode yang digunakan selama ribuan tahun oleh para juris Syiah dan tercatat dengan apik dalam buku-buku mereka sebagai turats. Fikih tradisional sebagaimana yang diperkenalkan oleh Imam Khomeini merupakan sebaik-baik metode untuk mengkaji ...
  • Apa hukumnya hubungan ilegal dengan seorang putri non-mahram?
    8717 Hubungan-hubungan Pasangan Tunangan
    Segala jenis hubungan seksual baik itu berbicara yang diselingi dengan rayuan asmara, menyentuh dan mengelus, dan lain sebagainya yang dilakukan sebelum menikah adalah haram. Adapun zina yang merupakan senggama dan koitus dengan selain istri syar’i (permanen atau temporal) dalam pandangan al-Quran merupakan sebuah dosa besar ...
  • Apakah dalam al-Quran terdapat ungkapan «perempuan adalah budak dari laki-laki» yang oleh Nabi Saw dinyatakan bahwa ayat ini telah berubah?
    8939 زن
    Rasulullah Saw adalah murni hamba Allah Swt dan beliau tidak melakukan sesuatu apapun atas dasar keinginan sendiri; mengingat Allah Swt berfirman tentangnya, « وَما یَنْطِقُ عَنِ الْهَوى . إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْیٌ یُوحى» “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain ...
  • Apakah waktu sholat jamaah imam membaca Al-Fatihah, kita ikut membaca dalam hati atau hanya mendengarkan?
    6518 Serba-serbi
    Apabila makmum mendengarkan bacaan Imam pada salat Subuh, Maghrib dan Isya maka ia tidak boleh membaca surah al-Fatihah dan surah setelah al-Fatiha. Apabila ia tidak mendengarnya maka dianjurkan (mustahab)[1] baginya untuk membaca surah al-Fatihah dan surah setelahnya secara pelan. Adapun pada salat-salat Dhuhur dan ...
  • Dalam hal apa saja berdusta dibolehkan?
    24069 Akhlak Praktis
    Berkata jujur dan memerangi dusta sangat mendapat perhatian ekstra dalam ajaran-ajaran Islam sedemikian sehingga dalam banyak hal berdusta disebut sebagai perbuatan yang lebih nista dari minuman keras. Namun dengan demikian, kapan saja ketika tidak berdusta menyebabkan timbulnya kerugian dan bahya yang lebih besar dari berdusta seperti membunuh ...
  • Apakah yang dimaksud dengan ‘arsy dan kursi itu?
    13485 Tafsir
    Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis, para penafsir al-Quran memberikan beberapa  kemungkinan makna terhadap ‘arsy dan kursi. Sebagian mengatakan, ‘arsy dan kursi adalah satu sesuatu yang memiliki dua nama, keduanya merupakan makna kiasan yang muncul dari sebuah ...
  • Kenapa tiap surat dimulai dengan basmalah,kecuali al-Taubah? Kenapa al-Fatehah bacaan pertama yang harus dibaca tiap rakaat dalam salat?
    14847 Bacaan
    Pengguna Site Islam Quest Yang Budiman Kami persilahkan Anda untuk menelaah indeks Penghilangan Basmalah dan Ayat-ayat Surah Al-Taubah 4999 terkait dengan mengapa surah al-Taubah dimulai tanpa basmalah. Adapun terkait dengan bagian kedua dari pertanyaan Anda harus dikatakan bahwa dalam sebuah hadis, Imam Ridha As bersabda, “Apabila ...
  • Bagaimana manusia bisa sampai pada kesempurnaan?
    13170 Akhlak Praktis
    1.     Jawaban untuk pertanyaan di atas bisa diklasifikasikan dalam empat bahasan, yaitu: a. Definisi dari kata "sempurna" dan perbedaannya dengan kata "lengkap"; b. Kesempurnaan manusia; c. Kesempurnaan manusia dari perspektif Islam; dan d. Jalan ...
  • Apa peran kaum wanita dalam mewujudkan tujuan-tujuan pertahanan negara?
    12139 زن و حکومت اسلامی
    Pertahanan terhadap musuh adalah hal fitri dan natural bagi manusia dan seluruh makhluk hidup. Agama Islam malah memberinya nilai sakral dan memerintahkan umat Islam untuk melakukan pertahanan dan bahkan mewajibkan pertahanan tersebut dan juga hal-hal yang berkaitan dengannya; perintah itu pun tak dibedakan baik untuk lelaki maupun ...
  • Bagaimanakah manusia itu diciptakan berdasarkan dalam pandangan Islam?
    47849 Teologi Lama
    Al-Qur’an menyatakan dengan ragam ungkapan terkait dengan penciptaan manusia dan sumber kemunculannya. Sebagian ayat al-Qur’an memperkenalkan bahwa bahan dasar pertama manusia adalah “tanah liat.” Sebagian lainnya menyebutkan bahwa manusia Kami ciptakan dari “air.” Ayat-ayat lainnya menyatakan bahwa sumber penciptaan manusia berasal dari “nutfah” (sperma) dan sebagian ayat lainnya mengungkapkan “tanah ...

Populer Hits