Advanced Search
Hits
11477
Tanggal Dimuat: 2010/01/06
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimanakah kejadian maskh, dan apakah binatang-binatang yang ada saat ini sebenarnya adalah manusia-manusia yang mengalami maskh (perubahan)?
Pertanyaan
Bagaimana terjadinya maskh (perubahan) pada sebagian manusia yang kejadiaannya disinggung di dalam al-Quran? Dan apakah binatang-binatang yang ada saat ini sebenarnya adalah manusia-manusia yang mengalami maskh (perubahan) tersebut?
Jawaban Global

Maskh secara leksikal bermakna perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lebih buruk, sedangkan dalam istilah al-Quran dan riwayat bermakna sebuah bentuk hukuman yang diturunkan kepada umat-umat pendosa (dengan dosa-dosa tertentu).

Yang dimaksud dengan manusia mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan (seperti ke dalam bentuk monyet) adalah hukuman bentuk hewani dari dosa yang telah dilakukan diberikan kepadanya di dunia ini untuk menutupi bentuk manusianya dan mengubahnya menjadi manusia. Atau dengan ungkapan yang lebih sederhana dikatakan sebagai manusia yang berbentuk hewan.

Mayoritas mufassirin menyatakan bahwa perubahan yang diceritakan dalam al-Quran merupakan perubahan yang hakiki, yaitu orang-orang tersebut benar-benar mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan, akan tetapi terdapat pula beberapa mufassir Ahli Sunnah yang menganggap perubahan semacam ini sebagai sebuah perubahan dalam tabiat, yaitu orang yang dimaksudkan tidak mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan, akan tetapi dia hanya memiliki tabiatnya dan tidak lebih baik dari itu.

Penyebab terjadinya perubahan pada sebagian manusia ini adalah dosa-dosa yang telah mereka lakukan dan dimensi ibrah dari azab ini. Dari berbagai riwayat bisa disimpulkan bahwa manusia yang mengalami perubahan ini musnah beberapa hari setelahnya, dengan demikian hewan-hewan saat ini merupakan generasi asli dari hewan bukan generasi dari manusia yang telah mengalami perubahan tersebut.

Jawaban Detil

Maskh secara leksikal bermakna perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lebih buruk.[1] Akan tetapi di dalam al-Quran dan maarif Islam dikatakan sebagai sebuah bentuk azab dan hukuman yang diberikan oleh Tuhan secara mukjizat kepada sekelompok masyarakat atau umat-umat terdahulu, dan efek dari mukjizat ini adalah sebagai hukuman bagi manusia, ibrah dan untuk melihat akhir dari sebuah dosa.[2]

Jawaban pertanyaan di atas akan semakin jelas dengan hal-hal berikut:

1. Apakah “ maskh” itu dan bagaimana terjadinya?

Perubahan dari bentuk manusia ke bentuk hewan dinamakan sebagai “ maskh”. Kejadiannya adalah sebagai berikut, manusia-manusia akan memperoleh bentuk malakutnya karena keberulangan sebuah perbuatan,[3] yaitu manusia akan bergerak ke arah jiwa malakuti karena perbuatan-perbuatan baiknya dan karena keikhlasannya, dan sebaliknya ketika mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, maka mereka akan bergerak pula ke alam malakah dari perbuatan yang telah dilakukannya. Dalam banyak riwayat akhlak, kemarahan diibaratkan sebagai sebuah api[4], atau di dalam al-Quran dikatakan, hakikat dari memakan harta anak yatim sebagai api.[5] Hal ini bukanlah metafora atau majasi, melainkan hakikat dari dosa-dosa tersebut yang telah disampaikan melalui kitab-kitab (samawi) dan para nabi (Allah).

Kesimpulannya, jika seseorang tenggelam dalam dosa-dosanya, maka hakikat dari dosa-dosa ini bisa muncul dalam bentuk malakah (kondisi inheren) dalam jiwanya, yang bahkan dia akan dibangkitkan dengan kondisi inheren tersebut pada hari kiamat. Dalam salah satu riwayatnya, Imam Baqir As bersabda, “Barang siapa yang menyangkal Tuhan dan Rasul-Nya, maka pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan dari kubur dalam bentuk monyet dan babi.”[6]

Dari sisi yang lain, kita sama sekali tidak memiliki argumen yang menyatakan bahwa kejiwaan dan bentuk-bentuk kejiwaan yang akan muncul dan terbentuk di alam akhirat tidak bisa terbentuk dan termanifestasi dari bentuk batin ke bentuk lahir di dunia ini.[7]

Dalam kaitannya dengan  maskh, yang terjadi bukanlah, manusia berubah ke dalam bentuk hewan melainkan bentuk hewan diletakkan di atas bentuk keinsanannya. Dengan demikian yang dimaksud dengan telah berubah adalah manusia yang telah berubah, bukan perubahan yang kosong dari kemanusiaannya.[8]

Bahasan ini ditegaskan pula oleh argumen-argumen lain, karena sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya,  maskh terjadi sebagai sebuah azab dan hukuman pada sekelompok pendosa.

Rasulullah Saw dalam salah satu hadisnya bersabda, “Allah telah mengubah umat-umat yang tidak mengindahkan para washi dan imam setelah para nabi.”[9]

Maka jika azab Ilahi ini menimpa mereka, berarti mereka tetap harus merasakan kemanusiaannya namun bentuk hewan telah mendominasi mereka, dan azab dalam masalah ini akan menjadi benar ketika mereka menyadari dirinya sebagai manusia akan tetapi mereka (pada hakikatnya) berbentuk babi dan monyet. Dalam kaitannya dengan masalah ini, Imam Ridha As bersabda, “Allah meletakkan manusia-manusia yang telah diubah sebagai ibrah dan nasehat bagi yang lainnya dan sebagai argumen bahwa terdapat orang-orang yang mengalami perubahan dalam bentuk penciptaannya dan dalam kejadian  maskh ini terdapat kemiripan dengan bentuk manusia sehingga bisa dipahami bahwa mereka adalah manusia-manusia yang dimurkai.”[10] Yaitu mereka sendiri mengetahui bahwa diri mereka manusia, demikian pula orang lain pun mengenali mereka, namun  maskh ini telah mendominasi bentuk insani mereka.

Dalam salah satu hadis dari Imam Zainal Abidin As dikatakan, “Setelah para Yahudi melakukan dosa dengan tidak mengindahkan perintah Allah untuk tidak memancing pada hari Sabtu, Allah mengubah mereka ke dalam bentuk monyet.” Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman, Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui orang-orang di antara kamu yang melanggar (ketentuan Ilahi) pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kera-kera yang hina!”[11] Sekelompok dari monyet-monyet yang tinggal di kota-kota sekitar berdatangan ke tempat tersebut untuk menyaksikan mereka. Setelah terjadinya perubahan muka pada manusia-manusia ini, sebagian dari monyet yang sebelumnya mengenal para pendosa ini masih tetap mengenalinya, dan mengatakan, “Bukankah kamu adalah fulan putra fulan?” Maka monyet tersebut menganggukkan kepalanya dengan bercucuran air mata.[12]

 

2. Apakah terdapat jenis-jenis  maskh?

Mayoritas mufassirin menyepakati bahwa  maskh dan perubahan yang disinggung di dalam al-Quran dalam kaitannya dengan berubahnya seseorang menjadi monyet dan babi merupakan sebuah perubahan dan  maskh yang hakiki, yaitu orang tersebut benar-benar berubah bentuk menjadi monyet dan babi, akan tetapi terdapat sekelompok kecil dari mufassir Ahlisunnah seperti Syaikh Muhammad Abduh dan lain-lain yang menganggap  maskh ini sebagai sebuah keberubahan tabiat saja, sebagaimana hal tersebut tersirat di dalam salah satu ayat al-Quran, “Kamatsalil Khimar yahmalu asfara” dimana seseorang yang dimaksudkan tidak berubah ke dalam bentuk keledai, melainkan dia memiliki tabiat seperti itu dan tidak lebih baik darinya.[13]

 

3. Apakah manusia yang telah diubah ini juga melakukan reproduksi dalam bentuknya yang telah mengalami perubahan, dan tetap hidup hingga sekarang?

Jawaban dari pertanyaan ini telah keluar dari dasar-dasar ilmu empirik dan genetik, dan pada prinsipnya cabang-cabang keilmuan ini tidak mampu membuktikan permasalahan semacam ini, karena jika manusia-manusia yang telah berubah tersebut masih tetap ada maka akan berbentuk monyet yang mirip dengan monyet-monyet lainnya, dan jika pun terbukti terdapat perbedaan pada sebagian monyet dengan monyet-monyet sejenisnya, tetap tidak ada alasan bagi keberlanjutan generasi manusia-manusia yang telah mengalami perubahan ini.

Akan tetapi riwayat-riwayat Ahlulbait As menyingung topik ini, Imam Ali bin Al-Husain As dalam salah satu hadisnya bersabda, “Manusia-manusia yang telah mengalami perubahan tetap hidup hingga tiga hari kemudian, namun setelah itu Allah mengirimkan hujan dan angin dan melemparkan seluruh mereka ke lautan, setelah itu tidak satupun dari mereka yang masih hidup, sedangkan hewan-hewan yang saat ini kalian saksikan memiliki bentuk seperti mereka, sebenarnya hanyalah mirip dengan mereka, karena hewan-hewan ini bukanlah mereka ataupun generasi mereka.”[14]

Dan jika pada sebagian riwayat disebutkan bahwa alasan keharaman daging anjing, babi dan monyet adalah karena perubahan (maskh) mereka, maka maksudnya disini bukanlah bahwa hewan-hewan ini adalah generasi mereka, melainkan karena bahaya yang terdapat pada dagingnya dan karena untuk mengingatkan akan hukuman Tuhan terhadap sebagian manusia yang telah berubah bentuk ke dalam bentuk ini, supaya masyarakat tidak mendekati hewan-hewan seperti ini dan menyepelekan azab dan hukuman Ilahi.”[15][]



[1] . Al-Munjid, klausul “maskh”.

[2] . Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, rujuklah: Terjemahan Persia al-Mizân, jil. 1, hal. 310 dan seterusnya.

[3] . Al-Mizân, jil. 1, hal. 311.

[4] . Mi’raj As-Sa’âdah, baba: Dar Mazhemmat-e Ghadhab, hal. 172.

[5] . Qs. An-Nisa (4): 10.

[6] . Safinatul Bihâr, jil.4, hal. 377.

[7] . Al-Mizân, jil. 1, hal. 311.

[8] . Ibid.

[9] . Safinatul Bihâr, jil. 4, hal. 376.

[10] . Tafsir Nur Ats-Tsaqalaîn, jil. 1, hal. 86.

[11] . Qs. Al-Baqarah (2): 65.

[12] . Tafsir Shâfi, Mulla Muhsin Faidh, jil. 1, hal. 620.

[13] . Tafsir Kâsyif, Muhammad Jawad Mugniyah, jil. 1, hal. 121.

[14] . Tafsir Shâfi, Mulla Muhsin Faidh, jil. 1, hal. 620.

[15] . Safinatul Bihâr, jil. 4, hal. 375.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...