Advanced Search
Hits
19203
Tanggal Dimuat: 2007/01/18
Ringkasan Pertanyaan
Apa itu syirik?
Pertanyaan
Apa itu syirik?
Jawaban Global
Syirik secara leksikal bermakna memitrakan dan bercampurnya dua mitra.[i] Dalam terminologi Al-Quran syirik digunakan sebagai lawan kata hanifat. Yang dimaksud dengan syirik adalah syarik[ii] yang bermakna menjadikan sesuatu semisal dan serupa dengan Allah Swt. Hanif bermakna munculnya kecenderungan dari penyimpangan kepada sesuatu yang lurus dan benar.
Dalam sebuah klasifikasi umum, syirik dapat dibagi menjadi dua bagian:
  1. Syirik dalam akidah (keyakinan)
  2. Syirik dalam amal (perbuatan)
Syirik dalam akidah (keyakinan) sendiri terbagi menjadi tiga bagian:
  1. Syirik dalam uluhiyyat (ketuhanan):
  2. Syirik dalam khâliqiyyat (kepenciptaan):
  3. Syirik dalam rububiyat (pengaturan):
 
Syirik dalam amalan juga terbagi menjadi dua bagian yaitu syirik jali (terang-terangan) dan syirik khafi (sembunyi-sembunyi) serta memiliki hukum-hukum yang telah dibahas dalam ilmu Fikih dan Teologi.
Menurut Allah Swt, seluruh bagian syirik termasuk sebagai kesesatan dan kezaliman terbesar kepada Allah Swt yang tidak terampunkan.
Dewasa ini, sebagian firkah masalah syirik ini telah menjadi kartu truf untuk menyerang pandangan orang lain dan tatkala mereka tidak kuasa mengajukan argumentasi untuk membela pandangannya serta merta menuding orang lain sebagai syirik yang tentu saja perbuatan ini tidak mencerminkan sikap islami, tidak etis dan menyimpang. Bagaimanapun ulama telah menjawab keberatan-keberatan dan kritikan-kritikan mereka seputar masalah ini.
 

[i]. Majma’ al-Bahraîn, jil. 5, hal. 274; Al-‘Ain, jil. 5, hal. 293.   
[ii]. Tentu saja, segala jenis syirik ini akan berujun pada kekufuran. Harus diperhatikan bahwa yang kami maksud kufur di sini adalah kufur teologis (kalam) dan kufur yurisprudensial (fikih).   
Jawaban Detil
Syirik secara leksikal bermakna memitrakan dan bercampurnya dua mitra.[1] Dalam terminologi Al-Quran syirik digunakan sebagai lawan kata hanifat. Yang dimaksud dengan syirik adalah syarik[2] yang bermakna menjadikan sesuatu semisal dan serupa dengan Allah Swt. Hanif bermakna munculnya kecenderungan dari penyimpangan kepada sesuatu yang lurus dan benar. Pengikut tauhid murni disebut sebagai hanif karena telah berpaling dari kemusyrikan dan memperoleh kecenderungan kepada tauhid.  Allah Swt dalam Al-Quran berfirman kepada Rasul-Nya: Katakanlah, “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am [6]:161) Atau pada ayat lainnya, Allah Swt berfirman: “Dan (aku telah diperintah), ‘Hadapkanlah mukamu kepada agama yang bersih dari segala kemusyrikan dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Yunus [10]:105)
Dengan demikian, dalam pandangan Al-Quran, syirik merupakan titik seberang agama hanif (lurus). Dan untuk mengenal syirik maka kita harus mengenal agama yang lurus, mengingat kaidah yang menyebutkan, “Tu’raf al-asya’ bidhedduha.” (Segala sesuatunya dapat dikenal dengan mengenal lawannya).
Dengan satu kalimat dapat dikatakan bahwa syirik adalah titik seberang dan lawan dari tauhid. Sebagaimana tauhid memiliki bagian-bagian, maka syirik juga memiliki bagian-bagian.
Dalam sebuah klasifikasi umum, syirik dapat dibagi menjadi dua bagian:
  1. Syirik dalam akidah (keyakinan)
  2. Syirik dalam amal (perbuatan)
 
  1. Syirik dalam Akidah
Syirik dalam akidah (keyakinan) sendiri terbagi menjadi tiga bagian:
  1. Syirik dalam uluhiyyat (ketuhanan): Adanya keyakinan terhadap entitas selain Tuhan yang secara mandiri memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan keindahan. Keyakinan seperti ini akan menyebabkan kekufuran. Atas dasar ini, Allah Swt berfirman dalam Al-Quran, Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.” (QS. Al-Maidah [5]:17)
  2. Syirik dalam khâliqiyyat (kepenciptaan): Adanya keyakinan bahwa terdapat dua sumber mandiri yang menciptakan alam semesta, sedemikian sehingga penciptaan dan pengelolaan seluruh apa yang ada di alam semesta berada di tangannya. Sebagaimana agama Majusi (Zarasustra) yang meyakini dua sumber kebaikan (Yazdan) dan keburukan (Ahriman).
  3. Syirik dalam rububiyat (pengaturan): Adanya keyakinan bahwa di alam semesta terdapat tuhan-tuhan (arbab) dan Allah Swt merupakan Tuhan segala tuhan (Rabb al-Arbab). Artinya bahwa pengelolaan alam semesta didelegasikan kepada tuhan-tuhan secara mandiri. Sebagaimana kaum musyrikin pada masa Nabi Ibrahim as yang terjangkiti jenis syirik seperti ini. Sebagian mereka meyakini bintang-bintang sebagai pengatur alam semesta, sebagian lainnya memandang bulan dan sebagian lainnya meyakini matahari sebagai pengelola alam semesta.
 
  1. Syirik dalam Amal (perbuatan)
Syirik dalam perbuatan disebut sebagai syirik dalam ketaatan (ithâ’at) dan penghambaan (ibadah). Syirik dalam perbuatan bermakna bahwa manusia tunduk dan patuh kepada seseorang yang bersumber dari keyakinan terhadap ketuhanan (uluhiyyah) atau kepenciptaan (khaliqiyyah) atau pengaturan (rububiyah) orang tersebut dan menghormatinya. Kesemua ini merupakan pelbagai kriteria dan pakem syirik yang dapat disimpulkan dari Al-Quran.  Akan tetapi Wahabi menciptakan kriteria dan pakem syirik tersendiri dan dengan perantara pakem ini mereka menuding kaum Muslimin sebagai melakukan perbuatan syirik.
Dalam pandangan kami, standar dan kriteria syirik yang mereka tentukan sama sekali tidak bernilai, karena standar dan kriteria yang mereka buat berseberangan dengan ayat-ayat Al-Quran dan sirah Rasulullah saw dan para khalifah Rasulullah saw (Dua Belas Imam).
Di sini kami akan beberkan sebagian keyakinan firkah Wahabi sebagai berikut:
  1. Keyakinan terhadap kekuatan gaib selain Tuhan; Mereka berkata, “Apabila seseorang melakukan istigâtsah (memohon pertolongan) kepada Rasulullah saw atau selainnya dari para wali Allah dan meyakini bahwa beliau mendengarkan doanya dan mengetahui segala kondisinya, atau memenuhi hajatnya, kesemua ini merupakan sebagian jenis dari syirik besar (syirik akbar).”[3]
  2. Memohon hajat kepada orang-orang mati: Menurut keyakinan Wahabi perbuatan semacam ini tergolong sebagai perbuatan syirik, memohon hajat kepada orang-orang mati, memohon pertolongan dari mereka dan menaruh perhatian kepada mereka, merupakan pokok dan asas syirik di alam semesta.[4]
  3. Doa dan tawassul merupakan jenis ibadah; Mereka berkata, “Ibadah hanya khusus untuk Tuhan dan doa merupakan jenis ibadah karena itu memohon kepada selain Tuhan merupakan perbuatan syirik.”[5]
  4. Berziarah kubur adalah syirik.
  5. Bertabaruk (mengambil berkah) dari peningggalan para nabi dan orang-orang saleh adalah syirik.
  6. Merayakan hari kelahiran (milad) Rasulullah saw adalah syirik.
  7. Membangun kubah dan bangunan di atas kuburan adalah syirik.
 
Keyakinan dan standar yang dibuat-buat sendiri oleh kaum Wahabi dapat dibagi menjadi dua bagian:
  1. Kaum Wahabi satu bagian dari standar, kriteria dan perbuatan ini, karena merupakan syirik dalam keyakinan, mereka menyebutnya sebagai perbuatan-perbuatan orang-orang musyrik.
Dalam menolak keyakinan mereka dapat dikatakan bahwa apabila keyakinan terhadap kekuatan gaib adalah keyakinan terhadap bahwa kesembuhan dan keyakinan atas terpenuhinya hajat dan seterusnya, dilakukan dengan menyandarkan seluruh perkara ini kepada Tuhan. Adapun selain Tuhan,  apa pun yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan yang diberikan kepada mereka. Tentu saja perbuatan ini tidak akan termasuk sebagai perbuatan syirik. Karena dalam hal ini, tiada satu pun kemandirian yang disandarkan kepada selain Tuhan. Dan kami telah sampaikan dalam pembagian syirik dalam ketuhanan (uluhiyyah), syirik dalam kepenciptaan (khâliqiyyah) dan syirik dalam pengaturan (rububiyah), bahwa jenis-jenis syirik dalam keyakinan terwujud apabila seseorang memiliki keyakinan bahwa ada entitas selain Tuhan yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan, atau secara mandiri dapat mencipta atau secara mandiri dapat mengatur. Namun apabila kekuatannya merupakan satu kekuatan yang bersandar kepada Tuhan, maka perbuatan ini tidak akan termasuk sebagai syirik. Kita dan seluruh kaum Muslimin yang memiliki hajat kepada Rasulullah saw dan para khalifahnya atau kita memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan super dan seterusnya, kedudukan ini merupakan kedudukan yang telah dianugerahkan kepada mereka dari sisi Tuhan, dengan deskripsi seperti ini apakah perbuatan ini tetap dapat disebut sebagai perbuatan syirik?
  1. Bagian kedua, perbuatan-perbuatan yang mereka kategorikan sebagai syirik, karena memandang perbuatan-perbuatan ini sebagai ibadah, seperti merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw (maulid), membangun kubah dan bangunan di atas kuburan, mencium pusara dan seterusnya. Dalam menolak keyakinan mereka kita berkata, “Kalian tidak memahami makna ibadah dengan benar.” Ibadah memiliki banyak tipologi dan dengan pelbagai tipologi tersebut ibadah terkhusus untuk Tuhan. Ibadah adalah tunduk dan patuh yang bersumber pada keyakinan terhadap uluhiyyah (ketuhanan), atau khâliqiyyah (kepenciptaan) atau rububiyyah (pengaturan).  Karena itu, dengan definisi ini, apabila tunduk dan patuh tidak bersumber dari keyakinan semacam ini, maka sekali-kali tidak dapat disebut sebagai ibadah.
Atas dasar ini, tatkala Allah Swt menukil kisah sujud saudara-saudara Yusuf di hadapan Yusuf dalam surah Yusuf, perbuatan ini tidak dipandang sebagai syirik. Karena mereka sekali-kali tidak pernah meyakini bahwa Yusuf memiliki uluhiyyah, khaliqiyyah atau rububiyyah.[6]
 
Untungnya, ulama Islam dan para cendekiawan yang sadar memberikan jawaban terhadap seluruh kriteria dan standar buatan ini. [iQuest]
Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat buku Buhuts Qur’âniyah fi al-Tauhid wa al-Syirk, karya Ja’far Subhani.
 
 

[1]. Majma’ al-Bahraîn, jil. 5, hal. 274; Al-‘Ain, jil. 5, hal. 293.   
[2]. Tentu saja, segala jenis syirik ini akan berujung pada kekufuran. Harus diperhatikan bahwa yang kami maksud kufur di sini adalah kufur teologis (kalam) dan kufur yurisprudensial (fikih).   
[3]. Majmu’a Fatâwâ bin Baz, jil. 2, hal. 552.  
[4]. Fath al-Majid, hal. 68.  
[5]. Al-Radd ‘ala al-Rafidha,  sesuai nukilan dari kitab Syi’ah Syinâsi, ‘Ali Ashgar Ridhwani, hal. 135-143.
[6]. Diadaptasi dari Pertanyaan 612 (Definisi Syirik dan Bagian-bagiannya)
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260000 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245754 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229636 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214442 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175756 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171114 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167533 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157586 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140440 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133635 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...