Advanced Search
Hits
15636
Tanggal Dimuat: 2013/11/25
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana perjalanan jiwa pasca kematian itu menurut Ibnu Sina dan al-Ghazali? Apakah terdapat perbedaan pandangan di antara keduanya?
Pertanyaan
Apa bedanya perjalanan jiwa paska kematian menurut Ibn Sina dan al-Ghazali?
Jawaban Global

Sepertinya perbedaan pandangan antara Ibnu Sina dan al-Ghazali terkait dengan perjalanan jiwa paska kematian itu terletak pada penafsiran masalah ma’âd jasmani. Al-Ghazali memandang bahwa jiwa paska kematian akan kembali kepada badan materi ini; dalam kondisi seperti ini apabila ia memiliki iman dan amal saleh di dunia maka ia akan memperoleh kenikmatan material dan spiritual secara sempurna.
Dalam menjelaskan pandangan ini, para penyokong pendapat al-Ghazali berkata, “Akal menghukumi bahwa kebahagiaan ruh-ruh terletak pada makrifatullah dan kebahagiaan badan-badan dalam mengenal segala yang inderawi. Namun dua kebahagiaan di dunia ini tidak akan diraih secara bersamaan;karena manusia selagi ia tenggelam dalam manisfestasi cahaya-cahaya alam ghaib, ia tidak akan menaruh perhatian pada kelezatan jasmani. Demikian juga apabila ia sibuk dengan urusan-urusan jasmani maka ia tidak akan dapat mencicipi kelezatan ruhani.
Hal ini disebabkan oleh kelemahan ruh-ruh manusia di alam ini. Namun tatkala ruh-ruh ini meninggalkan badan-badan maka ia akan semakin kuat dan kian sempurna. Tatkala ruh-ruh dikembalikan ke badan di alam akhirat maka ia akan dapat memperoleh dua kebahagiaan ini. Dan sudah barang tentu kondisi ini merupakan sebaik-baik level kebahagiaan.
Adapun pendapat Ibnu Sina, pertama, ma’âd jasmani tidak dapat ditetapkan dari sudut pandang rasional, namun hal ini ia bukan tidak meyakini adanya ma’âd jasmani, melainkan ia meyakini ma’âd jasmani namun untuk dapat menetapakannya hal itu dapat dilakukan melalui ayat-ayat dan riwayat-riwayat bukan melalui akal.[1]
Kedua, penafsiran Ibnu Sina terkait dengan ma’âd jasmani dan eksplorasi jiwa atas pelbagai kelezatan material di alam akhirat sedemikian sehingga tidak dapat dikatakan secara akurat bahwa badan material akan kembalidi alam akhirat dan pelbagai kelezatan alam akhirat persis dengan pelbagai kelezatan material yang ada di dunia.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa Ibnu Sina setelah membagi ma’âd menjadi ma’âd jasmani dan ma’âd ruhani serta menegaskan bahwa jenis jasmaninya dalam ma’âd jasmani tidak dapat ditetapkan dan menyatakan bahwa ma’âd jasmani dapat ditetapkan melalui jalan syariat (ayat-ayat dan riwayat-riwayat). Menurut Ibnu Sina, ma’âd jasmani yang diriwayatkan oleh syariat harus diyakini dengan hukum afirmasi berita kenabian meski jalan akal (rasional) tertutup untuk menetapkan hal tersebut. Namun keluasan syariat adalah hak Rasulullh Saw, kondisi bahagia dan sengsara bagi badan, tidak jelas bagi kita.
Menurut Ibnu Sina, terdapat ma’âd lainnya yang dapat dipahami melalui silogisme argumentatif dan penalaran rasional yang juga ditegaskan oleh kenabian. Ia menilai ma’âd tersebut adalah kebahagiaan dan penderitaan yang terkait dengan jiwa, meski kita tidak dapat menggambarkannya. 
Penerimaan ma’âd ruhani dan penafsiran Ibnu Sina terkait dengan ma’âd jasmani bergantung pada abstraksi jiwa manusia dan memahami bagaimana jiwa merasakan lezat dan sakit.
Yang dapat dipahami dari pembahasan ma’âd Ibnu Sina secara umum adalah pembagian jiwa-jiwa menjadi jiwa rasional, jiwa sederhana dan jiwa pandir. Menurutnya setiap jiwa sebelum berpisah dari badan sesuai dengan tuntutan kondisinya, mengikut pada badannya. Terikutnya badan ini adalah karena pengaturan yang dilakukan jiwa pada badan. Namun pada kondisi tersebut, kebahagiaan dan penderitaan dapat dilukiskan. Sebagian dari kebahagiaan dan penderitaan ini berhubungan dengan kehidupan ukhrawi yang diperoleh karena adanya kematian dan paska terpisahnnya jiwa dari badan.
Nampaknya pembagian Ibnu Sina yang membagi kebahagiaan dan penderitaan menjadi tinggi (hakiki) dan rendah (khasisi), serta pemisahan jenis pemberdayaan jiwa-jiwa atas badan dan kemestian realisasi jisim pada sebagian tingkatan dan tiadanya keharusan pada seluruh tingkatan sehingga mendapat tudingan bahwa ia mengingkari ma’ad jasmani.
Di samping itu,isyarat akhir Ibnu Sina dalam pembahasan ma’âd yang bersandar pada pandangan bahwa bahkan dalam pencerapan-pencerapan indrawi dan fantasi yang menyebabkan adanya kelezatan dan penderitaan kita adalah gambaran bentuk sesuatu yang dicerap bukan sebuah hakikat luaran, demikian juga penegasannya atas keunggulan dan kesempurnaan kelezatan ruhani dibandingkan dengan kelezaan jasmani yang menunjukkan bahwa ia lebih memilih ma’âd ruhani ketimbang ma’âd jasmani.[2] [iQuest]
 

[1]. Silahkan lihat Indeks, Pandangan Mulla Sadra terkait dengan Ma’ad Jasmani, 30992; Ma’ad Jasmani, 6234.  
[2]. Diadaptasi dari makalah-makalah Zuhrah Tawaziyani, Ibnu Sinâ wa Ittihâm Inkâr Ma’âd Jasmâni (Ibnu Sina dan Tuduhan Pengingkaran Maad Jasmani) dan Ma’ad Jasmâni az Didgah Mutakallimin wa Ibnu Sina (Ma’ad Jasmani dalam Pandangan Para Teolog dan Ibnu Sina).
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260135 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245827 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229702 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214491 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175835 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171197 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167600 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157666 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140494 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133676 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...