Advanced Search
Hits
5437
Tanggal Dimuat: 2014/09/10
Ringkasan Pertanyaan
Apakah kesesuaian antara amal perbuatan dan pahala yang dijanjikan Tuhan sudah tepat?
Pertanyaan
Dikatakan bahwa salat tertentu atau doa mustahab tertentu mempunyai pahala syahid, haji, membebaskan budak dan lain sebagainya. Apakah hal ini sesuai dengan keadilan Tuhan? Apakah kesesuaian antara amal perbuatan dan pahala yang dijanjikan Tuhan sudah tepat?
Jawaban Global
Janji akan pemberian pahala ini tidak akan merusak keadilan Ilahi dan tidak pula bertentangan antara amal perbuatan dengan ganjaran karena apabila keadilan diartikan sebagai meletakkan sesuatu pada tempatnya, yaitu amal dan ganjaran harus sesuai dan sebanding, maka pada hal-hal yang telah Anda sebutkan itu, adanya kesesuaian antara amal dan pahala sudah tepat karena:
Pertama, yang dimaksud dengan riwayat ini adalah perhatian terhadap nilai-nilai dan pentingnya ibadah, bukan mengurangi nilai-nilai dan pentingnya berperang dan ibadah haji, namun bisa dikatakan bahwa dalam riwayat ini dijelaskan tentang pentingnya jihad dan haji secara tidak langsung yang merupakan kriteria untuk menilai ibadah-ibadah yang lain sebagaimana ketika kita berkata tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia, dengan mengatakan benda tertentu mempunyai nilai seperti emas.
Kedua, maksud dari riwayat ini adalah ketika tidak ada taklif syar’i terhadap ibadah-ibadah seperti haji, jihad dan lain sebagainya.
Ketiga, dalam menentukan kesesuaian itu, tidak boleh hanya mengandalkan jumlah dan kesulitan materi sebagai ukuran dan takarannya, namun pengaruh niat, rendah hati, keyakinan, dan makrifat pelaku amal dalam timbangan pahala amal sangat sukar dari pada kesulitan materi amal itu sendiri. Oleh itu, apabila sebuah amal, memenuhi syarat-syarat ini, maka bisa sebanding dengan amalan-amalan seperti haji dan jihad.
Di samping itu, sebagian dari doa-doa dan ziarah-ziarah karena penuh dengan makrifat-makrifat tentang ajaran agama, akan mempunyai pengaruh khusus pada akidah seseorang sementara amalan ibadah lain tidak mempunyai pengaruh seperti itu, bahkan pengaruh sebagian doa-doa dan ziarah-ziarah itu boleh jadi lebih besar.
Harus pula diperhatikan bahwa pada masa ketika tidak ada perang dan jihad, demikian pula bukan waktu untuk pergi haji, biasanya akan terbuka bagi setan dan kekuatan batil untuk menggoda dan menggiring manusia ke arah syahwat. Dalam keadaan seperti ini, apabila seseorang tidak memenuhi keinginan syahwatnya, kemudian  ia berdoa, salat, melembutkan hati dan jiwanya dengan  makrifat dan keikhlasan yang tinggi, maka boleh jadi lebih tinggi keikhlasan dan tingkat kemakrifatannya dari pada orang yang menunaikan ibadah haji dan pergi ke medan peperangan.
Tapi apabila keadilan berarti zalim, penindasan dan tidak menginjak hak-hak orang lain, disini kebenaran berasal dari orang yang tidak menginjak hak-hak orang lain, karena Allah jika diumpamakan memberi pahala terhadap amalan lebih dari kesesuain antara pahala dan amal itu, maka tidak akan menyebabkan hilangnya hak seorang hamba karena pahala dan ganjaran itu adalah pemberiaan kemuliaan dari sisi Allah bukan kelayakan dari sisi hamba.
 
Jawaban Detil
Dengan penjelasan beberapa poin kesesuaian antara pahala-pahala yang telah diisyaratkan di atas, maka akan jelaslah pahala yang terkait dengan amalan tersebut:
  1. Pahala-pahala Tuhan bagi manusia bukan merupakan istihqāq hamba-hamba-Nya (berhak untuk mendapatkannya) namun merupakan pemberian kemuliaan oleh Tuhan sesuai dengan perilaku hamba hamba-Nya selama di  dunia dan kelayakan-kelayakan yang dicapainya.[1] Para hamba-Nya (apabila Tuhan tidak menjanjikan pahala kepada mereka) maka tidak berhak untuk menerima pahala dan ganjaran karena semua amal perbuatan yang dikerjakan di dunia dikarenakan semua kenikmatan yang berasal dari Tuhan. Tuhan berdasarkan rahmat dan hikmah Ilahi yang sempurna berjanji untuk memberika ganjaran kepada hambanya dan mengharuskan Ia sendiri untuk memberikan pahala itu. Timbangan pahala dari sebuah amal perbuatan didasarkan karena rahmat-Nya yang tidak bertepi dan hikmah kesempurnaan Ilahi bukan karena kesusahan atau kemudahan atau singkatnya atau lamanya sebuah perbuatan. Oleh itu, banyaknya atau kurangnya nikmat atau ganjaran yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya tidak akan menciderai hak-hak orang lain, bahkan akan memberikan pahala yang lebih kepada mereka.
  2. Membaca doa-doa, ziarah-ziarah dan salat-salat mustahab akan memiliki pahala banyak jika mengamalkan semua syarat-syarat yang ada dalam doa-doa, ziarah-ziarah dan salat-salat mustahab itu. Sebagian syarat-syarat itu adalah:
  1. Menjalankan semua kewajiban-kewajiban syar’i
Oleh itu apabila seseorang yang seharusnya menjalankan kewajiban dimana kewajibannya berjihad atau berhaji tapi ia tidak pergi berjihad atau tidak pergi haji, selain tidak mendapat pahala, boleh jadi akan diazab kelak.
  1. Memiliki makrifat, khusyu dan ikhlas
Sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadis bahwa syarat diberikan pahala banyak ketika berziarah adalah harus mempunyai makrifat.[2]
Pada riwayat yang berasal dari Imam Shadiq As, “Masyarakat akan dikumpulkan kelak pada hari kiamat berdasarkan niat mereka.”[3] Dari sini, kita memahami bahwa syarat untuk mendapatkan pahala Tuhan bukan kesusahan amal perbuatan, tapi niat dan keyakinan hamba yang jauh lebih susah dari pada perbuatan fisik berat  yang akan berpengaruh pada pahala dan ganjaran itu.
Jelaslah bahwa mencari dan menggapai makrifat, ikhlas, khusyu secara sempurna jika tidak lebih sulit dari pada jihad dan haji, maka hal itu tidak lebih mudah dari pada jihad dan haji. Oleh itu, banyak orang secara lahir bergabung dalam jihad dan haji, namun hanya sedikit orang-orang yang bisa mencapai puncak kemakrifatan dan keikhlasan. Dalam riwayat yang banyak dari para Imam Syiah telah dimotivasi untuk membaca ziarah para Imam, khususnya Imam Ridha As[4]. Dari riwayat ini kita bisa memahami bahwa para Imam meyakini adanya dua macam pahala, di mana pahalanya tergantung kepada bagaimana mengamalkan ziarah itu. Oleh itu,  tidak ada pahala tetap bagi seseorang dan penjelasan pahala-pahala seperti ini menjelaskan tentang kapasitas mereka bukan menjelaskan pahala yang mempunyai syarat tertentu termasuk keadaan orang yang mengamalkan ibadah itu.
  1. Sangat banyak dari doa-doa dan ziarah-ziarah yang mempunyai peranan penting dalam menjelaskan ushuludin dan luasnya makrifat agama. Para Imam menjelaskan makrifat-makrifat itu kepada masyarakat dalam bentuk doa, karena tidak mungkin mengajarkan makrifat-makrifat yang sangat mendalam dengan selain doa. Oleh itu, pentingnya menaruh perhatian terhadap doa-doa dan ziarah-ziarah sejatinya akan menghidupkan ruh dan kebiasaan berjihad, haji, beragama dan syariat, dan pada hakekatnya ajaran-ajaran inilah yang akan mendidik para haji dan mujahid itu.
  2. Harus diperhatikan bahwa pada masa ketika tidak ada perang dan jihad, demikian pula bukan waktu untuk pergi haji, biasanya akan terbuka bagi setan untuk menggoda manusia dan kekuatan batin lebih terbuka sehingga manusia akan tergiring ke arah syahwat, dalam keadaan seperti ini, apabila seseorang tidak memenuhi keinginan syahwatnya dan ia berdoa, salat, melembutkan hati dan jiwanya dengan mempunyai makrifat dan keikhlasan yang tinggi, maka boleh jadi ia memiliki tingkatan keikhlasan dan kemakrifatan lebih tinggi dari pada orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan pergi ke medan peperangan. Oleh itu, Nabi Muhammad Saw kepada sekelompok dari penolongnya yang baru tiba dari medan peperangan bersabda, “Selamat datang wahai yang baru saja pulang dari jihad asghar dan akan menghadapi jihad akbar. Mereka bertanya, Apakah maksud Anda dari jihad besar? Beliau bersabda, “Jihad melawan diri sendiri (jihad al-nafs).”[5]  
Boleh jadi salah satu dalil bahwa para Imam menjelaskan semua ganjaran bagi yang membaca doa-doa  dan salat-salat tertentu adalah bahwa para Imam ingin dengan jalan ini ruh masyarakat akan terselamatkan dari kubangan hawa nafsu yang merupakan sumber keburukan dan kerendahan dunia dan akhirat sehingga bisa melesak terbang menuju langit maknawiyah dan bergelimang cahaya.
Di atas segalanya, maksud dari riwayat itu adalah memberi perhatian kepada nilai-nilai dan pentingnya dalam beribadah, bukan mengurangi dan menurunkan nilai penting perang dan haji, tapi bisa dikatakan bahwa riwayat ini secara tidak langsung menjelaskan pentingnya haji dan jihad yang merupakan kriteria dan ukuran untuk menimbang amal perbuatan manusia sebagaimana ketika kita berkata tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia, kita menyebutnya seperti emas. [iQuest]
 

[1] Tafsir Nemuneh, jil. 23, hal. 361
[2] Man Lā Yahdhuruhu al-Fakih, jil 2, hal. 58
[3] Tahdzib al-Ahkām, jil. 6, hal. 135
[4] Ushul Kāfi, jil. 4 hal. 585
[5] Wasāil al-Syiah, jil. 15, hal. 161
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260167 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245846 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229722 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214511 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175854 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171229 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167620 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157683 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140514 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133690 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...