Advanced Search
Hits
9281
Tanggal Dimuat: 2009/08/13
Ringkasan Pertanyaan
Dapatkah dikatakan lantaran ayat tathir tersebut terletak di tengah-tengah redaksi ayat maka ia tidak memiliki makna hashr (pembatasan)? Siapa sebenarnya yang disebut Ahlulbait?
Pertanyaan
Dapatkah dikatakan lantaran ayat tathir tersebut terletak di tengah-tengah redaksi ayat maka ia tidak memiliki makna hashr (pembatasan)? Siapa sebenarnya yang disebut Ahlulbait?
Jawaban Global

Dalam menjawab pertanyaan pertama bisa dikatakan bahwa: ayat tathir ini berada ditengah-tengah ayat, dimana hal itu menandaskan bahwa konteksnya sejalan atau sama dengan subjek yang ada sebelum dan sesudahnya. Dan jika tidak ada bentuk pengkhususan atas istri-istri Nabi Saw maka minimalnya secara umum dapat mencakup mereka. Namun perlu diperhatikan bahwa Pertama: Anggaplah hal semacam ini bisa diterima, dimana ia tidak lebih dari sebuah bentuk atau model presentasi dan ini tidak akan mampu menghadapi argumen-argumen kuat. Mesti dan harus berlepas tangan dari indikasi semacam ini demi adanya indikasi-indikasi lain yang tentunya lebih kuat. Kedua: konteks ayat-ayat ini tidak mengarah kepada bahwa ayat tathir juga mencakup istri-istri Nabi Saw.

Poin pertama: Adanya kalimat sisipan dalam sebuah ungkapan/perkataan dan tulisan dapat merusak tulisan dan ungkapan tersebut, namun jika disertai oleh sebuah indikasi atau qarinah maka tidak hanya bertentangan dengan kaidah retorika (balaghah) dan elokuensi (fashahah) tapi justru akan lebih memperindah ungkapan atau tulisan tersebut. Dengan demikian, tidak begitu esensial untuk mengatakan bahwa apa yang ada pada ayat tathir tersebut juga mencakup istri-istri Nabi Saw dengan alasan ayat tersebut berada di antara ayat-ayat yang sedang berbicara kepada istri-istri Nabi Saw, karena mungkin saja kalimat sisipan ini menyiratkan kepada pribadi-pribadi yang jelas “ashab al kisa” dan khusus untuk mereka saja dan ada banyak indikasi-indikasi yang mendasari klaim ini, di antaranya adalah:

1.    Berdasarkan substansi sekumpulan riwayat, ayat tathir turun secara sendiri dan Nabi Saw, untuk menolak adanya kecurigaan bahwa Ahlulbait dan istri-istri Nabi saw adalah dua hal yang terpisah, memerintahkan supaya ayat yang dimaksud dalam hal ini dimuat serta diketahui sehingga tidak ada lagi orang yang berangan-angan bahwa Ahlulbait As sama halnya dengan istri-istri Nabi saw dimana tidak menutup kemungkinan untuk lebih memilih kehidupan dunia yang hina ini daripada Nabi Muhammad Saw dan lain sebagainya.

2.    Irama ungkapan Allah SWT dalam ayat ini berubah dan kemudian menggunakan dhamir (pronoun) bentuk plural untuk laki-laki, sementara ayat ini berbicara kepada istri-istri Nabi Saw.

3.    Sesuai pandangan pakar bahasa, kata ahl dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk istri, kecuali secara majazi saja. Berdasarkan hal ini, setelah ayat tathir turun Ummu Salamah meminta kepada Nabi saw untuk memasukkan ia sebagai bagian dari Ahlulbait As. Bukti dari klaim ini adalah Zaid bin Arqam mengatakan bahwa istilah Ahlulbait itu bukan mengenai istri-istri.

4.    Tak ada satu pun dari istri-istri Nabi saw yang mengklaim bahwa ayat ini turun berkaitan dengan mereka, padahal Aisyah pada perang Jamal sangat membutuhkan dalil dan argumen semacam ini.

5.    Kata turidna dalam ayat 29 surat al Ahzab mengisahkan bahwa Allah SWT tidak punya keinginan dan perhatian khusus kepada Istri-istri Nabi Saw, tapi memiliki perhatian dan kehendak takwini terhadap Ahlulbait As yang tidak bisa diingkari dimana mereka dijauhkan dari segala macam bentuk kekotoran.

6.    Alif dan lam pada kata Ahlulbait, dalam istilah ilmu nahwu, disebut ‘ahd khariji atau ‘ahdi hudhuri (yakni hadir ketika dibicarakan), dimana ia menunjuk kepada peristiwa terkenal ashabul kisa. Oleh sebab itu, kata Ahlulbait sama halnya seperti alu ‘abai, ash habul kisa dan yaumuddar.

 

Poin kedua: Dalam ayat-ayat ini Nabi saw diposisikan sebagai lawan bicara dan supaya mengatakan kepada istri-istrinya. Al-Quran mengatakan:”ya ayyuhannabi qul liazwaajika...(wahai nabi katakanlah kepada istri-istrimu...).

Selanjutnya Allah Swt  juga menujukan khitab (ungkapan) tersebut kepada baiturrisalah dan maqamunnubuwwah (maqam kenabian), untuk menginformasikan bahwa sebab dari semua perintah dan larangan kepada istri-istri Nabi Saw tersebut adalah supaya Ahlulbait As terhindar dari tudingan berbuat kekejian; karena Allah SWT telah menghendaki bahwa Ahlulbait As akan dijauhkan dari berbagai bentuk kekotoran dan keburukan. Jadi konteksnya juga tidak paradoks dengan adanya pembatasan ayat tathir hanya pada Ash habul kisa.

Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua adalah: Berdasarkan penjelasan sebelumnya, mungkin tidak perlu lagi diulangi untuk kedua kalinya dan cukup ditegaskan saja bahwa dalam beberapa riwayat mutawatir dikatakan; yang dimaksud dengan Ahlulbait As adalah Rasulullah saw, Imam Ali As, Hadrat Fathimah As, Imam Hasan As dan Imam Husein As dan juga mencakup seluruh Imam (sebagaimana yang diisyaratkan oleh ayat tathir).

Jawaban Detil

Hal yang dijadikan landasan dan sandaran pada pertanyaan di atas sama seperti apa yang dituturkan oleh sebagian yang lain, yaitu dikatakan bahwa ayat tathir tersebut terletak di akhir ayat-ayat yang ada kaitannya dengan istri-istri Nabi Saw. Kalau hal tersebut tidak dikhususkan untuk istri-istri Nabi Saw, maka minimalnya secara umum bisa mencakup mereka (istri-istri Nabi saw). Klaim semisal ini tidak memiliki landasan argumen dan selain itu ada banyak dalil yang mencoba menafikan klaim di atas.

Dengan memfokuskan pikiran pada poin-poin dibawah ini akan dapat membantu kita untuk menemukan hakikat yang sebenarnya:

1.    Meski kita punya keyakinan bahwa Al-Quran pada masa hidup Nabi Saw telah disusun dan dikodifikasi langsung oleh beliau, namun perlu dimaklumi bahwa substansi sebagian riwayat-riwayat menyiratkan bahwa ayat tathir itu turun secara sendiri (tanpa disertai ayat-ayat lain) dan bahkan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan bahwa ayat ini (ayat tathir) turun bersamaan dengan ayat-ayat yang ada kaitannya dengan istri-istri Nabi saw (ayat 28 dan 29 surah al-Ahzab). Buktinya adalah kalau ayat ini diambil dari sini maka tidak akan merusak keselarasan dan hubungannya.[1] Kalau pada bagian ini telah dimuat, itu karena Al-Quran menunjuk kepada seluruh anggota keluarga Nabi Saw dan mereka itu dibagi menjadi dua kelompok, sebagiannya adalah para istri Nabi Saw dan sebagiannya lagi adalah Ahlulbait Rasulullah saw, dan (Alquran) hendak menginformasikan bahwa seluruh sanak keluarga Nabi saw tersebut tidak berasal dari satu sumber yang sama, tapi diantara mereka ada kelompok khusus yang memperoleh anugerah serta inayah khusus langsung dari Allah SWT serta disucikan dari segala bentuk ketidaksucian. Ibarat lainnya, kalau pun kita mencoba menerima bahwa pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya adalah ayat-ayat yang ditujukan kepada istri-istri Nabi saw maka kita masih punya dua cara lain untuk membuktikan kalau yang dimaksud Ahlulbait As hanya ash habul kisa; yakni Rasulullah saw, Imam Ali As, Sayyidah Fathimah As, Imam Hasan As dan Imam Husein As. Pertama: Iltifât: Iltifat merupakan salah satu metode dalam menjelaskan dan membuat sebuah tulisan atau ungkapan menjadi indah, seperti apa yang ada pada surat al-Fatihah dimana disana ketika berbicara dari ihwal ghaib (Alhamdulillah) berubah ke ihwal non-ghaib (iyyaka na’budu) dan iltifat dalam ayat tathir juga untuk menginformasikan poin berikut bahwa terhindarnya Ahlulbait As dari segala kenistaan merupakan hal yang demikian penting sehingga kepada istri-istri Nabi saw juga diperintahkan serta dilarang melakukan hal seperti ini (menjauhi kenistaan dan keburukan) supaya nantinya tidak ada seorang pun mencoba menuduh dan memprotes Ahlulbait As.[2] Kedua: i’tirâdh: tumbuh berkembangnya kalimat-kalimat sisipan (mu’taridhah) pada kalam dan ucapan para pakar ilmu Balaghah dan Fashahah merupakan hal yang lumrah dan dikalangan mereka seringkali melakukan hal semacam ini guna apa yang disampaikannya bisa tertanam dan terlukis dalam benak setiap orang yang mendengarnya dengan baik dan ini telah berulangkali disebutkan dalam Al-Quran.[3] Pada ayat yang sedang dibahas, guna melenyapkan khayalan sebagian orang yang meyakini bahwa Ahlulbait As sama seperti istri-istri Nabi Saw, dilampirkanlah kalimat sisipan (mu’taridha) seperti ini; yakni jika istri-istri Nabi Saw juga tidak menutup kemungkinan untuk berbuat dosa dan kesalahan maka demikian pula Ahlulbait As tidak menutup kemungkinan untuk melakukan dan berbuat dosa dan kesalahan, padahal Ahlulbait As terhindar serta terjaga dari hal semacam ini. Oleh karena itu dalam kalimat sisipan tersebut telah diingatkan bahwa:”innamaa yuriidullahu liyuzhaba...”.[4]

2.    Dalam ayat-ayat ini setelah 20 bentuk pronoun plural (dhamir jama’) untuk perempuan, irama kalam Tuhan berubah dan menggantinya dengan bentuk pronoun plural untuk laki-laki dan ini merupakan indikasi terbesar yang menyatakan bahwa kita harus angkat kaki da

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260408 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245939 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229805 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214607 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175964 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171332 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167719 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157774 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140588 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133788 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...