Advanced Search
Hits
31760
Tanggal Dimuat: 2010/03/10
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Allah Swt dalam al-Quran berfirman, “Inna ma’a al-usri yusra” tidak berfirman, “Inna ba’da al-‘usri yusra?”
Pertanyaan
Mengapa Allah Swt dalam al-Quran berfirman, “Inna ma’a al-usri yusra” tidak berfirman, “Inna ba’da al-‘usri yusra?”
Jawaban Global

Pada ayat tersebut terdapat satu jenis keterikatan dan jalinan hubungan antara menahan segala kesulitan dan memperoleh kemudahan; artinya bahwa manusia tidak akan dengan mudah memperoleh kemudahan secara kebetulan setelah melalui beberapa kesulitan. Karena itu untuk menyampaikan hubungan antara kesulitan (‘usr) dan kemudahan (yusr) kita memerlukan sebuah lafaz yang mengandung makna tersebut di dalamnya dan lafaz itu adalah  ma’a.

Untuk penggunaan kata ma’a terdapat beberapa penafsiran dari beberapa ahli tafsir di antaranya:

  1. Ayat dengan lafaz ma’a memahamkan bahwa kemudahan senantiasa disertai dengan kesulitan dan penderitaan. Dengan menahan kesulitan maka kemudahan secara perlahan akan dapat diraih.
  2. Dari kata ma’a digunakan untuk menunjukkan bahwa kemudahan dekat dengan kesulitan yang dengan melalui kesulitan akan menguatkan hati manusia untuk memperoleh kemudahan.

Bagaimanapun dengan memperhatikan bahwa setiap pada kesulitan terpendam kemudahan dan setiap kesusahan tertimbun kesenangan karena itu kedua hal ini senantiasa bersama dan penggunaan lafaz ba’d tidak akan dapat menyampaikan makna subtil ini.

Jawaban Detil

Allah Swt pada ayat ini berfirman kepada Rasul-Nya bahwa, “Maka (ketahuilah) sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah [94]:5) Rasulullah Saw yang berada di Mekkah berhadapan dengan pelbagai kesulitan. Jelas bahwa janji dari sisi Allah Swt yang menyatakan bahwa kemudahan menanti untuknya di Madinah atau dengan kesulitan di dunia ini maka kemudahan menanti untuknya di akhirat.

Namun keluasan makna ayat-ayat mencakup segala kesulitan; artinya dua ayat ini sedemikian diungkapkan sehingga tidak terkhusus semata pada pribadi Rasulullah Saw dan pada masa itu (ansich), melainkan dinyatakan dalam bentuk prinsip universal dan sebagai konsekuensi dari pembahasan-pembahasan sebelumnya yang mengemuka serta memberikan berita gembira kepada seluruh manusia yang beriman, tulus ikhlas dan bekerja keras bahwa di samping segala kesulitan senantiasa terdapat kemudahan-kemudahan yang menyertai.[1]

Adapun sehubungan dengan penggunaan lafaz ma’a terdapat beberapa penafsiran yang dilontarkan oleh sebagian ahli tafsir yang kebanyakan dari perbedaan penafsiran tersebut dapat digabungkan. Berikut ini adalah sebagian dari penafsiran tersebut:

  1. Penggunaan lafaz ma’a sebagai ganti ba’d adalah untuk menyatakan keterjalinan dan pertautan erat antara kemudahan dan kesulitan.[2] Artinya bahwa pada ayat tersebut terdapat satu jenis keterikatan dan jalinan hubungan antara menahan segala penderitaan dan memperoleh kemudahan; artinya bahwa manusia tidak dengan mudah memperoleh kemudahan secara kebetulan setelah melalui beberapa penderitaan. Karena itu untuk menyampaikan hubungan antara kesulitan (‘usr) dan kemudahan (yusr) kita memerlukan sebuah kata yang mengandung makna tersebut di dalamnya dan kata itu adalah  ma’a.

Dengan kata lain, ayat dengan lafaz ma’a memahamkan bahwa kemudahan senantiasa disertai dengan kesulitan dan penderitaan. Dengan menahan kesulitan maka kemudahan secara perlahan akan diraih.[3] Bagaimanapun ma’a pertanda penyertaan[4]  dan menjelaskan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan dari satu dengan yang lain. 

  1. Lafaz ma’a digunakan untuk menunjukkan kemudahan dekat dengan kesusahan yang dengan melalui kesusahan akan menguatkan hati manusia memperoleh kemudahan.[5]

 

Allamah Thabathabai meyakini bahwa yang dimaksud dengan lafaz ma’a=dengan terealisirnya kemudahan yang mengikuti (setelah) kesulitan tidak bermakna ma’iyyat (kebersamaan).  Yusr (kemudahan) dan usr (kesulitan) terealisir pada satu waktu.[6]

Meski demikian apa pun makna lafaz ma’a namun dengan memperhatikan bahwa pada setiap kesulitan terpendam kemudahan dan setiap kesusahan tertimbun kesenangan karena itu kedua hal ini senantiasa bersama[7] dan dengan menggunakan lafaz ba’d tidak dapat menyampaikan makna subtil yang terkandung di dalamnya sebagaimana lafaz ma’a. [iQuest]

 


[1]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 27, hal. 127, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Teheran, 1374 S. 

[2]. Sayid Mahmud Thaliqani, Partu az Qur’ân, jil. 4, hal. 157, Syerkat Sahami Intisyar, Teheran, 1362 S.  

[3]. Sayid Ali Akbar Qarasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, jil. 12, hal. 274, Bunyad Bi’tsat, Teheran, 1377 S.  

[4]. Tafsir Nemune, jil. 27, hal. 127 & 128.  

[5]. Fadhl bin Hasan Thabarsi, Jawâmi’ al-Jâmi’, jil. 4, hal. 507, Intisyarat Danesygah Tehran wa Mudiriyat Hauzah Ilmiah Qum, Teheran, Cetakan Pertama, 1377 S; Muhammad bin Ahmad Ibnu Jazi Garanti , al-Tashil li ‘Ulûm al-Tanzil, jil. 2, hal. 493, Syerkat Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam, Cetakan Pertama, 1416.

[6]. Muhammad Husain Thabathabai, Tafsir al-Mizân, Terjemahan Persia oleh Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 20, hal. 534, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Kelima, 1374 S.  

[7]. Tafsir Nemune, jil. 27, hal. 127 & 128. 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259986 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245735 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229620 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214429 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175741 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171101 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167521 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157579 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140433 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133625 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...