Advanced Search
Hits
13461
Tanggal Dimuat: 2009/05/18
Ringkasan Pertanyaan
Kenapa terjadi banyak kerusakan (fasâd) dalam negara-negara Islam?
Pertanyaan
Kenapa terjadi banyak kerusakan (fasâd) dalam negara-negara Islam?
Jawaban Global

Menurut pandangan al-Qur`an faktor menyebar luasnya kerusakan dalam masyarakat-masyarakat Islam disimpulkan dalam satu kalimat yaitu tiadanya keimanan kepada Allah Swt dan tiadanya penentangan terhadap “thâghut” (segala sesuatu yang tidak terkait dengan Allah Swt dan tidak memiliki warna Ilahi). Sebaliknya, iman kepada Allah Swt dan menentang “thâghut(secara kolektif) merupakan faktor transendensi individu dan masyarakat.[i] Dengan kata lain, perbaikan manusia dan masyarakat Islam di sisi Allah Swt terdapat pada agama yang dianugerahkan kepada manusia. Jika manusia dengan kehendaknya dapat menjalankan perintah-perintah dan ajaran etika agama dalam segala aspek kehidupannya, maka ia telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan fitrahnya dan akan sampai kepada tujuan-tujuan penciptaannya dengan potensi yang ia miliki. Jika kecendrungan duniawi dan hal-hal yang bersifat duniawi (thâghut) telah menjadikannya mengabaikan agama atau menjalankan sebagian aturan-aturan agama saja yang tidak merugikan duniawinya, maka dia telah terpengaruh oleh hawa nafsunya dan hal inilah yang menyebabkannya dan masyarakat terpuruk secara bertahap. Mereka yang sangat bertanggung jawab atas keterbelakangan masyarakat tersebut ialah para penguasa dan kemudian para ulama istana, kemudian para ulama yang sadar namun diam, kemudian masyarakat awam dan solusi yang dapat menjunjung masyarakat tersebut terdapat pada para penguasa, ulama dan masyarakat.



[i]. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” Lalu di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang telah dijerat oleh kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul). (Qs. Al-Nahal [16]:36);Tiada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Oleh karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 256); “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sedang sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Qs. Thaaha [20]:123-124)

Jawaban Detil

Para pemimpin memiliki andil besar dalam fenomena baik atau rusaknya sebuah masyarakat. Jika para pemimpin ini adalah orang-orang yang beragama, menjaga agama, berkomitmen sepenuhnya terhadap ajaran-ajaran agama, menerapkan ajaran agama secara teliti dan menyebarluaskannya di tengah masyarakat serta mengikutsertakan ulama dan figur-figur yang berpengaruh dalam merealisasikan hal tersebut, maka masyarakat akan mencontoh para pemimpin dan ulama tersebut dalam menjalankan agama sehingga terjauhkan dari kerusakan-kerusakan. Tetapi sebaliknya jika seorang pemimpin adalah seorang yang tidak menjaga agama, rakus terhadap dunia dan kedudukan, tenggelam dalam hawa nafsu dan kesenangan, memperalat ulama dan figur yang berpengaruh untuk tujuan kotor, mengabaikan problema-problema masyarakat dan berbuat kezaliman kepada mereka, maka kondisi ini akan mempengaruhi kejiwaan setiap individu masyarakat. Jika para ulama dan pejabat tidak meluruskan jalannya seorang penguasa dan kelompok tertentu dan masyarakat tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar serta bercampurnya budaya dengan lingkungan yang tercemar ini, maka perlahan-lahan dan tanpa dikehendaki, kondisi ini akan mencemari setiap individu masyarakat dan lingkungan yang tercemar ini akan menyulitkan kehidupan orang-orang yang baik dalam menjaga agama mereka. Dengan demikian menyebarnya kerusakan dalam sebuah masayarakat bersumber dari cinta dunia, sifat egois para penguasa, penyalahgunaan kelompok yang berpengaruh guna menutupi kebejatan-kebejatan dalam pemerintahan, sikap diam masyarakat terhadap kezaliman ini dan adanya permasalahan-permasalahan yang melilit mereka.

Sebagai contoh, tatkala sosok seperti Yazid memimpin sebuah masyarakat yang tujuannya tidak lain hanyalah untuk berbangga diri, memperoleh kedudukan, harta, popularitas, tenggelam dalam perangkap duniawi dan hawa nafsu. Membeli perawi hadis atau mubalig agama menjadi pendukung pemerintahan, sikap diamnya orang-orang karena ketakutan dan keserakahan. Adanya orang-orang bodoh yang menjadi pengawas. Munculnya para hakim saat itu yang mengenalkan penguasa sebagai seorang mujtahid yang berbuat berdasarkan ijtihadnya yang salah. Kejahatan terhadap keluarga Rasulullah (Ahlulbait) yang dilakukan dengan cara meracuni mereka. Kemudian mereka bertaubat sehingga kehormatan mereka tetap terjaga dan tidak ada seorang pun yang berhak menampakkan kebenciannya atas sepak terjang mereka. Sebab jika tidak, mereka akan di anggap sebagai seorang musyrik dan kafir. Ketika orang-orang tanpa berpikir mendengarkan simpang siurnya berita tersebut, maka masyarakat tidak bisa di harapkan untuk dapat memberantas kerusakan dan memperbaikinya.

Dengan demikian kecenderungan kepada “thâghut” dan meninggalkan agama Allah swt merupakan faktor terpuruknya sebuah masyarakat, sebagaimana tergambar dalam hal-hal berikut ini:

1.       Mengingkari para Nabi dan mengabaikan ayat-ayat Ilahi.[1]

2.       Kezaliman para pemimpin.[2]

3.       Adanya perpecahan.[3]

4.       Meninggalkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menggampangkan sesuatu, bertoleransi secara tidak jelas, melakukan provokasi untuk kemungkaran dan menyebarluaskannya.[4]

5.       Tidak bertindak”Iistar”dan infak atas harta dan jiwa, tidak membantu menjaga agama Allah swt serta rakus terhadap harta dan tenggelam dalam hawa nafsu.[5]

 

Solusi pembenahan, sebagaimana yang telah di singgung hanya ada satu hal yaitu, iman kepada Allah swt dan meninggalkan “thâghut” (pengaruh duniawi dan hawa nafsu) dalam segala aspek kehidupan setiap individu dari seorang pemimpin, ulama dan kelompok tertentu hingga masyarakat awam. Apabila manusia berpandangan bahwa dunia adalah sementara dan fana, maka ia harus berhati-hati atas pengaruh hawa nafsu, gemerlap dunia dan penumpukan harta baik di dunia maupun di akhirat. Menyadari adanya sang pengawas yang senantiasa merekam dan mengawasi segala keadaan, pikiran dan perbuatannya. Menyadari adanya pertanggung jawaban atas perbuatannya di akhirat kelak. Singkat kata bahwa jika manusia mengikuti akal sehat dan fitrahnya, maka ia akan sepenuhnya menyerah kepada perintah dan larangan Ilahi. Hal ini memberikan arti keselamatan bagi sebuah masyarakat dari kerusakan dan kehancuran di dunia serta kebahagiaan yang akan di dapatkan di akhirat. Ya, apakah yang harus di lakukan ketika kerusakan dalam sebuah masyarakat menjadi tolok ukur penghargaan bagi sebagian orang dan keimanan serta perbuatan baik sulit untuk di miliki?

Jika seorang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat dan pemimpin, hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin dengan mengorbankan harta dan jiwanya untuk membina masyarakat dan lingkungan. Dengan demikian ia harus bersabar atas cacian, bersunggung-sungguh dalam menjaga agama dan meminta pertolongan kepada Allah Swt dan auliya-Nya untuk tetap melangkah di jalan agama yang benar serta sedapat mungkin tidak berputus asa dalam memberikan petunjuk kepada orang lain. Insya Allah dengan ini kita akan segera menyaksikan kedatangan Imam Mahdi As dan terciptanya kedamaian, keadilan serta kebaikan di seluruh dunia.[]

 

Referensi:

1.       Al-Quran

2.       Tafsir Nemuneh dan Al-Mizan berikut ayat-ayat terkait yang tertera pada catatan kaki.

3.       Barresihâye Islâmi, Muhammad Husaein Thabathaba`i

4.       Jâme`e wa Târikh”, Murtadha Mutahhari



[1]. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs. Al-A’raf [7]:96)

[2]. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fira‘un dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fira‘un telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan kaum wanita mereka hidup (untuk diperbudak). Sesungguhnya Fira‘un termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash [28]:3-4)

[3]. “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Anfal [6]:46); Anda juga dapat melihat surah al-An’am (6):53-65)   

[4]. “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs. Al-Maidah [5]:79); Demikian juga Anda dapat menyimak ayat-ayat 104, 110 dan 113 surah Ali Imran.  

[5]. “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah mereka dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh siksa yang besar.” (Qs. Al-Maidah [5]:33)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260123 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245819 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229690 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214485 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175818 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171179 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167594 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157641 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140489 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133674 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...