Advanced Search
Hits
18389
Tanggal Dimuat: 2012/05/19
Ringkasan Pertanyaan
Menurut riwayat bagaimana seharusnya sikap kaum Muslim terhadap non-Muslim?
Pertanyaan
Menurut riwayat bagaimana seharusnya sikap kaum Muslim terhadap non-Muslim?
Jawaban Global

Islam adalah agama fitrah suci manusia dan ajaran cinta kasih. Islam diturunkan untuk memberikan petunjuk dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Mengingat bahwa pemilihan agama merupakan masalah ikhtiari (opsional), kita senantiasa mendapatkan kaum non-Muslim, sedikit-banyaknya, pada setiap masyarakat Muslim. Islam menitahkan kepada umatnya untuk menjaga hak-hak non-Muslim, berlaku santun dan hidup berdampingan secara damai dengan seluruh manusia khususnya pemeluk agama-agama lainnya.  Terlepas apakah mereka hidup dalam masyarakat Islam dan di bawah pemerintahan Islam (Ahludzimmah) atau orang-orang yang hidup pada masyarakat-masyarakat non-Muslim. Orang-orang Kafir Ahludzimmah juga sebagai timbal baliknya harus mematuhi syarat-syarat “dzimmah” dan apabila mereka tidak mematuhi syarat-syarat “dzimmah” atau berkhianat maka mereka akan dihukum berdasarkan aturan-aturan Islam.

Jawaban Detil

Islam adalah agama fitrah suci manusia dan ajaran cinta kasih. Islam diturunkan untuk memberikan petunjuk dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia.

Hidup berdampingan secara damai dan menjaga hak-hak non-Muslim telah dianjurkan dalam banyak riwayat dan hadis. Para pemimpin Islam senantiasa menganjurkan kaum Muslim untuk berlaku fair, memenuhi hak-hak mereka dan tidak menganggu serta mengusi para pengikut agama dan mazhab lainnya.

Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan beberapa contoh riwayat di atas sebagai berikut:

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang berlaku jahat terhadap salah seorang yang mengikat perjanjian dengan Islam dan memaksakan tugas dan taklif kepadanya melebihi kemampuannya maka Aku akan menjadi musuhnya kelak di hari Kiamat.”[1]

Demikian juga Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menyakiti Ahludzimmah (Yahudi, Kristen, Zarasustra yang berada dalam lindungan Islam) maka sesungguhnya ia telah menyakitiku.”[2]

Imam Ali As juga bersabda, “Barang siapa yang menyakiti Ahludzimmah maka seolah ia telah menyakitiku.”[3]

Berdasarkan dua hadis di atas kita melihat bahwa para pemimpin besar Islam juga memandang diri mereka bertanggung jawab atas kondisi hidup kaum non-Muslim

Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Berikanlah sedekah kepada fakir seluruh agama Ilahi.”[4]

Imam Ali As dalam suratnya kepada Malik Asytar menulis, “Wahai Malik! Biasakanlah hati Anda dengan belas kasih terhadap rakyat Anda dan kasih sayang dan keramahan bagi mereka. Jangan berdiri di atas mereka seperti hewan rakus yang merasa cukup untuk menelan mereka, karena mereka itu adalah salah satu dari dua jenis, saudara Anda dalam agama atau sesama Anda dalam ciptaan.”[5]

Harap diperhatikan bahwa titah Imam Ali As kepada Malik Asytar dikeluarkan pada masa tatkala jumlah kaum Muslim masih relatif sangat sedikit di Mesir dan tidak lama setelah penaklukan Mesir oleh pasukan Muslim. Tentu saja dalam beberapa tahun ini hanya sebagian kecil orang yang menerima Islam dan mayoritas rakyat Mesir ketika itu masih beragama Kristen.[6]

Imam Shadiq As, sehubungan dengan hak-hak Ahludzimmah, bersabda, “Hak orang-orang yang berada dalam lindungan kaum Muslim adalah bahwa terimalah apa yang diterima Allah Swt dan Rasul-Nya terhadap mereka dan janganlah berbuat jahat kepada mereka sepanjang mereka setia pada janji Allah Swt.”[7]

Demikian juga, anjuran-anjuran penting Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As terkait dengan hidup berdampingan secara damai dengan pengikut agama-agama yang hidup di negeri-negeri dan negara-negara selain pemerintahan Islam, disebutkan bahwa sejatinya adalah spirit hidup berdampingan secara damai yang juga dianjurkan al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa Islam secara prinsipil dan esensial tidak ada perang dan perseteruan dengan non-Muslim.

Imam Ali As, dalam penggalan suratnya kepada Malik Asytar, bersabda, “Apabila Anda menerima suatu kesepakatan antara Anda dan musuh Anda atau memasuki perjanjian dengan dia maka penuhilah kesepakatan Anda dan laksanakanlah janji Anda dengan jujur. Tempatkan diri Anda sebagai perisai terhadap apa saja yang telah Anda janjikan karena di antara kewajiban dari Allah tak ada sesuatu di mana rakyat lebih dipersatukan dengan kuat walaupun terdapat perbedaan dalam gagasan mereka dan variasi pandangan mereka, ketimbang respek pada penepatan janji. Di samping kaum Muslim, bahkan kaum kafir pun menaati perjanjian, karena mereka menyadari bahaya yang akan menimpa setelah pelanggaran(nya). Oleh karena itu, janganlah menipu musuh Anda, karena tak ada yang dapat memurkakan Allah kecuali orang jahil dan orang jahat. Allah membuat kesepakatan dan janji-Nya (sebagai) tanda keamanan yang telah disebarkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui rahmat-Nya dan suatu suaka di mana mereka tinggal dalam perlindungan-Nya dan mencari manfaat dari kedekatan dengan-Nya. Oleh karena itu, tak boleh ada penipuan, kelicikan atau kecurangan di dalamnya.”[8]

Walhasil, anjuran dan nasihat para pemimpin besar Islam dalam berhubungan dengan non-Muslim adalah menjaga sikap adil, fair, memenuhi hak-hak mereka dan tidak menganggu serta menyakiti para pengikut agama dan mazhab lain kecuali mereka berlaku khianat dan melanggar perjanjian maka dalam hal ini Islam dengan tegas memerintahkan untuk menindak mereka dan memadamkan api fitnah yang mereka kobarkan. “Katakanlah, “Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah? Kamu menghendaki jalan itu menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran [3]:99)  [iQuest]

 

 

 


[1]. Silahkan lihat, Shadruddin Balaghi, ‘Adâlat wa Qadhâ dar Islâm, hal. 57; Zainul Abidin Qurbani, Islam wa Huquq Basyar, hal. 397.

"من ظلم معاهداً و كلفه فوق طاقته فانا خصمه یوم القیامة".

[2]. Shadruddin Balaghi, op cit,  hal. 57.

"من آذی ذمیاً فقد آذانی".

[3]. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 20, hal. 253, Hadis 578.

"من آدی ذمیاً آذانی".

[4]. Afif Abdulfattah Thabarah, Ruh al-Din al-Islâmi, hal. 276.

"تصدقوا علی اهل الادیان كلها".

 

 

[5]. Nahj al-Balâghah, Surat 53 (Surat ke Malik Asytar Gubernur Mesir)

" واشعر قلبك الرحمة للرعیة و المحبة لهم، و اللطف بهم، و لا تكونن علیهم سبعاً ضاریا تغتنم أكلهم، فانهم صنفان: اما اخ لك فی الدین، او نظیر لك فی الخلق ...".

[6]. Majalah Maktab Islam, Tahun 8, No. 5, Hal. 49.

[7]. Wasâil al-Syiah, jil. 15, hal. 177, Bab Ketiga,

"و حق اهل الذمة ان تقبل ما قبل الله عز و جل و لا تظلمهم ما وفوا لله عزوجل بعهده".

[8]. Nahj al-Balâghah, Surat 53 (Surat ke Malik Asytar Gubernur Mesir).

"ان عقدت بینك و بین عدوك عقدة او البسته منك ذمة فحط عهدك بالوفاء و ارع ذمتك بالامانة،‌ و اجعل نفسك جنة دون ما أعطیت فانه لیس من فرائض الله شیء الناس اشدّ علیه اجتماعاً ، مع تفرق اهوائهم،‌ و تشتّت آرائهم، من تعظیم الوفاء بالعهود".

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260120 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245817 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229689 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214484 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175812 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171176 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167592 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157638 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140485 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133671 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...