Advanced Search
Hits
12572
Tanggal Dimuat: 2013/03/05
Ringkasan Pertanyaan
Apakah makna ibdâ’? Apakah ibdâ’ itu merupakan salah satu sifat Tuhan?
Pertanyaan
Salam. Apakah ibdâ’ itu merupakan salah satu sifat Tuhan? Apakah makna ibdâ’?
Jawaban Global
Dalam literatur-literatur agama, ibda disebutkan dalam beragam bentuk sebagai salah satu sifat Allah Swt. Dalam al-Quran, kata ini hanya dinyatakan dalam bentuk sifat musyabbah (badi’) namun dalam beberapa riwayat dinyatakan dalam beragam bentuk; seperti dalam bentuk sifat musyabbah dengan kata badi’, ism fâ’il dengan kata mubdi’, kata kerja (fi’il) dengan kata ibdâ’ dan ibtada’.
            Ibdâ’ bermakna penciptaan yang tidak memiliki model dan sampel sebelumnya. Para filosof terkait dengan lafaz ibdâ’ sedikit berbeda pendapat; sebagian dari mereka memaknai ibda’ sebagai penciptaan pertama; artinya mubda’ (yang diciptakan tanpa model dan sampel sebelumnya) adalah sebuah entitas yang tidak memiliki perantara alias ia langsung dalam hubungannya dengan Tuhan; hasilnya mubda’ (yang diciptakan) akan terbatas pada akal pertama saja. Namun kebanyakan filosof memaknai bahwa ibdâ’ bermakna penciptaan tanpa memerlukan materi dan masa.
Atas dasar itu, meski cakupan mubda’at (bentuk plural dari mubda’) lebih luas dari makna pertama namun akan terbatas pada seluruh akal. Namun pendapat lainnya mengatakan bahwa ibdâ’ tidak terbatas pada makhluk tertentu; melainkan seluruh entitas dan makhluk itu adalah mubda’ât. Nampaknya pendapat ini selaras dengan ayat dan riwayat.
 
Jawaban Detil:
            Dalam literatur-literatur agama, ibdâ’ disebutkan dalam beragam bentuk sebagai salah satu sifat Allah Swt. Dalam al-Quran hanya dinyatakan dalam bentuk musyabbah dengan kata badi’ seperti pada ayat berikut:
«بَديعُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ إِذا قَضى‏ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ»
“Dia yang mula-mula mencipta langit dan bumi (tanpa ada contoh sebelumnya), dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah.’ Lalu, jadilah ia.” (Qs. Al-Baqarah [2]:117)[1]
Adapun dalam beberapa riwayat kata ibdâ’ ini dinyatakan dalam beberapa bentuk. Terkadang dengan bentuk musyabbah yaitu badi’ seperti: Ya Badiu Ya Badi’u Ya Qawiyyu Ya Mani’u Ya ‘Aliyyu ya Râfi’i” (Wahai Yang Mahamemulai, Yang Maha Pencipta Yang Baru, Wahai Yang Mahakuat, Wahai Yang Mahamenahan,  Wahai Yang Mahatinggi, Wahai Yang Mahameninggikan)[2] Terkadang dinyatakan dalam bentuk ism fâ’il dengan kata mubdi’ seperti pada riwayat, “Mubdi’ al-asyâ wa khâliquhâ wa munsyi al-asyâ biqudratihi” (Pengada segala sesuatu dan Penciptanya serta Pelaksana segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya).[3] Pada sebagian riwayat juga dinyatakan dalam bentuk kata kerja ibdâ’ dan ibtada’, seperti, “shawwara ma abda’a ‘ala ghairi mitsâl. [4] Abtada’a ma khalaqa bila mitsal sabaq.”[5]
Adapun ibdâ’ dalam kosa kata Arab bermakna menciptakan sesuatu tanpa adanya sampel dan model sebelumnya.[6] Allamah Thabathabai berkata, “Kata badi’ adalah sifat musyabbah dari masdar bada’ah dan bada’ah segala sesuatu bermakna tiada yang serupa dengannya. Serupa di sini maksudnya adalah serupa dengan sesuatu yang dikenal oleh pikiran.[7] Makna ini juga dapat disimpulkan dari beberapa riwayat; karena dalam beberapa riwayat sebagai ikutan dari ibdâ’ dan ibtada’, secara lahir bermakna penjelasan tiadanya yang serupa dengannya. Sebagai hasilnya, kedua kata ini akan bermakna bahwa Allah Swt merupakan Pengada (atau Pencipta) tanpa (meniru) model dan contoh yang telah ada sebelumnya.
Filosof dan ahli hikmah Ilahi sedikit berbeda pendapat terkait dengan ibdâ’; Ibnu Sina memaknai ibdâ’ sebagai penciptaan pertama. Menurutnya, mubda’ (yang diciptakan) adalah sebuah entitas yang tidak memiliki perantara alias hubungan langsung antara dirinya dan Tuhan. Sebagai hasilnya, mubda’ (baca: yang diciptakan pertama) dalam pandangan Ibnu Sina terbatas pada akal pertama.
Namun ibdâ’ dalam pandangan jumhur filosof bermakna penciptaan tanpa memerlukan materi dan masa. Karena itu, berdasarkan fondasi pemikiran mayoritas filosof, seluruh akal bahkan jiwa-jiwa selestial (nufus al-falaki) itu adalah mubda’ât (plural mubda’). Atas dasar itu, mayoritas filosof membagi tiga entitas di alam semesta: Mubda’ât, mukhtara’ât dan mukawwinât.
Mubda’ât adalah silsilah entitas yang tidak memerlukan materi dan durasi (masa) dalam penciptaannya seperti akal-akal non material (‘uqul al-mujarradah). Mukhtari’ât adalah entitas-entitas yang dalam penciptaannya memerlukan hanya materi seperti entitas-entitas selestial. Mukawwinât adalah entitas-entitas yang di samping membutuhkan materi juga memerlukan durasi (masa) yang juga disebut sebagai alam anasir dan alam kaun-fasâd (generasi-korupsi). Karena itu, ibdâ’ berada pada posisi teratas dari keduanya.[8]
Sebagai bandingannya, Allamah Thabathabai memandang ibdâ’ tidak terbatas pada entitas dan makhluk tertentu, melainkan mencakup seluruh entitas dan makhluk. Artinya seluruh makhluk dan entitas itu adalah mubda’ât (yang diciptakan secara langsung). Nampaknya pandangan Allamah Thabathabai ini lebih sesuai dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang ada terkait dengan pembahasan ini.
Dalam menjelaskan pandangannya, Allamah Thabathabai berkata, “Pengalaman empirik telah menetapkan bahwa setiap dua entitas yang dapat diasumsikan, meski pada tataran universal bahkan pada partikularnya itu adalah tunggal dan satu, sedemikian sehingga manusia mengiranya tidak terpisah, namun keduanya sejatinya memiliki perbedaan karena kalau tidak demikian dua entitas ini tidak akan menjadi dua dan apabila mata biasa tidak mampu melihat perbedaan di antara keduanya, maka teleskop yang kuat mampu melihatnya.”
Argumen filsafat juga membenarkan makna ini. Karena tatkala kita mengasumsikan dua hal sebagai dua hal yang berbeda, apabila tidak ada satu pun keunggulan dan keunikan yang keluar dari esensinya, maka kemestiannya akan menjadi penyebab adanya dualitas dan pluralitas di dalam esensinya bukan di luar esensinya. Dalam kondisi seperti ini yang diasumsikan adalah esensi murni dan esensi yang tidak bercampur lantaran esensi murni tidak memiliki dualitas dan juga tidak menerima pluralitas. Kesimpulannya apa yang kita asumsikan dua atau beberapa itu akan menjadi satu dan hal ini tidak sesuai dengan asumsi kita.
Karena itu dapat kita simpulkan bahwa setiap entitas dari sudut pandang esensi berbeda dengan entitas lainnya dan karena demikian, maka setiap entitas itu adalah badi’ al-wujud. Artinya tidak memiliki kesamaan atau keserupaan yang terlintas dalam benak penciptanya. Hasilnya, Allah Swt itu adalah mubtadi’ wa badi’ al-samawât wa al-ardh” (Pengada dan Pencipta [tanpa contoh sebelumnya] langit-langit dan bumi)  [9] [iQuest]
 
 

[1]. Sebagaimana juga disebutkan dalam surah al-An’am (6) ayat 101:
«بَديعُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَ لَمْ تَكُنْ لَهُ صاحِبَةٌ وَ خَلَقَ كُلَّ شَيْ‏ءٍ وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ».
 "Dia-lah Pencipta langit dan bumi (tanpa ada contoh sebelumnya). Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.”
[2]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 49, hal. 83, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1403 H.
«يَا بَدِي‏ءُ يَا بَدِيعُ‏ يَا قَوِيُّ يَا مَنِيعُ يَا عَلِيُّ يَا رَفِيع‏»  
[3]. Ibid, jil. 3, hal. 224.
« مُبْدِعُ‏ الْأَشْيَاءِ وَ خَالِقُهَا وَ مُنْشِئُ الْأَشْيَاءِ بِقُدْرَتِه»
[4]. Ibid, jil. 37, hal. 205.
«صَوَّرَ مَا أَبْدَعَ‏ عَلَى غَيْرِ مِثَال»
[5]. Ibid, jil. 4, hal. 270.
«ابْتَدَعَ‏ مَا خَلَقَ بِلَا مِثَالٍ سَبَق»
[6] . Said al-Khuri al-Syartuni, Aqrab al-Mawârid, klausul ba-da-a’.
[7]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, Tafsir al-Mizân, Terjemahan Persia oleh Sayid Muhammmad Baqir Musawi Hamadani, jil. 1, hal. 395, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakank Kelima, 1374 S.
[8].  Hasan Hasan Zadeh Amuli, Nushush al-Hikam bar Fushush al-Hikam, hal. 202, Raja, Tehran, Cetakan Kedua, 1375 S.
[9].  Tafsir al-Mizân, jil. 1, hal. 396.
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259664 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245504 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229406 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214170 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175505 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    170873 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167252 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157355 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140193 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133459 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...