Advanced Search
Hits
9500
Tanggal Dimuat: 2010/04/10
Ringkasan Pertanyaan
Apakah Hadhrat Fatimah Zahra meminta mati semasa hidupnya?
Pertanyaan
Suatu waktu, saya ikut pada salah satu acara duka Hadhrat Zahra Salamullah ‘alaiha, saya mendengar beberapa hal dari pengkidung yang menyisakan selaksa pertanyaan di benak saya. Pengkidung itu berkata, “Hadhrat Zahra Sa pada akhir-akhir usianya memanggil anak-anaknya untuk bersiap-siap berziarah pada pusara datuk mereka, Rasulullah Saw dan bunda Zahra berdoa di tempat itu. Bunda Zahra berdoa di tempat itu, tatkala anak-anaknya menengadahkan tangannya ke langit, memohon kematian kepada Allah Swt yang membuat anak-anaknya kaget dan bersedih hati.”
Saya tidak dapat menerima beberapa poin di bawah ini :
Hadhrat Zahra Sa sebagai teladan terbaik pada seluruh tingkatan hidup bagi para wanita Syiah, meski banyak menghadapi persoalan namun apa maknanya memohon kematian ini? Beliau meninggal (syahid) pada usia muda, hal ini pada kecenderungan anak muda khususnya pada masa balig menjadi faktor penyebab meningkatnya putus asa atau kematian (bunuh diri) lantaran tidak terpenuhinya pelbagai harapan dalam memecahkan pelbagai masalah yang dihadapi. Kehidupan merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia. Manusia harus senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas anugerah besar ini. Memohon kematian pada usia muda itu, nikmat hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia, itu pun sebagai teladan unggul bagi manusia, apa maknanya?
Jawaban Global

Pada literatur-literatur standar tidak disebutkan bahwa Hadhrat Fatimah Zahra mengambil tangan anak-anaknya dan memohon mati di atas pusara Rasulullah Saw. Akan tetapi, pada sebagian kitab, doa memohon kematian disandarkan kepada Hadhrat Fatimah Zahra Sa. Dalam khotbahnya yang panjang karena protes akibat dirampasnya tanah Fadak, Hadhrat Fatimah Sa memohon mati dan bersabda, “Duhai sekiranya pada detik-detik seperti ini aku mati.”

Memohon kematian dari Allah Swt boleh jadi disebabkan oleh beberapa alasan. Apabila alasannya karena lelah dan kalah dalam berkonfrontasi dengan selaksa problem keseharian atau karena kelemahan manusia tentu saja hal ini merupakan sebuah hal yang tercela dan tidak terpuji.

Akan tetapi apabila alasannya adalah iman yang kuat, kerinduan dan cinta yang tak terbahasakan kepada Tuhan, sedemikian sehingga pecinta tidak kuasa lagi membendung kerinduan jauh dari Sang Kekasih dan sampainya sang pecinta kepada Sang Kinasih merupakan cita dan harapannya tentu saja memohon kematian seperti ini terpuji.

Jawaban Detil

Tidak terdapat dalam literatur-literatur standar yang menjelaskan bahwa Hadhrat Zahra mengambil tangan anaknya dan memohon kematian di atas pusara Rasulullah Saw. Akan tetapi, pada sebagian kitab, terdapat doa memohon kematian disandarkan kepada Hadhrat Fatimah Zahra Sa ketika beliau menyampaikan sebuah khotbah yang panjang terkait protesnya terhadap perampasan tanah Fadak. Dalam khotbah tersebut, Hadhrat Fatimah Sa memohon mati dan bersabda, “Duhai sekiranya pada detik-detik seperti ini aku mati.” [1] Namun demikian, situasi dan kondisi pada masa itu harus diperhatikan. Doa dan harapan seperti ini boleh jadi semacam pernyataan antipati dan kebencian terhadap kondisi yang berkembang ketika itu.

Bagaimanapun, apabila kita terima bahwa Hadhrat Zahra Sa bermaksud serius menyampaikan hal seperti ini maka kami mengajak Anda untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini:

Usia panjang merupakan sebuah nikmat Ilahi dan dalam pandangan Islam, memohon kematian merupakan sebuah perbuatan tercela yang Rasulullah Saw [2]  dan para Imam Maksum As, dalam banyak riwayat, melarang orang-orang untuk berharap seperti ini. Memohon kematian dari Allah Swt boleh jadi disebabkan oleh beberapa alasan. Apabila hal ini dilakukan karena konfrontasi dengan pelbagai kesulitan hidup dan lemahnya jiwa, maka tentu saja hal ini merupakan sebuah perbuatan tercela dan tidak terpuji.

Akan tetapi apabila alasannya adalah iman yang kuat, kerinduan dan cinta yang tak terbahasakan kepada Tuhan, sedemikian sehingga pecinta tidak kuasa lagi membendung kerinduan jauh dari Sang Kekasih dan sampainya sang pecinta kepada Sang Kinasih merupakan cita dan harapannya tentu saja memohon kematian seperti ini terpuji.

Amirul Mukminin As dalam Nahj al-Balâghah pada sebuah khotbah yang dikenal sebagai khotbah Muttaqin, dalam mendeskripsikan sifat-sifat dan tipologi orang-orang bertakwa, bersabda, “Apabila Allah Swt tidak menentukan usia tertentu bagi orang-orang beriman dan bertakwa, maka dalam sekejap mata ruh mereka tidak akan tinggal pada badan mereka, lantaran kerinduan terhadap ganjaran Ilahi dan ketakutan dari hukumannya; mereka adalah orang-orang beriman yang merindukan pertemuan dengan Tuhannya.” [3]

Dalam sabdanya yang lain Baginda Ali As bersabda, “ Lebih seringlah mengingat mati, dan (apa yang akan datang) setelah kematian. Namun janganlah merindukan kematian kecuali Anda telah yakin bahwa Anda telah memperoleh keridhaan Ilahi.” [4]

Karena itu, dalam dua hal kematian menjadi harapan dan kerinduan para wali Allah dan bermohon kepada Tuhan untuk tidak lagi diberikan usia panjang:

1.     Bagi dia yang hidup di dunia mempersiapkan segala kebaikan dan keberkahan maka dunia baginya tidak lain kecuali penjara, karena ia telah menunaikan segala tugasnya dengan baik dan memenuhi tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Ia merasa bahwa setelah ini, ia tidak lagi memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menunaikan pekerjaan dan kehidupan di dunia ini hanya memperlambat pertemuannya dengan Tuhan Sang Kinasih. Di sini memohon kematian bermakna percepatan (tasri’) untuk berjumpa dengan Tuhan (liqaullah).

Sebagaimana seorang mahasiswa yang berangkat ke luar negeri untuk menuntut ilmu di sana ia belajar dan bekerja dengan baik lalu memperoleh sertifikat. Ia berharap untuk kembali pulang ke tanah air. Lantaran ia telah menunaikan tugasnya dengan baik. Dengan kata lain, kematian bagi para wali Tuhan adalah sebuah harapan. Namun apakah mereka berada pada tataran ingin memenuhi harapan ini atau meski kematian bagi mereka adalah sebuah harapan, mereka berperang dengannya? Poinnya di sini bahwa mereka memiliki harapan juga berperang dengannya (kecuali dalam dua hal yang akan kita jelaskan). Mengapa? Lantaran mereka laksana mahasiswa. Seorang mahasiswa yang merantau ke luar negeri menuntut ilmu hingga detik-detik terakhir yang ia masih memilih peluang untuk bekerja dan berkembang maju dengan keluar dari tempat itu. Ia berjuang seperti yang ia harapkan, kecuali saat-saat yang ia rasakan bahwa tidak ada lagi pekerjaan yang tersisa buatnya. Artinya, apa yang harus ia kerjakan ia telah tunaikan dengan baik. [5]

2.     Kedua masalah syahadah. Mengingat syahadah di jalan Allah merupakan setinggi-tingginya derajat kesempurnaan manusia, harapan untuk syahid dan mati di jalan Allah merupakan setinggi-tingginya derajat kesempurnaan yang setelah bertahun-tahun ibadah dan penghambaan yang tulus-ikhlas dan menunaikan amalan-amalan saleh manusia boleh jadi sampai pada derajat kesempurnaan dan mungkin saja tidak sampai. Akan tetapi, syahadah satu kesempurnaan yang telah dijamin. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap orang yang mengerjakan kebaikan, di atas amalannya terdapat kebaikan yang lain (yang lebih tinggi), namun syahadah tiada lagi kebaikan di atasnya.” [6] Karena itu, harapan syahadah (mati di jalan Allah) merupakan sebuah harapan ideal, tetapi pada dua hal manusia beriman tidak akan menempatkan dirinya pada lintasan bahaya kematian dan terbunuh. Apabila ia menderita sakit, maka ia harus berobat hingga mendapatkan kepulihan. Atau apabila ia hadir di medan jihad di jalan Allah maka ia harus memperhatikan seluruh masalah keamanan dan penjagaan untuk menjaga dirinya. [7] [IQuest]

 

Indeks-indeks terkait:

1.     Kematian dan Penundaannya, Pertanyaan 4606 (Site: 4907).

2.     Permohonan Diberi Usia Panjang dan Harapan Kematian, Pertanyaan 2188 (Site: )

3.     Tiadanya Pengetahuan ihwal Masa Kematian, Pertanyaan 2210 (Site: )

4.     Syahadah Hadhrat Zahra Sa dalam Literatur-literatur Ahlusunnah, Pertanyaan 5256 (Site: )



[1] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 29, hal. 234, Dar al-Wafa, Beirut, 1404 H, “Laitani mittu qabla haniaiti.”

[2] . Bihâr al-Anwâr, jil. 6, hal. 128,

[3] . Nahj al-Balâgha, Subhi Shaleh, Khutbah 193, hal. 303, Dar al-Hijrah, Qum.

[4] . Nahj al-Balâgha, Subhi Shaleh, Surat 69, Dar al-Hijrah, Qum.

[5] . Kulaini, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 348; Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 71, hal. 61, dengan sedikit perbedaan.

[6] . Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, Murtadha Muthahhari, Âsyanâi ba Qur’ân, jil. 7 (Tafsir Surah Shaf, Jum’ah, Munafiqun dan Taghabun), hal. 64-81.

[7] . Diadaptasi dari Pertanyaan 2188 (Site: 2313)

Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah arti dan hakikat Ramadhan itu?
    5654 روزه و رمضان
    Ramadhan secara leksikal berarti panas yang menyengat, panasnya batu, intensitas sinar matahari. Juga dikatakan bahwa ramadhan diambil dari asal kata “harr” yang artinya adalah kembali dari gurun menuju kota. Secara teknis ramadhan adalah nama bulan ke-9 bulan Hijriah, bulan-bulan Islam dan bulan turunnya al-Quran. Imam Sajjad As ...
  • Hari-hari Tuhan sebanding dengan 1000 tahun atau 50000 tahun lamanya?
    18248 معاد و قیامت
    Redaksi kata “yaum” atau “hari” digunakan dalam beberapa makna yang beragam dimana masing-masing dari penggunaan kata ini memiliki makna tertentu. Hal ini juga dapat kita saksikan pada redaksi tersebut atau setiap kata lainnya; disebutkan berulang kali dengan satu makna, tanpa ada kontradiksi di dalamnya. Karena ...
  • Apakah keturunan Rasulullah Saw juga harus membayar khumus?
    4978 Hukum dan Yurisprudensi
    Apabila manusia memperoleh keuntungan dari perdagangan atau perindustrian atau perolehan lainnya, apabila terdapat kelebihan dari pengeluarannya beserta keluarganya dalam setahun, maka ia harus menyerahkan khumus yaitu seperlima dari kelebihan (keuntungan) tersebut kepada seorang mujtahid yang memiliki selaksa syarat (baca: marja taklid) di masa ini atau menggunakan khumus tersebut pada hal-hal ...
  • Apakah perbedaan antara akhlak dan ilmu akhlak?
    37526 معیار شناسی (دین و اخلاق)
    Akhlak secara leksikal adalah bentuk jamak kata khulq yang berarti perangai, tabiat, perilakum, karakter, entah karakter itu merupakan karakter yang baik ataupun buruk. Ulama akhlak dan filosof menjelaskan berbagai definisi tentang akhlak. Di antara definisi-definisi yang dikemukakan oleh mereka dapat diringkas sebagai berikut: Akhlak adalah kualitas ...
  • Apakah dapat menggunakan syair-syair, kisah-kisah, gambar-gambar dan lain sebagainya dalam upaya meningkatkan hubungan seksual dengan istri?
    4845 Sebagian Hukum
    Sehubungan dengan masalah ini, menggunakan syair dan roman pada dasarnya (misalnya tidak menyebabkan gunjingan atau membuat orang lain malu) tidak ada masalah. Kebanyakan Marja Agung Taklid memandang tidak boleh menyaksikan gambar-gambar dan film-film porno. Akan tetapi sebagian fakih,[1] meski memfatwakan ihtiyâth supaya menghindari menonton ...
  • Apakah keraguan yang berlebihan yang tidak boleh diindahkan juga mencakup segala jenis keraguan?
    12540 Hukum dan Yurisprudensi
    Sesuai dengan kaidah “Lâ syak likatsir al-syak”, katsir al-syak (seseorang yang memiliki keraguan berlebihan) tidak boleh mengindahkan keraguannya. Sesuai dengan pandangan mayoritas fukaha, kaidah ini, tidak terkhusus pada shalat, melainkan juga mencakup pendahuluan-pendahuluan shalat seperti wudhu, mandi, dan tayammum, demikian juga mencakup ibadah-ibadah rangkapan seperti haji, transaksi-transaksi ...
  • Jika kesenangan-kesenangan surgawi bukan ukuran, lantas bagaimana orang-orang surga menarik diri dari satu kesenangan menikmati kesenangan yang lain?
    5860 Teologi Lama
    Tampaknya asal mula pertanyaan ini adalah satu bentuk tolok ukur antara karakteristik-karakteristik dunia dengan persoalan akhirat, penempatan ukuran dan standar tipologi dunia seperti kekurangan, sarat cela, tersebarnya penyakit, dilanda kematian, kelalaian, pertentangan dan kesalahan merupakan karakteristik dari alam semesta, sementara berdasarkan ayat-ayat dan hadis-hadis tipologi alam akhirat ...
  • Bagaimana hubungan yang terjalin antara nafs, ruh, jiwa, akal, pikiran dan fitrah?
    32332 Filsafat Islam
    Terkadang yang dimaksud atas beberapa redaksi dan kalimat ini adalah satu dan seluruhnya menyinggung satu hakikat yaitu entitas dan realitas manusia; terkadang juga dimaksudkan untuk ragam makna dan masing-masing dari redaksi dan kalimat ini menyoroti masalah tingkatan dan derajat-derajat jiwa manusia. ...
  • Apakah mungkin penduduk surga, yang nota-bene non-material, bercakap dengan bahasa Arab?
    6854 Teologi Lama
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apa yang menjadi syarat-syarat Islam dan Iman?
    39097 Hukum dan Yurisprudensi
    Iman dan Islam memiliki tingkatan dan derajat. Derajat pertama yaitu derajat Islam dimana setiap orang dengan mengucapkan dua kalimat syahadat "Asyhadu an laa ilaha illaLah wa asyahdu anna muhammadan Rasululullah." (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah) maka ia termasuk sebagai seorang ...

Populer Hits