Advanced Search
Hits
10582
Tanggal Dimuat: 2010/04/10
Ringkasan Pertanyaan
Apakah Hadhrat Fatimah Zahra meminta mati semasa hidupnya?
Pertanyaan
Suatu waktu, saya ikut pada salah satu acara duka Hadhrat Zahra Salamullah ‘alaiha, saya mendengar beberapa hal dari pengkidung yang menyisakan selaksa pertanyaan di benak saya. Pengkidung itu berkata, “Hadhrat Zahra Sa pada akhir-akhir usianya memanggil anak-anaknya untuk bersiap-siap berziarah pada pusara datuk mereka, Rasulullah Saw dan bunda Zahra berdoa di tempat itu. Bunda Zahra berdoa di tempat itu, tatkala anak-anaknya menengadahkan tangannya ke langit, memohon kematian kepada Allah Swt yang membuat anak-anaknya kaget dan bersedih hati.”
Saya tidak dapat menerima beberapa poin di bawah ini :
Hadhrat Zahra Sa sebagai teladan terbaik pada seluruh tingkatan hidup bagi para wanita Syiah, meski banyak menghadapi persoalan namun apa maknanya memohon kematian ini? Beliau meninggal (syahid) pada usia muda, hal ini pada kecenderungan anak muda khususnya pada masa balig menjadi faktor penyebab meningkatnya putus asa atau kematian (bunuh diri) lantaran tidak terpenuhinya pelbagai harapan dalam memecahkan pelbagai masalah yang dihadapi. Kehidupan merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia. Manusia harus senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas anugerah besar ini. Memohon kematian pada usia muda itu, nikmat hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia, itu pun sebagai teladan unggul bagi manusia, apa maknanya?
Jawaban Global

Pada literatur-literatur standar tidak disebutkan bahwa Hadhrat Fatimah Zahra mengambil tangan anak-anaknya dan memohon mati di atas pusara Rasulullah Saw. Akan tetapi, pada sebagian kitab, doa memohon kematian disandarkan kepada Hadhrat Fatimah Zahra Sa. Dalam khotbahnya yang panjang karena protes akibat dirampasnya tanah Fadak, Hadhrat Fatimah Sa memohon mati dan bersabda, “Duhai sekiranya pada detik-detik seperti ini aku mati.”

Memohon kematian dari Allah Swt boleh jadi disebabkan oleh beberapa alasan. Apabila alasannya karena lelah dan kalah dalam berkonfrontasi dengan selaksa problem keseharian atau karena kelemahan manusia tentu saja hal ini merupakan sebuah hal yang tercela dan tidak terpuji.

Akan tetapi apabila alasannya adalah iman yang kuat, kerinduan dan cinta yang tak terbahasakan kepada Tuhan, sedemikian sehingga pecinta tidak kuasa lagi membendung kerinduan jauh dari Sang Kekasih dan sampainya sang pecinta kepada Sang Kinasih merupakan cita dan harapannya tentu saja memohon kematian seperti ini terpuji.

Jawaban Detil

Tidak terdapat dalam literatur-literatur standar yang menjelaskan bahwa Hadhrat Zahra mengambil tangan anaknya dan memohon kematian di atas pusara Rasulullah Saw. Akan tetapi, pada sebagian kitab, terdapat doa memohon kematian disandarkan kepada Hadhrat Fatimah Zahra Sa ketika beliau menyampaikan sebuah khotbah yang panjang terkait protesnya terhadap perampasan tanah Fadak. Dalam khotbah tersebut, Hadhrat Fatimah Sa memohon mati dan bersabda, “Duhai sekiranya pada detik-detik seperti ini aku mati.” [1] Namun demikian, situasi dan kondisi pada masa itu harus diperhatikan. Doa dan harapan seperti ini boleh jadi semacam pernyataan antipati dan kebencian terhadap kondisi yang berkembang ketika itu.

Bagaimanapun, apabila kita terima bahwa Hadhrat Zahra Sa bermaksud serius menyampaikan hal seperti ini maka kami mengajak Anda untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini:

Usia panjang merupakan sebuah nikmat Ilahi dan dalam pandangan Islam, memohon kematian merupakan sebuah perbuatan tercela yang Rasulullah Saw [2]  dan para Imam Maksum As, dalam banyak riwayat, melarang orang-orang untuk berharap seperti ini. Memohon kematian dari Allah Swt boleh jadi disebabkan oleh beberapa alasan. Apabila hal ini dilakukan karena konfrontasi dengan pelbagai kesulitan hidup dan lemahnya jiwa, maka tentu saja hal ini merupakan sebuah perbuatan tercela dan tidak terpuji.

Akan tetapi apabila alasannya adalah iman yang kuat, kerinduan dan cinta yang tak terbahasakan kepada Tuhan, sedemikian sehingga pecinta tidak kuasa lagi membendung kerinduan jauh dari Sang Kekasih dan sampainya sang pecinta kepada Sang Kinasih merupakan cita dan harapannya tentu saja memohon kematian seperti ini terpuji.

Amirul Mukminin As dalam Nahj al-Balâghah pada sebuah khotbah yang dikenal sebagai khotbah Muttaqin, dalam mendeskripsikan sifat-sifat dan tipologi orang-orang bertakwa, bersabda, “Apabila Allah Swt tidak menentukan usia tertentu bagi orang-orang beriman dan bertakwa, maka dalam sekejap mata ruh mereka tidak akan tinggal pada badan mereka, lantaran kerinduan terhadap ganjaran Ilahi dan ketakutan dari hukumannya; mereka adalah orang-orang beriman yang merindukan pertemuan dengan Tuhannya.” [3]

Dalam sabdanya yang lain Baginda Ali As bersabda, “ Lebih seringlah mengingat mati, dan (apa yang akan datang) setelah kematian. Namun janganlah merindukan kematian kecuali Anda telah yakin bahwa Anda telah memperoleh keridhaan Ilahi.” [4]

Karena itu, dalam dua hal kematian menjadi harapan dan kerinduan para wali Allah dan bermohon kepada Tuhan untuk tidak lagi diberikan usia panjang:

1.     Bagi dia yang hidup di dunia mempersiapkan segala kebaikan dan keberkahan maka dunia baginya tidak lain kecuali penjara, karena ia telah menunaikan segala tugasnya dengan baik dan memenuhi tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Ia merasa bahwa setelah ini, ia tidak lagi memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menunaikan pekerjaan dan kehidupan di dunia ini hanya memperlambat pertemuannya dengan Tuhan Sang Kinasih. Di sini memohon kematian bermakna percepatan (tasri’) untuk berjumpa dengan Tuhan (liqaullah).

Sebagaimana seorang mahasiswa yang berangkat ke luar negeri untuk menuntut ilmu di sana ia belajar dan bekerja dengan baik lalu memperoleh sertifikat. Ia berharap untuk kembali pulang ke tanah air. Lantaran ia telah menunaikan tugasnya dengan baik. Dengan kata lain, kematian bagi para wali Tuhan adalah sebuah harapan. Namun apakah mereka berada pada tataran ingin memenuhi harapan ini atau meski kematian bagi mereka adalah sebuah harapan, mereka berperang dengannya? Poinnya di sini bahwa mereka memiliki harapan juga berperang dengannya (kecuali dalam dua hal yang akan kita jelaskan). Mengapa? Lantaran mereka laksana mahasiswa. Seorang mahasiswa yang merantau ke luar negeri menuntut ilmu hingga detik-detik terakhir yang ia masih memilih peluang untuk bekerja dan berkembang maju dengan keluar dari tempat itu. Ia berjuang seperti yang ia harapkan, kecuali saat-saat yang ia rasakan bahwa tidak ada lagi pekerjaan yang tersisa buatnya. Artinya, apa yang harus ia kerjakan ia telah tunaikan dengan baik. [5]

2.     Kedua masalah syahadah. Mengingat syahadah di jalan Allah merupakan setinggi-tingginya derajat kesempurnaan manusia, harapan untuk syahid dan mati di jalan Allah merupakan setinggi-tingginya derajat kesempurnaan yang setelah bertahun-tahun ibadah dan penghambaan yang tulus-ikhlas dan menunaikan amalan-amalan saleh manusia boleh jadi sampai pada derajat kesempurnaan dan mungkin saja tidak sampai. Akan tetapi, syahadah satu kesempurnaan yang telah dijamin. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap orang yang mengerjakan kebaikan, di atas amalannya terdapat kebaikan yang lain (yang lebih tinggi), namun syahadah tiada lagi kebaikan di atasnya.” [6] Karena itu, harapan syahadah (mati di jalan Allah) merupakan sebuah harapan ideal, tetapi pada dua hal manusia beriman tidak akan menempatkan dirinya pada lintasan bahaya kematian dan terbunuh. Apabila ia menderita sakit, maka ia harus berobat hingga mendapatkan kepulihan. Atau apabila ia hadir di medan jihad di jalan Allah maka ia harus memperhatikan seluruh masalah keamanan dan penjagaan untuk menjaga dirinya. [7] [IQuest]

 

Indeks-indeks terkait:

1.     Kematian dan Penundaannya, Pertanyaan 4606 (Site: 4907).

2.     Permohonan Diberi Usia Panjang dan Harapan Kematian, Pertanyaan 2188 (Site: )

3.     Tiadanya Pengetahuan ihwal Masa Kematian, Pertanyaan 2210 (Site: )

4.     Syahadah Hadhrat Zahra Sa dalam Literatur-literatur Ahlusunnah, Pertanyaan 5256 (Site: )



[1] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 29, hal. 234, Dar al-Wafa, Beirut, 1404 H, “Laitani mittu qabla haniaiti.”

[2] . Bihâr al-Anwâr, jil. 6, hal. 128,

[3] . Nahj al-Balâgha, Subhi Shaleh, Khutbah 193, hal. 303, Dar al-Hijrah, Qum.

[4] . Nahj al-Balâgha, Subhi Shaleh, Surat 69, Dar al-Hijrah, Qum.

[5] . Kulaini, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 348; Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 71, hal. 61, dengan sedikit perbedaan.

[6] . Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, Murtadha Muthahhari, Âsyanâi ba Qur’ân, jil. 7 (Tafsir Surah Shaf, Jum’ah, Munafiqun dan Taghabun), hal. 64-81.

[7] . Diadaptasi dari Pertanyaan 2188 (Site: 2313)

Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259969 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245723 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229610 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214418 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175727 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171094 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167512 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157570 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140424 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133619 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...