Advanced Search
Hits
10781
Tanggal Dimuat: 2012/04/21
Ringkasan Pertanyaan
Apa sebab penyandaran aksidental seluruh keburukan kepada Tuhan?
Pertanyaan
Apa arti ungkapan ini? Karena Tuhan adalah kesempurnaan mutlak, iradah-Nya secara mendasar terarahkan kepada kesempurnaan dan kebaikan segenap makhluk dan jika kemestian-wujud makhluk adalah sumber kehadiran seluruh keburukan dan kekurangan, maka aspek keburukan-Nya adalah bersifat aksidental; yakni kemestian-tak-terpisah adalah kebaikan mayoritas dan konsekuensinya kebaikan yang menyeluruh menjadi iradah Ilahi. (Ushul Aqâid, Ayatullah Taqi Mishbah Yazdi, hal. 162)
Jawaban Global

Apa yang disebutkan sebagai keburukan tersebut tidak terdapat di alam nonmateri, dan hal ini hanya terkait dengan alam materi. Makna kebaikan dan keburukan dianalisa sebagai berikut: kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan oleh setiap realitas berdasarkan tabiatnya (fitrah) sendiri dan dia mencintainya serta mengambil pilihan yang terbaik setiap kali dihadapkan dengan keraguan di antara beberapa pilihan yang ada. Sementara keburukan bertolak belakang dengan kebaikan.

Sesuatu itu terbagi lima bagian dari aspek kebaikan dan keburukan yang dua bagian itu memiliki realitas eksternal (eksis di alam eksternal), dua bagian itu sebagai berikut: kebaikan murni (mutlak) yakni Tuhan Yang Maha Tinggi dan kebaikan mayoritas. Apa-apa yang bersama dengan keburukan yang terkait dengan kalimat penciptaan iradah Ilahi dan qadha Ilahi juga mencakupnya secara esensial sebesar dan seluas keberadaan yang dimiliki olehnya, dengan ungkapan lain, dia harus memiliki kemampuan dan kapabilitas menerima keberadaan. Dengan kalimat yang lebih jelas, Tuhan menciptakannya, iradah Ilahi mewujudkannya, dan terpancar [terhempaskan] dari qadha Ilahi. Namun, ketiadaan-ketiadaan (keburukan-keburukan) senantiasa tidak disandarkan kepada Tuhan, melainkan lebih dinisbahkan kepada ketiadaan kapabilitasnya sendiri dan kelemahan potensinya.

Jawaban Detil

Sebelum menjelaskan tema persoalan ini, perlu diingatkan bahwa kajian mengenai kebaikan dan keburukan merupakan suatu pembahasan yang penting dan teliti yang beragam perspektif mengenainya telah dilontarkan oleh begitu banyak filosof besar. Namun jawaban yang akan diberikan atas pertanyaan ini adalah hal-hal yang menjadi kesepakatan mayoritas filosof dan para teolog Islam.

Apa yang dikatakan sebagai keburukan tersebut tidak ada di alam nonmateri, kajian ini hanya terkait dengan alam materi.

Kebaikan dan keburukan dimaknakan sebagai berikut: kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan oleh setiap realitas berdasarkan tabiatnya (fitrah) sendiri dan dia mencintainya serta dia mengambil pilihan yang terbaik setiap kali ragu di antara beberapa pilihan. Dan keburukan bertolak belakang dengan kebaikan.

Sesuatu terbagi lima menurut kebaikan dan keburukan:

  1. Kebaikan mutlak (murni);
  2. Keburukan mutlak (murni);
  3. Kebaikan mayoritas;
  4. Keburukan mayoritas;
  5. Kebaikan dan keburukannya sama.

Di antara lima bagian ini, hanya dua bagian yang memiliki eksistensi: pertama, kebaikan mutlak, yakni Tuhan yang wujud-Nya adalah niscaya, memiliki kesempurnaan mutlak dan setiap kesempurnaan eksistensial. Kedua, kebaikan mayoritas, yakni kebaikannya mengatasi keburukannya, karena meninggalkan kebaikan yang banyak tersimpan keburukan yang banyak. Dikarenakan inayah Ilahi, sesuatu yang memiliki kebaikan mayoritas ini mesti ada. Sementara bagian ketiga tidak eksis, karena keburukan mutlak tidak adalah ketiadaan mutlak maka mustahil mengada. Begitu pula dua bagian yang terakhir yakni keburukan mayoritas dan kebaikan dan keburukan yang sama. Karena inayah Ilahi, kedua bagian ini tidak harmonis. Inayah Ilahi menjadikan alam eksistensi ini sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya sistem yang mungkin dan jika dianalisa secara teliti setiap fenomena alam ini, akan menjadi jelas bahwa semua bagian alam hadir dan eksis dalam bentuk yang paling indah.[1]

Penjelasannya, apa yang kita gambarkan dalam pikiran kita tentang ketiadaan adalah ketiadaan mutlak yang merupakan negasi keberadaan mutlak, atau ketiadaan-terhubung dan dinisbahkan kepada kepemilikan yakni ketiadaan kesempurnaan eksistensial yang mungkin bagi sesuatu untuk memiliki kesempurnaan itu seperti buta yang bermakna tiada-penglihatan untuk manusia yang mungkin memiliki penglihatan [yakni secara eksistensial memungkinkan memiliki kesempurnaan penglihatan, karena ada manusia lain yang memiliki penglihatan], karena itu kita tidak bisa menyatakan bahwa tembok adalah buta.

Untuk bagian pertama [ketiadaan mutlak] terdapat beberapa bentuk yang bisa dibayangkan; salah satunya adalah ketiadaan yang dinisbahkan kepada kuiditas (keapaan atau mahiyah) sesuatu, bukan pada wujudnya, seperti kita membayangkan ketiadaaan Zaid lalu mengasumsikannya tiada, (yang diasumsikan tiada di sini) bukan Zaid yang setelah mengada (di alam eksternal). Bagian ini merupakan semata-mata gambaran rasional yang sama sekali tidak terbayangkan keburukan di dalamnya; karena kita tidak membayangkan tema tersebut (berada pada tataran) yang sama antara ‘ada’ dan ‘tiada’  sehingga ketiadaannya adalah keburukan, melainkan sangat mungkin manusia mensyaratkan ketiadaan sesuatu kepada sesuatu itu, seperti ketiadaan Zaid yang dibayangkan sebagai sesuatu yang ada (di alam pikiran), dan Zaid yang setelah mengada (di alam pikiran) itu kemudian diasumsikan tiada. Ketiadaan seperti ini [pertama dibayangkan ada kemudian diasumsikan tiada] adalah keburukan, namun bagian dari ketiadaan ini tidak lain adalah ketiadaan-kepemilikan yang nanti akan dijelaskan. Gambaran kedua (untuk ketiadaan mutlak) adalah membayangkan ketiadaan sesuatu yang dibandingkan dengan sesuatu yang lain, seperti ketiadaan Wujud-Wajib (Tuhan) bagi segenap wujud-mungkin (makhluk), atau ketiadaan wujud manusia misalnya untuk kuiditas lain seperti kuda dan ketiadaan wujud binatang untuk tumbuhan yang ini adalah bagian ketiadaan dari kemestian kuiditas yang merupakan (semata-mata) perkara rasional (hanya ada dan tergambar di alam pikiran) yang tidak eksis di alam eksternal. 

Bagian kedua dari ketiadaan (yang digambarkan dalam pikiran kita) adalah ketiadaan-terhubung yang tidak lain adalah ketiadaan-kepemilikan yang diartikan sebagai ketiadaan kesempurnaan bagi sesuatu yang memiliki kelayakan dan kapabilitas untuk menerima kesempurnaan itu; seperti jenis-jenis keburukan, kekurangan, aib, cacat, penyakit, dan penderitaan yang menimpa sesuatu yang kedudukan hakikinya adalah tidak semestinya memiliki kekurangan ini dan selayaknya memiliki kesempurnaan yang bertolak belakang dengan kekurangan itu.

Bagian dari ketiadaan ini adalah keburukan yang hadir dalam perkara-perkara di alam materi. Sumbernya adalah kekurangan dan kelemahan dalam potensi-potensi makhluk-materi, namun kelemahan potensi ini tidak sama untuk setiap makhluk-materi, melainkan memiliki tingkatan-tingkatan dan bergradasi. Yang dimaksud di sini, sumber dari bentuk ketiadaan-ketiadaan ini yang adalah keburukan, bukanlah dari Wujud Suci Ilahi dan mustahil dinisbahkan kepada Realitas-Nya; karena sebab ketiadaan adalah sesuatu yang sama dengan ketiadaan itu sendiri (sebab ketiadaan adalah ketiadaan itu sendiri), sebagaimana sebab keberadaan (sebab wujud makhluk) adalah keberadaan lain (wujud Tuhan), bukan ketiadaan.

Dengan demikian, sesuatu yang berada dalam perkara-perkara seperti ini (ketiadaan-kepemilikan atau ketiadaan-terhubung) adalah bersama dengan keburukan (ketiadaan kesempurnaan) yang menjadi obyek kalimat penciptaan iradah Ilahi (kalimat kun fa yakun) dan qadha (ketentuan) Ilahi juga secara esensial mencakupinya sebesar keluasan wujudnya. Dengan ungkapan lain, dia memiliki potensi dan kapabilitas pengambilan-wujud (yakni potensi dalam menerima kesempurnaan yang layak dimilikinya), yang ini sebagaimana yang dikatakan: Tuhan menciptakan (dalam zat dan ilmu-Nya), iradah Ilahi mewujudkannya (dalam perbuatan dan kehendak-Nya), dan terpancar (terhempaskan) dari qadha Ilahi. Namun, ketiadaan-ketiadaan (keburukan-keburukan) yang bersama dengannya tidak ternisbahkan kepada Tuhan, melainkan lebih tersandarkan kepada ketiadaan potensi dan kapabilitasnya dan kelemahan bakatnya. Tapi mengapa ketiadaan-ketiaadan (keburukan-keburukan) itu kita pandang sebagai sesuatu-yang-tercipta (makhluk) secara langsung dan meletakkannya sebagai obyek penciptaan dan perwujudan Tuhan? Dikarenakan bahwa ketiadaan-ketiadaan (keburukan-keburukan) ini bercampur dan bersatu dengan besarnya keberadaan-keberadaan (keburukan itu “bercampur” dan “bersatu” secara potensial dengan keluasan wujud-wujud makhluk yang beragam dan bergradasi).[2][3] [iQuest]

 

Indeks Terkait:

Pertanyaan nomor 8541 (Site: id8543).

 


[1] .Muhammad Husain Thabathabai, Nihâyat al-Hikmah, Ali Syirwani, jil. 3, hal. 352, Bustan-e Kitab, Cetakan Keenam, Qum, 1384 S.

[2] . Muhammad Husain Thabathabai`, Tafsir al-Mizân, Penerjemah Persia, Musawi Hamadani,  jil. 13, hal. 259, Jami’ah Mudarrisin, Cetakan Kelima, Qum, 1374 S.

[3] . Yang dapat disandarkan kepada Tuhan adalah wujud makhluk yang ada secara aktual, sementara keburukan yang ada pada setiap makhluk masih bersifat potensi, dan sesuatu yang potensi disamakan dengan tiada, karena itu, sesuatu yang tiada mustahil bisa dinisbahkan kepada sesuatu yang berwujud.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Bagaimana hubungan antara ruh dan badan?
    24109 Filsafat Islam 2011/07/16
    Sekaitan dengan hubungan antara ruh dan badan harus dikatakan bahwa badan merupakan salah satu tingkatan dari beberapa tingkatan nafs dan ruh. Atas dasar itu, pada hakikatnya, badan berada pada jiwa dan ruh bukan ruh yang terdapat pada badan; karena berdasarkan Filsafat Hikmah, dengan ...
  • Apakah sah hukumnya menggunakan dua turbah untuk sujud?
    7668 Hukum dan Yurisprudensi 2011/11/21
    Tempat sujud bagi orang yang mengerjakan salat tidak boleh lebih di atas atau lebih di bawah dari empat jari tertutup dari tempat kedua lututnya...”[1] Karena itu apabila ketinggian dua turbah tidak lebih dari empat jari tertutup maka orang yang mengerjakan salat dapat sujud di atas dua ...
  • Apakah Anda punya tips bagaimana caranya untuk menghindar supaya tidak banyak tertawa khususnya pada bulan Muharram dan Shafar?
    9050 Majelis Duka dan Ziarah 2012/05/10
    Menangis dan tertawa adalah sejenis luapan perasaan dan afeksi batin manusia. Hal ini merupakan tanda-tanda natural dan proses keseimbangan mental manusia. Karena itu, setiap orang harus sampai pada tingkatan matang dan mempelajari adab-adab tertawa dan mengekspresikan kebahagian sehingga tertawa dan luapan kegembiraan menjadi sebuah sifat mulia bagi ...
  • Apa saja kemiripan-kemiripan yang dimiliki oleh Imam Zaman dengan para nabi menurut kitab Mikyâl al-Makârim?
    15576 Tipologi dan Keunggulan Sifat 2012/09/19
    Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan tentang terdapatnya banyak kemiripan-kemiripan fisik dan spiritual yang dimiliki oleh Imam Mahdi Ajf dengan sebagian dari para nabi. Sebagian dari kemiripan-kemiripan ini telah dikumpulkan dalam kitab Mikyâl al-Makârim sebagaimana berikut: Sejumlah dari kemiripan-kemiripan tersebut terdapat pada kitab Mikyâl al-Makârim dan sebagiannya ...
  • Mengapa kita membantu Irak padahal kita sendiri sangat membutuhkan. Masyarakat kita sendiri kesusahan menghadapi harga-harga mahal dan barang-barang langka di pasar?
    7825 Filsafat Politik 2011/05/18
    Pertama: Asas pelbagai bantuan Republik Islam Iran ke negara-negara Muslim adalah bantuan-bantuan moril bukan bantuan-bantuan material dan finansial. Kedua: Apabila terdapat juga bantuan-bantuan materil dan finansial ke negara-negara Muslim lainnya maka hal itu memiliki banyak pengaruh dan manfaat material dan spritual sebagaimana berikut: ...
  • Tolong sebutkan bagi saya sebuah doa untuk menemukan pasangan yang cocok dan bertakwa.
    15542 دعا 2012/09/10
    Allah Swt menjadikan setiap pekerjaan memiliki sebab-sebab tertentu sedemikian sehingga setiap pekerjaan hanya akan memperoleh hasil apabila dikerjakan melalui kanal-kanal sebabnya. Untuk memperoleh jodoh dan pasangan idaman juga demikian caranya. Cara untuk mendapatkan istri idaman memerlukan penelitian dan pengenalan yang tepat dan akurat. Tentu saja ...
  • Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
    30335 Hukum dan Yurisprudensi 2010/06/20
    Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan ...
  • Shalat Tahiyyat Masjid Jamkaran
    7479 Hukum dan Yurisprudensi 2011/08/10
    Ibadah dan doa-doa adalah bersifat tauqifi (sudah dari sananya). Artinya bahwa masing-masing dari ibadah dan doa-doa ini memiliki efek yang bersandar padanya. Seluruh amalan dan doa yang dikerjakan sesuai dengan apa yang diinginkan sebagaimana dokter yang memformulasikan obat bagi pasiennya dan berkata kepadanya bahwa Anda harus meminum obat ...
  • Apa dasar-dasar teologi Mahdawiyat?
    8252 Teologi Lama 2009/09/22
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah orang-orang beriman akan mendapatkan kenikmatan alam kubur dan orang-orang kafir akan dihajar dengan azab kubur?
    21065 Teologi Lama 2009/12/08
    Syaikh Mufid dalam kitab Awâil al-Maqâlat-nya, membagi manusia menjadi empat bagian berdasarkan keyakinan dan amal-perbuatan mereka:1.     Orang-orang beriman yang bertakwa2.

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    267536 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    249185 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232312 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219291 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178671 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173369 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170496 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161750 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144192 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136237 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...