Advanced Search
Hits
21424
Tanggal Dimuat: 2012/04/03
Ringkasan Pertanyaan
Apa penafsiran ayat 9 surah al-Jin?
Pertanyaan
Apa penafsiran ayat 9 surah al-Jin?
Jawaban Global

Para ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini dan ayat-ayat semisalnya mengemukakan pandangan yang berbeda-beda. Kebanyakan para ahli tafsir masa lalu dalam menafsirkan ayat ini tetap bersikeras memelihara lahir ayat, namun demikian Alusi dalam tafsirnya, Ruh al-Ma’âni, melontarkan beberapa kritikan atas jenis penafsiran seperti ini dan kemudian membeberkan jawabannya.

Sebagian juga (seperti penulis kitab tafsir Fi Zhilal) tidak membahas ayat ini secara serius karena menurutnya ayat-ayat ini dan semisalnya adalah realitas-realitas yang tidak dapat dicerap oleh manusia. Sebagian lainnya, melampaui lahir-lahir ayat dan berkata bahwa yang dimaksud dengan “langit” yang merupakan tempat kedudukan para malaikat adalah sebuah alam malakut dan metafisika, lebih tinggi dari alam empirik dan indrawi ini.

Dan yang dimaksud dengan dekatnya para setan terhadap langit ini untuk mendengarkan diam-diam dan melemparkan meteor-meteor adalah bahwa mereka ingin mendekat kepada alam para malaikat dalam rangka mengetahui pelbagai rahasia penciptaan dan peristiwa yang akan terjadi di masa akan datang, namun para malaikat, mengusir setan dengan menggunakan cahaya-cahaya maknawi malakuti yang dimilikinya.

Jawaban Detil

Ayat 9 surah al-Jin (72) menukil perkataan kaum Jin menjelaskan, “Dan  sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengarkan (berita-beritanya). Tetapi barang siapa sekarang yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu), tentu ia akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”[1]

Sebelum menjelaskan tafsiran ayat ini kiranya kita perlu mengetahui beberapa kata kunci sebagai berikut:

Pertama: Istiraq al-sam’a. Istiraq berasal dari kata dasar “sa-r-qat” yang bermakna mencuri.[2] Sarqat bermakna tindakan mengambil secara diam-diam harta seseorang dan pemilik harta tersebut tidak mengetahui bahwa hartanya telah dibawa kabur. Adapun istiraq al-sam’a bermakna mencuri perkataan; artinya tatkala dua orang berbicara secara perlahan supaya tiada orang lain yang mengetahuinya, seseorang mendengarkan secara diam-diam omongan keduanya dan perbuatan ini termasuk sebagai perbuatan dosa besar.”[3]

Kedua: Syahab yang secara leksikal bermakna percikan api yang menjulur.”[4]

Ketiga: Rashad. Rashad secara leksikal bermakna bersiap untuk berjaga-jaga pada jebakan dan penjebak.[5]

Kandungan ayat ini disebutkan pada dua surah lainnya dalam al-Qur’an:

Pertama: Surah al-Shaffat, “Kecuali barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) dalam sekejap; lalu ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.”[6]

Kedua: Surah al-Hijr, “Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.”[7]

Sehubungan dengan ayat pada surah al-Jin dan demikian juga dua ayat lainnya, para ahli tafsir berbeda-beda menafsirkan ayat-ayat ini. Di antara penafsiran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sebagian seperti penulis Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dengan mudah melewati ayat-ayat ini dan menyatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah hakikat-hakikat yang tidak mungkin bagi manusia untuk dapat mencerapnya. Kita harus mengerjakan apa yang berpengaruh pada amalan nyata kita dalam kehidupan ini. Ia mencukupkan dengan tafsiran secara global dari ayat-ayat ini dan tidak memaparkan masalah ini dengan baik.

Ia mengakui bahwa ia tidak dapat memahami hakikat-hakikat ini. Katanya, “Setan dan bagaimana ia mendengarkan diam-diam dan apa yang didengarkan oleh setan? Merupakan urusan gaib Ilahi yang tidak dapat ditelusuri pada nash-nash dan membahas masalah tersebut tidak akan membuahkan hasil. Karena hal tersebut tidak akan menambah apa pun pada keyakinan-keyakinan kita selain menyibukkan pikiran manusia dengan sebuah masalah yang sama sekali tidak bersangkutan dengannya secara khusus dan menahannya untuk melakukan amalan hakikinya dalam kehidupan ini dan tidak ada hasilnya.”[8]

Ayatullah Makarim Syirazi, penyusun Tasfir Nemune (Tafsir al-Amtsal), dalam menyanggah tafsiran ini berkata, “Tentu saja kita tidak boleh ragu bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab besar pencetak manusia, kitab pendidik dan kitab kehidupan. Apabila terdapat sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan manusia tentu saja tidak akan disampaikan dalam al-Qur’an. Seluruh yang terkandung dalam al-Qur’an adalah pelajaran kehidupan, karena al-Qur’an adalah cahaya dan kitab yang nyata yang diturunkan untuk dipahami dan direnungi serta dijadikan petunjuk bagi manusia. Lantas bagaimana mungkin memahami ayat ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan kita? Bagaimanapun kita harus bersikap seperti ini dalam menghadapi ayat-ayat seperti ini dan semisalnya.”[9]

 

  1. Sekelompok besar ahli tafsir, terkhusus Ayatullah Makarim Syirazi berkukuh untuk memelihara makna lahir ayat-ayat. Ia berkata, “Samâ” menengarai tentang langit dan syahab menyinggung tentang meteor (bebatuan yang berputar di angkasa dan terkadang berada pada kawasan gravitasi bumi dan kemudian tertarik ke bumi. Karena kecepatan dan tabrakan dengan gelombang-gelombang udara, ia akan menjadi panas, membara dan memercikkan api kemudian menjadi debu) dan setan adalah makhluk rendah pembangkang yang pergi ke langit-langit dan ingin mendengarkan secara diam-diam sejumlah berita di alam yang kita huni lalu disampaikan kepada teman-temannya di bumi. Adapun meteor-meteor adalah laksana anak panah yang dilesakkan ke arah mereka dan menahan mereka supaya tidak tercapai tujuannya.[10]

Alusi dalam Ruh al-Ma’âni setelah menyebutkan tafsiran lahir, melontarkan kritikan dengan memperhatikan astronomi kuno, ihwal langit-langit yang berlapis-lapis laksana bawang dan semisalnya, menjelaskan hal ini dan menjawabnya. Untuk memperoleh pelbagai penjelasan yang disampaikan oleh Alusi, kami persilahkan Anda untuk merujuk pada Ruh al-Ma’âni karya Alusi.[11]

 

  1. Awal ayat 9 surah al-Jin meski telah disandingkan dengan ayat sebelumnya, makna ini dapat disimpulkan bahwa, “Penuhnya langit dengan para penjaga kuat diberlakukan belakangan sementara sebelumnya tidaklah demikian. Sebelumnya para jin dengan leluasa naik ke langit dan duduk di sebuah tempat dimana berita-berita gaib dan ucapan-ucapan para malaikat disampaikan.” Dan kelanjutan ayat digunakan huruf “fa tafri’ (pencabangan), “faman” (barang siapa) dapat disimpulkan bahwa para jin ingin mengatakan bahwa semenjak hari ini barang siapa dari kita yang ingin mendengarkan pada tempat-tempat sebelumnya di langit, ia akan menemukan anak panah-anak panah api yang berada dalam busur dan siap dilepaskan.

Walhasil, dari sekumpulan ayat yang berkaitan dengan peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa para jin berbenturan dengan sebuah peristiwa langit, sebuah peristiwa baru yang terjadi bersamaan dengan turunnya al-Qur’an dan pengutusan Nabi Pamungkas Saw, dan hal itu bahwa seiring dengan pengutusan Rasulullah Muhammad Saw, para jin kemudian dilarang untuk menyampaikan berita-berita gaib langit dan mendengarkan diam-diam untuk memperoleh berita tersebut.[12]

Allamah Thabathabai pada tempat lain berkata, “Apa yang mungkin dapat disampaikan di sini adalah bahwa penjelasan-penjelasan seperti ini pada kalam Ilahi merupakan sebuah permisalan untuk menjelaskan realitas-realitas non-empirik dalam busana empirik, sebagaimana Allah Swt berfirman, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut [29]:43) dan ungkapan-ungkapan serupa seperti ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an seperti arsy, kursi, lauh dan kitab.

Dengan demikian, kita dapat simpulkan bahwa yang dimaksud dengan langit yang menjadi tempat kedudukan para malaikat adalah sebuah alam malakuti dan metafisika yang lebih tinggi dan unggul dari alam nasut dan fisika ini. Adapun yang dimaksud dengan mendekatnya setan-setan ke langit ini untuk mendengarkan diam-diam dan pelontaran anak panah-anak panah kepada mereka karena mereka ingin mendekat pada dunia para malaikat untuk mencari tahu rahasia-rahasia penciptaan dan berita tentang pelbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, namun mereka menolak para setan dengan cahaya-cahaya malakuti yang mereka miliki yang tidak kuasa ditahan oleh para setan.[13]

Apa yang telah disampaikan di atas adalah beberapa penafsiran yang berbeda dan nampaknya merupakan penafsiran dan pendapat yang masyhur dalam penafsiran ayat ini dan ayat-ayat yang semisal dengannya. [iQuest]

 

 


[1]. (Qs. Al-Jin [72]:9)

«وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْها مَقاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهاباً رَصَداً»

[2]. Lisân al-‘Arab, jil. 10, hal. 156.  

[3]. Sayid Abdul Husain Thayyib, Athyâb al-Qur’ân, jil. 8, hal. 20, Intisyarat Islam, Cetakan Kedua, Teheran, 1378 S.   

[4]. Raghib Isfahani, Mufradât fi Gharib al-Qur’ân, jil. 1, hal. 465. 

[5]. Qâmus Qur’ân, jil. 3, hal. 101.  

[6]. (Qs. Al-Shaffat [37]:10)

"إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهابٌ ثاقِبٌ".

 

[7]. (Qs. Al-Hijr [15]:18)

 

"إِلاَّ مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهابٌ مُبينٌ".

 

[8]. Sayid bin Quthb Syadzali, Tafsir fi Zhilâl al-Qur’ân, jil. 4, hal. 213,  Nasyir Dar al-Syuruq, Cetakan Ketujuh Belas, Beirut, 1412.

[9]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 11, hal. 43, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, Teheran, 1374.  

[10]. Ibid.

[11].  Sayid Mahmud Alusi, Ruh al-Ma’âni, jil. 7, hal. 270, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, Beirut, 1415 H.

[12].  Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, jil. 20, hal. 64.

[13]. Ibid, jil. 17, hal. 186-187. 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...