Advanced Search
Hits
14249
Tanggal Dimuat: 2012/05/09
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana pandangan al-Quran dan riwayat terkait dengan kematian ikhtiari?
Pertanyaan
Apa yang dimaksud dengan kematian ikhtiari? Mohon jawab dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat yang ada?
Jawaban Global

Mungkin dapat dikatakan bahwa faktor utama mengemukanya istilah “kematian ikhtiari” dalam dunia Irfan adalah bersumber dari sabda Rasulullah Saw yang menyatakan, “Mutû qabla an tamutû.” (Matilah [engkau] sebelum mati). Dalam sabda ini, mutu (matilah) yang pertama bermakna kematian dan mengemuka sebagai sebuah perbuatan ikhtiari dan tamutu (kematian kedua) bermakna wafat (faut) yaitu kematian yang telah menjadi ketetapan dan suratan takdir bagi setiap orang.

Dalam al-Quran berulang kali disebutkan tentang harapan kematian yang dijadikan sebagai kriteria nyata bagi orang-orang yang mengaku cinta dan ikhlas sedemikian sehingga para arif memandang ayat-ayat ini sebagai ajakan untuk menjemput kematian ikhtiari karena Allah Swt menyeru orang-orang yang mengklaim mencintai-Nya dan menjadikannya sebagai kriteria kecintaan Ilahi.

Dalam Irfan praktis disebutkan tentang beberapa pendahuluan, tingkatan dan jenis kematian ikhtiari dimana pada akhirnya mengantarkan pesuluk pada makam kematian sempurna; tingkatan ini secara runut adalah: “Maut al-abyadh” (Kematian putih) yaitu menanggung rasa lapar dan memperoleh cahaya hati, “maut al-Akhdhâr (kematian hijau) yaitu hidup sederhana dan makam fakir. “Maut al-Ahmâr” (Kematian merah) yaitu perang pesuluk dengan nafsunya, dan “Maut al-Aswâd (kematian hitam) yaitu menanggung beban teguran (yang berisi penghinaan) dan kejenuhan, penderitaan dan pelbagai tuduhan. Para arif banyak memberikan penjelasan dalam mengurai dan mengulas empat tingkatan kematian ikhtiari ini yang telah disebutkan pada tempatnya.

Demikian juga, salah satu makam irfani yang memiliki sisi lain dari istilah “kematian ikhtiari” adalah khal’-e badan (melucuti badan). Artinya pesuluk melangkah lebih tinggi dari kematian dan badan baginya laksana pakaian yang dapat kapan saja apabila ia mau ia lepaskan dan tanggalkan. Tingkatan ini meniscayakan terlepasnya secara sempurna ruh dari pelbagai kecendrungan nafsu dan sampai pada makam tajrid (non-material) dan puncaknya berakhir pada makam fana.

Jawaban Detil

Pendahuluan

Kematian dan secara khusus “kematian ikhtiari” dalam beberapa riwayat, Filsafat, Irfan dan pelbagai dispilin ilmu digunakkan dalam beberapa makna khusus, meski kesemuanya pada akhirnya menyinggung tentang hakikat tunggal, namun masing-masing membahas masalah ini dari pelbagai sisi; di samping itu kematian ikhtiari memiliki tingkatan sendiri, sebagaimana mencakup beberapa pendahuluan (prolog) dan akhir (epilog) namun seluruh tingkatan ini disebut sebagai kematian ikhtiari.

Secara asasi, kematian itu sendiri merupakan sebuah hakikat irfani yang berlangsung dan terjadi dalam penciptaan dan seni kematian (the art of dying) merupakan seni tertinggi irfan dan fitrah; hal itu bermakna bahwa orang yang telah dapat melakukan kematian ikhtiari artinya ia telah fana dari dirinya dan tetap (baqa) pada kehidupan yang lebih unggul dalam tingkatan-tingkatan penciptaan sehingga perkara ini menjadi asas gerakan fitri dan menjulangnnya makhluk-makhluk di alam semesta menuju kesempurnaan Ilahi dan tingkatan yang lebih tinggi dari kehidupan.

  1. Kematian Ikhtiar dalam al-Quran dan Riwayat

Mungkin dapat dikatakan bahwa faktor utama mengemukanya istilah “kematian ikhtiari” dalam dunia Iran bersumber dari sabda Rasulullah Saw yang menyatakan, “Mutû qabla an tamutû.”[1] (Matilah [engkau] sebelum mati). Dalam sabda ini, mutu (matilah) yang pertama bermakna kematian dan mengemuka sebagai sebuah perbuatan ikhtiari dan tamutu (kematian kedua) bermakna wafat (faut) yaitu kematian yang telah ditetapkan bagi setiap orang.

Dalam al-Quran berulang kali disebutkan tentang harapan kematian yang dijadikan sebagai kriteria nyata bagi orang-orang yang mengaku cinta dan ikhlas. Allah Swt berfirman, “Katakanlah, “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mengaku bahwa hanya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematian (supaya kamu dapat berjumpa dengan kekasihmu itu), bila kamu adalah orang-orang yang benar.”[2]

Kebanyakan arif memandang ayat-ayat ini sebagai ajakan untuk menjemput kematian ikhtiari karena Allah Swt menyeru kepada orang-orang yang mengklaim mencintai-Nya dan menjadikannya sebagai kriteria kecintaan Ilahi.

Pada ayat lainnya juga mengemuka tentang orang-orang munafik bahwa sekiranya turun perintah dari Allah Swt supaya mereka membunuh dirinya sendiri, maka mereka tidak akan melakukannya kecuali segelintir orang, “Maka Kami jadikan siksa tersebut sebagai peringatan bagi orang-orang (yang hidup) di masa itu dan generasi yang datang kemudian, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”[3]

Imam Shadiq As dalam Misbâh al-Syariat menyatakan bahwa syarat pertama suluk (perjalanan spiritual) adalah kesiapan untuk menyambut kematian. Beliau berkata kepada salik (pesuluk) di jalan kebenaran, “Perhatikanlah wahai orang-orang beriman. Apabila kondisimu adalah kondisi yang engkau ridhai atas kematian maka bersyukurlah kepada Allah Swt atas taufik dan penjagaannya lantaran kalau bukan karena Dia maka dengan tekad bulat engkau akan keluar dari kondisi seperti ini.”  Karena itu, pesuluk di jalan kebenaran sangat jelas dalam klaim-klaim kriteria yang diajukan dan kriteria itu adalah keinginan untuk mati. Raja para arif, Imam Ali As, lebih terdepan dari semua manusia dalam hal ini. Beliau bersabda, “Demi Allah! Kecintaan Ali kepada kematian lebih besar daripada kecintaan bayi terhadap ASI ibunya.”[4]

Pada hakikatnya orang-orang ini sebelumnya telah mati dan tiada lagi. Mereka mati oleh panah asmara cinta dan sampai pada makam penyaksian batin; karena terbunuh oleh teman lebih tinggi kedudukannya ketimbang terbunuh oleh musuh. Demikian juga dalam hadis Qudsi yang terkenal disebutkan, “Barang siapa yang menghendaki-Ku mereka akan menemukan-Ku. Barang siapa yang menemukan-Ku akan mengenal-Ku dan barang siapa mengenal-Ku akan mencintai-Ku dan barang siapa maka ia akan menjadi pecinta dan barang siapa yang menjadi pecinta-Ku, Aku akan menjadi Pecintanya. Barang siapa yang Aku adalah Pecintanya maka Aku akan membunuhnya dan barang siapa yang Aku bunuh maka diyatnya berada dalam tanggunganku. Barang siapa yang Aku tanggung diatnya maka Akulah yang menjadi penebus darahnya.”

  1. Beberapa Tingkatan dan Jenis Kematian dalam Irfan

Para arif menyebutkan beberapa pendahuluan, tingkatan dan jenis kematian ikhtiari yang pada akhirnya akan mengantarkan pesuluk pada makam kematian sempurna; tingkatan ini secara runut adalah:

  1. Maut al-Abyâdh (Kematian putih) yang merupakan cahaya hati.
  2. Maut al-Akhdhâr (Kematian hijau) yaitu hidup sederhana dan makam fakir.
  3. Maut al-Ahmâr (Kematian merah) yaitu perang pesuluk dengan nafsunya yang disebut sebagai jihad akbar. Karena kemestian terbunuh pada medan jihad adalah tumpahnya darah karena itulah kematian ini disebut sebagai kematian merah.
  4. Maut al-Aswâd (kematian hitam) yaitu menanggung beban teguran (berisikan penghinaan) dan kejenuhan, penderitaan dan pelbagai tuduhan. Para arif banyak memberikan penjelasan dalam mengurai dan mengulas empat tingkatan kematian ikhtiari ini yang telah disebutkan pada tempatnya.[5]

Penjelasan lebih tepat dan lebih jelas dari keempat kematian ikhtiari ini adalah bahwa pesuluk selama ia belum mati (kematian pertama – merah) maka ia tidak akan sampai kepada Tuhan dan tidak menemukan keabadian. Sepanjang ia tidak merasakan penderitaan lapar (kematian kedua) maka ia tidak akan melintasi, meraih kepuasan dan merasakan kelezatan dari Tuhan. Sepanjang ia tidak merasakan terinjak-injaknya wibawa (kematian ketiga) maka ia tidak akan sampai pada identitas esensial dan makna wujud. Dan sepanjang ia tidak mengabaikan orang-orang yang dicintainya maka ia tidak akan pernah menjadi ahli hati (kematian keempat – putih).[6]

Para arif banyak memberikan penjelasan dalam mengurai dan mengulas empat tingkatan kematian ikhtiari ini yang telah disebutkan pada tempat dan gilirannya tersendiri.

  1. Melucuti Badan

Salah satu makam irfani yang memiliki sisi lain dari istilah “kematian ikhtiari” adalah khal’-e badan (melucuti badan). Artinya pesuluk melangkah lebih tinggi dari kematian dan badan baginya laksana pakaian yang dapat kapan saja apabila ia mau ia lucuti dan tanggalkan. Arif dalam makam ini secara asasi lebih tinggi dari jasmaninya.

Menurut Syaikh Isyraq, melebihi orang lain, menggunakan istilah ini, “Sesorang tidak dapat dipandang sebagai filosof Ilahi sehingga badannya dapat dengan mudah ia tanggalkan sebagai pakaiannya atau ia kenakan pada badan kemudian sesuai dengan kehendaknya ia melesak dalam cahaya.”[7]

Demikian juga pada tempat lain disebutkan, “Sebesar-besar kepemilikan inheren irfani adalah kepemilikian kematian sedemikian sehingga cahaya sama sekali terlepas dari kegelapan dan meski ruh masih mengikut pada badan namun demikian ia akan sampai pada alam cahaya dan mengikut pada cahaya-cahaya benderang yang menyaksikan seluruh hijab-hijab cahaya.[8]

Redaksi serupa dengan ungkapan ini juga disebutkan dalam munajat Sya’baniyah, “Tuhanku! Anugerahkan kepadaku ketergantungan sempurna kepadamu.. sehingga pandangan-pandangan hati menyibak hijab-hijab cahaya dan memperoleh tambang agung dan arwah mengikut pada keagungan suci-Mu.”[9]

Di sini perlu disebutkan bahwa pada kebanyakan irfan-irfan baru dan ilmu-ilmu ruh, terpisahnya ruh dari badan sebuah sebuah tujuan yang ingin dicapai yang secara teknis disebut sebagai perjalanan ruh: yang dalam pandangan Filsafat dan Irfan dalam ilmu-ilmu islam fenomena ini sejatinya mengisakan terpisahkan badan imaginal dari badan material.

Dalam proses perjalanan ruh, badan imaginal pembawa ruh yang dengan kehendak orang itu sendiri dalam kondisi yang mirip dengan tidur atau tanpa kehendak melalui dikte orang lain ruhnya akan terpisah dari badannya. Namun berbeda dengan fenomena ini, masalah melucuti badan dalam Irfan Islam menyebutkan ketidakbutuhan ikhtiari ruh terhadap badan.[10] Ketidakbutuhan ini terkadang terjadi dalam tempo beberapa detik dan terkadang berulang-ulang dan lain waktu berlaku secara permanen. Tingkatan ini merupakan salah tingkatan sair dan suluk yang diperoleh setelah melintasi tingkatan-tingkatan penyucian jiwa dan memindahkan sesuatu dari dalam diri atau orang lain untuk sampai pada sebagian hal-hal gaib. Tingkatan seperti ini merupakan tingkatan yang sejatinya berada di luar kategori Irfan Islam.[11]

Apa yang telah dijelaskan bahwa kematian ikhtiari dan pada akhirnya melepaskan badan dalam Irfan Islam merupakan hasil dari terlepasnya secara sempurna ruh dari pelbagai kecendrungan nafsu dan sampai pada makam tajrid (non-material) dan puncaknya berakhir pada makam fana. [iQuest]

 


[1].  Bihâr al-Anwâr, jil. 69, hal. 57.

[2]. (Qs Al-Jumuah [62]:6)

"قُلْ يا أَيُّهَا الَّذينَ هادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِياءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صادِقين‏"

[3]. (Qs. Al-Nisa [4]:66)

"وَ لَوْ أَنَّا كَتَبْنا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ ما فَعَلُوهُ إِلاَّ قَليلٌ مِنْهُمْ وَ لَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا ما يُوعَظُونَ بِهِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ وَ أَشَدَّ تَثْبيتاً"

[4]. Bihâr al-Anwâr, jil. 71, hal. 5.

"وَ اللَّهِ لَابْنُ أَبِي طَالِبٍ آنَسُ بِالْمَوْتِ مِنَ الطِّفْلِ بِثَدْيِ أُمِّهِ "

[5]. Diadaptasi dari Syarh ‘Uyûn Masâil al-Nafs, Hasan Zadeh Amuli, hal. 154.  

[6].  Ali Akbar Khanjai, Hikmat-e Nuri (Isyrâq), Fashl Marg-e Sefid (Qiyâmat-e Del), hal. 41.

[7]. Syarh Hikmat al-Isyrâq Suhrawardi, Abdullah Nuri – Mahdi Muhaqqiq, Teheran, Anjuman Atsar wa Mafakhir Farhanggi, 1383 S.

"لایعد الانسان من المتألهین ما لم یصر بدنه کقمیص یخلعه تارة و یلبسه اخری، ثم اذا شاء عرج الی النور"

[8]. Ibid, hal. 531.

"و اعظم الملکات ملکة موت ینسلخ النور المدبر عن الظلمات انسلاخاً و ان لم یخل عن بقیة علاقة مع البدن، الا انه یبرز الی عالم النور و یصیر متعلقا بالانوار القاعرة و یری الحجب النوریة کلها"؛

[9]. Bihâr al-Anwâr, jil. 91, hal. 98.  

[10]. Karena itu, proses perjalanan ruh sebagai sebuah fenomena spiritual dan merupakan hasil yang diperoleh setelah melewati tingkatan-tingkatan tazkiyah nafs (penyucian jiwa) tidak akan memberi pengaruh pada kesempurnaan spirtual seseorang – meski perkara ini terjadi pada sebagian pesuluk – dan masalah khal-‘e badan dan kematian ikhtiari dalam artian sesungguhnya adalah sebuah perkara yang lebih tinggi dari sekedar proses perjalanan ruh; lantaran hasil perubahan eksistensial secara sempurna pada seorang arif membawanya secara totalitas melesak lebih tinggi dari jasmani; karena itu badan material sebagai akibat manifestasi spiritual dihukumi sebagai hijab yang tebal yang setiap detik dapat dilepaskan dan hal ini merupakan derajat tertinggi Irfan yang disebut sebagai khal-’e badan oleh Syaikh Isyraq. Ia meyakini bahwa hanya segelintir orang filosof yang dapat meraih makam ini.  

[11]. Demikian juga lahirnya kondisi ini lantaran adanya dualisme yang sangat tinggi antara jasmani dan ruh yang boleh jadi disertai dengan rasa takut dan azab serta secara praktis berubah menjadi sebuah penyakit. Kondisi seperti ini adalah sebuah kondisi yang berada di luar makam-makam irfani.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah dalam riwayat-riwayat kita dicegah untuk mandi setiap hari, dan apakah hal itu bias menyebabkan penyakit TBC?
    11957 Dirayah al-Hadits 2013/06/22
    Ada riwayat sahih yang dinukil dari Imam Ridha As yang melarang kita untuk mandi setiap hari. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa mandi setiap hari dapat menyebabkan penyakit sill (TBC). Namun dengan berbagai pertimbangan, sebenarnya riwayat itu dapat diartikan begini: bahwa sering mandi setiap hari dapat membuat kurus ...
  • Bagaimana tiadanya ilmu para malaikat terhadap nama-nama Tuhan dan kedudukan tinggi mereka dapat disandingkan?
    12606 Tafsir 2011/01/13
    Alam non-materi di antaranya para malaikat memiliki beberapa tipologi yang ketika diketahui maka akan dapat banyak membantu menjawab banyak pertanyaan yang terkait keberadaan para malaikat. Adapun tipologi tersebut adalah :1.     Entitas mereka adalah entitas aktual ...
  • Bagaimana model ideal manusia dalam sistem dinamis Rahmani?
    12185 Filsafat Islam 2011/10/22
    Pertanyaan ini merupakan penjelasan lain dari masalah negara ideal (madinah fadhilah) atau ideologi pembebasan. Negara ideal Plato merupakan model ideal manusia paling lama dan paling terkenal yang diungkapkan dalam Republika. Dalam kosmos Islam, filosof seperti Farabi dalam Ârâ Ahl al-Madinah al-Fâdhilah
  • Apakah Allah Swt dapat menciptakan sebuah entitas atau makhluk yang Dia sendiri tidak mampu lenyapkan?
    9441 پروردگار. نامها و ویژگی ها 2013/03/09
    Meski kekuasaan dan kodrat Tuhan bersifat umum, namun terkait dengan hal-hal yang memiliki kemungkinan dan kapasitas untuk mewujud; karena itu, seseuatu yang secara esensial sifatnya tercegah (mumtani’) atau meniscayakan absurditas tidak akan terkait dengan kodrat, sementara mustahil Allah Swt menciptakan sesuatu yang Dia sendiri tidak mampu lenyapkan; ...
  • Apakah dalam surga juga terdapat hukum-hukum fikih?
    8639 بیشتر بدانیم 2014/01/27
    Kiranya poin ini perlu diperhatikan bahwa kita tak dapat memperoleh penjelasan lain kecuali melalui wahyu serta ungkapan-ungkapan para maksum yang sampai pada kita terkait dengan mengenai persoalan-persoalan alam akhirat dan keadaan surga neraka. Jawaban atas pertanyaan di atas juga tidak disebutkan secara tegas dalam teks-teks agama. Akan ...
  • Apa hukumnya jika kita menikah dengan anak saudara perempuan seayah?
    16200 Hal-hal Yang Diharamkan Dalam Pernikahan 2013/11/23
    Apabila maksud Anda dengan anak saudara perempuan (anak saudari perempuan yang seayah) adalah seseorang yang sejatinya adalah pamannya sendiri maka pernikahan dengan kemenakan itu batal dan harus segera berpisah. Apabila mereka tidak mengetahui hukum persoalan ini,maka anak-anak yang lahir dari keduanya dihukumi sebagai walad al-syubha dan bukanlah ...
  • Apakah haram mengkonsumsi permen karet-permen karet yang mencantumkan nama Sugar Alcohol dalam kemasannya?
    14381 Hukum dan Yurisprudensi 2012/01/19
    Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Apabila alkohol yang digunakan adalah alkohol yang memabukkan dan aslinya cair, mengikut prinsip ihtiyath, maka alkohol tersebut adalah najis dan apabila (Anda) ragu maka alkohol tersebut dihukum suci. Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Tidak ada masalah ...
  • Bagaimana hubungan yang terjalin antara nafs, ruh, jiwa, akal, pikiran dan fitrah?
    39915 Filsafat Islam 2011/06/29
    Terkadang yang dimaksud atas beberapa redaksi dan kalimat ini adalah satu dan seluruhnya menyinggung satu hakikat yaitu entitas dan realitas manusia; terkadang juga dimaksudkan untuk ragam makna dan masing-masing dari redaksi dan kalimat ini menyoroti masalah tingkatan dan derajat-derajat jiwa manusia. ...
  • Apa sisi umum pelbagai pemerintahan dan revolusi agama seperti Mesir dan Tunisia?
    7814 System 2011/05/18
    Sisi umum pelbagai pemerintahan religius adalah penegakan dan realisasi nilai-nilai agama yang merupakan masalah fitrah kemanusiaan. Karena rakyat negara-negara seperti Tunisia dan Mesir menyadari bahwa dengan Islam mereka dapat merealisir segala tuntutan ekonomi dan politik mereka, kemudian mereka bangkit melakukan demonstrasi dan revolusi. Pesan revolusi Islam ...
  • Siapakah nama neneknya Nabi Muhammad??
    75811 Sejarah Para Pembesar 2013/11/23
    Nama nenek Nabi Muhammad Saw dari jalur ayah adalah Fatimah binti Amru bin Aidz bin Imran bin Makhzun.[1] Adapun nama nenek Nabi Saw dari jalur ibu yaitu ibunda Aminah binti Abdul Aziz bin Utsman bin Abdudar bin Qasha.[2] [iQuest]

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266537 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248929 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232097 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    218952 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178447 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173163 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170248 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161371 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144046 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136065 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...