Advanced Search
Hits
35891
Tanggal Dimuat: 2014/01/06
Ringkasan Pertanyaan
Faktor-faktor apa saja yang membuat manusia lalai dari mengingat Tuhan?
Pertanyaan
Mengapa sebagian manusia lalai dari mengingat Tuhan?
Jawaban Global
Salah satu tema yang dibahas dalam ilmu Akhlak adalah tema tentang ghaflat (lalai). Ulama akhlak, dalam karya-karya mereka mengemukakan beberapa pembahasan rinci terkait dengan masalah ini. Salah satunya pasal yang membahas tentang hal ini adalah sebab-sebab dan faktor-faktor yang membuat manusia lalai.
Lalai (ghaflah) sebagaimana yang dikemukakan dalam definisi, “keluarnya sesuatu dari pikiran setelah sebelumnya mengingatnya.” Al-ghafla al-sahwu ‘an al-syai.”[1]
Lalai adalah terbentangnya tirai pada pikiran dan hati manusia yang membuatnya jauh dari sebuah fakta dan realitas. Al-Quran dalam hal ini menyatakan,
«وَ لَقَدْ ذَرَأْنا لِجَهَنَّمَ كَثيراً مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِها وَ لَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِها«
وَ لَهُمْ آذانٌ لا يَسْمَعُونَ بِها أُولئِكَ كَالْأَنْعامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولئِكَ هُمُ الْغافِلُونَ»
“Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi mereka tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs. Al-A’raf [7]:179)
Yang dimaksud dengan lalai di sini boleh jadi bersifat umum dari sekedar lalai mengingat Tuhan, lalai dari ayat-ayat Tuhan, lalai dari mengingat akhirat. Atau dengan kata lain, lalai dari segala sesuatu yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaan. “
«وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ»
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Qs. Yunus [10]:92)
Pada pendahuuan ini harus dikatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan manusia lalai yang disinggung pada sebagian ayat dan riwayat adalah sebagai berikut:
  1. Mencintai dunia secara berlebihan: Al-Quran memandang salah satu faktor penyebab manusia lalai adalah cinta dunia dan menaruh perhatian secara ekstrem pada dunia. Al-Quran menyatakan:
«إِنَّ الَّذينَ لا يَرْجُونَ لِقاءَنا وَ رَضُوا بِالْحَياةِ الدُّنْيا وَ اطْمَأَنُّوا بِها وَ الَّذينَ هُمْ عَنْ آياتِنا غافِلُون»
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”(Qs. Yunus [10]:7)
Imam Baqir menyampaikan kepada Jabir, “Wahai Jabir! Tidak sepantasnya bagi orang beriman bersandar dan sibuk dengan urusan dunia. Ketahuilah anak-anak (dan orang-orang yang bergantung pada)  dunia adalah orang-orang lalai.”[2]
  1. Dominasi Setan: Salah satu factor yang menyebabkan manusia lalai adalah dominasi setan atas manusia.
«اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ...»
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)
Salah satu perbuatan yang dilakukan setan adalah membuat manusia lupa akan Tuhan dan menjadikannya lalai.
  1. Menuruti hawa nafsu: Allah Swt terkait dengan orang-orang lalai dan mengikuti hawa nafsu berfirman:
«وَ لا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنا قَلْبَهُ عَنْ ذِکْرِنا وَ اتَّبَعَ هَواهُ وَ کانَ أَمْرُهُ فُرُطا»
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas. (Qs. Al-Kahf [18]:28)
  1. Panjang angan-angan: Faktor lainnya yang membuat manusia lalai adalah panjang angan-angan; karena panjang angan-angan yang membuat pikiran dan hati manusia sibuk memikirkan bagaimana mencapai angan-angan tersebut sehingga ia lalai memikirkan yang lain. Imam Ali As dalam hal ini bersabda, “Ketauhilah sesungguhnya angan-angan akan membuat hati lalai. Menampakkan janji-janji (yang benar) itu sebagai dusta dan memperbanyak lalai.”[3]
  2. Memandang permukaan saja: ajaran-ajaran agama, memandang permukaan dan lahiriyah saja pada kehidupan dunia merupakan salah satu penyebab kelalaian manusia.
«يَعْلَمُونَ ظاهِراً مِنَ الْحَياةِ الدُّنْيا وَ هُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غافِلُونَ»
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia ini; sedang mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.” (Qs. Al-Rum [30]:7)
Perhiasan dan penampakan lahir dunia, dari satu sudut pandang dapat menjadi sebab kelalaian manusia. Dan dari sudut pandang yang lain berpotensi menjadi menyebab kesempurnaan manusia. Hal ini bergantung sepenuhnya bagaimana kita menyikapi dan melihat  dunia. Apabila manusia menyiapkan ruang pada dirinya, tatkala ia berhadapan dengan perhiasan dari perhiasan-perhiasan dunia maka ia akan melihatnya sebagai anugerah Tuhan; karena itu, dengan melihatnya tidak saja membuatnya lalai bahkan sebaliknya ia malah akan mengingat Tuhan. Apabila manusia dalam berhadapan dengan segala perhiasan dunia memperhatikan halal dan haram, menunaikan tugas-tugas yang dibebankan Tuhan kepadanya, maka dunia ini bukanlah penyebab lalai dan penipu.
Akan tetapi manusia pada umumnya dalam kehidupan dunia hanya melihat yang nampak permukaan saja dan asyik dengan kelezatan materi, tentu saja apa yang nampak ini akan membuatnya lalai dari akhirat dan tujuan penciptaannya yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan. [iQuest]
 

[1]. Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 280, Nasir Khusruw, Tehran, 1372 S; Fakhruddin Thuraihi, Majma al-Bahrain, jil. 5, hal. 435, Kitabpurusyi Murtadhawi, Tehran, 1375 S.  
«يَا جَابِرُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَرْكَنَ وَ يَطْمَئِنَّ إِلَى زَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ اعْلَمْ أَنَّ أَبْنَاءَ الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ غَفْلَة»
[2]. Hasan bin Ali Ibnu Sya’bah al-Harrani, Tuhaf al-‘Uqul, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, al-Nash, hal. 287, Jami’ah Mudarrisin, Qum, Cetakan Kedua, 1404 H.
«إِنَّ الْأَمَلَ يُسْهِي الْقَلْبَ وَ يُكْذِبُ الْوَعْدَ وَ يُكْثِرُ الْغَفْلَة»
[3]. Ibrahim bin Muhammad bin Sa’id bin Hilal Tsaqafi, al-Ghârât, Riset dan edit oleh Abduzzahra Husaini, jil. 2, hal. 436, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Qum, Cetakan Pertama, 1410 H.  
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260202 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245854 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229727 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214520 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175861 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171238 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167635 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157693 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140525 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133705 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...