Advanced Search
Hits
10348
Tanggal Dimuat: 2007/02/28
Ringkasan Pertanyaan
Apakah wanita dapat menjadi hakim?
Pertanyaan
Saya mendengar bahwa di Iran terdapat kurang lebih 400 wanita yang menjadi hakim. Apakah menurut Syiah, wanita dapat menjadi hakim?
Jawaban Global
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli agama terkait dengan apakah wanita dapat menjadi hakim dan beberapa posisi lainnya. Meski demikian, persoalan ini tidak termasuk hal-hal yang bersifat pasti dari agama.
Mereka yang berkata bahwa kaum wanita tidak dapat menjadi hakim bersandar pada dalil-dalil seperti riwayat dan ijma (konsensus) yang tentu saja bukan tempatnya di sini untuk membahasnya secara detil.
Mereka mengemukakan beberapa poin sehubungan dengan alasan mengapa kaum wanita tidak dapat menjadi hakim yang dapat digunakan untuk menyokong pendapat mereka.
Sebagian dari poin tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
  1. Antara pria dan wanita terdapat banyak perbedaan dari sisi kemampuan fisik dan mental. Atas dasar perbedaan ini, keunggulan penciptaan kaum pria atau kaum wanita, menyebabkan sebagian tanggung jawab dicabut dari pundak kaum wanita; karena pemmberian tanggung jawab dan penugasan dilakukan berdasarkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki.
  2. Tipologi mental yang tidak dapat dilepaskan dari kaum wanita. Kaum wanita memiliki tipologi mental yang reaktif dalam urusan emosi dan perasaan. Mengingat bahwa urusan peradilan khususnya pada urusan eksekusi hukum dan implementasi masalah qisas terdapat seabrek tantangan yang harus dihadapi yang memerlukan ketegasan dan sikap siap menerima segala resiko dari keputusan yang diambil. Karena itu tanggung jawab ini dibebankan di atas pundak kaum pria.
Namun harap diperhatikan bahwa sebagian tidak menerima dalil-dalil dan poin-poin ini dan tetap memandang kaum wanita sah-sah saja menjadi hakim pengadilan.
 
Jawaban Detil
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli agama terkait dengan apakah wanita dapat menjadi hakim dan beberapa posisi lainnya. Untuk diketahui bahwa mereka berpandangan bahwa wanita menjadi hakim tidak termasuk dari bagian yang bersifat pasti (dharuriyat) dari agama.
Hal yang dijadikan sebagai sandaran para pendukung pendapat wanita tidak dapat menjadi hakim adalah hadis dan riwayat.
Imam Shadiq As bersabda, “Perhatikanlah salah seorang dari kalian, seorang pria (rajul) yang mengetahui peradilan kami; yaitu mengetahui apa yang menjadi pendapat kami dan menguasai pandangan-pandangan kami, maka jadikanlah ia sebagai hakim (qadhi) bagi kalian dan saya mengangkat ia sebagai hakim di antara kalian.[1]
Dalam riwayat ini dinyatakan ungkapan “rajul” yaitu pria dan sesuai dengan kaidah primer, qaid yang nampak digunakan adalah qaid ihtirâzi[2] yang memiliki peran dalam masalah ini.[3]
Di samping riwayat di atas, kelompok yang menolak kaum wanita menjadi hakim bersandar pada ijma (konsensus);[4] yaitu klaim ijma yang menyebutkan bahwa salah satu syarat menjadi seorang hakim adalah berstatus dan berjenis kelamin pria.[5]
Demikian juga kelompok ini mencermati beberapa hal dan dengan menimbang beberapa hal tersebut sampai pada sebuah kesimpulan yang akan disebutkan sebagian darinya sebagaimana berkut ini:
1. Pendelegasian tanggung jawab berdasarkan kemampuan
Berdasarkan pandangan Islam, pria dan wanita dari sudut pandang esensi adalah satu. “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu.” (Qs. Al-Nisa [4]:1)[6]
Karena itu meski dari sudut pandang genus (sebagai manusia) namun keduanya memiliki beberapa perbedaan dan keutamaan masing-masing.
Al-Quran menyatakan, “Kaum laki-laki itu adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs. Al-Nisa [4]:34) Kemampuan pikiran, kemampuan fisikis[7] dan psikologis lebih banyak dimiliki kaum pria ketimbang kaum wanita dimana kaum pria lebih dominan dibandingkan dengan kaum wanita, dalam pelbagai urusan penting kehidupan keluarga dan sosial seperti pemerintahan.[8]
Ringkasnya bahwa kaum pria dan wanita dari sudut pandang fisikis dan kondisi fisiologis berbeda satu sama lain. Atas dasar itu, mereka diciptakan untuk mengerjakan tugas-tugas tipikal. Perbedaan ini, bukan diskriminasi, adalah sebuah kebijaksanaan dan dimaksudkan untuk melestarikan manusia. Hal ini tidak bermakna bahwa jalan kesempurnaan tertutup atau terbatas bagi kaum wanita melainkan disebabkan perbedaan ini, sebagian tanggung jawab seperti peradilan telah diangkat dari pundak wanita. Dengan kata lain, pelbagai kemampuan kaum pria ini bersifat takwini (penciptaan) dan fitrawi. Sejatinya dengan adanya tugas-tugas seperti ini tanggung jawab kaum pria semakin besar dan adanya pelbagai kemampuan ini tidak akan menyebabkan kedekatan dan pahala yang lebih besar di sisi Allah Swt bagi kaum pria.
2 Menjadi hakim atau qadhi dibutuhkan ketegasan
Tipologi mental yang tidak dapat dipisahkan yang dimiliki kaum wanita yaitu bermental reaktif dan emosional. Karena itu kaum wanita lebih cepat menunjukkan reaksi psikologis; misalnya senang, kuatir, menangis dan tertawa. Jelas bahwa bersikap realistis dalam menilai dan mengadili, pada tataran empiric, kaum Adam lebih dapat menguasai dan menjinakkan perasaannya.
Demikian juga, mengingat apa yang berlaku dalam proses peradilan pelbagai persoalan, khususnya dalam tahap implementasi hukum hudud (pidana) dan qisash  terdapat selaksa persoalan atau akan melahirkan sikap anti agama pada manusia, karena itu diperlukan ketegasan dan sikap ksatria untuk dapat menerima pelbagai konsekuensi yang ditimbulkan dari vonis yang dikeluarkannya. Dengan kata lain, penciptaan dan firah wanita adalah tempat cinta dan kasih. Pada sebagian persoalan wanita tidak dapat bersikap dan mengambil keputusan tegas. Karena itu, ia dimaafkan dari posisi ini dan tugas berat ini dibebankan di pundak pria. Hal ini merupakan pandangan positif dan sarat nilai terkait dengan kedudukan wanita.
Namun demikian, sebagian ulama mengkritisi dalil yang dikemukakan di atas dan berpandangan bahwa kaum wanita boleh saja menjadi qadhi.[9] Mereka berkata, “Peradilan bukan taklif bagi wanita dan Syari’ (Allah Swt) membebaskan kaum wanita dari tugas berat ini. Allah Swt tidak menghendaki peradilan ini dari kaum wanita sebagai sebuah taklif. Apabila dalam hadis disebutkan bahwa, “Laisa ‘ala al-Nisa jumu’atun wa jama’atun…wala tawalla al-qadha…”[10] itu bermakna bahwa salat Jumat dan salat jamaah serta memikul jabatan peradilan tidak wajib bagi kaum wanita. Dalam hadis ini tidak disebutkan, “laisa lil mar’at jum’atun” sehingga dari hadis tersebut dapat digunakan untuk menghapuskan hak wanita dari hal-hal tersebut.[11]
Demikian juga sisi afeksi dan emosional wanita secara esensial tidak menjadi penghalang baginya untuk dapat menyeimbangkan fakultas rasional dan pikirannya. Wanita dapat sebagaimana pria mencapai keseimbangan akal teoritis. Dan sisi rasionisasi dan standar yang digunakan dalam peradilan tidak akan dikalahkan oleh afeksi dan emosinya.
Namun boleh jadi bahwa kaum wanita harus lebih banyak melatih untuk menyeimbangkan pelbagai afeksinya, namun apabila setelah berlatih dan ia mampu memperoleh keseimbangan dalam pemikiran maka kita tidak ada alasan bagi kita untuk menghalangi mereka untuk menduduki posisi ini.[12]
Di samping itu, apa yang dapat disimpulkan dari dalil-dalil adalah bahwa hukum umum Imam Maksum As dalam mengangkat qadhi khusus untuk qadhi pria dan dari dalil ini tidak dapat disimpulkan bahwa wali fakih juga harus menjalankan syarat maskulin (berjenis kelamin pria) dalam mengangkat qadhi; karena kita tidak memiliki dalil bahwa jenis kelamin pria adalah syarat syar’i.
Ayatullah Hadawi dalam mengelaborasi dalil ini berkata, “Dalam pembahasan di atas, kita menggunakan syarat ini dari lafaz “rajul” yang disebutkan sebagai syarat untuk menetapkan hakim (qadhi) sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat. Dengan deskripsi ini, hal itu akan menjadi bagian dari syarat standar dalam pengangkatan umum dari para Imam Maksum As atau syariat dan (wali) fakih tidak wajib memperhatikan ketentuan itu (harus pria).
Apabila riwayat nabawi yang menyebutkan “wanita” dengan redaksi kalimat seperti ini, “wala tawalla al-qadha” (dan juga tidak memilikul jabatan peradilan), dari sisi sanad dapat diterima atau kita simpulkan syarat jenis kelamin pria sebagai pendapat para ahli syariat yang bersumber dari pelbagai keterbatasan wanita pada sebagian wanita seperti imam jamaah maka  “dzukuriyyah” (berjenis kelamin pria) termasuk sebagai syarat syar’i yang harus dijalankan oleh fakih dalam mengangkat seorang hakim.”[13]
Adapun dalil ijmai yang disampaikan, katakanlah, terdapat kesepakatan ril seluruh fakih atas masalah ini, ada kemungkinan mereka bersandar pada satu atau beberapa sisi yang mengemuka pada riwayat dan ijma seperti ini tidak memiliki syarat hujjiyah dan standar.[14]
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tidak ada masalah kaum wanita menjadi hakim dan menjabat posisi peradilan berdasarkan fatwa sebagian fakih syiah. [iQuest]
 

[1]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 67.
[2]. Secara teknis qaid ihtirâzi adalah qaid yang digunakan untuk membatasi cakupan dari apa yang dapat dipahami dari sebuah ucapan. Qaid ihtirâzi lawannya adalah qaid non-ihtrazi. Qaid ihtirâzi adalah qaid yang digunakan untuk mempersempit cakupan subyek hukum dan mengeluarkan selain subyek, dari cakupan sebuah hukum, dalam ucapan seperti seorang tuan yang berkata, “Bebaskanlah budak Mukminah” (a’tiq raqabat mu’minah). Di sini qaid “iman” (mukminah) digunakan untuk mengeluarkan budak kafir; artinya budak kafir tidak termasuk dalam hukum ini.
[3]. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, Mahdi Hadawi Tehrani, Qadhâwat wa Qâdhi, hal. 91-92.
[4]. Ijma (konsensus) merupakan salah satu argumen yang diterima oleh seluruh fakih.
[5]. Jawâhir al-Kalâm, jil. 40, hal. 14; Miftah al-Karamah, jil. 10, hal. 9; Jami’ al-Syattat, jil. 2, hal. 680.
[6]. Silahkan lihat Huqûq Zan dar Islâm, Muhammat Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif Qur’an.
[7]. Jenis wanita memiliki badan yang lebih lembut dan lebih halus daripada pria dan pada umumnya badan pria lebih kasar dan perkasa ketimbang badan wanita. Sebagaimana rata-rata kekuatan badan wanita lebih kurang daripada rata-rata kekuatan badan pria dan kaum wanita setiap bulannya selain masa kehamilan (dan persalinan) hingga kira-kira lima puluh tahun, selama beberapa hari mengalami haidh yang disebabkan oleh kondisi seperti ini badannya akan lemah dan mengalami kondisi mental yang tidak biasa. Selain itu, kontur dada sedemikian dibentuk sehingga ia memikul tanggung jawab memberikan ASI kepada bayinya dimana hal ini juga menyebabkan berkurangnya kemampuan wanita.
[8]. Al-Mizan, jil. 14, hal. 343.
[9]. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, Jawadi Amuli, Zan dar Âyine Jalâl wa Jamâl, hal. 348-354.
[10]. Man La  Yahdhuruhu al-Faqih, jil. 4, hal. 362.
[11]. Jawadi Amuli, Zan dar Ayine Jalal wa Jamal, hal. 350.
[12]. Ibid, hal. 353.
[13]. Qadhâwat wa Qâdhi, hal. 151.
[14]. Jawadi Amuli, Zan dar Âyine Jalâl wa Jamâl, hal. 349 & 353.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Bagaimana hubungan antara ruh dan badan?
    24109 Filsafat Islam 2011/07/16
    Sekaitan dengan hubungan antara ruh dan badan harus dikatakan bahwa badan merupakan salah satu tingkatan dari beberapa tingkatan nafs dan ruh. Atas dasar itu, pada hakikatnya, badan berada pada jiwa dan ruh bukan ruh yang terdapat pada badan; karena berdasarkan Filsafat Hikmah, dengan ...
  • Apakah sah hukumnya menggunakan dua turbah untuk sujud?
    7668 Hukum dan Yurisprudensi 2011/11/21
    Tempat sujud bagi orang yang mengerjakan salat tidak boleh lebih di atas atau lebih di bawah dari empat jari tertutup dari tempat kedua lututnya...”[1] Karena itu apabila ketinggian dua turbah tidak lebih dari empat jari tertutup maka orang yang mengerjakan salat dapat sujud di atas dua ...
  • Apakah Anda punya tips bagaimana caranya untuk menghindar supaya tidak banyak tertawa khususnya pada bulan Muharram dan Shafar?
    9050 Majelis Duka dan Ziarah 2012/05/10
    Menangis dan tertawa adalah sejenis luapan perasaan dan afeksi batin manusia. Hal ini merupakan tanda-tanda natural dan proses keseimbangan mental manusia. Karena itu, setiap orang harus sampai pada tingkatan matang dan mempelajari adab-adab tertawa dan mengekspresikan kebahagian sehingga tertawa dan luapan kegembiraan menjadi sebuah sifat mulia bagi ...
  • Apa saja kemiripan-kemiripan yang dimiliki oleh Imam Zaman dengan para nabi menurut kitab Mikyâl al-Makârim?
    15576 Tipologi dan Keunggulan Sifat 2012/09/19
    Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan tentang terdapatnya banyak kemiripan-kemiripan fisik dan spiritual yang dimiliki oleh Imam Mahdi Ajf dengan sebagian dari para nabi. Sebagian dari kemiripan-kemiripan ini telah dikumpulkan dalam kitab Mikyâl al-Makârim sebagaimana berikut: Sejumlah dari kemiripan-kemiripan tersebut terdapat pada kitab Mikyâl al-Makârim dan sebagiannya ...
  • Mengapa kita membantu Irak padahal kita sendiri sangat membutuhkan. Masyarakat kita sendiri kesusahan menghadapi harga-harga mahal dan barang-barang langka di pasar?
    7825 Filsafat Politik 2011/05/18
    Pertama: Asas pelbagai bantuan Republik Islam Iran ke negara-negara Muslim adalah bantuan-bantuan moril bukan bantuan-bantuan material dan finansial. Kedua: Apabila terdapat juga bantuan-bantuan materil dan finansial ke negara-negara Muslim lainnya maka hal itu memiliki banyak pengaruh dan manfaat material dan spritual sebagaimana berikut: ...
  • Tolong sebutkan bagi saya sebuah doa untuk menemukan pasangan yang cocok dan bertakwa.
    15542 دعا 2012/09/10
    Allah Swt menjadikan setiap pekerjaan memiliki sebab-sebab tertentu sedemikian sehingga setiap pekerjaan hanya akan memperoleh hasil apabila dikerjakan melalui kanal-kanal sebabnya. Untuk memperoleh jodoh dan pasangan idaman juga demikian caranya. Cara untuk mendapatkan istri idaman memerlukan penelitian dan pengenalan yang tepat dan akurat. Tentu saja ...
  • Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
    30335 Hukum dan Yurisprudensi 2010/06/20
    Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan ...
  • Shalat Tahiyyat Masjid Jamkaran
    7479 Hukum dan Yurisprudensi 2011/08/10
    Ibadah dan doa-doa adalah bersifat tauqifi (sudah dari sananya). Artinya bahwa masing-masing dari ibadah dan doa-doa ini memiliki efek yang bersandar padanya. Seluruh amalan dan doa yang dikerjakan sesuai dengan apa yang diinginkan sebagaimana dokter yang memformulasikan obat bagi pasiennya dan berkata kepadanya bahwa Anda harus meminum obat ...
  • Apa dasar-dasar teologi Mahdawiyat?
    8252 Teologi Lama 2009/09/22
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah orang-orang beriman akan mendapatkan kenikmatan alam kubur dan orang-orang kafir akan dihajar dengan azab kubur?
    21065 Teologi Lama 2009/12/08
    Syaikh Mufid dalam kitab Awâil al-Maqâlat-nya, membagi manusia menjadi empat bagian berdasarkan keyakinan dan amal-perbuatan mereka:1.     Orang-orang beriman yang bertakwa2.

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    267536 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    249185 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232312 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219291 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178671 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173369 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170496 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161750 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144192 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136237 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...