Advanced Search
Hits
14200
Tanggal Dimuat: 2009/03/12
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa kecenderungan kepada aspek-aspek material dan duniawi sangatlah besar dan mudah daripada kecenderungan kepada alam akhirat dan nilai-nilai maknawi?
Pertanyaan
Mengapa kecenderungan kepada aspek-aspek material dan duniawi sangatlah besar dan mudah daripada kecenderungan kepada alam akhirat dan nilai-nilai maknawi?
Jawaban Global

Sebagaimana di alam natural, gerak menurun (nuzuli) lebih mudah daripada gerak menaik (shu'udi). Hukum ini pula berlaku dalam gerak dan suluk pada perkara-perkara maknawi, spiritual, dan akhlak. Dalam istilah qurani, gerak dan proses menaik dikatakan senantiasa bersama dengan usaha, upaya, dan derita. Tuhan berfirman dalam al-Quran surah Insyiqaq ayat keenam, "Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya."

Sementara di alam dunia -dikatakan dunia karena wujud dan hakikatnya sangat rendah dari segala sesuatu- dan kecenderungan kepada hawa nafsu maka cukuplah manusia menutup matanya dari kesempurnaan-kesempurnaan, kesucian-kesucian, fitrah, dan akal.

Gerak dan berproses menuju alam spiritual dan maknawi seperti mendaki puncak yang sangat tinggi dan penuh dengan kesulitan serta bahaya. Sedangkan berjalan di atas jalur kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu seperti bergerak ke arah menurun yang penuh dengan kemudahan dan keringanan. Karena kecenderungan ke alam akhirat dan nilai-nilai spiritual merupakan suatu gerak ke arah fitrah Ilahi, dan kecenderungan kepada duniawi, aspek-aspek material dan lahiriah adalah sangat besar dikarenakan hal ini bersesuaikan dengan tabiat alam materi dan keinginan natural manusia itu sendiri.

Jawaban Detil

Sebagaimana di alam natural, gerak dan proses menurun lebih mudah daripada gerak menaik. Hal ini juga berlaku pada gerak dan suluk dalam perkara-perkara maknawi dan akhlak. Sebagaimana pernyataan al-Quran, gerak menaik atau proses menyempurna adalah senantiasa beriringan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan penderitaan. Kata "Kâdihun" atau "kadhan" yang ada dalam ayat tersebut di atas yang dalam bahasa Arab adalah bermakna "upaya yang sungguh-sungguh".[1]

Untuk kejatuhan manusia di lembah dunia ini, maka cukuplah dia mengikuti hawa nafsu dan keinginginan syahwatnya. Karena bergerak di atas jalan keinginan-keinginan rendah hawa nafsu seperti berjalan ke arah menurun yang penuh dengan kemudahan dan keringanan.

Sementara bergerak dan berjalan sesuai dengan perintah akal dan agama serta berlawanan dengan kecenderungan duniawi, waswas setan, dan kehendak hawa hafsu adalah suatu proses menyempurna dan menaik. Sebagaimana mendaki suatu puncak yang tinggi adalah sangat sukar dan penuh kesulitan, namun senantiasa diiringi dengan perasaan bahagia dan keyakinan.

Dalam perspektif al-Quran, manusia adalah suatu makhluk yang memiliki dua dimensi, dimensi fitrah Ilahi dan aspek natural material. Fitrah manusia senantiasa mengajaknya kepada makrifat yang tinggi, nilai-nilai spiritual, maknawi, akhlak, dan kebaikan-kebaikan. Sedangkan dimensi naturalnya selalu menggiringnya kepada kerendahan material, hawa nafsu, dan keburukan.

Kehidupan manusia adalah lapangan pertempuran yang terus menerus antara aspek natural dan fitrah Ilahinya. Apabila dimensi tabiat manusia menang atas fitrah Ilahinya, maka dia akan menjadi tawanan bagi kecenderungan naturalnya yang rendah itu. Dalam pandangan al-Quran, manusia seperti ini dikategorikan sesat dan rendah. Namun, jika fitrah Ilahinya mampu mengalahkan keinginan rendah tabiatnya, maka segala kecenderungan naturalnya diarahkan sejalan dengan fitrahnya. Dalam keadaan seperti ini, manusia ini dikatakan berada dalam hidayah Ilahi dan berjalan di atas jalan yang benar .[2]

Kata "dunya" dalam makna leksikalnya adalah rendah. Dan manusia untuk menggapai keinginan-keinginan duniawinya maka cukuplah dia menutup matanya dan tidak memandang langit suci Ilahi. Namun, untuk keluar dari tarikan kecendengan dan penjara duniawi serta berjalan ke arah alam spiritual dan fitrah Ilahi, maka tidaklah cukup hanya sekedar berencana, berkata, dan klaim. Melainkan dia harus melawan secara nyata segala keinginan hawa nafsu, menentang seluruh bisikan dan waswas setan, meninggalkan segala tingkah laku dan adat yang buruk, dan memotong ribuan akar yang menjebaknya dalam aktivitas-aktivitas keseharian.

Oleh karena itu, para guru akhlak dan irfan praktis kadang memaparkan hakikat-hakikat tinggi spritual dan metode meniti tingkatan-tingkatan kesempurnaan itu dalam bentuk seratus tahapan, atau seribu tingkatan, atau menghadirkannya dalam bentuk adab-adab suluk. Supaya manusia pada akhirnya bisa melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan hawa nafsu dan berujung menjadi seorang hamba Tuhan yang sejati.

Perjalanan maknawi dan suluk spritual seorang hamba kepada Tuhan adalah suatu proses menaik dan gerak vertikal, bukan gerak horisontal dan mendatar. Dan maksud dari vertikal dan menaik di sini adalah vertikal dalam "bangunan" dan "geometris" Ilahi yakni mencapai suatu "derajat yang tinggi", bukan dalam dimensi materi yakni pergi ke suatu "tempat yang tinggi".

Dari aspek ini menuntuk adanya suatu metode, cara, dan jalan supaya manusia terbantu untuk menggapai suatu derajat dan maqâm yang tinggi. Tuhan menyebut suluk ruhani dan penapakan spiritual itu dengan perjalanan menaik dan vertikal, hal ini sebagaimana tertera dalam surah Mujadalah ayat sebelas yang berbunyi, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kamu beberapa derajat".

Seseorang yang berjalan menaik dan menyempurnakan dirinya maka niscaya akan mencapai derajat yang tinggi dan Tuhan dalam ayat di atas berkaitan dengan perjalanan maknawi ini menggunakan kata "yarfa'u" yang berarti meninggikan. Begitu pula dalam surah Fathir menamakan perjalanan maknawi ini dengan "menaik". Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh akan mengangkatnya. (Qs. Fathir [35]: 10)

Maka dari itu, kedua kata "menaik" dan "mengangkat" dalam suluk tersebut telah menjadi jelas, yakni berkonsekuensi pada nilai-nilai vertikal dan penggapaian derajat-derajat, bukan nilai-nilai horisontal dan pergi pada suatu tempat. Karena perjalanan ke suatu tempat -walaupun tempat itu tinggi seperti gunung- adalah masih digolongkan dalam perjalanan horisontal, bukan vertikal. Dan Tuhan mengingatkan berkaitan dengan pengangkatan Nabi Idris As yang telah menapaki perjalanan vertikal ini sebagai berikut, "Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat dan tempat yang tinggi." (Qs. Maryam [19]: 57).

Maksud dari "tempat yang tinggi" dalam ayat itu bukanlah tempat lahiriah sebagaimana di dunia ini. Dan Tuhan berhubungan dengan zat suci-Nya sendiri juga menggunakan istilah sebagai wujud yang memiliki derajat dan "tempat" yang tinggi. Hal ini sebagaimana dalam surah Ghafir ayat limabelas, "(Dia-lah) yang mengangkat derajat (para hamba yang saleh)."

Oleh karena itu, perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan ke arah derajat dan tingkatan yang tinggi, dan para mukmin akan mencapai derajat yang tinggi serta para alim akan mendapatkan kesempurnaan yang lebih besar lagi. Begitu pula kalimat-kalimat yang baik akan mengarah ke derajat yang tinggi itu.[3]

Pernyataan lain juga memiliki kaitan bahwa kecenderungan kepada Tuhan itu sendiri tidak lain adalah gerak menaik dan ketinggian derajat, sementara keinginan duniawi adalah gerak menurun, kehinaan, dan kerendahan martabat itu sendiri. Dunia dikatakan sebagai dunia karena memiliki derajat yang sangat rendah atau paling rendahnya sesuatu. [4]Kecenderungan duniawi menyebabkan manusia menjadi rendah dan hina derajatnya.[5]

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menggapai nilai-nilai spiritual … apabila dengan mengorbankan harta benda dan keluarga, maka itu sangatlah layak dan terpuji.[6] Dan mengakui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa secara jantan akan menyebabkan Tuhan pasti mengantarkannya kepada derajat dan martabat yang tinggi.[7]

Oleh karena itu, kecenderungan dan keinginan kepada perkara-perkara maknawi dan spiritual serta alam akhirat adalah suatu gerak dan proses ke arah fitrah Ilahi. Dan kecenderungan kepada hal-hal duniawi dan nilai-nilai material adalah suatu gerak dan proses yang didasarkan pada tabiat alam materi dan aspek natural manusia serta manusia sangat termotivasi untuk menggapai keindahan-keindahan lahiriah alam materi ini dan larut dalam menikmatinya, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia ini; sedang mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat." (Qs. Rum [3]: 7)

Begitu pula segala apa yang manfaat-manfaat dan hasil-hasilnya cepat hadir dan berlalu merupakan sesuatu yang senantiasa diinginkan dan dikehendaki oleh manusia, seperti dalam ayat berikut ini, "Sekali-kali tidak (seperti yang kamu yakini bahwa dalil-dalil tentang hari kiamat itu tidak cukup). Sebenarnya kamu (hai manusia) hanya mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat." (Qs. Qiyamat [75]: 20 dan 21).

Dengan berpijak pada realitas ayat tersebut di atas Imam Ali As bersabda, "Orang-orang yang sesat itu mendahulukan perkara-perkara duniawi dan manfaat-manfaat yang cepat berlalu itu serta menunda-nunda perkara-perkara ukhrawi dan nilai-nilai yang abadi."[8] Dan kesimpulannya, kecenderungan dan keinginan manusia kepada perkara-perkara duniawi dan nilai-nilai material nampaknya sangatlah mudah dan ringan.[]



[1]. Askary, Abu Halal, Al-Furug fil lughah, hal. 369, Intesyarat Oston Quds-e Radhawi.

[2]. Hadavi Tehrani, Mahdi, Bowarha wa Pursesyha, hal. 84, Muassasah Farhangi Khoney-e Kherad.

[3] . Jawadi Amuli, Abdullah, Tafsir Maudhu'I Quran Karim, Marahile Akhlaq dar Quran, Bakhsye Sewwum, hal. 223, Markaz-e Nasyr-e Isra'.

[4] . Rey Syahri, Muhammad, Muntakhab Mizanul Hikmah, hadis nomor 2171, Imam As.

[5] . Ibid, hadis nomor2192.

[6] . Nahjul Balaghah, khotbah 52.

[7] . Ibid, hikmah 20.

[8] . Nahjul Balaghah, khotbah 144.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...