Advanced Search
Hits
20328
Tanggal Dimuat: 2014/02/16
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimanakah cara Jibril menerima dan menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?
Pertanyaan
Bagaimanakah cara Jibril menerima dan menyampaikan Wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?
Jawaban Global
Pemahaman ihwal hakikat wahyu dan bagaimana cara malaikat menerima serta menyampaikan wahyu kepada nabi adalah termasuk ilmu yang berada di luar batas pengetahuan manusia dan sulit serta tidak mungkin memahami hakikat tersebut bagi yang bukan nabi dan imam maksum.
Allamah Thabathaba’i dalam hal ini mengatakan: “Hal yang patut diperhatikan adalah mencerna wahyu bagi kita merupakan sebuah misteri serta kita tidak punya informasi bagaimana wahyu tersebut dan seperti apa penyampaiannya. Hakikat-hakikat (mengenai wahyu) tersebut tidak kita pahami; yakni terdapat suatu korelasi nyata di antara inti-inti ajakan agama dari makrifat-makrifat, akhlak, serta hukum dan aturan-aturan yang tidak terjangkau oleh pikiran kita; karena jika hubungan antara hal-hal tersebut adalah persis sama dengan yang kita ketahui, takkan disangsikan lagi bahwa pengertian wahyu (akan) menjadi (sama seperti pengertian dari) yang mencerna atau yang memahaminya yaitu pengertian pikiran kita sendiri, padahal tidaklah demikian adanya.”[1]
Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa kita tidak berusaha untuk memahaminya; akan tetapi jika tak dapat memiliki seluruh air laut, setidaknya kita tetap harus meminumnya untuk melegakan rasa haus dan melepaskan dahaga, oleh karenanya, ada beberapa poin yang dijelaskan oleh para filosof mengenai proses penerimaan wahyu kepada Nabi Saw:
  1. Filosof meyakini bahwa dalam jiwa rasional manusia harus terdapat tiga kemampuan khusus yang terkumpul untuk dapat mencapai pada makam kenabian,
    1. Dapat mendengar kata atau kalam Tuhan dan melihat para malaikat Allah.
    2. Pengetahuan akan poin ini bahwa semua ilmu berasal dari Tuhan yang diberikan kepada manusia.
    3. Memiliki kekuatan untuk menguasai alam materi; dengan kata lain, alam material taat kepadanya.
  2. Filosof terkait dengan bagaimana cara untuk dapat mencapai ketiga syarat kenabian,mengatakan: jiwa rasional manusia memiliki dua bentuk kekuatan
    1. Daya pencerapan.
    2. Daya gerak dan menggerakkan
Daya pencerapan juga memiliki dua bentuk.
  1. Daya pencerapan akal
  2. Daya pencerapan partikular dan indrawi
Ketiga syarat kenabian ini diperoleh dari pengaruh kekuatan dan kesempurnaan dari ketiga daya tersebut.
Para pemikir tersebut dalam penjelasannya mengatakan: kesempurnaan daya pencerapan akal adalah memperoleh seluruh pengetahuan-pengetahuan tanpa usaha keras belajar dan mempelajari, dan dalam waktu yang sangat singkat dengan kekuatan pertimbangan.
Kesempurnaan potensi pencerapan Indrawi dan partikular khususnya daya imajinasi adalah sebagaimana halnya pada kesempurnaan kekuatan dan kemampuan, namun pada akhirnya adalah taat dan dan mematuhi  daya akal sebagaimana pada saat terhubungnya jiwa dengan akal aktual (yang merupakan pancaran berbagai ilmu dan kesempurnaan dengan izin Tuhan dan Jibril adalah manifestasi dari akal aktual ini) daya imajinasi akan terentang  sampai batas kemampuan akal dimana setiap bentuk tergambar dalam jiwa sebagai abstraksi dan universal, gambaran dan khayalan darinya pada daya imajinasi sebagai representasi dan partikular.
Jadi jika objek-objek pahaman akal adalah entitas-entitas non materi maka daya imajinasi akan menggambarkannya secara personal dari individu-individu manusia yang memiliki kesempurnaan. Dan jika objek-objek pahaman akal bermakna non materi dan hukum-hukum universal maka daya imajinasilah yang menggambarkannya dalam bentuk kata-kata dan dalam keterangan serta kefasihan yang sempurna.[2]
Namun mengenai cara penerimaan wahyu melalui malaikat, nampaknya penerimaan wahyu melalui malaikat pada hakikatnya adalah demikian: yaitu seperti halnya dengan modus eksistensial dan keberadaan malaikat tersebut yang murni dari hakikat “realitas agung” dan atau manifestasi serta perwujudan dari “jelmaan” dan tajalli realitas agung; yaitu wujud malaikat tidak berbeda dengan wujud wahyu, pengetahuan dan ilmu. Malaikat wahyu merupakan emanasi murni dan manifestasi dari ilmu Tuhan. Mengenai metode penyampaian wahyu kepada nabi harus dikatakan bahwa penyampaian wahyu melalui malaikat kepada nabi sebenarnya adalah korelasi, bahkan unifikasi jiwa dan ruh nabi dengan malaikat dimana efek dari unifikasi tersebut jiwa dan ruh Nabi juga menjadi manifestasi ilmu Allah. [iQuest]
 

[1]. Sayyid Muhammad Hussain Thabathabai, Majmu’e Rasâil, (disusun oleh Sayyid Hadi Khusru Shahi), jil. 1, hal. 107, Yayasan Bustan Kitab, Qom, Cet.ke-II, 1388 S.
[2] Lihat Hasan Hasan Zadeh Amuli, Nushûsh Aal-Hikam bar Fushûsh Aal-Hikam, hal. 197-200, Rajâ’, Tehran, Cet. II, 1375 S.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259941 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245686 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229588 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214396 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175698 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171067 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167498 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157554 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140409 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133604 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...