Advanced Search
Hits
9763
Tanggal Dimuat: 2010/04/05
Ringkasan Pertanyaan
Apakah mungkin kita menjalin hubungan dengan Tuhan tanpa perantara?
Pertanyaan
Yang umum diketahui orang bahwa tawassul kepada para imam maksum As merupakan jalan untuk sampai kepada Tuhan. Akan tetapi terkadang orang ingin berteriak langsung memanggil Tuhan tanpa perantara apa pun. Apakah hal ini dapat dilakukan?
Jawaban Global

Tawassul secara leksikal bermakna mendekat kepada sesuatu dengan sebuah media dan perantara praktis. Yang harus diperhatikan dan dipahami terkait dengan tawassul kepada para wali Tuhan adalah bahwa tujuan tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan tawassul kepada para wali Tuhan tidak berseberangan sama sekali dengan bercengkerama tanpa perantara dengan Tuhan; artinya manusia dapat merajut hubungan dengan Tuhan dan Sang Pencipta melalui dua jalan: Pertama, dengan menjadikan para wali Allah Swt sebagai perantara. Kedua, tanpa perantara.

Akan tetapi yang harus diketahui bahwa dalam proses taqarrub kepada Allah Swt melalui perantara para wali yang dicintai-Nya, boleh jadi lebih mudah dan menyebabkan manusia lebih cepat untuk sampai kepada Tuhan.

Jawaban Detil

Tawassul secara leksikal bermakna mendekat kepada sesuatu melalui sebuah perantara (wasilah) dan media praktis.[1] Wasilah adalah perantara yang dengannya manusia dapat mengantarkan dirinya sampai pada sesuatu yang diinginkan.[2]

Ber-tawassul (berperantara) kepada para wali Allah dan para imam maksum As yang merupakan para manusia sempurna, merupakan sebuah perkara yang pasti sebagaimana hal ini disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis. Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika ketika mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Nisa [4]:64)[3] Pada ayat lainnya, Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah [5]:35)[4]

Pada riwayat-riwayat lainnya yang dinukil dari para imam maksum disebutkan bahwa mereka memperkenalkan dirinya sebagai wasilah (media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt).[5]

Dengan demikian, peran tawassul di dunia ini sebagaimana peran syafâ’at pada hari Kiamat nanti yang tidak dapat diingkari. Dengan media tawassul manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan memohon segala hajat material dan maknawi kepada-Nya.

Allah Swt berfirman, “Wabtaghu ilaihi al-wasilah.” Artinya bahwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kita diperintahkan untuk mencari media dan perantara. Pada sebagian doa yang diriwayatkan dari para imam maksum, sifat-sifat Tuhan atau dzat-Nya diperkenalkan sebagai media dan wasilah untuk sampai kepada Allah Swt. Seperti doa hari Mubahalah yang menandaskan, “Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dengan segala keagungan-Mu (jalâliyah). Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dengan segala keindahan jamal-Mu (jamâliyah)….”[6]

Dari sisi lain, di dalam Al-Qur’an disebutkan: Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Ghafir [40]:60)1 dan Dia lebih dekat kepada manusia dari urat nadinya sendiri. “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (Qs. Qaf [50]:16) Dan Dia mengetahui segala sisi yang terkandung dalam hati kita, “Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nampakkan.” (Qs. Ibrahim [14]:38)

Pada munajat Muthi’în (orang-orang yang taat) dari munajat Khamsa ‘Asyar disebutkan: “Tuhanku! Kami tidak memiliki wasilah di hadapan-Mu kecuali dengan perantara-Mu.”[7]

Para imam sendiri melakukan hal ini dalam doa dan munajat mereka; artinya mereka bercengkerama tanpa perantara dengan Tuhan dan dengan memerintahkan untuk berdoa seperti ini mereka mengajarkan kepada kita cara-cara berdoa. Imam Husain As pada hari Arafah berdoa sedemikian dimana beliau secara langsung menjadikan Tuhan sebagai obyek wicaranya.[8] Siapa saja yang membaca doa ini, maka ia akan mendapatkan imej dan perasaan bahwa ia secara langsung bercengkerama dengan Tuhan.

Dari apa yang dijelaskan dapat disimpulkan bahwa tawassul kepada Tuhan, dapat dilakukan melalui dua jalan. Ber-tawassul kepada para imam maksum As tidak berseberangan dengan berdoa secara langsung (tanpa perantara) kepada Tuhan. Manusia dapat menggunakan dua cara ini untuk dapat sampai pada tujuannya (terkabulkannya doa).

Tawassul kepada para imam, tidak bermakna bahwa manusia sekali-kali tidak dapat bercengkerama dengan Tuhan dan tidak menjadikan-Nya sebagai obyek wicara secara langsung. Melainkan bertutur kata dengan Tuhan dapat dilakukan tanpa perantara pada setiap masa dan setiap tempat.[9]

Namun harus diperhatikan dan dipahami bahwa menggunakan metode ini pada beberapa tingkatan tertentu lebih mudah dan dapat menyampaikan manusia kepada tujuannya dengan cepat.[10]

Apakah seorang hamba dengan melihat seluruh amal dan perbuatannya di hadapan Tuhan tidak merasa malu sehingga ia tidak memberikan izin kepada dirinya untuk memohon langsung kepada Tuhan? Sehingga karena adanya perasaan malu untuk menjelaskan segala hajat dan keperluannya, maka ia berperantara kepada orang-orang (para wali Allah) yang memiliki nilai dan kedekatan kepada Tuhan. Melalui metode ini ia dapat mengemukakan seluruh hajat dan keperluannya. Dengan mengetahui jalan seperti ini, tidakkah ia akan memilih sebaik-baik jalan untuk dapat berhubungan intim dengan Tuhan?

Atas dasar inilah pada doa tawassul, setelah menyebut nama-nama para imam maksum As dan ber-tawassul kepada mereka, kita menyampaikan hajat-hajat duniawi dan ukhrawi kita. Dan menjadikan pribadi-pribadi suci ini sebagai perantara dan media untuk taqarrub kepada Tuhan dan memenuhi segala hajat kita.[11] [IQuest]



[1]. Jauhari, Shihâh al-Lugha, klausul, wa-sa-la 

[2]. Terjemahan Persia tafsir, Al-Mizân, jil. 5, hal. 535.

[3]. “Wa ma arsalna min rasulin illa liyutha’ biidzniLlah walau annahum idz zhalamu anfusahum jaauka fastaghfaruLlah wastaghfara lahum al-rasul lawajuduLlah tawwaban rahima.”

[4]. “Ya ayyuhalladzina amanuttaqulLah wabtaghu ilaihi al-wasilah wa jahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun.”  

[5].  Terjemahan Persia tafsir Al-Mizân, jil. 5, hal. 545.

[6]. Mafâtih al-Jinân, doa pada hari Mubâhalah, hal. 467.  

[7]. Mafâtih al-Jinân, doa Khamsata ‘Asyar, hal. 205.  

[8]. Mafâtih al-Jinân, doa Imam Husain As pada hari Arafah.  

[9]. Doa-doa yang dinukil dari para imam As menunjukkan kepada kita jalan terbaik untuk bercakap-cakap dengan Tuhan dan berdoa kepada Tuhan. Tapi hal ini tidak bermakna bahwa inilah satu-satunya jalan manusia dapat bercengkerama dengan Tuhan.

[10]. Hal ini karena Ahlulbait memiliki nilai di hadapan Tuhan dan merupakan para kekasih Allah. Ber-tawassul kepada para imam bermakna ungkapan cinta kepada mereka. Dalam ziarah Asyura disebutkan, “Aku mendekat kepada Allah Swt dengan perantara kecintaan kepadamu” Suatu hal yang wajar jika manusia memiliki kecintaan kepada seseorang yang menjadi kekasih Tuhan ia memilih melalui jalan kecintaan ini ia mendekat kepada Tuhan. Di samping itu, menjadikan orang-orang suci ini sebagai perantara  peluang terkabulkannya doa semakin lebar.

[11]. Mafâtih al-Jinân, Doa tawassul yang lain, hal. 184.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259664 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245504 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229406 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214170 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175504 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    170873 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167252 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157355 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140193 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133459 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...