Advanced Search
Hits
9547
Tanggal Dimuat: 2010/02/02
Ringkasan Pertanyaan
Apakah ada dalil memukul dada (menunjukkan duka) untuk Imam Husain As?
Pertanyaan
Tolong jelaskan sebab dan sumber memukul dada atau secara umum memukul diri demi menunjukkan duka atas tragedi yang menimpa Imam Husain As? Dalam pencarian yang saya lakukan saya tidak menemukan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw menganjurkan hal tersebut. Apakah Rasulullah Saw melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah dalam majelis duka Imam Husain As? Apabila memang demikian adanya dalam kitab apakah anjuran ini disampaikan?
Jawaban Global

Majelis duka untuk Imam Husain As merupakan salah satu masalah cabang (furu) dalam mazhab Syiah. Terdapat banyak dalil yang menyokong hal tersebut.

Adapun terkait dengan model majelis duka juga harus dikatakan bahwa hal ini tidak menjadi masalah sepanjang majelis duka tidak bertentangan dengan salah satu prinsip, ajaran Islam, ayat dan riwayat. Model pelaksanaannya juga berbeda-beda bergantung pada tradisi masyarakat yang ingin mengadakan majelis duka untuk Imam Husain As.

Perlu untuk disebutkan bahwa berdasarkan banyak riwayat dan hadis tsaqalain, sunnah juga merupakan salah satu sumber utama Islam di samping al-Quran. Sesuai dengan pandangan Syiah, sabda-sabda para Imam Maksum Syiah juga dapat dijadikan sebagai sandaran dan hujjah sejajar dengan sabda-sabda Rasulullah Saw. Karena itu apabila terdapat sebuah sunnah dari para imam maka hal itu akan memadai dalam menyelenggarakan acara-acara duka seperti ini.

Terdapat beberapa dalil yang membolehkan memukul dada yang akan disinggung pada jawaban detil.

Jawaban Detil

Sebelum menjawab pertanyaan Anda kiranya kami memandang perlu menyebutkan beberapa poin penting sebagai berikut:

Pertama: Berdasarkan banyak riwayat dan hadis tsaqalain, sunnah juga (yaitu perkataaan, perbuatan dan ketetapan maksum)[1] merupakan salah satu sumber utama Islam di samping al-Quran. Sesuai dengan pandangan Syiah, sabda-sabda para Imam Maksum Syiah juga dapat dijadikan sebagai sandaran dan hujjah sejajar dengan sabda-sabda Rasulullah Saw. Karena itu apabila terdapat sebuah sunnah dari para imam maka hal itu akan memadai dalam menyelenggarakan acara-acara duka seperti ini.[2]

Kedua: Majelis duka untuk Imam Husain As merupakan salah satu masalah cabang (furu) dalam mazhab Syiah. Terdapat banyak dalil yang menyokong hal tersebut.

Adapun terkait dengan model majelis duka juga harus dikatakan bahwa hal ini tidak menjadi masalah sepanjang majelis duka tidak bertentangan dengan salah satu prinsip, ajaran Islam, ayat dan riwayat. Model pelaksanaannya juga berbeda-beda bergantung pada tradisi masyarakat yang ingin mengadakan majelis duka untuk Imam Husain As.

Kami meyakini terdapat banyak dalil untuk menetapkan legalitas majelis duka dan memukul dada untuk Imam Husain As.

Karena itu kami di sini akan menyinggung dua hal dari sunnah para maksum As sebagai berikut:

Pertama: Imam Sajjad As bersabda, “Pada suatu malam yang esok harinya (Asyura) ayahku syahid saya duduk di tenda dan bibiku Zainab sibuk mengurusku. Ayahku pergi ke tendanya dan Juwain budak Abu Dzar memberbaiki pedang ayahku. Ayahku berkata, “Celakah engkau duhai masa! Pada setiap pagi dan malam betapa banyak engkau telah membunuh sahabat dan penolong. Engkau tidak pernah mencukupkan dirimu. Sesungguhnya seluruh nasib berada di tangan Tuhan dan setiap yang bernyawa akan pergi suatu tempat yang (kini) aku datangi.”[3] Dan kandungan ini berulang kali beliau sampaikan. Mendengarkan kandungan ini saya memahami tujuan ayahku dan tangisanku membuat kerongkonganku kering. Namun saya menghindari dan duduk tenang. Saya kemudian tahu bahwa musibah telah datang. Namun bibiku Zainab begitu mendengarkan kandungan syair, mengingat kelembutan hati khususnya kaum wanita, tidak dapat menghindar dan dalam keadaan tercengang keluar dari tenda berjalan menuju Imam Husain. Bibi Zainab berkata, “Duhai sekiranya saya mati. Ibuku Fatimah, ayahku Ali dan saudaraku Hasan telah tiada. Wahai cendera mata orang-orang terdahulu dan pengurus orang-orang yang ditinggalkan.” Imam Husain As berpaling kepada saudarinya dan dengan mata berlinang bersabda, “Saudariku! Jangan biarkan setan menguasai dirimu dan mengambil kesabaran darimu.” Imam Husain mengimbuhkan, “Sekiranya merpati dibiarkan sendiri maka ia akan tidur dengan lelap.” Zainab berkata, “Saudaraku engkau menyiapkan dirimu untuk mati! Kesiapanmu ini membuat hatiku perih dan aku tidak kuasa menahannya.” Tiba-tiba ia menampar pipiya dan menangis tersedu, merasa gundah lalu terjatuh ke bumi. Husain mendatangi saudarinya dan memercikkan air ke wajahnya dan menyadarkannya. Imam Husain bersabda, “Tenanglah saudariku! Takutlah kepada Allah dan relalah dengan kehendak-Nya. Ketahuilah bahwa semua orang akan mati dan langit-langit tidak akan abadi. Segala sesuatu selain Allah akan binasa. Selain Dia yang menciptakan makhluk dan membangkitkan manusia, Esa tiada yang menyerupainya, tiada yang akan abadi.”[4]

Dari dua sisi hadis ini dapat digunakan untuk menetapkan kebolehan memukul dada sebagai tanda duka atas syahidnya Imam Husain:

  1. Kita jumpai pada hadis ini bahwa Imam As mencukupkan diri hanya dengan memberikan nasihat kepada saudarinya yang menampar pipinya dan sama sekali tidak melarang saudarinya khususnya menampar pipi sementara apabila hal ini terlarang menurut syariat dan haram maka tentu saja Imam Husain harus mengingatkan saudarinya untuk tidak melakukan hal tersebut.
  2. Mengingat kepribadian Bunda Zainab, sosok yang disebut oleh Imam Maksum (Imam Sajjad As): “Segala puji bagi Allah Swt karena Anda adalah seorang alim dan pandai terhadap hakikat-hakikat kondisi penduduk dunia tanpa harus belajar dan diajari.”[5] Tentu tidak dapat kita terima Bunda Zainab melakukan perbuatan haram semencolok ini.

 

Kedua: Musafir budak Imam Musa Kazhim As berkata, “Tatkala mereka ingin membawa Imam Musa bin Ja’far As, Imam Musa memerintahkan Imam Ali bin Musa al-Ridha As untuk tidur setiap malam di rumahnya hingga datang sebuah berita kepadanya.” Musafir mengimbuhkan, Kami setiap malam menggelar tikar (kasur) untuk Imam Ridha As, setelah salat Isya kami tidur di tempat itu dan ketika pagi tiba kami pergi ke rumah masing-masing. Kondisi ini berlanjut hingga empat tahun. Suatu malam kami menggelar tikar untuk tidur namun beliau tidak datang. Kami, istri dan anak-anak beliau merasa gundah mengapa beliau terlambat. Keesokan harinya beliau datang dan masuk ke rumah lalu pergi kepada Ummu Ahmad lalu berkata, “Berikanlah apa yang diserahkan ayahku (dalam kapasitasnya sebagai imam) kepadamu.” Ummu Ahmad menjerit, menampar wajah, meronta lalu menangis. Ia berkata, “Demi Allah! Junjunganku telah meninggal!” Imam Ridha menahannya dan berkata kepadanya, “Janganlah engkau berkata-kata tentang masalah ini hingga berita resmi sampai kepada gubernur.” Sebuah keranjang yang merupakan amanat berisikan dua ribu atau empat Dinar diserahkan kepada Imam Ridha dan tidak diberikan kepada orang lain.[6]

Hadis ini juga yang diriwayatkan dari kitab standar (al-Kafi) menunjukkan kebolehan (memukul kepala dan dada); karena berdasarkan nukilan hadis ini tidak terdapat larangan dari Imam Ridha dan sekiranya perbuatan (memukul kepala dan dada) itu dilarang secara syar’i tentu saja Imam Ridha akan mengingatkannya.

Karena itu, tanpa ragu majelis-majelis duka yang diadakan secara normal (bukan ekstrem) dewasa ini dan para pecinta Ahlulbait As dan Imam Husain memukul dada mereka sebagai tanda duka adalah hal yang dibolehkan. [iQuest]

 

Untuk menelaah jawaban-jawaban lain atas pertanyaan ini silahkan Anda melihat beberapa indeks terkait berikut:

Majelis Duka Imam Husain As Biang Kehidupan Masyarakat, Pertanyaan 11457 (Site: id11275)

Peran Majelis Duka Imam Husain As, Pertanyaan 11460 (Site: id11278)

 


[1]. Ketetapan (taqrir) Imam Maksum artinya adalah bahwa sebuah pekerjaan dilakukan di hadapan seorang Imam Maksum As atau sebuah ucapan disampaikan di hadapannya namun Imam Maksum tersebut tidak melarang pekerjaan dan ucapan tersebut.  

[2]. Dalam hal ini, silahkan lihat “Amalan-amalan dan Ucapan-ucapan Para Maksum Dapat Dijadikan Hujjah, Jawaban No. 26384 (Site: fa7028) yang dapat Anda telaah pada site ini.  

[3]. Penggalan syair yang dibacakan Imam Husain As dalam bahasa Arab:

يَا دَهْرُ أُفٍّ لَكَ مِنْ خَلِيلٍ

كَمْ لَكَ بِالْإِشْرَاقِ وَ الْأَصِيلِ‏

مِنْ صَاحِبٍ وَ طَالِبٍ قَتِيلٍ

وَ الدَّهْرُ لَا يَقْنَعُ بِالْبَدِيلِ‏

وَ إِنَّمَا الْأَمْرُ إِلَى الْجَلِيلِ

كُلُّ حَيٍّ سَالِكٌ سَبِيلِي‏

 

[4]. Muhammad Mufid, al-Irsyâd, Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani, hal. 444 dan 445, Nasyir Islamiyah, Teheran, Cetakan Pertama, 1380 S.

[5]. Abu Manshur Ahmad bin Ali Thabarsi, al-Ihtijâj, jil. 2, hal. 305, Nasyr Murtadah Masyhad Muqaddas, 1403 H.  

[6]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 381 dan 382, dengan memanfaatkan terjemahan Zendegani Hadhrat Imam Musa Kazhim As, hal. 226 & 227.

"و أنت بحمد الله عالمة غير معلمة فهمة غير مفهمة"

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    256224 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    243869 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    227826 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    212099 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    173909 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    169301 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    161825 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    155767 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    137338 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    132449 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...