Advanced Search
Hits
8964
Tanggal Dimuat: 2011/02/24
Ringkasan Pertanyaan
Apakah pernikahan temporal memiliki syarat-syarat khusus dan diperuntukkan bagi sebagian orang tertentu?
Pertanyaan
Apakah pernikahan temporal memiliki syarat-syarat khusus dan diperuntukkan bagi sebagian orang tertentu?
Jawaban Global

Pernikahan temporer (mut’ah) adalah sebuah pernikahan yang terjalin di antara seorang pria dan wanita yang tidak memiliki halangan sama sekali untuk menikah dan dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak, disertai mahar yang ditentukan hingga waktu tertentu. Nikah seperti ini tidak memiliki talak. Seiring dengan berakhirnya masa waktu nikah maka secara otomatis pasangan suami dan istri akan berpisah.[1]

Dalam pandangan Islam, keabsahan pernikahan permanen dan temporal memiliki syarat-syarat. Namun terkait dengan pernikahan temporal (mut’ah) terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagaimana berikut ini:

1.     Membaca formula akad (semata-mata rela dan ridha di antara kedua belah pihak, pria dan wanita tidak memadai melainkan harus disertai dengan ekspresi lafaz khusus).

2.     Sesuai dengan ihtiyâth wâjib, formula akad harus disampaikan dalam bahasa Arab yang benar. Dan apabila pria dan wanita tidak dapat membaca akad dalam bahasa Arab dengan benar maka keduanya dapat (dibolehkan) membaca akad dengan bahasa mana pun dan tidak diwajibkan bagi mereka untuk mengambil wakil akan tetapi sedemikian ia berkata-kata sehingga makna “zawwajtu” (aku nikahkan) dan “qabiltu” (aku terima) dapat dipahami dengan benar.

3.     Apabila wanita dan pria ingin membaca akad temporal (non-permanen), setelah menentukan masa dan mahar, dimana apabila wanita berkata, “Zawwajutka nafsi fi al-muddat al-ma’lumah ‘ala al-mahr al-ma’lum” (Aku nikahkan diriku dengan masa dan mahar yang telah ditentukan) dan setelah itu (segera) pria berkata, “Qabiltu” (Aku terima) maka pernikahan keduanya sah. Atau wakil pihak wanita berkata kepada wakil pihak pria, “Matta’tu muwakkilati muwakkilaka fi al-muddat al-ma’lumah a’la al-mahr al-ma’lum” (Aku mewakili [pihak wanita] melangsungkan nikah mut’ah dengan muwakkil Anda [pihak pria] dengan masa dan mahar yang telah ditentukan.” Dan wakil pria segera berkata, “Qabiltu limuwakkili hakadza” (Kuterima untuk wakilku demikian) dan pernikahan keduanya sah secara hukum.

4.     Menentukan dan menyebutkan mahar tatkala membacakan akad.

5.     Pria dan wanita atau wakil mereka tatkala membaca akad maka mereka harus menyatakannya dengan maksud imperatif (insyâ). Artinya apabila pria dan wanita sendiri yang membaca akad, pihak wanita dengan membaca “zawwajtuka nafsi” (aku nikahkan diriku) maka maksudnya adalah ia telah menjadikan dirinya sebagai istri baginya dan pria membaca “qabiltu al-tazwij” (aku terima nikahnya) maka maksudnya adalah ia menerima wanita tersebut sebagai istri baginya.

6.     Orang yang melangsungkan akad (yang menikah) itu harus berakal dan berusia baligh.

7.     Apabila wakil wanita dan pria ata wali mereka membaca akad maka mereka harus menentukan istri dan suaminya dalam akad.

8.     Anak putri yang telah mencapai usia baligh dan rasyidah yaitu telah mampu mengidentifikasi kemaslahatannya apabila ia ingin bersuami. Jika ia seorang perawan maka ia harus meminta izin dari orang tuanya atau dari kakeknya (dari pihak ayah). Namun apabila ia tidak lagi perawan dan keperawanannya hilang lantaran pernikahan (sebelumnya) maka ia tidak lagi memerlukan izin dari ayah atau kakeknya (dari pihak ayah).

9.     Wanita dalam proses berlangsungnya akad temporer (mut’ah), ia tidak terikat akad permanen (daim) atau temporer (mut’ah) dengan orang lain (bukan istri orang lain) dan juga tidak berada dalam masa iddah akad permanen atau temporer orang lain.

10.  Pria dan wanita harus ridha dan rela atas pernikahan dan bukan karena terpaksa (atau dipaksa) sehingga keduanya menikah.[2]

11.  Demikian juga wanita tatkala ingin melangsungkan akad dengan seorang pria, (hal itu dapat dilakukan) apabila ia telah melangsungkan akad lainnya dan telah mendapatkan talak atau masa akad mut’ahnya telah habis maka masa iddah juga telah ia lalui (iddahnya sudah habis).

12.  Syarat lainnya adalah bahwa wanita yang telah menikah dan terikat dengan akad lainnya tidak melakukan zina dengan seorang pria yang ia niatkan untuk menikah dengannya; karena apabila seorang pria berzina dengan seorang wanita yang telah menikah maka wanita itu haram bagi pria tersebut untuk selamanya.[3]

 

Apa yang dikutip di atas adalah berdasar pada fatwa-fatwa Imam Khomeini Ra dan telah dikemukakan secara global terkait dengan syarat-syarat pernikahan mut’ah. Untuk telaah lebih jauh kami persilahkan Anda untuk merujuk pada kitab-kitab fikih dan Taudhih al-Masâil.[4] Dan apabila Anda tidak bertaklid kepada beliau kami persilahkan Anda menyebutkan marja taklid Anda dan melayangkan surat kembali kepada kami.[5]

Dengan mencermati syarat-syarat pernikahan temporal (mut’ah) sebagaimana yang disebutkan di atas dan dengan merujuk pada beberapa indeks yang telah disebutkan maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan temporal diperbolehkan bagi siapa saja yang memenuhi syarat-syaratnya. [IQuest]

 

Indeks-indeks Terkait:

1.     Syarat-syarat Pernikahan dengan Wanita-wanita dari Kalangan Ahlulkitab, Pertanyaan No. 1209.

2.     Sebab Dibolehkannya Pernikahan Temporal Bagi Pria Beristri Tanpa Izin Istri, Pertanyaan No. 709.


[1]. Diadaptasi dari Jawaban Global Pertanyaan 844 (Site: 915) (Bolehnya Melangsungkan Pernikahan Temporal).  

[2]. Taudhi al-Masâil Marâji’, jil. 2, 449-460; Tahrir al-Wasilah, jil. 2, hal. 701-707 dan juga hal. 734-736.  

[3]. Diadaptasi dari Pertanyaan 961 (Site: 1099) (Pernikahan Kembali Pasca Pernikahan Temporal)

[4]. Ibid.  

[5]. Diadaptasi dari Pertanyaan 574 (Pernikahan Temporal [Mut’ah] dan Syarat-syaratnya) 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa pengaruh qanâ’ah (merasa cukup) dalam kehidupan dan bagaimana cara mengidentifikasi antara qanâ’ah (merasa cukup) dan sifat kikir dalam hidup?
    27430 Akhlak Praktis
    Secara leksikal qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang ada (sedikit) atas barang-barang yang dibutuhkan dan kerelaan seseorang atas segala sesuatu yang diperoleh dan diberikan kepadanya. Dalam beberapa hadis, terkadang kata qanâ’ah digunakan untuk segala bentuk kerelaan dan keridhaan. Perbedaan antara qanâ’ah dan sifat kikir, ...
  • Apakah dengan memperhatikan riwayat bahwa seluruh tubuh perempuan adalah aurat bisa dibuktikan bahwa rambut kepala perempuan juga wajib untuk ditutup?
    5550 Hijab
    Jawaban pertanyaan ini bisa dijelaskan dengan ringkas dalam poin-poin berikut, dan untuk pembahasan yang lebih mendetail, kami persilahkan Anda untuk merujuk ke sumber-sumber fikih dan riwayat. Riwayat yang mengimplikasikan “Seluruh dari perempuan adalah aurat” telah dinukilkan dalam literatur-literatur Syiah dan Ahli Sunnah dengan kalimat-kalimat yang ...
  • Apa batasan masuknya kaum ruhaniawan pada dunia?
    5742 Akhlak Praktis
    Dunia memiliki dua dimensi:Pertama: Sebagai sebuah perkara riil dan faktual, seperti keberadaan bumi, planet-planet yang terdapat di langit, keberadaan manusia, kekuasaan, ilmu, kehendak dan kehidupannya serta realitas-realitas lainnya di alam materi. Dari sudut pandang ini, dunia bukan hanya tidak tercela dan terpinggirkan melainkan ...
  • Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menikah dengan wanita non-Muslim?
    19164 Kesamaan Agama
    Mayoritas fukaha berkata, “Tidak dibenarkan menikah secara permanen (dâim) dengan wanita-wanita non-Muslim, meski ia berasal dari Ahlulkitab, bahkan apabila mereka tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat. Untuk menikah secara permanen dengan wanita-wanita seperti ini maka mereka terlebih dahulu harus menerima agama ...
  • Siapa saja yang akan masuk ke dalam surga?
    28919 Teologi Lama
    Dengan memperhatikan ayat-ayat al-Qur'an dipahami bahwa surga merupakan janji niscaya Allah Swt yang diperuntukkan bagi orang-orang "muttaqin", "mu'min" dan orang-orang yang patuh terhadap seluruh titah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang bahagia sejati dan orang-orang yang berjaya.Dengan menyimak perintah-perintah Allah Swt dan Rasulullah Saw kita ...
  • Siapakah orang yang mengantarkan makanan kepada Nabi Muhammad Saw selama beliau berada di Gua Tsur?
    38508 Nabi Muhammad Saw
    Rasulullah Saw berdiam di gua Hira selama tiga hari.[1] Selama beberapa hari itu, ada beberapa orang yang mengetahui tempat persembunyian Nabi Saw. Sebagian berpendapat bahwa orang-orang yang tahu tempat persembunyian Nabi itu ada 5 orang[2] dan sebagian yang lainnya berkeyakinan ada ...
  • Apa hukumnya menghujat dan menghina orang lain?
    88374 خوش رفتاری
    Islam sangat menjunjung tinggi kepribadian dan nama baik setiap orang khususnya seorang Muslim dan Mukmin. Diriwayatkan dari Imam Musa Kazhim As bahwa suatu hari beliau berdiri di hadapan Ka’bah dan berkata kepada Ka’bah, “Wahai Ka’bah! Alangkah agungnya hakmu namun demi Allah hak seorang beriman lebih agung dari ...
  • Apakah haram mengadakan acara ulang tahun?
    12711 Hukum dan Yurisprudensi
    Acara ulang tahun (maulid atau milad) bukan merupakan tradisi islami. Dalam ajaran-ajaran Islam tidak dianjurkan bagi manusia untuk mengandakan acara milad dan ulang tahun untuk memperingati hari lahirnya. Kami tidak ingin mengecam tradisi baru ini, meski pada saat yang sama juga kami tidak menerima impor tradisi-tradisi bangsa lain ...
  • Apabila terdapat tingkatan untuk surga apakah juga berlaku demikian untuk neraka?
    10111 Teologi Lama
    Apa yang dapat disimpulkan dari sebagian ayat al-Qur’an dan sebagian riwayat sehubungan dengan tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat neraka adalah bahwa neraka juga sebagaimana surga memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda-beda. Para pendosa berdasarkan kejahatan dan dosanya akan mendiami salah satu dari tingkatan neraka ini dan menerima azab.
  • Apakah tampaknya keramat menunjukkan kebenaran pemiliknya?
    8815 Irfan Praktis
    Salah satu pembahasan yang cukup luas dalam Irfan adalah masalah keramat (thaumaturgicgift) dan pelaksanaan aksi-aksi adikodrati. Dalam jalan irfan, sair dan suluk, menemukan keramat, mukasyafah dan perbuatan-perbuatan adikodrati, bukanlah hal-hal yang dapat membuat manusia sombong dan memandangnya sebagai sesuatu yang penting. Hal-hal ini ...

Populer Hits