Advanced Search
Hits
8303
Tanggal Dimuat: 2010/04/08
Ringkasan Pertanyaan
Apa falsafah ziarah kepada para imam maksum As itu?
Pertanyaan
Apa falsafah ziarah kepada para imam maksum As itu? Tolong Anda jelaskan dengan jawaban murni filsafat.
Jawaban Global

Ziarah adalah adanya kecendrungan dan inklinasi batin terhadap seseorang atau sesuatu yang disertai dengan takzim (pengagungan) dan takrim (pemuliaan). Mengingat bahwa hakikat manusia itu adalah ruhnya dan ruh manusia sekali-kali tidak akan binasa. Seorang penziarah yang berziarah kepada seorang pembesar sejatinya berziarah kepada sebuah entitas yang hidup.  Dalam ziarah ini, penziarah memiliki kecendrungan dan inklinasi terhadapnya. Ia memuliakan dan mengagungkannya serta memohon pertolongan kepadanya. Oleh itu, ziarah adalah hubungan dari satu entitas hidup dengan entitas hidup lainnya. Ziarah memiliki manfaat personal dan sosial yang banyak dimana sebagian dari manfaat tersebut adalah: Berhubungan dengan manusia sempurna (insan kamil), ekspresi iman dan hubungan dengan Tuhan, pemuliaan dan pengagungan Ahlulbait, menimalisir pelbagai perbuatan menyimpang, satu langkah dan satu hati dalam menghadapi musuh-musuh.

Jawaban Detil

Ziarah secara leksikal bermakna adanya kecendrungan dan inklinasi.[1] Dan secara teknis bermakna hadirnya seseorang di hadapan orang yang diziarahi dalam rangka memuliakan dan mengangungkannya.[2] Ziarah ini memiliki tiga rukun:

1.     Penziarah (zâir) artinya seseorang yang memiliki kecendrungan terhadap seseorang atau sesuatu.

2.     Yang diziarahi (muzûr) bermakna seseorang yang dicendrungi dan dicondongi oleh penziarah (zâir).

3.     Karakter batin inklinasi dan kecendrungan ini disertai dengan pemuliaan dan pengagungan penziarah (zâir).

 

Bilamana salah satu dari rukun ziarah ini tidak terpenuhi atau secara hakiki dan ril tidak terwujud maka ziarah yang benar tidak terlaksana. Bilamana penziarah memiliki pengetahuan dan makrifat yang dalam dari sosok yang diziarahi maka ia akan meraup kesempurnaan lebih banyak dan manfaat ziarah juga akan lebih baik dan lebih besar.

Mengingat bahwa ruh (jiwa) manusia adalah entitas non-material (mujjarad) dan tidak akan binasa selamanya, maka sekali-kali manusia tidak akan binasa dengan kematian, melainkan ia akan berpindah dari dunia yang kecil ke dunia yang lebih besar. Pada hakikatnya, dengan kematian, ruh manusia terbebas dari penjara badannya. Bahkan tatkala penziarah berziarah kepada tanah dan tempat pemakaman orang yang diziarahi dan menjalin hubungan dengannya, jenis hubungan ini merupakan sebuah hubungan antara orang hidup dan orang hidup lainnya.

Syaikh al-Rais Ibnu Sina berkata, “Penziarah yang berziarah dengan wujud material dan spiritualnya, ia meminta pertolongan dari jiwa orang yang diziarahi untuk meraup kebaikan atau menyingkirkan keburukan. Jiwa yang diziarahi, karena telah terpisah dengan alam material dan banyaknya kesamaan yang ia dapatkan dengan alam rasional non-material, maka hal itu akan menjadi sumber kebaikan yang melimpah dan lebih paripurna. Karena penziarah, dengan raga dan jiwanya, berziarah kepada mazûr (yang diziarahi) di samping ia memperoleh keuntungan material, ia juga mendapatkan keuntungan spiritual.”[3]

Dengan memperhatikan makna ziarah seperti ini, kehidupan dan kematian bagi seorang penziarah menjadi satu. Ia akan memandang orang yang diziarahi itu sebagai hadir dan saksi. Banyak riwayat yang disinggung atau ditegaskan sesuai dengan makna ini bahwa kehidupan dan kematian para maksum adalah satu. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku, maka seperti orang yang bersua denganku semasa hidup. Dan aku pada dua keadaan menjadi saksi baginya dan syafaatnya di hari Kiamat berada dalam tanggunganku.”[4]

Demikian juga, jauh dan dekat tidak lagi berbeda bagi seorang penziarah yang memahami realitas ini. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku maka seperti ia berjumpa denganku pada masa hidupku. Dan apabila Anda tidak dapat berziarah kepadaku, maka sampaikanlah salam dan shalawat bagiku. Shalawat ini akan sampai kepadaku.”[5]

Kalau dalam sebagian buku-buku ziarah termaktub adanya pengakuan terhadap kehidupan yang orang diziarahi maka hal itu sejatinya untuk mengingatkan penziarah bahwa ia sedang bercakap-cakap dengan orang hidup dan sedang berziarah kepada seorang yang hidup. Dalam ziarah Imam Husain As kita membaca, “Aku bersaksi bahwa engkau mendengar suaraku dan menjawab salamku.”[6] Benar bahwa ruh non-material mazur (orang yang diziarahi) tidak mendiami ruang dan waktu. Karena itu penziarah dapat berziarah kepadanya kapan saja dan di mana saja ia berada lalu meminta pertolongan darinya. Akan tetapi karena perhatian khusus jiwa mazûr kepada badannya maka akan tercipta satu kondisi khusus di samping badan tersebut (kuburannya).

Di tempat-tempat ini, kesempatan untuk melakukan proses taqarrub dan mendulang emanasi Ilahi lebih tersedia; lantaran ruh setelah terpisah dari badan ia tetap memiliki hubungan dan tautan dengan badan materialnya karena itu terkadang disebutkan bahwa sebagian badan yang telah dikebumikan bertahun-tahun lamanya akan badan tersebut tetap utuh tidak rusak. Meski terdapat banyak pandangan terkait dengan proses hubungan ini.[7] Atas dasar itu, terkadang dalam ziarah, tercipta kondisi spritual yang lebih besar dan ruang untuk membina hubungan spiritual lebih siap dan pikiran manusia akan bersih dari noda-noda keseharian dan kesibukan menjadi berkurang. Dalam kondisi seperti ini, jiwa, dengan kekuatan dan privilij ekstra,  lebih banyak meraup keuntungan berziarah.

Dalam ziarah kepada para imam maksum As, sebagai manusia sempurna, yang disertai dengan makrifat dan dibekali dengan pengetahuan, maka penziarah akan banyak meraih keuntungan material dan spiritual yang mungkin menjadi falsafah ziarahnya. Di sini kita akan menyebutkan sebagian dari falsafah ziarah kepada para imam maksum As:

1.     Membina hubungan dengan Tuhan: Mengingat ketaatan kepada para imam maksum bermakna ketaatan kepada Tuhan dan maksiat kepada mereka berarti maksiat kepada Tuhan. Dan barang siapa yang mengikuti mereka maka ia telah mengikuti Tuhan. Barang siapa yang mengagungkan mereka maka ia telah mengangungkan Tuhan.

2.     Berziarah merupakan luapan ekspresi dan deklarasi cinta kepada Tuhan: Lantaran agama tidak lain kecuali cinta. Para imam maksum adalah pecinta dan orang-orang yang dicintai Tuhan. Dan cinta kepada orang-orang yang dicintai Tuhan artinya cinta kepada Tuhan. Berziarah kepada pusara-pusara suci Ahlulbait As merupakan manifestasi dari cinta kepada Tuhan.[8]  

3.     Pemuliaan dan pengagunan manusia sempurna: Contoh nyata mansia sempurna adalah para imam maksum As. Mereka memiiki seluruh kesempurnaan tanpa cela secuil pun. Oleh itu, dalam hadis mutawatir tsaqalain, Ahlulbait diperkenalkan setara dengan al-Qur’an; karena merupakan naskah amali (praktis) al-Qur’an. Memuliakan dan mengagungkan Ahlulbait As adalah memuliakan derajat kemanusiaan dan khalifatullah. Ziarah kuburan mereka merupakan salah satu jelmaan dari pemuliaan ini.

4.     Memperbaharui baiat kepada manusia sempurna: Para imam maksum As sepanjang hayat material senantiasa berusaha menjalankan tugas-tugas suci dan mewujudkan tujuan-tujuan tinggi Ilahiah yang membutuhkan bantuan dan sokongan orang-orang setia dan rela berkorban yang sangat kurang pada masa itu. Karena itulah, masih banyak dari tujuan-tujuan mulia tersebut belum terealisir. Ziarah kepada para imam merupakan baiat dan deklarasi kesetiaan terhadap realisasi tujuan-tujuan mulia tersebut.

5.     Ziarah adalah untuk menjalin huubngan dengan manusia sempurna dan sampai pada substansi kemanusiaan:

6.     Ziarah kepada para imam maksum adalah indikasi keimanan dan ungkapan kerendahan hati di hadapan agama:

7.     Berpaling dari dunia, mengingat kematian dan menjauhkan pelbagai rintangan yang menghalangi seorang penziarah dalam meniti jalan kesempurnaan.

8.     Agama Islam memberikan tekanan dan penegasan terhadap dimensi sosial pelbagai masalah seperti haji, shalat berjamaah dan kehadiran pada pelbagai pertemuan sosial dan seterusnya.

 

Jelas bahwa pertemuan-pertemuan sosial terdapat banyak manfaat dan faidah yang terkandung di dalamnya.

Tatkala kita ingin menganalisa sebuah persoalan, kita saksikan bahwa dalam masalah ziarah terdapat banyak manfaat dan faidah serta keberkahan. Salah satu di antara manfaat ziarah tersebut adalah bahwa seorang Muslim memahami nilai umat Islam. Tatkala ia ingin hidup dengan orang-orang beriman dalam komunitas Islam untuk beberapa lama maka akan muncul kemantapan hati baginya terkait dengan masyarakat Islam.

Demikian juga, non-Muslim dan non-Mukmin dengan menyaksikan pelbagai pertemuan-pertemuan sosial ini, minimal ia akan urung melakukan pelbagai pelanggaran. Hal ini merupakan faidah yang minimal bagi masyarakat Islam. Para krimonolog menyatakan bahwa pada hari-hari seperti bulan Ramadhan angka pelbagai pelanggaran menurun. Faidah-faidah seperti ini banyak dan bukan tempatnya untuk menghitung pelbagai faidah tersebut di sini. Adapun manfaat politis atas masalah seperti ini sangat jelas dan gamblang. Di antaranya adanya kesetiakawanan dan persatuan dimana kesetiakawanan dan persatuan ini merupakan faktor asasi yang dapat digunakan dalam menghadapi musuh-musuh. Kedua, tatkala musuh melihat majelis-majelis para penziarah maka mereka akan memperhitungkan lain seremoni-seremoni seperti ini. Karena itu, kita lihat bahkan partai-partai sekular untuk show force dan memberangus para penentangnya mereka mengadakan meeting dan pelbagai acara seremonial. [IQuest]



[1]. Raghib Isfahani, Mufrâdât Alfâz al-Qur’ân, riset Dawudi, Shafwan Adnan, hal. 387, cetakan pertama, al-Dar al-Syamiya, Beirut, 1416 H.  

[2]. Fakhruddin Tharihi, jil. 3, hal. 320, cetakan kedua, Maktabatu al-Murtadhawiyah, 1365 S.

[3]. Rasâil Ibnu Sinâ, hal. 338, sesuai nukilan dari Murtadha Jawadi, Falsafe-ye Ziyarat wa Aini-ye An.

[4]. Ibnu Qulawiyeh Qummi, Kâmil al-Ziyârat, hal. 45, cetakan pertama, Murtadhawiyah, Najaf, 1365 H.

[5]. Abbas Qummi, Safinat al-Bihâr, jil. 3, hal. 518, cetakan kedua, Uswah, Qum, 1416 H.  

[6]. Abbas Qummi, Mafâtih al-Jinân, Ziyarat Imam Husain pada pertengahan bulan Rajab, hal. 798, cetakan kedua, Arman, Qum, 1380 S.  

[7]. Silahkan lihat, Falsafe-ye Ziyârat wa Âini-ye Ân, hal. 27.  

[8]. Silahkan lihat, Abdullah Jawadi Amuli, Shubhâ-ye Hajj, hal. 489, cetakan kedua, sra, Qum, 1378 S.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260135 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245827 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229702 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214491 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175835 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171197 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167600 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157666 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140494 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133676 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...